[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 4 : GETIH MAWAR


__ADS_3

Senja mulai membentang di langit. Penghujung hari hampir tiba. 7


orang di sana terus menyusuri hutan yang berselimut kabut dengan


hati-hati. Selangkah demi selangkah. Langkah berirama yang meninggalkan


jejak kaki di jalan setapak.


Sembari terus menyusuri hutan,


beberapa diantara mereka membuka suara untuk memecah keheningan. Adalah


Abil yang bertanya kepada Pak Tomo dengan kalimat, "Pak, emangnya buat


masuk desa harus lewat jalan ini? Gak ada jalan lain?" bukan maksud


memprotes, pertanyaan Abil barusan hanya sekedar keingintahuannya


semata.


Tanpa berlama-lama, Pak Tomo langsung menjawab, "Iya mas.


Cuma ini jalan satu-satunya. Kalau mau keluar masuk desa ya cuma ini


jalannya. Selain jalan ini, ndak ada jalan lain. Semuanya jurang."


Mendengar fakta barusan, Abil merespons dengan mengangguk-anggukan kepala.


Dengan maksud ingin membuat suasana mencair, Abil kini lebih sering melempar


pertanyaan kepada Pak Tomo maupun kedua rekan Pak Tomo yang lain selama


di perjalanan. Memang hanya sebatas pertanyaan basa-basi semata. Tapi


dengan percakapan diantara mereka, Abil berharap bisa menjalin ikatan


yang lebih kuat dengan ketiga orang itu. Dan di sepanjang perjalanan


yang tersisa, sepertinya mereka mulai bisa akrab satu sama lain.


Setelah sekian jauh menyusuri hutan, kini di ujung sana sudah terlihat gapura


dengan disain sederhana yang akan menyambut kedatangan mereka. Sesaat


lagi, mereka akan sampai di depan gerbang desa.


Ketika semakin mendekati gapura yang terlihat kusam dan kuno itu, Abil, Estu, Hagia


dan Dian melihat pemakaman yang tidak jauh dari sana. Pemakaman


terbengkalai yang seakan-akan tidak pernah lagi ada orang yang mau


menziarahinya. Pemakaman yang justru terlihat mengerikan dengan


banyaknya tanaman liar yang menyelimuti.


Gapura yang kusam, kuno


dan sedikit rusak. Lalu pemakaman terbengkalai yang membuat bulu kuduk


merinding saat melihatnya. Juga hutan lebat yang berkabut, serta


panorama yang sedang terbungkus oleh langit petang yang cahayanya kian


memudar. Tentu suasana saat ini membuat ke-empat mahasiswa itu


merasakan hawa berbeda. Tempat dimana mereka berpijak kini, seakan


membuat mereka merasa berada di alam lain.


Tapi, suasana mencekam


ternyata belumlah selesai. Sesaat mereka sampai di dekat gapura, Pak


Tomo menyuruh para mahasiswa itu untuk berhenti. Dengan menghormati


permintaannya, Abil, Estu, Hagia dan Dian pun menuruti. Kini ke empat


mahasiswa itu sedang berdiri di dekat kumpulan bunga mawar yang tumbuh


liar di sana. Dan di kala mereka berempat berdiri mematung, Pak Tomo


mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya, lalu berkata, "Sekarang,

__ADS_1


lukai jari kalian. Lalu teteskan darah kalian ke atas bunga mawar


ini." Titah Pak Tomo sembari menyodorkan pisau kecil.


Sontak, kalimat Pak Tomo barusan membuat para mahasiswa ini mengernyitkan dahi.


Tanpa mampu berkata-kata, Abil, Estu, Hagia dan Dian hanya bisa melirik


satu sama lain dengan raut wajah keheranan. Mereka heran dengan


permintaan Pak Tomo yang janggal. Dan jelas, banyak hal yang sedang


terlintas di benak mereka untuk ditanyakan.


Tapi belum sempat ada


yang memprotes atau sekedar mengajukan pertanyaan, Pak Tomo kembali


berkata, "Ayo mas, mbak, ndak apa-apa. Ini cuma adat desa aja. Kalo ada


orang luar mau masuk desa, memang seperti ini adatnya."


Tak yakin dengan adat yang dianggapnya nyeleneh tersebut, Dian langsung


melempar pertanyaan kepada Pak Tomo dengan berkata, "Kalau boleh tau,


fungsinya buat apa ya pak?" Tanya Dian dengan wajah yang heran.


Pak Tomo pun langsung menjelaskan, "Ini adalah warisan leluhur kami.


Leluhur kami menyebutnya getih mawar. Leluhur kami bilang, adat ini


berguna buat memberikan perlindungan kepada orang luar yang mau masuk ke


desa."


Jawaban Pak Tomo barusan masih dianggap kurang logis.


Dengan cepat, kini Hagia gantian menimpal dengan bertanya, "Jadi


maksudnya, desa Abimantrana itu berbahaya gitu pak?"


Pertanyaan Hagia barusan membuat Pak Tomo sedikit mengerjap. Tapi dengan tenang,


Maksudnya begini mbak. Getih mawar itu semacam adat supaya energi di


desa kami menyelimuti kalian. Supaya leluhur kami mengenal kalian.


Supaya kalian bisa betah. Maklum mbak, namanya juga desa pelosok. Pasti


banyak adat kami yang aneh bagi orang luar." Tutur Pak Tomo sembari


tertawa kecil. Lalu Pak Tomo pun melanjutkan seraya berkata, "Getih


mawar ini harus kalian jalani kalau mau masuk desa. Kalau kalian ndak


sanggup, saya persilahkan untuk pulang." Tegas Pak Tomo mengakhirinya


kalimatnya.


Setelah Pak Tomo menjabarkan dengan jelas adat yang


bernama Getih mawar itu, Abil, Estu, Hagia dan Dian meminta waktu


sebentar kepada Pak Tomo. Mereka meperdebatkan soal ini secara


internal. Hagia dan Dian jelas enggan untuk melakukannya, meski itu


sebuah adat sekalipun. Dan perdebatan ini akhirnya membuat Abil sendiri


merasa bimbang. Abil merasa enggan menjalankan adat, tapi di sisi


lain, mau tidak mau mereka harus melakukannya agar rencana KKN ini


berjalan lancar. Dengan meminta sedikit waktu lebih kepada Pak Tomo,


mereka terus memperdebatkan hal ini.


Tapi saat Abil, Hagia dan Dian berdebat, tetiba saja mereka melihat Estu melangkahkan kakinya,


maju menghampiri Pak Tomo. Lalu Estu meminta pisau itu dari Pak Tomo


dan mulai melukai ujung jari kelingking kirinya. Kemudian, bunga mawar

__ADS_1


di sana mulai basah dengan tetes darah yang jatuh dari jari kelingking


Estu.


Apa yang dilakukan Estu barusan jelas membuat Abil, Hagia


dan Dian terkejut. Mereka yang sebelumnya berdebat, kini tidak bisa


berkata-kata. Mereka heran dengan tingkah Estu yang dengan santai mau


melakukan adat janggal itu.


Tapi setelah Estu melakukan adat Getih mawar, pikiran Abil kini tidak lagi menjadi bimbang. Tidak peduli


dengan sanggahan Hagia dan Dian, kini Abil mulai melangkahkan kakinya


menghampiri Estu. Abil meminta pisau kecil itu darinya, lalu mulai


menyayat jari kelingking kirinya dengan cepat. Kini, darah Abil mulai


menetes membasahi bunga-bunga mawar di sana.


Abil yang baru saja melakukan Getih mawar mulai mencoba menasehati Hagia dan Dian agar mau


melakukannya juga. Ada sedikit gesekan yang terjadi. Tapi dengan terus


membujuk mereka berulang-ulang, akhirnya Hagia pun mengalah. Asumsi


logis yang keluar dari mulut Abil membuat Hagia akhirnya luluh. Kini,


Hagia siap melakukan Getih mawar.


Tapi saat hagia ingin melangkah


menghampiri Abil, pergelangan tangannya sempat ditahan oleh Dian. Dian


menggenggam tangan Hagia dengan cukup kuat. Secara simbolis, Dian


bermaksud menghentikan Hagia. Dian ingin Hagia tidak melakukan Getih


mawar. Bahkan dari lubuk hatinya yang paling dalam, Dian berharap semua


temannya mau memikirkan rencana KKN ini ulang. Raut wajahnya yang


meringis semakin menyiratkan bahwa Dian sedang ketakutan.


Mengerti maksud Dian, Hagia balik menggenggam tangannya. Hagia mencoba


menenangkan teman baiknya itu sembari berkata, "Gapapa. Lo tenang aja.


Ini cuma adat doang kok. Lagian kita udah di sini. Gak mungkin kan kita


batalin KKN nya." Tutur Hagia dengan lembut.


Getih mawar adalah adat yang mau tidak mau harus dilakukan agar bisa memasuki desa. Meski


dari lubuk hatinya yang paling dalam, jujur Dian merasa tak sanggup


menjalani adat itu. Tapi demi teman-temannya, Dian berusaha termotivasi


agar bisa mengalahkan dirinya sendiri.


Setelah meminta waktu beberapa saat, Dian pun menarik nafas panjang lalu membuka matanya.


Meski sorot matanya menyiratkan bahwa ia merasa enggan, tapi pada


akhirnya Dian pun menurut. Kini, Hagia dan Dian mulai menyayat ujung


jari mereka secara bergantian. Tetes darah keduanya mulai jatuh basahi


bunga-bunga mawar di sana.


Dan setelah menjalani getih mawar, para mahasiswa itu pun, mulai memasuki desa.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2