[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 12 : NANDUR MANUNGSA


__ADS_3

Abil, Estu, Hagia dan Dian, kini keempat mahasiswa itu sudah


berkumpul di dalam sebuah ruangan yang sama. Berkumpul dalam keadaan


tubuh yang terikat, mata yang tertutup, serta mulut yang tersumpal.


Mereka yang ditangkap kemarin oleh warga desa, kini dikumpulkan di


dalam rumah sang sepuh dengan keadaan yang memilukan.


Hagia dan Dian, kedua perempuan itu dengan jelas sedang meronta-ronta saat ini.


Andai saja mulut keduanya tidak disumpal dengan kain, pastilah suara


teriakan minta tolong mereka sudah menggema ke seisi rumah.


Abil pun demikian. Bahkan karena ia seorang laki-laki, dalam keadaan yang


sudah terikat kaki dan tangannya, Abil masih mampu merangsak melawan Pak


Bimo juga Pak Tomo di sana dengan gerakan yang membabi buta. Tapi


karena bentuk perlawanannya tersebut, baru saja ia di tumbangkan. Dengan


pukulan keras ke wajah serta perut, Abil baru saja tersungkur ke


lantai.


Sedangkan untuk Estu sendiri, laki-laki itu hanya diam


menyandarkan tubuhnya ke belakang. Seakan tidak peduli dengan nyawanya


yang terancam, Estu hanya berdiam diri di sana sembari mendengarkan


ketiga temannya yang meronta-meronta.


Setelah memukul wajah serta perut Abil barusan, Pak Tomo pun mengatakan sesuatu kepada para


mahasiswa itu dengan berkata, "Selama seminggu, kalian bisa hidup enak


di sini. Bisa makan sepuasnya, sampai tidak pernah merasakan kelaparan


sama sekali. Tapi asal kalian tahu, desa ini sebenarnya adalah desa


miskin. Jangankan bisa makan 3x sehari, bahkan kami sering berpuasa


karena tidak ada makanan. Semua makanan yang kami punya, kami berikan


untuk kalian. Jadi sekarang, kalian harus berbalas budi... dengan


mengorbankan nyawa kalian." Ucap Pak Tomo dengan perasaan puasnya.


Tak lama berselang dari ucapan Pak Tomo barusan, sang sepuh menghampiri


ruangan dimana para mahasiswa itu berada. Dengan wajah dingin, sang


sepuh pun membuka penutup mata para mahasiswa, lalu berkata, "Malam


nanti, salah satu dari kalian akan kami tumbalkan. Berdiskusilah. Pilih


salah satu dari kalian yang harus lebih dulu mati." Tutur sang sepuh


mengakhiri. Lalu ia menyuruh Pak Tomo juga Pak Bimo untuk membuka


penyumpal mulut para mahasiswa.


Dan seperti yang diduga, sesaat


setelah penyumpal mulut mereka dibuka, suara teriakan yang melengking,


jeritan meminta tolong, ataupun kalimat caci makian langsung menggema


ke isi rumah. Bahkan dengan frekuensi suara sekeras itu, rasanya warga


yang berada di luar pun akan turut mendengarnya pula.


Tapi jeritan mereka semua, tidak akan berlangsung lama. Karena hanya


beberapa jam kemudian, teriakan para mahasiswa itu pun mulai memudar


perlahan. Memudar, seiring dengan tubuh mereka yang sudah lelah tak


berdaya.


@ @ @ @ @


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 10


malam. Hari ini juga bertepatan dengan bulan purnama. Dan waktu yang


telah dijanjikan oleh sang sepuh kepada para mahasiswa pun telah tiba.


Sang sepuh kembali menghampiri ruangan dimana para mahasiswa itu dikurung.


Saat ini, para mahasiswa pun telah kehabisan suara mereka pula karena


terus berteriak hampir di sepertiga hari. Lalu dengan raut wajah yang


dingin, sang sepuh berkata kepada mereka, "Bagaimana cah ayu, cah bagus?


Kalian sudah menentukan siapa yang harus lebih dulu ditumbalkan?" ucap


sang sepuh sembari melototi para mahasiswa itu satu per satu.


Tak ada jawaban yang keluar, Pak Tomo pun berkata kepada sang sepuh, "Maaf


kanjeng, rasanya percuma menyuruh mereka memilih. Lebih baik, kita


ambil salah satu saja langsung."


Tidak setuju dengan saran Pak


Tomo, sang sepuh pun menyuruhnya diam. Lalu sang sepuh berkata kepada


Pak Tomo dengan bertutur, "Salah satu dari mereka akan mati. Kita ndak


boleh memilih sepihak. Kita harus cari tahu siapa diantara mereka yang


sudah ikhlas mati hari ini." Ucap sang sepuh bersahaja. Dan jurur, ia


hanya sedang bermain-main saat ini. Dan Pak Tomo pun tahu, kalau sang


sepuh hanya sedang menggoda keempat mahasiswa itu semata. Karena Pak


Tomo tahu, kalau sang sepuh senang bermain-main dengan orang-orang yang


akan ia bunuh.


Sembari menatapi wajah Abil, Estu, Hagia dan


Dian, sang sepuh pun mulai mengajak mereka bicara satu per satu. "Cah


bagus, kamu sudah siap mati malam ini?" ucapnya bertanya kepada Abil.


Lalu sang sepuh pun kembali melanjutkan, "Kalau kamu sudah siap mati


hari ini, cah bagus?" ucapnya kepada Estu. "Cah ayu, kamu sudah siap


mati malam ini?" ucapnya barusan kepada Hagia.


Tapi, ketiga mahasiswa itu tidak berkomentar sama sekali saat sang sepuh menanyai


mereka. Abil, Estu dan Hagia, hanya balik memandangnya dengan tatapan


keji nan bengis. Seakan tatapan mereka mengisyaratkan siap membunuh


semua warga desa termasuk sang sepuh sendiri andai mereka punya

__ADS_1


kesempatan untuk melawan.


Lalu setelah selesai menanyai Abil,


Estu dan Hagia, kini sang sepuh mulai berderap menghampiri Dian dengan


senyuman kecil. Setelah berhadapan dengan Dian, sang sepuh pun berkata,


"Kalau kamu sendiri cah ayu, kamu sudah siap untuk mati malam ini?"


tapi berbeda dengan gestur yang ditunjukkan oleh Abil, Estu dan Hagia


yang seakan melawan, Dian yang sedang ditanyai kini justru mulai


menangis pilu. Dan sang sepuh yang melihat Dian menangis pun mulai


tersenyum lebar. Seakan ia menyukai ekspresi kesedihan Dian yang


sebentar lagi akan mati ditangannya.


Sembari menatap Dian dalam, sang sepuh pun mulai membelai rambut Dian pelan. Lalu mengusap wajah


Dian dengan lembut setelahnya. Dian yang tidak bisa melawan pun hanya


bisa menangis dan menangis. Melihat Dian yang diperlakukan demikian,


Abil dan Hagia sontak langsung mencaci maki sang sepuh dengan lantang.


Di sela-sela caci makian Abil juga Hagia kepadanya, kini sang sepuh pun


telah memutuskan... akan menjadikan Dian... sebagai orang pertama yang


akan ia tumbalkan.


Tanpa bermain-main lagi dengan mangsanya, sang


sepuh menyuruh Pak Tomo untuk membawa dian menuju belakang rumah.


Suara tangisan pilu serta mohon ampunan yang keluar dari bibir Dian pun


mulai menggema lantang di sana. Dan dengan kepala mata mereka sendiri,


Abil, Estu dan Hagia melihat sosok Dian yang mulai berderap keluar


ruangan dengan kondisi yang miris.


Ya. Inilah saat dimana, Abil, Estu dan Hagia... melihat wajah Dian untuk yang terakhir kali... sembari meneriakkan namanya.


@ @ @ @ @


Sesampainya di belakang rumah, Pak Tomo melepas cengkramannya dari Dian, membuat


Dian pun jatuh tersungkur di tanah. Lalu Mulan, menantu sang sepuh yang


sudah berada di sana bergegas membangunkan posisi Dian hingga


membuatnya menjadi terduduk.


Masih dengan kaki dan tangan yang


terikat, Dian mulai disirami air kembang yang sudah dipersiapkan oleh


menantu sang sepuh di sana. Dengan menangis, meronta dan meminta


ampunan, air kembang yang sudah dijampi-jampi itu mulai membasahi tubuh


Dian yang tak berdaya dengan sempurna.


Lalu sang sepuh yang baru saja datang dari dalam, mulai menghampiri Dian, lalu ia pun


berkata, "Cah ayu, kamu harus ikhlas. Kematian kamu, darah di dalam


tubuh kamu, akan menyelamatkan desa ini dari kebinasaan. Jangan menangis


cah ayu. Kamu harus bangga. Karena di akhir hidup kamu, kamu bisa


mata Dian yang membasahi pipi.


Di dalam ketakutannya yang teramat sangat, Dian pun bertutur, "Mbah, Pak, Bu... tolong lepasin


saya sama temen-temen saya. Kami janji akan menolong desa kalian agar


subur kembali. Kalau tidak, biarkan kami keluar desa lalu meminta


bantuan. Kami akan membawa banyak makanan dari luar ke desa ini." Ucap


Dian dengan suara yang lirih.


Lalu dengan cepat sang sepuh pun berkata, "Dulu teman kamu yang bernama Abil pernah mengeluh kepada


saya. Teman kamu bingung karena semua makanan yang ia bawa dari luar


tetiba saja membusuk. Kamu tahu kenapa alasannya cah ayu? Karena


makanan dari luar akan cepat membusuk jika dibawa ke desa ini. Bukan


hanya itu, orang luar pun ndak akan pernah bisa masuk ke desa ini.


Mereka semua akan dibuat tersesat di dalam kabut. Kalaupun bisa, mereka


semua harus dituntun oleh kami sampai ke sini, lalu harus melakukan


getih mawar terlebih dahulu, agar mereka tidak mati cepat karena tubuh


yang mengering. Dan kami pun, ndak bisa keluar desa dengan sembarang.


Karena bisa-bisa kulit kami meleleh. Andaikan apa yang kamu sarankan


barusan bekerja, pastilah kami ndak akan menumbalkan kamu sekarang, cah


ayu." Tegas sang sepuh barusan dengan penuh kebenaran. Desa ini adalah


tanah terkutuk nan jahanam. Jika ada yang berhasil memasukinya, maka


tidak akan ada lagi yang bisa pergi keluar.


Setelah mejelaskan panjang lebar kesalahan Dian barusan, sang sepuh pun mengeluarkan


sebilah keris berukuran kecil dari dalam bajunya. Keris yang sedang


sang sepuh genggam pun ia mainkan ke wajah Dian dengan berirama.


Menyentuh pipinya. Menyentuh dagunya. Menyentuh keningnya. Hingga


kemudian... keris itu bertengger di ujung nadi leher Dian. Melihat


ekspresi Dian yang begitu kalut, sang sepuh pun kembali berkata, "Cah


ayu, bilang ke saya. Kamu mau saya sayat di bagian tubuh mana yang


lebih dulu? Tangan kamu? Kaki kamu? Atau leher kamu?"


Dian yang melihat keris itu bertengger di lehernya, yang disertai dengan ucapan


bengis sang sepuh barusan, seakan membuat Dian merasa gila. Tubuhnya


langsung memanas, seakan darahnya mendidih bergolak-golak. Detak


jantungnya yang berdebar pun seakan membuat nafas Dian menjadi


terengah-engah. Lalu dengan satu gerakan yang kuat... Dian pun berteriak


keras. Satu teriakan lantang yang akan terdengar sampai jauh. Satu


teriakan yang akan sampai pula ke telinga Abil, Estu dan Hagia berada.


Mendengar teriakan Dian yang begitu melengking, membuat senyum lebar sang sepuh

__ADS_1


pun merekah. Lalu dengan satu gerakan sayatan yang kuat, sang sepuh pun


langsung memotong lidah Dian cepat. Sayatan yang akhirnya memutus


lidah Dian dalam sekejap mata. Darah segar pun mulai mengalir pelan


dari mulut dian yang sedang terpekik. Suara teriakan lantang lainnya


pun mulai menggema di udara. Suara yang menandakan bahwa Dian saat ini


sedang menjerit kesakitan atas siksaan yang pedih.


Ya. Dian mulai dieksekusi mati saat ini. Dan setelah lidahnya dipotong, sang


sepuh pun mulai melanjutkan sayatannya ke bagian tubuh Dian yang lain.


Hingga akhirnya... jerit Dian pun mulai memudar di udara perlahan. Yang


menandakan... bahwa Dian, telah tewas.


Dengan terus menyayat-nyayat tubuh Dian, Pak Tomo, Pak Bimo serta istrinya mulai


menadahi darah yang keluar dari tubuh Dian dengan cekatan. Membuat


wadah yang masing-masing mereka pegang mulai memerah terisi oleh darah.


Setelah banyak darah terkumpul, sang sepuh sekaligus warga, mulai menyirami


tanah desa dengan darah segar Dian. Ada yang pergi ke sisi barat. Ada


yang berlari ke sisi timur. Ada yang menuju sisi selatan. Dan juga ada


yang berbondong-bondong menuju sisi utara.


Lalu setelah selesai menyirami tanah desa dengan darah, kini jasad Dian dibawa menuju pohon


beringin besar yang letaknya berada di hutan belakang desa.


Beberapa pria di sana terlihat sedang menggali tanah, termasuk seorang kakek


tua yang dimana Dian takut kepadanya dulu. Dirasa cukup, jasad Dian pun


dibuang ke dalam pusara. Lalu mulai menimbunnya kembali dengan tanah.


Setelah 21 tahun hidup, inilah cerita akhir dari kehidupan Dian.


Setelah berhasil mengubur jasad Dian serta menabur darahnya ke seluruh penjuru


desa, dengan wajah sumringah, para warga mulai saling melempar


senyuman. Seakan-akan inilah penantian yang sedang mereka


tunggu-tunggu. Seakan-akan dahaga mereka telah terbasuh dengan sempurna


di malam ini.


Ya. Semua warga desa memang telah menanti


saat-saat ini tiba. Sebuah hari dimana... ritual 'Nandur Manungsa' atau


yang bermakna 'Menanam Manusia', dapat kembali mereka lakukan setelah 8


bulan menanti. Dengan menumbalkan Dian, akhirnya warga desa bisa


bernafas lega kini.


Karena sebentar lagi, desa mereka akan kembali subur.


@ @ @ @ @


Satu bulan telah berlalu. Dan benar, saat ini, kondisi desa mulai membaik.


Para warga mulai bisa memetik hasil panen mereka pada bulan ini. Meski


dirasa belum maksimal, tapi setidaknya para warga tidak akan kelaparan


hingga ritual 'Nandur Manungsa' berikutnya datang. Yaitu, sekitar 3


bulan lagi.


Bahkan saat ini bukan hanya tanah desa mereka yang


kembali subur. Tapi para wanita dewasa yang ada di desa pun mulai


mengandung pula. Jika di total, ada sekitar 17 wanita yang kini sedang


mengandung. Termasuk, istri dari Pak Bimo yang juga menantu sang sepuh.


Meski miris, tapi berita ini adalah kabar baik bagi para warga desa. Tanah


yang kembali subur, serta para wanita yang kembali hamil, merupakan


anugrah tersendiri bagi warga. Tak terkecuali Pak Tomo. Ia pun saat ini


berada di rumah sang sepuh untuk mengabarkan kalau istrinya juga hamil.


Di hadapan sang sepuh, Pak Tomo pun berkata, "Kanjeng. Dengan


menumbalkan mahasiswa bernama Dian kemarin, sekarang desa kita kembali


sejahtera. Ini benar-benar luar biasa." Ucapnya dengan begitu sumringah.


Tapi berbeda dengan Pak Tomo, raut wajah sang sepuh kini justru terlihat


dingin, seakan ia tidak setuju atas apa yang diucapkan oleh Pak Tomo


barusan. Dengan sorot mata yang dalam, sang sepuh pun bertutur, "Tomo,


kamu jangan terlalu senang. Menumbalkan orang dari luar hanya akan


menekan kutukan sebentar saja. 2 atau 3 bulan lagi, kesuburan di desa


ini pasti akan kembali binasa. Kita jangan berpangku kepada para


mahasiswa yang tersisa. Akan lebih baik, kalau wanita sialan yang ada di


dalam 'Punden' itu hamil dengan segera. Karena menumbalkan garis


keturunan langsung si keparat itu, efeknya jauh lebih kuat untuk menekan


kutukan yang membelenggu kita, dibanding darah dan daging para


mahasiswa itu. Sekarang, bagaimanapun caranya, cepat buat si wanita


sialan itu hamil. Karena kita butuh keturunannya secepat mungkin." Tegas


sang sepuh seakan sedang menghakimi.


Pak Tomo pun tidak membalas petuah sang sepuh barusan. Ia hanya menganggukan kepala seperti orang ketakutan.


Lantas... siapa 'Wanita Sialan' yang sedang dimaksud sang sepuh tadi?


Ya.Namanya adalah Mutih. Dia adalah cucu keturunan langsung dari sang


ketua sekte terdahulu yang memimpin desa. Sang ketua sekte... yang telah


mengutuk desa ini dan seisinya.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2