![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Abil, Estu, Hagia dan Dian, kini keempat mahasiswa itu sudah
berkumpul di dalam sebuah ruangan yang sama. Berkumpul dalam keadaan
tubuh yang terikat, mata yang tertutup, serta mulut yang tersumpal.
Mereka yang ditangkap kemarin oleh warga desa, kini dikumpulkan di
dalam rumah sang sepuh dengan keadaan yang memilukan.
Hagia dan Dian, kedua perempuan itu dengan jelas sedang meronta-ronta saat ini.
Andai saja mulut keduanya tidak disumpal dengan kain, pastilah suara
teriakan minta tolong mereka sudah menggema ke seisi rumah.
Abil pun demikian. Bahkan karena ia seorang laki-laki, dalam keadaan yang
sudah terikat kaki dan tangannya, Abil masih mampu merangsak melawan Pak
Bimo juga Pak Tomo di sana dengan gerakan yang membabi buta. Tapi
karena bentuk perlawanannya tersebut, baru saja ia di tumbangkan. Dengan
pukulan keras ke wajah serta perut, Abil baru saja tersungkur ke
lantai.
Sedangkan untuk Estu sendiri, laki-laki itu hanya diam
menyandarkan tubuhnya ke belakang. Seakan tidak peduli dengan nyawanya
yang terancam, Estu hanya berdiam diri di sana sembari mendengarkan
ketiga temannya yang meronta-meronta.
Setelah memukul wajah serta perut Abil barusan, Pak Tomo pun mengatakan sesuatu kepada para
mahasiswa itu dengan berkata, "Selama seminggu, kalian bisa hidup enak
di sini. Bisa makan sepuasnya, sampai tidak pernah merasakan kelaparan
sama sekali. Tapi asal kalian tahu, desa ini sebenarnya adalah desa
miskin. Jangankan bisa makan 3x sehari, bahkan kami sering berpuasa
karena tidak ada makanan. Semua makanan yang kami punya, kami berikan
untuk kalian. Jadi sekarang, kalian harus berbalas budi... dengan
mengorbankan nyawa kalian." Ucap Pak Tomo dengan perasaan puasnya.
Tak lama berselang dari ucapan Pak Tomo barusan, sang sepuh menghampiri
ruangan dimana para mahasiswa itu berada. Dengan wajah dingin, sang
sepuh pun membuka penutup mata para mahasiswa, lalu berkata, "Malam
nanti, salah satu dari kalian akan kami tumbalkan. Berdiskusilah. Pilih
salah satu dari kalian yang harus lebih dulu mati." Tutur sang sepuh
mengakhiri. Lalu ia menyuruh Pak Tomo juga Pak Bimo untuk membuka
penyumpal mulut para mahasiswa.
Dan seperti yang diduga, sesaat
setelah penyumpal mulut mereka dibuka, suara teriakan yang melengking,
jeritan meminta tolong, ataupun kalimat caci makian langsung menggema
ke isi rumah. Bahkan dengan frekuensi suara sekeras itu, rasanya warga
yang berada di luar pun akan turut mendengarnya pula.
Tapi jeritan mereka semua, tidak akan berlangsung lama. Karena hanya
beberapa jam kemudian, teriakan para mahasiswa itu pun mulai memudar
perlahan. Memudar, seiring dengan tubuh mereka yang sudah lelah tak
berdaya.
@ @ @ @ @
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 10
malam. Hari ini juga bertepatan dengan bulan purnama. Dan waktu yang
telah dijanjikan oleh sang sepuh kepada para mahasiswa pun telah tiba.
Sang sepuh kembali menghampiri ruangan dimana para mahasiswa itu dikurung.
Saat ini, para mahasiswa pun telah kehabisan suara mereka pula karena
terus berteriak hampir di sepertiga hari. Lalu dengan raut wajah yang
dingin, sang sepuh berkata kepada mereka, "Bagaimana cah ayu, cah bagus?
Kalian sudah menentukan siapa yang harus lebih dulu ditumbalkan?" ucap
sang sepuh sembari melototi para mahasiswa itu satu per satu.
Tak ada jawaban yang keluar, Pak Tomo pun berkata kepada sang sepuh, "Maaf
kanjeng, rasanya percuma menyuruh mereka memilih. Lebih baik, kita
ambil salah satu saja langsung."
Tidak setuju dengan saran Pak
Tomo, sang sepuh pun menyuruhnya diam. Lalu sang sepuh berkata kepada
Pak Tomo dengan bertutur, "Salah satu dari mereka akan mati. Kita ndak
boleh memilih sepihak. Kita harus cari tahu siapa diantara mereka yang
sudah ikhlas mati hari ini." Ucap sang sepuh bersahaja. Dan jurur, ia
hanya sedang bermain-main saat ini. Dan Pak Tomo pun tahu, kalau sang
sepuh hanya sedang menggoda keempat mahasiswa itu semata. Karena Pak
Tomo tahu, kalau sang sepuh senang bermain-main dengan orang-orang yang
akan ia bunuh.
Sembari menatapi wajah Abil, Estu, Hagia dan
Dian, sang sepuh pun mulai mengajak mereka bicara satu per satu. "Cah
bagus, kamu sudah siap mati malam ini?" ucapnya bertanya kepada Abil.
Lalu sang sepuh pun kembali melanjutkan, "Kalau kamu sudah siap mati
hari ini, cah bagus?" ucapnya kepada Estu. "Cah ayu, kamu sudah siap
mati malam ini?" ucapnya barusan kepada Hagia.
Tapi, ketiga mahasiswa itu tidak berkomentar sama sekali saat sang sepuh menanyai
mereka. Abil, Estu dan Hagia, hanya balik memandangnya dengan tatapan
keji nan bengis. Seakan tatapan mereka mengisyaratkan siap membunuh
semua warga desa termasuk sang sepuh sendiri andai mereka punya
__ADS_1
kesempatan untuk melawan.
Lalu setelah selesai menanyai Abil,
Estu dan Hagia, kini sang sepuh mulai berderap menghampiri Dian dengan
senyuman kecil. Setelah berhadapan dengan Dian, sang sepuh pun berkata,
"Kalau kamu sendiri cah ayu, kamu sudah siap untuk mati malam ini?"
tapi berbeda dengan gestur yang ditunjukkan oleh Abil, Estu dan Hagia
yang seakan melawan, Dian yang sedang ditanyai kini justru mulai
menangis pilu. Dan sang sepuh yang melihat Dian menangis pun mulai
tersenyum lebar. Seakan ia menyukai ekspresi kesedihan Dian yang
sebentar lagi akan mati ditangannya.
Sembari menatap Dian dalam, sang sepuh pun mulai membelai rambut Dian pelan. Lalu mengusap wajah
Dian dengan lembut setelahnya. Dian yang tidak bisa melawan pun hanya
bisa menangis dan menangis. Melihat Dian yang diperlakukan demikian,
Abil dan Hagia sontak langsung mencaci maki sang sepuh dengan lantang.
Di sela-sela caci makian Abil juga Hagia kepadanya, kini sang sepuh pun
telah memutuskan... akan menjadikan Dian... sebagai orang pertama yang
akan ia tumbalkan.
Tanpa bermain-main lagi dengan mangsanya, sang
sepuh menyuruh Pak Tomo untuk membawa dian menuju belakang rumah.
Suara tangisan pilu serta mohon ampunan yang keluar dari bibir Dian pun
mulai menggema lantang di sana. Dan dengan kepala mata mereka sendiri,
Abil, Estu dan Hagia melihat sosok Dian yang mulai berderap keluar
ruangan dengan kondisi yang miris.
Ya. Inilah saat dimana, Abil, Estu dan Hagia... melihat wajah Dian untuk yang terakhir kali... sembari meneriakkan namanya.
@ @ @ @ @
Sesampainya di belakang rumah, Pak Tomo melepas cengkramannya dari Dian, membuat
Dian pun jatuh tersungkur di tanah. Lalu Mulan, menantu sang sepuh yang
sudah berada di sana bergegas membangunkan posisi Dian hingga
membuatnya menjadi terduduk.
Masih dengan kaki dan tangan yang
terikat, Dian mulai disirami air kembang yang sudah dipersiapkan oleh
menantu sang sepuh di sana. Dengan menangis, meronta dan meminta
ampunan, air kembang yang sudah dijampi-jampi itu mulai membasahi tubuh
Dian yang tak berdaya dengan sempurna.
Lalu sang sepuh yang baru saja datang dari dalam, mulai menghampiri Dian, lalu ia pun
berkata, "Cah ayu, kamu harus ikhlas. Kematian kamu, darah di dalam
tubuh kamu, akan menyelamatkan desa ini dari kebinasaan. Jangan menangis
cah ayu. Kamu harus bangga. Karena di akhir hidup kamu, kamu bisa
mata Dian yang membasahi pipi.
Di dalam ketakutannya yang teramat sangat, Dian pun bertutur, "Mbah, Pak, Bu... tolong lepasin
saya sama temen-temen saya. Kami janji akan menolong desa kalian agar
subur kembali. Kalau tidak, biarkan kami keluar desa lalu meminta
bantuan. Kami akan membawa banyak makanan dari luar ke desa ini." Ucap
Dian dengan suara yang lirih.
Lalu dengan cepat sang sepuh pun berkata, "Dulu teman kamu yang bernama Abil pernah mengeluh kepada
saya. Teman kamu bingung karena semua makanan yang ia bawa dari luar
tetiba saja membusuk. Kamu tahu kenapa alasannya cah ayu? Karena
makanan dari luar akan cepat membusuk jika dibawa ke desa ini. Bukan
hanya itu, orang luar pun ndak akan pernah bisa masuk ke desa ini.
Mereka semua akan dibuat tersesat di dalam kabut. Kalaupun bisa, mereka
semua harus dituntun oleh kami sampai ke sini, lalu harus melakukan
getih mawar terlebih dahulu, agar mereka tidak mati cepat karena tubuh
yang mengering. Dan kami pun, ndak bisa keluar desa dengan sembarang.
Karena bisa-bisa kulit kami meleleh. Andaikan apa yang kamu sarankan
barusan bekerja, pastilah kami ndak akan menumbalkan kamu sekarang, cah
ayu." Tegas sang sepuh barusan dengan penuh kebenaran. Desa ini adalah
tanah terkutuk nan jahanam. Jika ada yang berhasil memasukinya, maka
tidak akan ada lagi yang bisa pergi keluar.
Setelah mejelaskan panjang lebar kesalahan Dian barusan, sang sepuh pun mengeluarkan
sebilah keris berukuran kecil dari dalam bajunya. Keris yang sedang
sang sepuh genggam pun ia mainkan ke wajah Dian dengan berirama.
Menyentuh pipinya. Menyentuh dagunya. Menyentuh keningnya. Hingga
kemudian... keris itu bertengger di ujung nadi leher Dian. Melihat
ekspresi Dian yang begitu kalut, sang sepuh pun kembali berkata, "Cah
ayu, bilang ke saya. Kamu mau saya sayat di bagian tubuh mana yang
lebih dulu? Tangan kamu? Kaki kamu? Atau leher kamu?"
Dian yang melihat keris itu bertengger di lehernya, yang disertai dengan ucapan
bengis sang sepuh barusan, seakan membuat Dian merasa gila. Tubuhnya
langsung memanas, seakan darahnya mendidih bergolak-golak. Detak
jantungnya yang berdebar pun seakan membuat nafas Dian menjadi
terengah-engah. Lalu dengan satu gerakan yang kuat... Dian pun berteriak
keras. Satu teriakan lantang yang akan terdengar sampai jauh. Satu
teriakan yang akan sampai pula ke telinga Abil, Estu dan Hagia berada.
Mendengar teriakan Dian yang begitu melengking, membuat senyum lebar sang sepuh
__ADS_1
pun merekah. Lalu dengan satu gerakan sayatan yang kuat, sang sepuh pun
langsung memotong lidah Dian cepat. Sayatan yang akhirnya memutus
lidah Dian dalam sekejap mata. Darah segar pun mulai mengalir pelan
dari mulut dian yang sedang terpekik. Suara teriakan lantang lainnya
pun mulai menggema di udara. Suara yang menandakan bahwa Dian saat ini
sedang menjerit kesakitan atas siksaan yang pedih.
Ya. Dian mulai dieksekusi mati saat ini. Dan setelah lidahnya dipotong, sang
sepuh pun mulai melanjutkan sayatannya ke bagian tubuh Dian yang lain.
Hingga akhirnya... jerit Dian pun mulai memudar di udara perlahan. Yang
menandakan... bahwa Dian, telah tewas.
Dengan terus menyayat-nyayat tubuh Dian, Pak Tomo, Pak Bimo serta istrinya mulai
menadahi darah yang keluar dari tubuh Dian dengan cekatan. Membuat
wadah yang masing-masing mereka pegang mulai memerah terisi oleh darah.
Setelah banyak darah terkumpul, sang sepuh sekaligus warga, mulai menyirami
tanah desa dengan darah segar Dian. Ada yang pergi ke sisi barat. Ada
yang berlari ke sisi timur. Ada yang menuju sisi selatan. Dan juga ada
yang berbondong-bondong menuju sisi utara.
Lalu setelah selesai menyirami tanah desa dengan darah, kini jasad Dian dibawa menuju pohon
beringin besar yang letaknya berada di hutan belakang desa.
Beberapa pria di sana terlihat sedang menggali tanah, termasuk seorang kakek
tua yang dimana Dian takut kepadanya dulu. Dirasa cukup, jasad Dian pun
dibuang ke dalam pusara. Lalu mulai menimbunnya kembali dengan tanah.
Setelah 21 tahun hidup, inilah cerita akhir dari kehidupan Dian.
Setelah berhasil mengubur jasad Dian serta menabur darahnya ke seluruh penjuru
desa, dengan wajah sumringah, para warga mulai saling melempar
senyuman. Seakan-akan inilah penantian yang sedang mereka
tunggu-tunggu. Seakan-akan dahaga mereka telah terbasuh dengan sempurna
di malam ini.
Ya. Semua warga desa memang telah menanti
saat-saat ini tiba. Sebuah hari dimana... ritual 'Nandur Manungsa' atau
yang bermakna 'Menanam Manusia', dapat kembali mereka lakukan setelah 8
bulan menanti. Dengan menumbalkan Dian, akhirnya warga desa bisa
bernafas lega kini.
Karena sebentar lagi, desa mereka akan kembali subur.
@ @ @ @ @
Satu bulan telah berlalu. Dan benar, saat ini, kondisi desa mulai membaik.
Para warga mulai bisa memetik hasil panen mereka pada bulan ini. Meski
dirasa belum maksimal, tapi setidaknya para warga tidak akan kelaparan
hingga ritual 'Nandur Manungsa' berikutnya datang. Yaitu, sekitar 3
bulan lagi.
Bahkan saat ini bukan hanya tanah desa mereka yang
kembali subur. Tapi para wanita dewasa yang ada di desa pun mulai
mengandung pula. Jika di total, ada sekitar 17 wanita yang kini sedang
mengandung. Termasuk, istri dari Pak Bimo yang juga menantu sang sepuh.
Meski miris, tapi berita ini adalah kabar baik bagi para warga desa. Tanah
yang kembali subur, serta para wanita yang kembali hamil, merupakan
anugrah tersendiri bagi warga. Tak terkecuali Pak Tomo. Ia pun saat ini
berada di rumah sang sepuh untuk mengabarkan kalau istrinya juga hamil.
Di hadapan sang sepuh, Pak Tomo pun berkata, "Kanjeng. Dengan
menumbalkan mahasiswa bernama Dian kemarin, sekarang desa kita kembali
sejahtera. Ini benar-benar luar biasa." Ucapnya dengan begitu sumringah.
Tapi berbeda dengan Pak Tomo, raut wajah sang sepuh kini justru terlihat
dingin, seakan ia tidak setuju atas apa yang diucapkan oleh Pak Tomo
barusan. Dengan sorot mata yang dalam, sang sepuh pun bertutur, "Tomo,
kamu jangan terlalu senang. Menumbalkan orang dari luar hanya akan
menekan kutukan sebentar saja. 2 atau 3 bulan lagi, kesuburan di desa
ini pasti akan kembali binasa. Kita jangan berpangku kepada para
mahasiswa yang tersisa. Akan lebih baik, kalau wanita sialan yang ada di
dalam 'Punden' itu hamil dengan segera. Karena menumbalkan garis
keturunan langsung si keparat itu, efeknya jauh lebih kuat untuk menekan
kutukan yang membelenggu kita, dibanding darah dan daging para
mahasiswa itu. Sekarang, bagaimanapun caranya, cepat buat si wanita
sialan itu hamil. Karena kita butuh keturunannya secepat mungkin." Tegas
sang sepuh seakan sedang menghakimi.
Pak Tomo pun tidak membalas petuah sang sepuh barusan. Ia hanya menganggukan kepala seperti orang ketakutan.
Lantas... siapa 'Wanita Sialan' yang sedang dimaksud sang sepuh tadi?
Ya.Namanya adalah Mutih. Dia adalah cucu keturunan langsung dari sang
ketua sekte terdahulu yang memimpin desa. Sang ketua sekte... yang telah
mengutuk desa ini dan seisinya.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1