![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Sudah 1 bulan berlalu semenjak Hagia tewas bunuh diri. Dan secara
total, sudah 4 bulan lebih para mahasiswa KKN itu tinggal di desa
Abimantrana, yang tak pernah sekalipun mengabari keluarga di rumah.
Bahkan, seharusnya 2 bulan lalu mereka sudah kembali pulang karena tugas KKN
yang sudah selesai. Tapi kini mereka tak kunjung kembali. Yang pada
akhirnya, membuat masing-masing dari keluarga mereka mulai khawatir. Tak
terkecuali, keluarga dari pihak Abil.
Baru saja, orangtua Abil sampai di kampus dimana Abil kuliah. Dengan perasaan penuh khawatir dan
bertanya-tanya, ayah serta ibu Abil mulai berjalan masuk ke dalam
gedung kampus dengan tergesa-gesa.
Lalu, untuk apa mereka datang ke sana? Jelas, orangtua Abil ingin mencecar pihak kampus karena anak
mereka yang tidak kunjung pulang.
Sesampainya orangtua Abil di ruang sekretariat, dengan langkah tergesa disertai wajah gelisah,
keduanya mulai berhadapan dengan beberapa aparatur kampus. Sedikit
terjadi kekacauan sesaat di sana karena ayah Abil yang sedang emosi.
Lalu pada akhirnya, seorang pria bernama Setyo, yang juga termasuk
salah satu petinggi kampus yang kebetulan berada di sana bersedia
berdiskusi dengan kedua orangtua Abil.
Setelah masing-masing dari mereka duduk, ayah Abil pun langsung memprotes dengan berkata,
"Program KKN-nya kan cuma 2 3 bulan, tapi ini sudah 4 bulan loh Pak.
Anak saya gak ada kabar sama sekali. Tanggung jawab kampus kemana?"
ucap ayah abil barusan dengan emosi.
Lalu pihak kampus yang diwakili oleh Pak Setyo pun menjawab, "Ya, saya paham kalau bapak
marah. Saya memaklumi itu. Tapi kami pun dari pihak kampus sedang terus
mencoba menelusuri dimana anak bapak serta 3 mahasiswa lain saat ini
berada. Sudah seminggu terakhir kami mengutus beberapa orang mencari
letak desa dimana mereka KKN."
Bukannya merasa tenang mendengar jawaban dari Pak Setyo tadi, Ayah Abil justru malah semakin mengheran
dengan jawaban itu. Lalu beliau pun menimpal, "Bahkan kampus aja sampai
gak tau letak desanya? Jadi pas anak saya kemarin pergi KKN, pihak
kampus gak ada yang dampingin? Lepas tangan aja kalian?" ucap ayah Abil
semakin emosi.
Lalu Pak Setyo mencoba menenangkan dengan bertutur, "Iya... kami meminta maaf sebesar-besarnya soal itu. Tapi
kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin mencari anak bapak dan
ibu." Tuturnya dengan intonasi dan gestur yang tenang.
Tapi sudah pasti, apapun yang dikatakan oleh Pak Setyo selaku perwakilan
kampus, tidak akan membuat orangtua Abil menjadi tenang. Mereka memang
terus berbicara panjang lebar setelahnya. Tapi pada akhirnya, pertemuan
kedua pihak tidak menghasilkan apapun. Pak Setyo selaku perwakilan
kampus hanya berkata kepada orang tua Abil untuk sabar, sabar dan sabar.
Sementara, ayah Abil menginkan kejelasan dimana dan bagaimana kondisi
anak mereka saat ini. Pertemuan ini hanya sia-sia, tidak lebih dari
membuat orang tua Abil malah semakin emosi.
Tapi, wajar jika keduanya melampiaskan amarah mereka saat ini kepada pihak kampus.
Karena mau bagaimanapun, Abil adalah mahasiswa yang sedang berkuliah di
sana. Bahkan KKN sendiri adalah program kampus yang wajib
dilaksanakan. Jadi setelah mendengar ucapan pihak kampus tadi yang
seakan lalai dalam mengurusi KKN mahasiswa, rasanya amarah kedua
orangtua Abil menjadi wajar karenanya.
Dan sebenarnya, bukan hanya orangtua Abil yang datang ke kampus untuk memprotes perihal ini.
Di hari-hari sebelumnya, orangtua Hagia dan Dian pun pernah melakukan
hal yang serupa. Tapi sama, pada akhirnya, pihak kampus hanya menjawab
dengan cara yang sama seperti apa yang mereka lakukan saat ini. Hanya
berkata, sabar, sabar dan sabar.
Merasa tak puas dengan tindakan pihak kampus yang dirasa lambat, orangtua Abil yang baru saja keluar
dari gedung langsung menelepon beberapa rekanannya yang bekerja di
kepolisian. Ayah Abil dengan tegas meminta relasinya untuk mencarikan
putranya yang kini hilang tanpa kabar.
__ADS_1
Lalu beberapa saat kemudian, orang tua Abil pun diminta untuk datang ke kantor polisi dimana rekannya bekerja.
Saat sampai di kantor polisi, ayah Abil langsung bertatap muka dengan ketua
polsek yang juga rekanannya. Setelah pembicaraan panjang lebar
terjadi, sang kapolsek pun mulai meminta beberapa polisi di sana untuk
bersiap. Di hari ini juga, mereka akan mulai melakukan pencarian lokasi
dimana Abil dan yang lain kini berada.
Satu mobil polisi yang disertai 4 aparat siap mengawal. Dengan dipandu oleh supir pribadi
keluarga Abil yang pernah mengantarkan Abil KKN dulu, mereka mulai
berangkat menuju Desa Abimantrana.
@ @ @ @ @
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah melakukan perjalanan sejauh 5
jam, akhirnya orang tua Abil beserta para polisi telah sampai di depan
hutan Abimantrana.
Masih di dalam mobil, supir pribadi keluarga
Abil yang bernama Pak Ahmad pun berkata kepada kedua orang tua Abil,
"Pak, bu, dulu saya saat mengantar mas Abil KKN, kita semua lewat sini.
Kita harus masuk ke dalam hutannya dulu."
Ayah abil pun langsung menyahut, "Masuk ke dalam hutan? Serius kamu?"
Sang supir pun langsung menjawab, "Iya pak. Kita memang sempet nyasar waktu
itu. Tapi pas mas Abil minta istirahat di warung yang kita lewatin
tadi, ada 3 orang yang nyamperin mas Abil di sana. Katanya dia warga
desa Abimantrana. Momennya kebetulan banget, jadi kita ikutin apa yang
orang itu bilang. Dan kita semua dibawa masuk ke dalam hutan. Saya
masih inget banget kok pak." Ucap sang supir menjelaskan.
Sempat melipir sebentar untuk saling berkomunikasi satu sama lain, orang tua
abil dan para polisi akhirnya memutuskan untuk memasuki hutan.
Sekitar 10 menit menyusuri hutan, akhirnya mereka semua sampai di titik dimana
dulu Abil dan yang lain diturunkan. Ya. Di dalam hutan Abimantrana
yang berkabut.
Dan terlihat jelas bahwa di sekitar mereka saat
ini adalah pilar-pilar pohon tinggi, yang sudah tak mungkin lagi bagi
Setelah memberhentikan laju mobil, lalu mereka semua turun dari mobil masing-masing.
Sesaat setelah turun, mereka semua melihat ke sekeliling, menyapu pandangan
ke seluruh sisi hutan. Tak lama kemudian, salah seorang anggota polisi
berkata, "Pak, Mas Abil sama teman-temannya benar KKN di sini? Kayaknya
gak mungkin ada desa di dalam hutan ini. Apalagi masih harus masuk ke
dalamnya lagi." Ucap heran polisi tersebut.
Lalu Pak Ahmad sang supir pun mencoba menjelaskan dengan menjawab, "Pas pertama kali ke
sini dulu juga saya udah bilang ke mas Abil buat batalin KKN-nya.
Karena saya juga ngerasa gak mungkin ada desa di dalam hutan kayak
begini. Tapi bener kok pak, dulu saya nganter sampai sini. Mas Abil
sama yang lain jalan kaki masuk ke hutan."
Pak polisi pun kembali bertanya, "Mereka gak dijemput sama motor? Benar-benar jalan kaki?"
Sekali lagi, Pak Ahmad pun menjawab, "Iya. Gak ada kendaraan yang jemput
mereka. Mereka semua jalan kaki masuk ke dalam hutan." Ucap sang supir
mengakhiri.
Melihat kondisi hutan serta penjelasan Pak Ahmad
barusan, para polisi meminta waktu sesaat kepada orang tua Abil untuk
berdiskusi, mencari langkah terbaik untuk mengambil tindakan. Lalu tak
lama berselang, para polisi itu memutuskan untuk mulai menyusuri hutan
secara menyeluruh. Dari satu titik, lalu ke titik lain.
Hingga tak terasa, akhirnya malam pun tiba.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Penelusuran para polisi
itu di sana tidak membuahkan hasil sama sekali. Alih-alih mendapat
berita baik, para polisi itu justru mengalami peristiwa aneh saat
menyusuri hutan tadi.
Mereka semua sempat melihat gapura kuno
yang rapuh dan rusak di beberapa sisi. Ya. Itu adalah gapura selamat
__ADS_1
datang yang akan ditemui saat ingin memasuki desa Abimantrana. Para
polisi itu berhasil menemukan gerbang desanya.
Tapi saat mereka mencoba melangkah lebih jauh, para polisi itu dibuat kebingungan
karena mereka justru kembali menuju gapura itu lagi. Beberapa kali
mencoba, hasilnya pun tetaplah sama, mereka akan kembali menuju gapura
itu lagi. Seakan mereka hanya berjalan memutar saja.
Lantas, mengapa para polisi itu tidak bisa menemukan pemukiman desa? Ya. Karena
para polisi itu tidak melakukan Getih Mawar. Karena itulah, mereka akan
kembali lagi ke titik awal. Jadi jika ingin menemui desa itu, mereka
harus melakukan Getih Mawar terlebih dahulu. Meski itu juga berarti,
mereka tidak akan pernah bisa lagi keluar dari desa Abimantrana, sama
seperti saat Hagia ingin kabur dulu.
Dan andai saja jika ada
keajaiban datang kepada para polisi itu saat ini, andai mereka bisa
memasuki desa Abimantrana malam ini, mereka hanya akan melihat sebuah
kejadian mengerikan di sana. Yaitu, melihat Abil yang baru saja mati
dieksekusi.
Ya. Baru saja Abil mati dibunuh oleh sang sepuh.
Tubuhnya di sayat-sayat dengan keji. Darah yang keluar dari tubuhnya
ditampung di sebuah wadah, benar-benar perilaku yang tak manusiawi.
Sebelum kematiannya, Abil seperti melihat kilasan mimpinya beberapa bulan
lalu, lebih tepatnya, satu hari sebelum ia pergi KKN dulu. Ya. Mimpi
buruk Abil dulu akhirnya menjadi kenyataan. Sebuah mimpi buruk dimana
dirinya diseret ke dalam ruangan gelap lalu dieksekusi mati... akhirnya
telah menjadi kenyataan kini.
Selesai mengesekusi Abil,
menaburkan darahnya ke penjuru desa, lalu menguburkan mayatnya, sang
sepuh pun berkata kepada Pak Bimo anaknya dengan bertutur, "Gara-gara
perempuan bernama Hagia itu memilih mati bunuh diri, akhirnya kita jadi
kehilangan satu tumbal. Kematian perempuan itu ndak lagi jadi sakral,
mayatnya ndak bisa kita pakai untuk ritual 'Nandur Manungsa'. Kita jadi
terpaksa menumbalkan Abil lebih cepat karena ulahnya. Dan sekarang,
kita hanya punya satu tumbal tersisa, yaitu Estu. Jadi Bimo, saya ingin
besok kamu mulai merencanakan mencari tumbal lain secepatnya. 3 bulan
bukanlah waktu yang lama. Jadi saya mau, sebelum Estu nanti
ditumbalkan, kamu sudah dapat tumbal lain untuk berjaga-jaga. Dan sama
satu hal lagi, bagaimana keadaan si wanita sialan itu? Apa dia sudah
hamil?"
Mendengar pertanyaan barusan, Pak Bimo pun langsung
menyahutinya dengan berkata, "Soal calon tumbal baru, saya akan
berusaha menemukannya sebelum Estu ditumbalkan. Tapi kalau soal
Mutih... maaf kanjeng, wanita itu belum juga hamil." Ucap pak Bimo agak
sedikit kelu. Ia takut ayahnya marah jika tahu bahwa Mutih sampai saat
ini belum juga hamil.
Lalu dengan wajah dingin, sang sepuh
kembali berkata, "Jika wanita sialan itu belum juga bisa memberikan
penerus, maka kita akan selalu dibayang-bayangi kelaparan dan kematian.
Ndak ada tumbal terbaik selain menumbalkan darah terkutuk mereka. Satu
nyawa mereka setara 2 tahun kesejahteraan desa ini. Darah dan daging
mahasiswa yang kita punya sebenarnya ndak sebanding dengan darah dan
daging wanita sialan itu. Jadi buat wanita itu hamil secepatnya. Kita
butuh keturunannya untuk ditumbalkan." Tutup sang sepuh mengakhiri
percakapan. Ia pun mulai berjalan meninggalkan Pak Bimo di sana.
Ya. Setelah tewasnya Abil barusan, dengan begini, hanya tersisa satu mahasiswa lagi yang bisa ditumbalkan. Yaitu, Estu.
Seorang mahasiswa... dan juga seorang pengabdi setan.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw