[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 8 : SUKMA PURNAMA


__ADS_3

Saat ini waktu sudah


menunjukkan pukul 3 sore. Awan gelap yang membentang di langit luas pun


seakan sudah siap menjatuhkan air hujan tanpa ampun. Tapi untung saja


agenda proker para mahasiswa hari ini telah selesai, selesai tepat waktu


sebelum hujan mengguyur deras sebentar lagi.


Abil, Estu dan Hagia masih berada di tempat mereka bekerja saat ini untuk


beres-beres. Sedangkan Dian terpaksa disuruh pulang duluan untuk


menyelamatkan berkas-berkas dan beberapa perangkat penting sebelum hujan


turun mengguyur. Ya, dibanding rekan lainnya yang akan membawa muatan


lebih banyak, Dian yang bertubuh mungil diberikan keringanan dengan


hanya membawa berkas-berkas dan beberapa perangkat kecil saja.


Tapi belum juga sampai di rumah singgah, hujan sudah mulai turun deras.


Tapi untung saja Dian sudah memasuki pemukiman warga, sehingga ia bisa


meneduh di salah satu sudut rumah warga terdekat. Meski Dian tahu,


bahwa rumah yang saat ini ia datangi untuk meneduh adalah rumah milik


seorang kakek tua dengan senyumannya yang mengerikan itu. Dian hanya


berharap dalam hati, semoga saja sang kakek tidak keluar rumah dan


menemuinya.


Tatkala Dian sedang berdiri mematung melihat hujan, tetiba saja pintu rumah


tersebut terbuka secara perlahan. Suara derit pintu yang berbunyi


membuat Dian menoleh ke sumber suara dengan perasaan yang was-was. Tak


lama berselang, Dian melihat seseeorang keluar dari rumah itu dengan


jalan yang tertatih. Dan benar, sosok tersebut adalah sang kakek tua


yang Dian harap tidak bertemu dengannya.


Melihat Dian yang sedang meneduh di teras rumahnya, sang kakek itupun menyapa


Dian dengan berkata, "Bisa tolong mbah sebentar ndak?" Ucap sang kakek


meminta tolong.


Dian yang sebelumnya takut dengan kakek itupun, kini mau tidak mau harus


menggubris permintaannya. Dian akan merasa bersalah jika menolak


permintaan warga desa. Lalu dengan perasaan agak takut, Dian pun


menjawab, "Mi-minta tolong... a-apa Mbah?"


Dengan intonasi mengayun, sang kakek kembali berkata, "Tolong Mbah buatin bubur. Boleh ndak?"


Merasa mampu membantunya, Dian pun menerima permintaan kakek tua itu. Lalu masuk ke dalam rumahnya.


Sesampainya di dapur rumah, sang kakek meminta Dian untuk menumbuk nasi hingga


membuatnya menjadi halus seperti bubur. Tentu itu bukanlah permintaan


yang sulit. Tapi yang membuat Dian bingung adalah, bahwa langseng nasi


yang ditunjukkan oleh si kakek ternyata sudah kosong. Tidak ada nasi di


dalam sana, bahkan langsengnya saja sudah dipenuhi belatung dan juga


berbau busuk karena tidak pernah di cuci. Dian pun langsung bertanya


kepada si kakek dengan berkata, "Maaf Mbah, nasinya habis. Apa mau saya


buatin dulu?" ucap Dian dengan perasaan yang masih was-was.


Mendengar saran dari Dian, lalu sang kakek meneruskan, "Kalau gitu ambil dulu


berasnya di pendaringan itu." Tunjuknya ke arah sebuah wadah yang


terbuat dari anyaman bambu yang berukuran sedang.


Dian pun menuruti apa yang dikatakan oleh sang kakek, Dian mulai berderap


menuju pendaringan. Tapi saat Dian membuka tutup pendaringan di sana


untuk mengambil beras, ia melihat isi di dalam pendaringan ternyata


sudah kosong pula, lalu Dian pun berkata, "Maaf Mbah, berasnya juga


habis."


Mendengar sanggahan dari Dian, tanpa rasa jijik, sang kakek mulai mengambil


belatung dari dalam langseng lalu memindahkannya ke sebuah piring yang


terbuat dari kayu. Dian hanya mampu memasang wajah meringis ketika


melihat kelakuan lansia tersebut. Kemudian sang kakek pun menyuruh Dian


untuk menumbuknya dengan bertutur, "Tolong tumbukin sampai halus. Biar


jadi bubur." Ucapnya dengan maksud agar Dian mau menumbuk


belatung-belatung itu hingga hancur.


Seketika Dian pun langsung terkejut. Ia juga langsung menyanggah permintaan


sang kakek dengan berucap, "Maaf Mbah, saya gak mampu. Saya gak kuat


ngelakuinnya. Lagian Mbah, itu kan belatung. Jangan dimakan Mbah, nanti


sakit." Ujar Dian dengan memasang wajah meringis.


Sang kakek pun menyanggah ucapan Dian tadi dengan bercerita, "Ini desa


miskin, ndak ada makanan di desa ini. Tanahnya tandus. Ndak bisa buat


bertani. Ndak ada yang bisa dimakan. Jadi ndak apa-apa. Makan belatung


saja, daripada kelaparan." Tuturnya sembari menumbuk belatung-belatung


yang berada di atas piring kayu tersebut.


Kalimat yang keluar dari bibir sang kakek barusan, seketika langsung membuat


Dian membatin. Dian mulai merasa heran dan bertanya-tanya. Apanya yang


desa miskin? Apanya pula yang membuat warga kelaparan? Apalagi sampai


harus memakan belatung dari sisa nasi yang membusuk. Karena selama 6

__ADS_1


hari Dian tinggal di sana, ia selalu tercukupi dengan segala kebutuhan


makanan. Tidak pernah Dian merasa kelaparan selama 6 hari tinggal di


desa. Karenanya, Dian berpikir bahwa desa ini terjadi kesenjangan.


Tapi jika demikian, lalu kenapa pula tiap warga desa yang mereka temui


semuanya terlihat begitu kurus? Bahkan Pak Tomo dan Pak Bimo saja yang


selalu ada makanan di rumah mereka pun terlihat kurus? Ditambah semua


warga yang tidak pernah mau keluar desa meski hanya sesekali. Mereka


semua hanya mengandalkan apa yang ada di desa meski sudah kekurangan.


Setelah mencoba menelaah perkataan sang kakek itu dengan baik, Dian mulai


mendapat sebuah asumsi. Jika perkataan kakek tadi itu benar, berarti


selama ini makanan yang Dian dan teman-temannya makan adalah hidangan


yang memang dengan sengaja di persiapkan untuk mereka. Untuk membuat


seolah-olah desa itu kondisinya sedang baik-baik saja. Jika benar


demikian, lantas untuk apa sang sepuh, Pak Tomo dan Pak Bimo melakukan


hal tersebut?


Saat Dian membatin, sang kakek masih menumbuk belatung-belatung itu dengan


merata. Setelah selesai, sang kakek pun berkata kepada Dian, "Ndak


apa-apa walau belatung. Karena saudara-saudara Mbah pasti sudah lapar."


Kemudian membawa hidangan itu menuju sebuah kamar. Sang kakek pun


mengajak Dian dengan berkata, "Ayo sini, tolong suapin saudara-saudara


Mbah."


Hati kecil Dian sejujurnya sudah berteriak meminta pulang. Tapi di saat yang sama,


ia tidak bisa menolak permintaan warga desa, karena takut dilaporkan


lalu berimbas kepada program KKN mereka. Sebab itulah, Dian pun memilih


menurut. Lalu mulai mengekor di belakang sang kakek menuju sebuah


kamar.


Namun saat Dian masuk ke dalam kamar tersebut, ia terkejut setengah mati kala


melihat 3 orang lansia di sana sedang terbaring dengan mata mendelik,


pupil mata yang memutih serta tubuh yang mengejang di setiap detiknya.


Sontak, apa yang Dian lihat langsung membuatnya terkesiap dahsyat.


Tapi dengan tenang, sang kakek berkata kepada Dian dengan menegaskan,


"Saudara-saudara mbah sedang mengalami 'Sukma Purnama'. Mereka yang


sudah menginjak 40 tahun atau lebih akan mengalami ini. Para penduduk


pasti akan mengalami ini nanti."


Tanpa basa-basi lagi, Dian pun langsung bertanya, "Ka-karena apa Mbah?"


Dengan lantang, sang kakek pun berkata, "Kutukan."


Lalu sang kakek menatap Dian dengan sorot mata yang dalam, sembari bertuah,


"Sebentar lagi, awan hitam akan menyelimuti desa ini. Saudara-saudara


mbah dan warga lain, akan menjadi tawanan berikutnya." Tuturnya dengan


wajah serius. Lalu ia pun kembali melanjutkan kalimatnya kepada Dian


dengan berkata, "Kemari, tolong suapin saudara-saudara mbah untuk yang


terkahir kali." Seringainya mengakhiri kalimat.


Dian pun mulai bergidik di sekujur tubuh saat melihat senyuman sang kakek


yang terlihat mengerikan. Tak sampai di situ, sang kakek pun mulai


menyuapi saudaranya dengan belatung, yang membuat Dian mual


sejadi-jadinya dan langsung berlari keluar. Tanpa pikir panjang lagi,


Dian menerabas hujan untuk kembali ke rumah singgah.


@ @ @ @ @


Waktu saat ini sudah menunujukan pukul 5 sore lebih. Kondisi desa sudah


mulai gelap hingga harus menyalakan obor untuk menerangi rumah. Hujan


sendiri masih mengguyur deras di luar, dengan awan gelap yang terus


menyelimuti langit desa. Tapi Abil, Estu, Hagia dan Dian sudah


berkumpul di dalam rumah singgah sekarang. Hujan yang tak kunjung


berhenti, membuat mereka tak ada pilihan lain selain menerabasnya. Lalu


membuat pakaian mereka basah kuyup saat sampai.


Sesampainya di rumah singgah, secara bergantian, Abil, Estu dan Hagia memakai


kamar mandi yang berada di luar untuk bersih-bersih badan sekaligus


berganti pakaian. Tapi Abil dan Hagia sudah selesai melakukannya


beberapa saat yang lalu. Hanya tinggal Estu saja yang belum, dan ia


masih berada di kamar mandi saat ini.


Saat ini, Abil sedang berada di kamarnya, sedang duduk dan melihat-lihat


lemba kerja. Lalu saat Abil ingin mengambil posisi rebahan, secara tak


sengaja kakinya menyenggol tas milik Estu, hingga membuat tas itu pun


jatuh. Kala Abil hendak membenarkan posisi tas tersebut kembali, ia pun


tak sengaja melihat resleting bagian belakang tas terbuka. Dan dengan


samar, Abil seperti melihat banyak potongan kain putih di dalam sana.


Keingintahuan Abil pun bergelora. Abil kemudian merogoh benda tersebut dari dalam


tas Estu, lalu melihat potongan kain-kain putih yang sudah kotor oleh


tanah. Tapi belum sempat menerka benda tersebut sepenuhnya, Estu pun

__ADS_1


datang. Ia memergoki Abil sedang merogoh isi tasnya.


Abil pun seketika langsung salah tingkah. Tapi dengan wajah penasaran, Abil


mencoba memberanikan diri bertanya kepada Estu, "Coy, itu yang ada...


di dalem tas lu apaan? Kok kayak... kain kafan gitu?" tanya abil dengan


perasaan grogi.


Tapi Estu dengan santai menjawabnya dengan berkata, "Iya. Itu emang kain kafan. Itu tali pocong."


Melihat Estu yang mengatakan kalimat barusan dengan santai, membuat Abil tak


percaya. Lalu Abil kembali melempar pertanyaan kepada Estu lagi, "Serius


lu? Seriusan ini gw." Ucap Abil dengan wajah penuh keheranan.


Tapi alih-alih menjawab pertanyaan Abil barusan, Estu malah terlihat


melekukan bibirnya. Estu hanya menyeringai menjawab pertanyaan tersebut.


Yang kemudian membuat Abil pun berceletuk, "Dih, malah nyengir.


Bercanda mulu lu ah." Tambah abil dengan menggelengkan kepala serta


senyum ketus.


Tak selang beberapa lama, lalu Hagia datang ke kamar Abil dan Estu dengan


tingkah yang tergesa-gesa. Raut wajahnya juga terlihat cemas saat ini.


Kepada Abil dan Estu, Hagia pun berkata, "Dian... tingkahnya aneh


sekarang." Lapor Hagia dengan ikut menunjuk posisi kamarnya dimana Dian


berada. Kemudian mereka bertiga langsung menemui Dian segera.


Saat ditemui, Dian belum berganti pakaian. Bahkan baju yang sedang Dian


pakai masihlah agak basah karena menerabas hujan tadi. Raut wajahnya pun


pucat seperti sedang ketakutan sekarang. Dian benar-benar terlihat


janggal saat ini. Karena itulah, Abil dan Hagia mulai bertanya kepada


Dian mengenai apa yang sedang terjadi kepadanya. Dan saat mereka


bertanya, Dian pun berkata, "Kita harus pulang." Ucapnya dengan posisi


duduk meringkuk.


Tentu perkataannya barusan langsung memantik pertanyaan dari Abil dan Hagia.


Dicecar banyak pertanyaan, Dian pun mulai menjelaskan, "Kalian


sadarkan, warga desa di sini itu pada keliatan kurus? Kalian juga


sadarkan selama ini kita selalu diusir kalo mau bertamu ke rumah warga?


Kalian juga sadarkan sama adat desa yang selalu janggal? Kalian tau


kenapa? Karena desa ini nyembunyiin sesuatu dari kita. Ada sesuatu yang


berbahaya dari desa ini, yang bisa aja bikin kita celaka. Jadi lebih


baik kita pulang. Kita gak bisa tinggal lebih lama di desa ini. Karena


desa ini... adalah desa terkut--" belum sempat menyelesaikan


kalimatnya, tetiba saja petir menyambar keras dari langit. Di saat yang


sama, obor di dalam rumah singgah mereka pun mati.


Sontak, kejadian itu membuat Abil dan yang lain terkejut. Terutama Dian, yang


kini membuatnya semakin meringkuk dan mulai menangis.


Namun seakan belum cukup sampai di sana, tak berselang lama dari suara petir


yang menyambar, terdengar suara teriakan keras dari seorang perempuan


setelahnya. Suara teriakannya seperti seseorang yang sedang di siksa


dengan begitu pedih. Sumber suaranya sendiri tidak jauh dari rumah


singgah mereka berada. Hanya sekitar 3 rumah dari sana.


Dan seakan masih belum cukup, kemudian suara teriakan keras lainnya ikut


terdengar dari dalam rumah-rumah warga yang lain, seakan teriakan pilu


di sana seperti saling menyahut. Hingga membuat suasana di desa itu kini


berubah drastis menjadi mencekam.


Suara-suara teriakan itu membuat Abil dan yang lain menjadi kebingungan sekaligus


mulai ngeri. Khususnya dengan Dian yang menangis sembari menutup rapat


kedua telinganya. Dan secara sadar, Dian mulai paham dengan perkataan


sang kakek tua tadi yang ia temui, mengenai 'Awan hitam yang akan


menyelimuti desa'. Pasti inilah yang sedang kakek itu maksud.


Sekiranya sudah 10 menit telah berlalu. Suara jeritan belasan orang di desa itu


masih terus menggema ke seluruh penjuru, seakan ikut menemani suara


deras hujan dan guntur di sana yang sama kuatnya. Hingga kemudian,


dengan perlahan suara jeritan mereka mulai memelan, lalu kemudian


hilang. Menyisakan suara hujan dan guntur sebagai pengiring atas suara


jerit mereka yang memudar.


Tapi setelah suara jeritan mereka berakhir, suara berikutnya pun datang.


Yaitu, suara isak tangis keluarga masing-masing yang pecah ke seluruh


penjuru desa.


Sesaat kemudian, berita yang mengejutkan pun sampai kepada Abil dan yang lain.


Mereka dikabari, bahwa 18 warga desa... telah meninggal dunia.


Termasuk, 3 lansia yang merupakan saudara sang kakek tua yang tadi Dian


temui.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2