[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 13 : BUNUH DIRI


__ADS_3

3 Bulan telah berlalu.


Sejak Dian tewas ditumbalkan, waktu sudah berjalan 3 bulan ke depan


kini. Dan benar apa yang sang sepuh katakan kepada Pak Tomo dulu, bahwa


kesuburan desa hanyalah kenikmatan sesaat, yang jangan sampai membuat


warga desa terlena. Dan kini, apa yang sang sepuh khawatirkan telah


menjadi kenyataan. Setelah 3 bulan berjalan, kesuburan desa mereka telah


kembali binasa.


Saat ini, warga desa mulai mengalami gagal panen secara bertubi-tubi. Hanya


sebagian kecil dari usaha mereka yang membuahkan hasil, lalu sisanya


berakhir membusuk.


Dalam kondisi desa yang mulai rapuh, sang sepuh, Pak Tomo, Pak Bimo serta


beberapa warga lain mulai mengadakan diskusi. Saat ini, mereka berada di


ruang tamu sang sepuh untuk membicarakan hal penting. Untuk memulai


diskusi, sang sepuh pun membuka suara dengan berkata, "Seperti yang kita


rasakan bersama, desa ini mulai mengalami kesengsaraan lagi. Tanah


kita mulai binasa karena kutukan itu lagi. Saya akan bicara langsung ke


intinya. Bahwa malam ini, saya akan mengeksekusi satu mahasiswa. Demi


membuat desa ini stabil kembali." Ucapnya mengakhiri.


Perkataan sang sepuh barusan pun langsung membuat para warga sumringah. Meski


akan membunuh seseorang nanti, orang-orang ini justru terlihat senang


mendengar apa yang sang sepuh beritakan.


Lalu Pak Tomo pun berkata, "Saya sangat senang mendengar berita ini


kanjeng. Terimakasih atas kebesaranmu yang telah mau mendengar


keresahan kami semua." Puji Pak Tomo kepada sang sepuh sembari mencium


kakinya. Lalu diikuti oleh para warga lain, termasuk anak beserta


menantunya.


Apa yang para warga bicarakan barusan pun sampai ke telinga dimana Abil, Estu


dan Hagia berada. Para mahasiswa itu memang sedang disekap di dalam


rumah sang sepuh, yang mana mereka bisa mendengar isi percakapan warga


tadi sendiri. Dan dalam keadaan yang tak berdaya, Abil, Estu dan Hagia,


semakin berputus asa mendengar berita itu.


Sebuah berita, dimana salah satu dari mereka... akan ada lagi yang mati malam ini.


@ @ @ @ @


Kini waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Sama seperti saat mengeksekusi


Dian dulu, sang sepuh tidak sembarang mengambil keputusan dengan


gegabah. Saat ingin menumbalkan seseorang, ia akan menunggu bulan


purnama tiba. Lalu dengan ditambah syarat lain seperti berpuasa,


menjampi-jampi air dengan ajian sakral untuk memandikan calon tumbal,


serta meminum darah seorang wanita yang bernama 'Mutih', barulah sang


sepuh siap untuk menumbalkan seseorang. Dan semua syarat itu telah


terpenuhi malam ini. Waktu yang penuh bahagia bagi para warga telah


datang. Yaitu... menumbalkan salah satu dari mahasiswa... telah datang.


Saat ini, Abil, Estu dan Hagia sedang dikurung di dalam sebuah ruangan.


Kaki dan tangan mereka diikat. Kondisi mereka pun sangat


memprihatinkan. Selama 3 bulan dikurung, mereka hanya diberi makan dan


minum selama 2 hari sekali. Dan jangan menanyakan seperti apa


penampilan mereka. Karena yang pasti, ketiga mahasiswa itu sangat


terlihat mengenaskan.


Rambut mereka acak-acakan. Kulit mereka kusam. Tubuh mereka kurus. Meski mata


mereka tidak ditutup, juga mulut yang tidak disumpal, tapi dengan


kondisi yang miris seperti sekarang, tidak ada satupun dari mereka yang


mampu berteriak dan meronta-ronta lagi. Selama 3 bulan diperlakukan


demikian, rasanya mereka sudah mulai mau gila.


Baru saja sang sepuh masuk ke dalam ruangan dimana Abil, Estu dan Hagia


berada. Setelah berhadapan dengan tawanannya, sang sepuh pun berkata,


"Cah bagus, cah ayu, kalian pasti sudah mendengar percakapan kami tadi


pagi bukan? Yang ingin menumbalkan salah satu dari kalian lagi malam


ini. Dan biarkan saya sedikit bercerita kepada kalian, boleh?" ucap sang


sepuh kepada para mahasiswa. Lalu ia pun kembali melanjutkan, "Kalian


pasti masih ingat teman kalian yang bernama Dian bukan? 3 bulan lalu,


kematiannya sangatlah indah sangat menawan. Teman kalian itu mati penuh


dengan kebanggaan. Dirinya mati berkorban demi menyelamatkan seluruh


warga desa. Tidak ada yang lebih baik daripada itu. Jadi saya harap,


siapapun dari kalian yang mati hari ini, juga berpikir dengan pemikiran


yang sama. Bahwa nanti, kalian tidak akan mati dengan sia-sia. Tapi


kematian kalian adalah hal yang indah. Jadi cah bagus, cah ayu, saya

__ADS_1


meminta kepada kalian untuk ikhlas." Ucap sang sepuh mengakhiri dengan


menambahkan senyum hangatnya.


Dengan kondisi mereka yang mengenaskan, Abil, Estu dan Hagia pun tidak mampu


membalas apa yang sang sepuh ucapankan barusan. Bahkan saat sang sepuh


mengabarkan bahwa akan ada salah satu dari mereka yang mati, Abil, Estu


dan Hagia sama sekali tidak meronta, berteriak atau menangis. Ketiga


mahasiswa itu hanya memandang sang sepuh dengan wajah yang rapuh. Raut


wajah yang seakan menyiratkan bahwa mereka tidak lagi peduli dengan


apapun.


Dan berbeda dari 3 bulan yang lalu saat ingin memilih tumbal, kini sang sepuh pun


tidak bermain-main dengan mangsanya. Tanpa pikir panjang, ia menyuruh


Pak Bimo anaknya, membawa Hagia ke belakang rumah.


Ya. Kini Hagia adalah target yang akan ia bunuh untuk ditumbalkan.


Berbeda pula dari 3 bulan lalu yang penuh drama, teriakan dan tangisan, kini


saat Hagia dibekuk dan dibawa oleh Pak Bimo menuju belakang rumah untuk


dieksekusi, Hagia sendiri tidak melawan sama sekali. Rasa lapar, haus,


serta putus asa, seakan membuat tubuhnya menjadi lelah tak berdaya.


Bahkan Abil dan Estu pun hanya melihat kepergian Hagia dengan pandangan


yang rapuh.


Ya. Meski sebentar lagi Hagia akan mati, suasana di sana terasa amat sangat


tenang. Lalu dengan kasar, Hagia mulai dibopong menuju halaman belakang


rumah.


Sesampainya Hagia di sana, ia sudah ditunggu oleh menantu sang sepuh yang bernama


Mulan. Dengan kasar, Pak Bimo pun melepas Hagia dari cengkramannya.


Lalu sama seperti ritual saat Dian ingin ditumbalkan dulu, sang sepuh turut


datang ke sana untuk menyirami Hagia dengan air kembang yang sudah ia


jampi-jampi sebelumnya. Hingga kemudian, tubuh Hagia pun mulai basah


oleh air dengan sempurna.


Setelah menyirami Hagia dengan air sakral itu, kini sang sepuh merogoh saku


pakaiannya untuk mengambil sebuah keris keramat, keris yang sebentar


lagi akan menyayat-nyayat tubuh Hagia hingga membuatnya mati.


Tapi sepertinya ada sedikit kekacauan. Beberapa kali merogoh sakunya


berulang-ulang, namun sang sepuh tidak menemukan keris itu jua. Lalu


dengan suara tegas, ia menyuruh Pak Bimo dan Pak Tomo mencarinya. Kedua


orang itupun langsung menuruti perintahya segera.


sepertinya kamu sudah ikhlas benar ya mati di malam ini. Tidak ada


sedikitpun airmata yang keluar dari wajahmu. Saya merasa terhormat bisa


menumbalkan sosok perempuan sehebat kamu cah ayu." ucapnya kepada Hagia


yang sedang duduk bersimpuh. Tapi sepertinya ada sebuah kesalahpahaman


atas ucapan sang sepuh barusan.


Tentang Hagia yang tidak berekspresi saat ini, itu bukanlah karena dirinya


yang siap mati. Tapi melainkan karena Hagia sudah tak berdaya...


seluruh tubuhnya sudah lelah tak berdaya. Bahkan, pikiran Hagia saat


ini pun benar-benar kosong.


Tapi rasanya wajar jika melihat Hagia seperti demikian. Karena selama 3


bulan dikurung serta diperlakukan keji, seluruh tubuh dan mentalnya


sudah hancur saat ini. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Hagia


memang ingin keluar dari desa ini dan kembali menjalani hidupnya yang


normal seperti dulu. Tapi di sisi lain, Hagia sadar bahwa keinginan


sederhananya itu sudah mustahil untuk terwujud. Jadi saat ini... Hagia


hanya akan pasrah dengan apapun yang terjadi. Termasuk, jika ia


benar-benar harus mati malam ini juga.


Sudah sekitar 15 menit berlalu. Pak Tomo serta Pak Bimo tak kunjung


menemukan dimana keris keramat itu berada. Sang sepuh yang mulai jengah


pun masuk ke dalam rumah untuk ikut mencari. Meninggalkan Hagia dan


menantunya berdua di sana.


Saat ini, Hagia masih duduk bersimpuh menunduk dengan raut wajah putus asa.


Rambut panjangnya yang acak-acakan pun menyembunyikan wajah rapuhnya


itu. Lalu di kala Hagia menundukkan pandangan, tetiba saja suara


hantaman keras terdengar dalam sekejap. Ya. Menantu sang sepuh di sana


baru saja dipukul oleh batu. Saat menoleh, Hagia melihat perempuan itu


sudah tersungkur pingsan. Hagia pun, melihat seorang kakek tua sedang


memegang batu di hadapannya.


Ya. Kakek itu adalah lansia yang dulu sering mengajak Dian mengobrol.


Dengan mengeluarkan keris keramat milik sang sepuh, sang kakek pun memutus


tali buritan yang mengikat kaki dan tangan Hagia. Setelah berhasil

__ADS_1


melepaskan Hagia, sang kakek pun berkata, "Cah ayu, pergilah. Kamu


sekarang sudah bebas. Carilah jalan keluar dari desa ini. Kamu ndak mau


kan mati tersiksa?" ucapnya sembari tersenyum.


Setelah dilepaskan, Hagia pun mulai berlari terhuyung-huyung keluar desa.


Dengan seluruh tubuhnya yang lelah, Hagia terus melangkahkan kakinya


menuju gerbang desa.


Lantas... apa alasannya sang kakek membebaskan Hagia barusan?


Setelah menguburkan jasad Dian dulu, sang kakek mulai dihantui oleh sosok Dian


di setiap harinya. Dian yang menghantuinya pun selalu meminta sang


kakek untuk membebaskan teman-temannya yang terisisa. Dan perasaan


takut serta bersalah itulah yang pada akhirnya membawa sang kakek di


titik ini. Yaitu, menyelamatkan Hagia.


Setelah berhasil membebaskan Hagia, sang kakek memandangi sosoknya yang mulai


menghilang dalam kegelapan malam. Setelah berhasil memastikan Hagia


meninggalkan Desa, sang kakek pun langsung menusuk perutnya sendiri


beberapa kali dengan keris itu. Ia tak mau mati disiksa oleh sang sepuh


nantinya jika tertangkap. Karena itulah, ia memilih untuk mati bunuh


diri.


Darah segar pun mulai keluar perlahan dari dalam perut sang kakek. Suara pekikannya


pun menggema samar sesaat. Lalu dengan perlahan, pandangannya pun mulai


memudar dan semakin memudar. Hingga kemudian... sang kakek pun mati.


Tapi, ia bangga dengan ini. Karena kematiannya, telah membawa dirinya menepati janji kepada Dian.


@ @ @ @ @


Di dalam kegelapan malam, Hagia terus berlari menyusuri jalan berhutan.


Selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya, ia melihat gapura yang


merupakan gerbang masuk desa di ujung sana. Dengan langkah tertatih,


Hagia pun menuju gapura itu berada.


Kini Hagia baru saja melewati gapura. Itu juga berarti, bahwa ia telah


berhasil keluar dari desa. Ia pun sempat menoleh ke belakang sesaat,


seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada desa terkutuk itu. Lalu


dengan wajah meringis, Hagia melanjutkan perjalanannya.


Tapi, setelah jauh berjalan, Hagia pun dibuat terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya.


Di ujung sana, Hagia kembali melihat gapura desa yang kusam nan rusak.


Gapura yang terlihat sama persis dengan apa yang ia lihat sebelumnya.


Tentu Hagia dibuat keheranan karena hal ini. Tapi karena tidak ada waktu


untuk berpikir, Hagia terus melanjutkan perjalanannya kembali.


Dan setelah jauh berjalan, Hagia pun kembali dibuat terkejut. Karena,


diujung matanya, ia kembali melihat gapura desa itu lagi. Gapura yang


sama persis dengan apa yang ia lihat tadi. Hagia pun sontak mengambil


nafas panjang sembari memejamkan mata. Ia tidak habis pikir. Dirinya


yang sudah bebas sekalipun, ternyata belum bisa keluar seutuhnya dari


teror desa terkutuk ini.


Tapi ini adalah satu-satunya kesempatan untuk kabur. Tidak mau menyerah begitu saja, Hagia pun kembali melanjutkan langkahnya.


Tapi pada akhirnya, sekeras apapun Hagia berusaha melarikan diri, ia akan


dibawa kembali ke gapura itu lagi. Seakan-akan, ia sedang berada di


dalam sebuah labirin tanpa jalan keluar. Hagia merasa seperti berada di


dalam lingkaran setan tanpa akhir. Membuatnya putus asa dan mulai


menangis. Setelah berbulan-bulan berputus asa... akhirnya Hagia mampu


kembali menangis kini.


Hingga kemudian, Hagia melihat sebuah pohon beringin besar di dalam


perjalanannya. Tanpa Hagia sadari, langkahnya kini membawanya menuju


pohon beringin besar itu berada. Sebuah pohon beringin raksasa, yang


dikelilingi oleh pohon beringin lainnya dengan ukuran yang bermacam.


Ya. Inilah tempat, dimana dulu Hagia pernah melihat seorang perempuan mati


gantung diri. Bahkan, tali yang membunuh perempuan itu pun masih


menggantung saat ini.


Dengan rasa putus asa yang tidak bisa menemukan jalan keluar. Dengan


ketakutannya yang akan ditemukan oleh warga, lalu mati disiksa dengan


penuh kesakitan, Hagia pun mulai memandangi tali yang menggantung di


sana.


Lalu ia pun...


Memilih untuk mati gantung diri.


Ya. Baru saja... Hagia meregang nyawa dengan cara menggantung diri.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2