[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 14 : PENCARIAN


__ADS_3

Sudah 1 bulan berlalu semenjak Hagia tewas bunuh diri. Dan secara


total, sudah 4 bulan lebih para mahasiswa KKN itu tinggal di desa


Abimantrana, yang tak pernah sekalipun mengabari keluarga di rumah.


Bahkan, seharusnya 2 bulan lalu mereka sudah kembali pulang karena tugas KKN


yang sudah selesai. Tapi kini mereka tak kunjung kembali. Yang pada


akhirnya, membuat masing-masing dari keluarga mereka mulai khawatir. Tak


terkecuali, keluarga dari pihak Abil.


Baru saja, orangtua Abil sampai di kampus dimana Abil kuliah. Dengan perasaan penuh khawatir dan


bertanya-tanya, ayah serta ibu Abil mulai berjalan masuk ke dalam


gedung kampus dengan tergesa-gesa.


Lalu, untuk apa mereka datang ke sana? Jelas, orangtua Abil ingin mencecar pihak kampus karena anak


mereka yang tidak kunjung pulang.


Sesampainya orangtua Abil di ruang sekretariat, dengan langkah tergesa disertai wajah gelisah,


keduanya mulai berhadapan dengan beberapa aparatur kampus. Sedikit


terjadi kekacauan sesaat di sana karena ayah Abil yang sedang emosi.


Lalu pada akhirnya, seorang pria bernama Setyo, yang juga termasuk


salah satu petinggi kampus yang kebetulan berada di sana bersedia


berdiskusi dengan kedua orangtua Abil.


Setelah masing-masing dari mereka duduk, ayah Abil pun langsung memprotes dengan berkata,


"Program KKN-nya kan cuma 2 3 bulan, tapi ini sudah 4 bulan loh Pak.


Anak saya gak ada kabar sama sekali. Tanggung jawab kampus kemana?"


ucap ayah abil barusan dengan emosi.


Lalu pihak kampus yang diwakili oleh Pak Setyo pun menjawab, "Ya, saya paham kalau bapak


marah. Saya memaklumi itu. Tapi kami pun dari pihak kampus sedang terus


mencoba menelusuri dimana anak bapak serta 3 mahasiswa lain saat ini


berada. Sudah seminggu terakhir kami mengutus beberapa orang mencari


letak desa dimana mereka KKN."


Bukannya merasa tenang mendengar jawaban dari Pak Setyo tadi, Ayah Abil justru malah semakin mengheran


dengan jawaban itu. Lalu beliau pun menimpal, "Bahkan kampus aja sampai


gak tau letak desanya? Jadi pas anak saya kemarin pergi KKN, pihak


kampus gak ada yang dampingin? Lepas tangan aja kalian?" ucap ayah Abil


semakin emosi.


Lalu Pak Setyo mencoba menenangkan dengan bertutur, "Iya... kami meminta maaf sebesar-besarnya soal itu. Tapi


kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin mencari anak bapak dan


ibu." Tuturnya dengan intonasi dan gestur yang tenang.


Tapi sudah pasti, apapun yang dikatakan oleh Pak Setyo selaku perwakilan


kampus, tidak akan membuat orangtua Abil menjadi tenang. Mereka memang


terus berbicara panjang lebar setelahnya. Tapi pada akhirnya, pertemuan


kedua pihak tidak menghasilkan apapun. Pak Setyo selaku perwakilan


kampus hanya berkata kepada orang tua Abil untuk sabar, sabar dan sabar.


Sementara, ayah Abil menginkan kejelasan dimana dan bagaimana kondisi


anak mereka saat ini. Pertemuan ini hanya sia-sia, tidak lebih dari


membuat orang tua Abil malah semakin emosi.


Tapi, wajar jika keduanya melampiaskan amarah mereka saat ini kepada pihak kampus.


Karena mau bagaimanapun, Abil adalah mahasiswa yang sedang berkuliah di


sana. Bahkan KKN sendiri adalah program kampus yang wajib


dilaksanakan. Jadi setelah mendengar ucapan pihak kampus tadi yang


seakan lalai dalam mengurusi KKN mahasiswa, rasanya amarah kedua


orangtua Abil menjadi wajar karenanya.


Dan sebenarnya, bukan hanya orangtua Abil yang datang ke kampus untuk memprotes perihal ini.


Di hari-hari sebelumnya, orangtua Hagia dan Dian pun pernah melakukan


hal yang serupa. Tapi sama, pada akhirnya, pihak kampus hanya menjawab


dengan cara yang sama seperti apa yang mereka lakukan saat ini. Hanya


berkata, sabar, sabar dan sabar.


Merasa tak puas dengan tindakan pihak kampus yang dirasa lambat, orangtua Abil yang baru saja keluar


dari gedung langsung menelepon beberapa rekanannya yang bekerja di


kepolisian. Ayah Abil dengan tegas meminta relasinya untuk mencarikan


putranya yang kini hilang tanpa kabar.

__ADS_1


Lalu beberapa saat kemudian, orang tua Abil pun diminta untuk datang ke kantor polisi dimana rekannya bekerja.


Saat sampai di kantor polisi, ayah Abil langsung bertatap muka dengan ketua


polsek yang juga rekanannya. Setelah pembicaraan panjang lebar


terjadi, sang kapolsek pun mulai meminta beberapa polisi di sana untuk


bersiap. Di hari ini juga, mereka akan mulai melakukan pencarian lokasi


dimana Abil dan yang lain kini berada.


Satu mobil polisi yang disertai 4 aparat siap mengawal. Dengan dipandu oleh supir pribadi


keluarga Abil yang pernah mengantarkan Abil KKN dulu, mereka mulai


berangkat menuju Desa Abimantrana.


@ @ @ @ @


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah melakukan perjalanan sejauh 5


jam, akhirnya orang tua Abil beserta para polisi telah sampai di depan


hutan Abimantrana.


Masih di dalam mobil, supir pribadi keluarga


Abil yang bernama Pak Ahmad pun berkata kepada kedua orang tua Abil,


"Pak, bu, dulu saya saat mengantar mas Abil KKN, kita semua lewat sini.


Kita harus masuk ke dalam hutannya dulu."


Ayah abil pun langsung menyahut, "Masuk ke dalam hutan? Serius kamu?"


Sang supir pun langsung menjawab, "Iya pak. Kita memang sempet nyasar waktu


itu. Tapi pas mas Abil minta istirahat di warung yang kita lewatin


tadi, ada 3 orang yang nyamperin mas Abil di sana. Katanya dia warga


desa Abimantrana. Momennya kebetulan banget, jadi kita ikutin apa yang


orang itu bilang. Dan kita semua dibawa masuk ke dalam hutan. Saya


masih inget banget kok pak." Ucap sang supir menjelaskan.


Sempat melipir sebentar untuk saling berkomunikasi satu sama lain, orang tua


abil dan para polisi akhirnya memutuskan untuk memasuki hutan.


Sekitar 10 menit menyusuri hutan, akhirnya mereka semua sampai di titik dimana


dulu Abil dan yang lain diturunkan. Ya. Di dalam hutan Abimantrana


yang berkabut.


Dan terlihat jelas bahwa di sekitar mereka saat


ini adalah pilar-pilar pohon tinggi, yang sudah tak mungkin lagi bagi


Setelah memberhentikan laju mobil, lalu mereka semua turun dari mobil masing-masing.


Sesaat setelah turun, mereka semua melihat ke sekeliling, menyapu pandangan


ke seluruh sisi hutan. Tak lama kemudian, salah seorang anggota polisi


berkata, "Pak, Mas Abil sama teman-temannya benar KKN di sini? Kayaknya


gak mungkin ada desa di dalam hutan ini. Apalagi masih harus masuk ke


dalamnya lagi." Ucap heran polisi tersebut.


Lalu Pak Ahmad sang supir pun mencoba menjelaskan dengan menjawab, "Pas pertama kali ke


sini dulu juga saya udah bilang ke mas Abil buat batalin KKN-nya.


Karena saya juga ngerasa gak mungkin ada desa di dalam hutan kayak


begini. Tapi bener kok pak, dulu saya nganter sampai sini. Mas Abil


sama yang lain jalan kaki masuk ke hutan."


Pak polisi pun kembali bertanya, "Mereka gak dijemput sama motor? Benar-benar jalan kaki?"


Sekali lagi, Pak Ahmad pun menjawab, "Iya. Gak ada kendaraan yang jemput


mereka. Mereka semua jalan kaki masuk ke dalam hutan." Ucap sang supir


mengakhiri.


Melihat kondisi hutan serta penjelasan Pak Ahmad


barusan, para polisi meminta waktu sesaat kepada orang tua Abil untuk


berdiskusi, mencari langkah terbaik untuk mengambil tindakan. Lalu tak


lama berselang, para polisi itu memutuskan untuk mulai menyusuri hutan


secara menyeluruh. Dari satu titik, lalu ke titik lain.


Hingga tak terasa, akhirnya malam pun tiba.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Penelusuran para polisi


itu di sana tidak membuahkan hasil sama sekali. Alih-alih mendapat


berita baik, para polisi itu justru mengalami peristiwa aneh saat


menyusuri hutan tadi.


Mereka semua sempat melihat gapura kuno


yang rapuh dan rusak di beberapa sisi. Ya. Itu adalah gapura selamat

__ADS_1


datang yang akan ditemui saat ingin memasuki desa Abimantrana. Para


polisi itu berhasil menemukan gerbang desanya.


Tapi saat mereka mencoba melangkah lebih jauh, para polisi itu dibuat kebingungan


karena mereka justru kembali menuju gapura itu lagi. Beberapa kali


mencoba, hasilnya pun tetaplah sama, mereka akan kembali menuju gapura


itu lagi. Seakan mereka hanya berjalan memutar saja.


Lantas, mengapa para polisi itu tidak bisa menemukan pemukiman desa? Ya. Karena


para polisi itu tidak melakukan Getih Mawar. Karena itulah, mereka akan


kembali lagi ke titik awal. Jadi jika ingin menemui desa itu, mereka


harus melakukan Getih Mawar terlebih dahulu. Meski itu juga berarti,


mereka tidak akan pernah bisa lagi keluar dari desa Abimantrana, sama


seperti saat Hagia ingin kabur dulu.


Dan andai saja jika ada


keajaiban datang kepada para polisi itu saat ini, andai mereka bisa


memasuki desa Abimantrana malam ini, mereka hanya akan melihat sebuah


kejadian mengerikan di sana. Yaitu, melihat Abil yang baru saja mati


dieksekusi.


Ya. Baru saja Abil mati dibunuh oleh sang sepuh.


Tubuhnya di sayat-sayat dengan keji. Darah yang keluar dari tubuhnya


ditampung di sebuah wadah, benar-benar perilaku yang tak manusiawi.


Sebelum kematiannya, Abil seperti melihat kilasan mimpinya beberapa bulan


lalu, lebih tepatnya, satu hari sebelum ia pergi KKN dulu. Ya. Mimpi


buruk Abil dulu akhirnya menjadi kenyataan. Sebuah mimpi buruk dimana


dirinya diseret ke dalam ruangan gelap lalu dieksekusi mati... akhirnya


telah menjadi kenyataan kini.


Selesai mengesekusi Abil,


menaburkan darahnya ke penjuru desa, lalu menguburkan mayatnya, sang


sepuh pun berkata kepada Pak Bimo anaknya dengan bertutur, "Gara-gara


perempuan bernama Hagia itu memilih mati bunuh diri, akhirnya kita jadi


kehilangan satu tumbal. Kematian perempuan itu ndak lagi jadi sakral,


mayatnya ndak bisa kita pakai untuk ritual 'Nandur Manungsa'. Kita jadi


terpaksa menumbalkan Abil lebih cepat karena ulahnya. Dan sekarang,


kita hanya punya satu tumbal tersisa, yaitu Estu. Jadi Bimo, saya ingin


besok kamu mulai merencanakan mencari tumbal lain secepatnya. 3 bulan


bukanlah waktu yang lama. Jadi saya mau, sebelum Estu nanti


ditumbalkan, kamu sudah dapat tumbal lain untuk berjaga-jaga. Dan sama


satu hal lagi, bagaimana keadaan si wanita sialan itu? Apa dia sudah


hamil?"


Mendengar pertanyaan barusan, Pak Bimo pun langsung


menyahutinya dengan berkata, "Soal calon tumbal baru, saya akan


berusaha menemukannya sebelum Estu ditumbalkan. Tapi kalau soal


Mutih... maaf kanjeng, wanita itu belum juga hamil." Ucap pak Bimo agak


sedikit kelu. Ia takut ayahnya marah jika tahu bahwa Mutih sampai saat


ini belum juga hamil.


Lalu dengan wajah dingin, sang sepuh


kembali berkata, "Jika wanita sialan itu belum juga bisa memberikan


penerus, maka kita akan selalu dibayang-bayangi kelaparan dan kematian.


Ndak ada tumbal terbaik selain menumbalkan darah terkutuk mereka. Satu


nyawa mereka setara 2 tahun kesejahteraan desa ini. Darah dan daging


mahasiswa yang kita punya sebenarnya ndak sebanding dengan darah dan


daging wanita sialan itu. Jadi buat wanita itu hamil secepatnya. Kita


butuh keturunannya untuk ditumbalkan." Tutup sang sepuh mengakhiri


percakapan. Ia pun mulai berjalan meninggalkan Pak Bimo di sana.


Ya. Setelah tewasnya Abil barusan, dengan begini, hanya tersisa satu mahasiswa lagi yang bisa ditumbalkan. Yaitu, Estu.


Seorang mahasiswa... dan juga seorang pengabdi setan.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2