![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Senja mulai membentang di langit. Penghujung hari hampir tiba. 7
orang di sana terus menyusuri hutan yang berselimut kabut dengan
hati-hati. Selangkah demi selangkah. Langkah berirama yang meninggalkan
jejak kaki di jalan setapak.
Sembari terus menyusuri hutan,
beberapa diantara mereka membuka suara untuk memecah keheningan. Adalah
Abil yang bertanya kepada Pak Tomo dengan kalimat, "Pak, emangnya buat
masuk desa harus lewat jalan ini? Gak ada jalan lain?" bukan maksud
memprotes, pertanyaan Abil barusan hanya sekedar keingintahuannya
semata.
Tanpa berlama-lama, Pak Tomo langsung menjawab, "Iya mas.
Cuma ini jalan satu-satunya. Kalau mau keluar masuk desa ya cuma ini
jalannya. Selain jalan ini, ndak ada jalan lain. Semuanya jurang."
Mendengar fakta barusan, Abil merespons dengan mengangguk-anggukan kepala.
Dengan maksud ingin membuat suasana mencair, Abil kini lebih sering melempar
pertanyaan kepada Pak Tomo maupun kedua rekan Pak Tomo yang lain selama
di perjalanan. Memang hanya sebatas pertanyaan basa-basi semata. Tapi
dengan percakapan diantara mereka, Abil berharap bisa menjalin ikatan
yang lebih kuat dengan ketiga orang itu. Dan di sepanjang perjalanan
yang tersisa, sepertinya mereka mulai bisa akrab satu sama lain.
Setelah sekian jauh menyusuri hutan, kini di ujung sana sudah terlihat gapura
dengan disain sederhana yang akan menyambut kedatangan mereka. Sesaat
lagi, mereka akan sampai di depan gerbang desa.
Ketika semakin mendekati gapura yang terlihat kusam dan kuno itu, Abil, Estu, Hagia
dan Dian melihat pemakaman yang tidak jauh dari sana. Pemakaman
terbengkalai yang seakan-akan tidak pernah lagi ada orang yang mau
menziarahinya. Pemakaman yang justru terlihat mengerikan dengan
banyaknya tanaman liar yang menyelimuti.
Gapura yang kusam, kuno
dan sedikit rusak. Lalu pemakaman terbengkalai yang membuat bulu kuduk
merinding saat melihatnya. Juga hutan lebat yang berkabut, serta
panorama yang sedang terbungkus oleh langit petang yang cahayanya kian
memudar. Tentu suasana saat ini membuat ke-empat mahasiswa itu
merasakan hawa berbeda. Tempat dimana mereka berpijak kini, seakan
membuat mereka merasa berada di alam lain.
Tapi, suasana mencekam
ternyata belumlah selesai. Sesaat mereka sampai di dekat gapura, Pak
Tomo menyuruh para mahasiswa itu untuk berhenti. Dengan menghormati
permintaannya, Abil, Estu, Hagia dan Dian pun menuruti. Kini ke empat
mahasiswa itu sedang berdiri di dekat kumpulan bunga mawar yang tumbuh
liar di sana. Dan di kala mereka berempat berdiri mematung, Pak Tomo
mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya, lalu berkata, "Sekarang,
__ADS_1
lukai jari kalian. Lalu teteskan darah kalian ke atas bunga mawar
ini." Titah Pak Tomo sembari menyodorkan pisau kecil.
Sontak, kalimat Pak Tomo barusan membuat para mahasiswa ini mengernyitkan dahi.
Tanpa mampu berkata-kata, Abil, Estu, Hagia dan Dian hanya bisa melirik
satu sama lain dengan raut wajah keheranan. Mereka heran dengan
permintaan Pak Tomo yang janggal. Dan jelas, banyak hal yang sedang
terlintas di benak mereka untuk ditanyakan.
Tapi belum sempat ada
yang memprotes atau sekedar mengajukan pertanyaan, Pak Tomo kembali
berkata, "Ayo mas, mbak, ndak apa-apa. Ini cuma adat desa aja. Kalo ada
orang luar mau masuk desa, memang seperti ini adatnya."
Tak yakin dengan adat yang dianggapnya nyeleneh tersebut, Dian langsung
melempar pertanyaan kepada Pak Tomo dengan berkata, "Kalau boleh tau,
fungsinya buat apa ya pak?" Tanya Dian dengan wajah yang heran.
Pak Tomo pun langsung menjelaskan, "Ini adalah warisan leluhur kami.
Leluhur kami menyebutnya getih mawar. Leluhur kami bilang, adat ini
berguna buat memberikan perlindungan kepada orang luar yang mau masuk ke
desa."
Jawaban Pak Tomo barusan masih dianggap kurang logis.
Dengan cepat, kini Hagia gantian menimpal dengan bertanya, "Jadi
maksudnya, desa Abimantrana itu berbahaya gitu pak?"
Pertanyaan Hagia barusan membuat Pak Tomo sedikit mengerjap. Tapi dengan tenang,
Maksudnya begini mbak. Getih mawar itu semacam adat supaya energi di
desa kami menyelimuti kalian. Supaya leluhur kami mengenal kalian.
Supaya kalian bisa betah. Maklum mbak, namanya juga desa pelosok. Pasti
banyak adat kami yang aneh bagi orang luar." Tutur Pak Tomo sembari
tertawa kecil. Lalu Pak Tomo pun melanjutkan seraya berkata, "Getih
mawar ini harus kalian jalani kalau mau masuk desa. Kalau kalian ndak
sanggup, saya persilahkan untuk pulang." Tegas Pak Tomo mengakhirinya
kalimatnya.
Setelah Pak Tomo menjabarkan dengan jelas adat yang
bernama Getih mawar itu, Abil, Estu, Hagia dan Dian meminta waktu
sebentar kepada Pak Tomo. Mereka meperdebatkan soal ini secara
internal. Hagia dan Dian jelas enggan untuk melakukannya, meski itu
sebuah adat sekalipun. Dan perdebatan ini akhirnya membuat Abil sendiri
merasa bimbang. Abil merasa enggan menjalankan adat, tapi di sisi
lain, mau tidak mau mereka harus melakukannya agar rencana KKN ini
berjalan lancar. Dengan meminta sedikit waktu lebih kepada Pak Tomo,
mereka terus memperdebatkan hal ini.
Tapi saat Abil, Hagia dan Dian berdebat, tetiba saja mereka melihat Estu melangkahkan kakinya,
maju menghampiri Pak Tomo. Lalu Estu meminta pisau itu dari Pak Tomo
dan mulai melukai ujung jari kelingking kirinya. Kemudian, bunga mawar
__ADS_1
di sana mulai basah dengan tetes darah yang jatuh dari jari kelingking
Estu.
Apa yang dilakukan Estu barusan jelas membuat Abil, Hagia
dan Dian terkejut. Mereka yang sebelumnya berdebat, kini tidak bisa
berkata-kata. Mereka heran dengan tingkah Estu yang dengan santai mau
melakukan adat janggal itu.
Tapi setelah Estu melakukan adat Getih mawar, pikiran Abil kini tidak lagi menjadi bimbang. Tidak peduli
dengan sanggahan Hagia dan Dian, kini Abil mulai melangkahkan kakinya
menghampiri Estu. Abil meminta pisau kecil itu darinya, lalu mulai
menyayat jari kelingking kirinya dengan cepat. Kini, darah Abil mulai
menetes membasahi bunga-bunga mawar di sana.
Abil yang baru saja melakukan Getih mawar mulai mencoba menasehati Hagia dan Dian agar mau
melakukannya juga. Ada sedikit gesekan yang terjadi. Tapi dengan terus
membujuk mereka berulang-ulang, akhirnya Hagia pun mengalah. Asumsi
logis yang keluar dari mulut Abil membuat Hagia akhirnya luluh. Kini,
Hagia siap melakukan Getih mawar.
Tapi saat hagia ingin melangkah
menghampiri Abil, pergelangan tangannya sempat ditahan oleh Dian. Dian
menggenggam tangan Hagia dengan cukup kuat. Secara simbolis, Dian
bermaksud menghentikan Hagia. Dian ingin Hagia tidak melakukan Getih
mawar. Bahkan dari lubuk hatinya yang paling dalam, Dian berharap semua
temannya mau memikirkan rencana KKN ini ulang. Raut wajahnya yang
meringis semakin menyiratkan bahwa Dian sedang ketakutan.
Mengerti maksud Dian, Hagia balik menggenggam tangannya. Hagia mencoba
menenangkan teman baiknya itu sembari berkata, "Gapapa. Lo tenang aja.
Ini cuma adat doang kok. Lagian kita udah di sini. Gak mungkin kan kita
batalin KKN nya." Tutur Hagia dengan lembut.
Getih mawar adalah adat yang mau tidak mau harus dilakukan agar bisa memasuki desa. Meski
dari lubuk hatinya yang paling dalam, jujur Dian merasa tak sanggup
menjalani adat itu. Tapi demi teman-temannya, Dian berusaha termotivasi
agar bisa mengalahkan dirinya sendiri.
Setelah meminta waktu beberapa saat, Dian pun menarik nafas panjang lalu membuka matanya.
Meski sorot matanya menyiratkan bahwa ia merasa enggan, tapi pada
akhirnya Dian pun menurut. Kini, Hagia dan Dian mulai menyayat ujung
jari mereka secara bergantian. Tetes darah keduanya mulai jatuh basahi
bunga-bunga mawar di sana.
Dan setelah menjalani getih mawar, para mahasiswa itu pun, mulai memasuki desa.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1