![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Saat ini waktu sudah
menunjukkan pukul 3 sore. Awan gelap yang membentang di langit luas pun
seakan sudah siap menjatuhkan air hujan tanpa ampun. Tapi untung saja
agenda proker para mahasiswa hari ini telah selesai, selesai tepat waktu
sebelum hujan mengguyur deras sebentar lagi.
Abil, Estu dan Hagia masih berada di tempat mereka bekerja saat ini untuk
beres-beres. Sedangkan Dian terpaksa disuruh pulang duluan untuk
menyelamatkan berkas-berkas dan beberapa perangkat penting sebelum hujan
turun mengguyur. Ya, dibanding rekan lainnya yang akan membawa muatan
lebih banyak, Dian yang bertubuh mungil diberikan keringanan dengan
hanya membawa berkas-berkas dan beberapa perangkat kecil saja.
Tapi belum juga sampai di rumah singgah, hujan sudah mulai turun deras.
Tapi untung saja Dian sudah memasuki pemukiman warga, sehingga ia bisa
meneduh di salah satu sudut rumah warga terdekat. Meski Dian tahu,
bahwa rumah yang saat ini ia datangi untuk meneduh adalah rumah milik
seorang kakek tua dengan senyumannya yang mengerikan itu. Dian hanya
berharap dalam hati, semoga saja sang kakek tidak keluar rumah dan
menemuinya.
Tatkala Dian sedang berdiri mematung melihat hujan, tetiba saja pintu rumah
tersebut terbuka secara perlahan. Suara derit pintu yang berbunyi
membuat Dian menoleh ke sumber suara dengan perasaan yang was-was. Tak
lama berselang, Dian melihat seseeorang keluar dari rumah itu dengan
jalan yang tertatih. Dan benar, sosok tersebut adalah sang kakek tua
yang Dian harap tidak bertemu dengannya.
Melihat Dian yang sedang meneduh di teras rumahnya, sang kakek itupun menyapa
Dian dengan berkata, "Bisa tolong mbah sebentar ndak?" Ucap sang kakek
meminta tolong.
Dian yang sebelumnya takut dengan kakek itupun, kini mau tidak mau harus
menggubris permintaannya. Dian akan merasa bersalah jika menolak
permintaan warga desa. Lalu dengan perasaan agak takut, Dian pun
menjawab, "Mi-minta tolong... a-apa Mbah?"
Dengan intonasi mengayun, sang kakek kembali berkata, "Tolong Mbah buatin bubur. Boleh ndak?"
Merasa mampu membantunya, Dian pun menerima permintaan kakek tua itu. Lalu masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dapur rumah, sang kakek meminta Dian untuk menumbuk nasi hingga
membuatnya menjadi halus seperti bubur. Tentu itu bukanlah permintaan
yang sulit. Tapi yang membuat Dian bingung adalah, bahwa langseng nasi
yang ditunjukkan oleh si kakek ternyata sudah kosong. Tidak ada nasi di
dalam sana, bahkan langsengnya saja sudah dipenuhi belatung dan juga
berbau busuk karena tidak pernah di cuci. Dian pun langsung bertanya
kepada si kakek dengan berkata, "Maaf Mbah, nasinya habis. Apa mau saya
buatin dulu?" ucap Dian dengan perasaan yang masih was-was.
Mendengar saran dari Dian, lalu sang kakek meneruskan, "Kalau gitu ambil dulu
berasnya di pendaringan itu." Tunjuknya ke arah sebuah wadah yang
terbuat dari anyaman bambu yang berukuran sedang.
Dian pun menuruti apa yang dikatakan oleh sang kakek, Dian mulai berderap
menuju pendaringan. Tapi saat Dian membuka tutup pendaringan di sana
untuk mengambil beras, ia melihat isi di dalam pendaringan ternyata
sudah kosong pula, lalu Dian pun berkata, "Maaf Mbah, berasnya juga
habis."
Mendengar sanggahan dari Dian, tanpa rasa jijik, sang kakek mulai mengambil
belatung dari dalam langseng lalu memindahkannya ke sebuah piring yang
terbuat dari kayu. Dian hanya mampu memasang wajah meringis ketika
melihat kelakuan lansia tersebut. Kemudian sang kakek pun menyuruh Dian
untuk menumbuknya dengan bertutur, "Tolong tumbukin sampai halus. Biar
jadi bubur." Ucapnya dengan maksud agar Dian mau menumbuk
belatung-belatung itu hingga hancur.
Seketika Dian pun langsung terkejut. Ia juga langsung menyanggah permintaan
sang kakek dengan berucap, "Maaf Mbah, saya gak mampu. Saya gak kuat
ngelakuinnya. Lagian Mbah, itu kan belatung. Jangan dimakan Mbah, nanti
sakit." Ujar Dian dengan memasang wajah meringis.
Sang kakek pun menyanggah ucapan Dian tadi dengan bercerita, "Ini desa
miskin, ndak ada makanan di desa ini. Tanahnya tandus. Ndak bisa buat
bertani. Ndak ada yang bisa dimakan. Jadi ndak apa-apa. Makan belatung
saja, daripada kelaparan." Tuturnya sembari menumbuk belatung-belatung
yang berada di atas piring kayu tersebut.
Kalimat yang keluar dari bibir sang kakek barusan, seketika langsung membuat
Dian membatin. Dian mulai merasa heran dan bertanya-tanya. Apanya yang
desa miskin? Apanya pula yang membuat warga kelaparan? Apalagi sampai
harus memakan belatung dari sisa nasi yang membusuk. Karena selama 6
__ADS_1
hari Dian tinggal di sana, ia selalu tercukupi dengan segala kebutuhan
makanan. Tidak pernah Dian merasa kelaparan selama 6 hari tinggal di
desa. Karenanya, Dian berpikir bahwa desa ini terjadi kesenjangan.
Tapi jika demikian, lalu kenapa pula tiap warga desa yang mereka temui
semuanya terlihat begitu kurus? Bahkan Pak Tomo dan Pak Bimo saja yang
selalu ada makanan di rumah mereka pun terlihat kurus? Ditambah semua
warga yang tidak pernah mau keluar desa meski hanya sesekali. Mereka
semua hanya mengandalkan apa yang ada di desa meski sudah kekurangan.
Setelah mencoba menelaah perkataan sang kakek itu dengan baik, Dian mulai
mendapat sebuah asumsi. Jika perkataan kakek tadi itu benar, berarti
selama ini makanan yang Dian dan teman-temannya makan adalah hidangan
yang memang dengan sengaja di persiapkan untuk mereka. Untuk membuat
seolah-olah desa itu kondisinya sedang baik-baik saja. Jika benar
demikian, lantas untuk apa sang sepuh, Pak Tomo dan Pak Bimo melakukan
hal tersebut?
Saat Dian membatin, sang kakek masih menumbuk belatung-belatung itu dengan
merata. Setelah selesai, sang kakek pun berkata kepada Dian, "Ndak
apa-apa walau belatung. Karena saudara-saudara Mbah pasti sudah lapar."
Kemudian membawa hidangan itu menuju sebuah kamar. Sang kakek pun
mengajak Dian dengan berkata, "Ayo sini, tolong suapin saudara-saudara
Mbah."
Hati kecil Dian sejujurnya sudah berteriak meminta pulang. Tapi di saat yang sama,
ia tidak bisa menolak permintaan warga desa, karena takut dilaporkan
lalu berimbas kepada program KKN mereka. Sebab itulah, Dian pun memilih
menurut. Lalu mulai mengekor di belakang sang kakek menuju sebuah
kamar.
Namun saat Dian masuk ke dalam kamar tersebut, ia terkejut setengah mati kala
melihat 3 orang lansia di sana sedang terbaring dengan mata mendelik,
pupil mata yang memutih serta tubuh yang mengejang di setiap detiknya.
Sontak, apa yang Dian lihat langsung membuatnya terkesiap dahsyat.
Tapi dengan tenang, sang kakek berkata kepada Dian dengan menegaskan,
"Saudara-saudara mbah sedang mengalami 'Sukma Purnama'. Mereka yang
sudah menginjak 40 tahun atau lebih akan mengalami ini. Para penduduk
pasti akan mengalami ini nanti."
Tanpa basa-basi lagi, Dian pun langsung bertanya, "Ka-karena apa Mbah?"
Dengan lantang, sang kakek pun berkata, "Kutukan."
Lalu sang kakek menatap Dian dengan sorot mata yang dalam, sembari bertuah,
"Sebentar lagi, awan hitam akan menyelimuti desa ini. Saudara-saudara
mbah dan warga lain, akan menjadi tawanan berikutnya." Tuturnya dengan
wajah serius. Lalu ia pun kembali melanjutkan kalimatnya kepada Dian
dengan berkata, "Kemari, tolong suapin saudara-saudara mbah untuk yang
terkahir kali." Seringainya mengakhiri kalimat.
Dian pun mulai bergidik di sekujur tubuh saat melihat senyuman sang kakek
yang terlihat mengerikan. Tak sampai di situ, sang kakek pun mulai
menyuapi saudaranya dengan belatung, yang membuat Dian mual
sejadi-jadinya dan langsung berlari keluar. Tanpa pikir panjang lagi,
Dian menerabas hujan untuk kembali ke rumah singgah.
@ @ @ @ @
Waktu saat ini sudah menunujukan pukul 5 sore lebih. Kondisi desa sudah
mulai gelap hingga harus menyalakan obor untuk menerangi rumah. Hujan
sendiri masih mengguyur deras di luar, dengan awan gelap yang terus
menyelimuti langit desa. Tapi Abil, Estu, Hagia dan Dian sudah
berkumpul di dalam rumah singgah sekarang. Hujan yang tak kunjung
berhenti, membuat mereka tak ada pilihan lain selain menerabasnya. Lalu
membuat pakaian mereka basah kuyup saat sampai.
Sesampainya di rumah singgah, secara bergantian, Abil, Estu dan Hagia memakai
kamar mandi yang berada di luar untuk bersih-bersih badan sekaligus
berganti pakaian. Tapi Abil dan Hagia sudah selesai melakukannya
beberapa saat yang lalu. Hanya tinggal Estu saja yang belum, dan ia
masih berada di kamar mandi saat ini.
Saat ini, Abil sedang berada di kamarnya, sedang duduk dan melihat-lihat
lemba kerja. Lalu saat Abil ingin mengambil posisi rebahan, secara tak
sengaja kakinya menyenggol tas milik Estu, hingga membuat tas itu pun
jatuh. Kala Abil hendak membenarkan posisi tas tersebut kembali, ia pun
tak sengaja melihat resleting bagian belakang tas terbuka. Dan dengan
samar, Abil seperti melihat banyak potongan kain putih di dalam sana.
Keingintahuan Abil pun bergelora. Abil kemudian merogoh benda tersebut dari dalam
tas Estu, lalu melihat potongan kain-kain putih yang sudah kotor oleh
tanah. Tapi belum sempat menerka benda tersebut sepenuhnya, Estu pun
__ADS_1
datang. Ia memergoki Abil sedang merogoh isi tasnya.
Abil pun seketika langsung salah tingkah. Tapi dengan wajah penasaran, Abil
mencoba memberanikan diri bertanya kepada Estu, "Coy, itu yang ada...
di dalem tas lu apaan? Kok kayak... kain kafan gitu?" tanya abil dengan
perasaan grogi.
Tapi Estu dengan santai menjawabnya dengan berkata, "Iya. Itu emang kain kafan. Itu tali pocong."
Melihat Estu yang mengatakan kalimat barusan dengan santai, membuat Abil tak
percaya. Lalu Abil kembali melempar pertanyaan kepada Estu lagi, "Serius
lu? Seriusan ini gw." Ucap Abil dengan wajah penuh keheranan.
Tapi alih-alih menjawab pertanyaan Abil barusan, Estu malah terlihat
melekukan bibirnya. Estu hanya menyeringai menjawab pertanyaan tersebut.
Yang kemudian membuat Abil pun berceletuk, "Dih, malah nyengir.
Bercanda mulu lu ah." Tambah abil dengan menggelengkan kepala serta
senyum ketus.
Tak selang beberapa lama, lalu Hagia datang ke kamar Abil dan Estu dengan
tingkah yang tergesa-gesa. Raut wajahnya juga terlihat cemas saat ini.
Kepada Abil dan Estu, Hagia pun berkata, "Dian... tingkahnya aneh
sekarang." Lapor Hagia dengan ikut menunjuk posisi kamarnya dimana Dian
berada. Kemudian mereka bertiga langsung menemui Dian segera.
Saat ditemui, Dian belum berganti pakaian. Bahkan baju yang sedang Dian
pakai masihlah agak basah karena menerabas hujan tadi. Raut wajahnya pun
pucat seperti sedang ketakutan sekarang. Dian benar-benar terlihat
janggal saat ini. Karena itulah, Abil dan Hagia mulai bertanya kepada
Dian mengenai apa yang sedang terjadi kepadanya. Dan saat mereka
bertanya, Dian pun berkata, "Kita harus pulang." Ucapnya dengan posisi
duduk meringkuk.
Tentu perkataannya barusan langsung memantik pertanyaan dari Abil dan Hagia.
Dicecar banyak pertanyaan, Dian pun mulai menjelaskan, "Kalian
sadarkan, warga desa di sini itu pada keliatan kurus? Kalian juga
sadarkan selama ini kita selalu diusir kalo mau bertamu ke rumah warga?
Kalian juga sadarkan sama adat desa yang selalu janggal? Kalian tau
kenapa? Karena desa ini nyembunyiin sesuatu dari kita. Ada sesuatu yang
berbahaya dari desa ini, yang bisa aja bikin kita celaka. Jadi lebih
baik kita pulang. Kita gak bisa tinggal lebih lama di desa ini. Karena
desa ini... adalah desa terkut--" belum sempat menyelesaikan
kalimatnya, tetiba saja petir menyambar keras dari langit. Di saat yang
sama, obor di dalam rumah singgah mereka pun mati.
Sontak, kejadian itu membuat Abil dan yang lain terkejut. Terutama Dian, yang
kini membuatnya semakin meringkuk dan mulai menangis.
Namun seakan belum cukup sampai di sana, tak berselang lama dari suara petir
yang menyambar, terdengar suara teriakan keras dari seorang perempuan
setelahnya. Suara teriakannya seperti seseorang yang sedang di siksa
dengan begitu pedih. Sumber suaranya sendiri tidak jauh dari rumah
singgah mereka berada. Hanya sekitar 3 rumah dari sana.
Dan seakan masih belum cukup, kemudian suara teriakan keras lainnya ikut
terdengar dari dalam rumah-rumah warga yang lain, seakan teriakan pilu
di sana seperti saling menyahut. Hingga membuat suasana di desa itu kini
berubah drastis menjadi mencekam.
Suara-suara teriakan itu membuat Abil dan yang lain menjadi kebingungan sekaligus
mulai ngeri. Khususnya dengan Dian yang menangis sembari menutup rapat
kedua telinganya. Dan secara sadar, Dian mulai paham dengan perkataan
sang kakek tua tadi yang ia temui, mengenai 'Awan hitam yang akan
menyelimuti desa'. Pasti inilah yang sedang kakek itu maksud.
Sekiranya sudah 10 menit telah berlalu. Suara jeritan belasan orang di desa itu
masih terus menggema ke seluruh penjuru, seakan ikut menemani suara
deras hujan dan guntur di sana yang sama kuatnya. Hingga kemudian,
dengan perlahan suara jeritan mereka mulai memelan, lalu kemudian
hilang. Menyisakan suara hujan dan guntur sebagai pengiring atas suara
jerit mereka yang memudar.
Tapi setelah suara jeritan mereka berakhir, suara berikutnya pun datang.
Yaitu, suara isak tangis keluarga masing-masing yang pecah ke seluruh
penjuru desa.
Sesaat kemudian, berita yang mengejutkan pun sampai kepada Abil dan yang lain.
Mereka dikabari, bahwa 18 warga desa... telah meninggal dunia.
Termasuk, 3 lansia yang merupakan saudara sang kakek tua yang tadi Dian
temui.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw