![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
3 Bulan telah berlalu.
Sejak Dian tewas ditumbalkan, waktu sudah berjalan 3 bulan ke depan
kini. Dan benar apa yang sang sepuh katakan kepada Pak Tomo dulu, bahwa
kesuburan desa hanyalah kenikmatan sesaat, yang jangan sampai membuat
warga desa terlena. Dan kini, apa yang sang sepuh khawatirkan telah
menjadi kenyataan. Setelah 3 bulan berjalan, kesuburan desa mereka telah
kembali binasa.
Saat ini, warga desa mulai mengalami gagal panen secara bertubi-tubi. Hanya
sebagian kecil dari usaha mereka yang membuahkan hasil, lalu sisanya
berakhir membusuk.
Dalam kondisi desa yang mulai rapuh, sang sepuh, Pak Tomo, Pak Bimo serta
beberapa warga lain mulai mengadakan diskusi. Saat ini, mereka berada di
ruang tamu sang sepuh untuk membicarakan hal penting. Untuk memulai
diskusi, sang sepuh pun membuka suara dengan berkata, "Seperti yang kita
rasakan bersama, desa ini mulai mengalami kesengsaraan lagi. Tanah
kita mulai binasa karena kutukan itu lagi. Saya akan bicara langsung ke
intinya. Bahwa malam ini, saya akan mengeksekusi satu mahasiswa. Demi
membuat desa ini stabil kembali." Ucapnya mengakhiri.
Perkataan sang sepuh barusan pun langsung membuat para warga sumringah. Meski
akan membunuh seseorang nanti, orang-orang ini justru terlihat senang
mendengar apa yang sang sepuh beritakan.
Lalu Pak Tomo pun berkata, "Saya sangat senang mendengar berita ini
kanjeng. Terimakasih atas kebesaranmu yang telah mau mendengar
keresahan kami semua." Puji Pak Tomo kepada sang sepuh sembari mencium
kakinya. Lalu diikuti oleh para warga lain, termasuk anak beserta
menantunya.
Apa yang para warga bicarakan barusan pun sampai ke telinga dimana Abil, Estu
dan Hagia berada. Para mahasiswa itu memang sedang disekap di dalam
rumah sang sepuh, yang mana mereka bisa mendengar isi percakapan warga
tadi sendiri. Dan dalam keadaan yang tak berdaya, Abil, Estu dan Hagia,
semakin berputus asa mendengar berita itu.
Sebuah berita, dimana salah satu dari mereka... akan ada lagi yang mati malam ini.
@ @ @ @ @
Kini waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Sama seperti saat mengeksekusi
Dian dulu, sang sepuh tidak sembarang mengambil keputusan dengan
gegabah. Saat ingin menumbalkan seseorang, ia akan menunggu bulan
purnama tiba. Lalu dengan ditambah syarat lain seperti berpuasa,
menjampi-jampi air dengan ajian sakral untuk memandikan calon tumbal,
serta meminum darah seorang wanita yang bernama 'Mutih', barulah sang
sepuh siap untuk menumbalkan seseorang. Dan semua syarat itu telah
terpenuhi malam ini. Waktu yang penuh bahagia bagi para warga telah
datang. Yaitu... menumbalkan salah satu dari mahasiswa... telah datang.
Saat ini, Abil, Estu dan Hagia sedang dikurung di dalam sebuah ruangan.
Kaki dan tangan mereka diikat. Kondisi mereka pun sangat
memprihatinkan. Selama 3 bulan dikurung, mereka hanya diberi makan dan
minum selama 2 hari sekali. Dan jangan menanyakan seperti apa
penampilan mereka. Karena yang pasti, ketiga mahasiswa itu sangat
terlihat mengenaskan.
Rambut mereka acak-acakan. Kulit mereka kusam. Tubuh mereka kurus. Meski mata
mereka tidak ditutup, juga mulut yang tidak disumpal, tapi dengan
kondisi yang miris seperti sekarang, tidak ada satupun dari mereka yang
mampu berteriak dan meronta-ronta lagi. Selama 3 bulan diperlakukan
demikian, rasanya mereka sudah mulai mau gila.
Baru saja sang sepuh masuk ke dalam ruangan dimana Abil, Estu dan Hagia
berada. Setelah berhadapan dengan tawanannya, sang sepuh pun berkata,
"Cah bagus, cah ayu, kalian pasti sudah mendengar percakapan kami tadi
pagi bukan? Yang ingin menumbalkan salah satu dari kalian lagi malam
ini. Dan biarkan saya sedikit bercerita kepada kalian, boleh?" ucap sang
sepuh kepada para mahasiswa. Lalu ia pun kembali melanjutkan, "Kalian
pasti masih ingat teman kalian yang bernama Dian bukan? 3 bulan lalu,
kematiannya sangatlah indah sangat menawan. Teman kalian itu mati penuh
dengan kebanggaan. Dirinya mati berkorban demi menyelamatkan seluruh
warga desa. Tidak ada yang lebih baik daripada itu. Jadi saya harap,
siapapun dari kalian yang mati hari ini, juga berpikir dengan pemikiran
yang sama. Bahwa nanti, kalian tidak akan mati dengan sia-sia. Tapi
kematian kalian adalah hal yang indah. Jadi cah bagus, cah ayu, saya
__ADS_1
meminta kepada kalian untuk ikhlas." Ucap sang sepuh mengakhiri dengan
menambahkan senyum hangatnya.
Dengan kondisi mereka yang mengenaskan, Abil, Estu dan Hagia pun tidak mampu
membalas apa yang sang sepuh ucapankan barusan. Bahkan saat sang sepuh
mengabarkan bahwa akan ada salah satu dari mereka yang mati, Abil, Estu
dan Hagia sama sekali tidak meronta, berteriak atau menangis. Ketiga
mahasiswa itu hanya memandang sang sepuh dengan wajah yang rapuh. Raut
wajah yang seakan menyiratkan bahwa mereka tidak lagi peduli dengan
apapun.
Dan berbeda dari 3 bulan yang lalu saat ingin memilih tumbal, kini sang sepuh pun
tidak bermain-main dengan mangsanya. Tanpa pikir panjang, ia menyuruh
Pak Bimo anaknya, membawa Hagia ke belakang rumah.
Ya. Kini Hagia adalah target yang akan ia bunuh untuk ditumbalkan.
Berbeda pula dari 3 bulan lalu yang penuh drama, teriakan dan tangisan, kini
saat Hagia dibekuk dan dibawa oleh Pak Bimo menuju belakang rumah untuk
dieksekusi, Hagia sendiri tidak melawan sama sekali. Rasa lapar, haus,
serta putus asa, seakan membuat tubuhnya menjadi lelah tak berdaya.
Bahkan Abil dan Estu pun hanya melihat kepergian Hagia dengan pandangan
yang rapuh.
Ya. Meski sebentar lagi Hagia akan mati, suasana di sana terasa amat sangat
tenang. Lalu dengan kasar, Hagia mulai dibopong menuju halaman belakang
rumah.
Sesampainya Hagia di sana, ia sudah ditunggu oleh menantu sang sepuh yang bernama
Mulan. Dengan kasar, Pak Bimo pun melepas Hagia dari cengkramannya.
Lalu sama seperti ritual saat Dian ingin ditumbalkan dulu, sang sepuh turut
datang ke sana untuk menyirami Hagia dengan air kembang yang sudah ia
jampi-jampi sebelumnya. Hingga kemudian, tubuh Hagia pun mulai basah
oleh air dengan sempurna.
Setelah menyirami Hagia dengan air sakral itu, kini sang sepuh merogoh saku
pakaiannya untuk mengambil sebuah keris keramat, keris yang sebentar
lagi akan menyayat-nyayat tubuh Hagia hingga membuatnya mati.
Tapi sepertinya ada sedikit kekacauan. Beberapa kali merogoh sakunya
berulang-ulang, namun sang sepuh tidak menemukan keris itu jua. Lalu
dengan suara tegas, ia menyuruh Pak Bimo dan Pak Tomo mencarinya. Kedua
orang itupun langsung menuruti perintahya segera.
sepertinya kamu sudah ikhlas benar ya mati di malam ini. Tidak ada
sedikitpun airmata yang keluar dari wajahmu. Saya merasa terhormat bisa
menumbalkan sosok perempuan sehebat kamu cah ayu." ucapnya kepada Hagia
yang sedang duduk bersimpuh. Tapi sepertinya ada sebuah kesalahpahaman
atas ucapan sang sepuh barusan.
Tentang Hagia yang tidak berekspresi saat ini, itu bukanlah karena dirinya
yang siap mati. Tapi melainkan karena Hagia sudah tak berdaya...
seluruh tubuhnya sudah lelah tak berdaya. Bahkan, pikiran Hagia saat
ini pun benar-benar kosong.
Tapi rasanya wajar jika melihat Hagia seperti demikian. Karena selama 3
bulan dikurung serta diperlakukan keji, seluruh tubuh dan mentalnya
sudah hancur saat ini. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Hagia
memang ingin keluar dari desa ini dan kembali menjalani hidupnya yang
normal seperti dulu. Tapi di sisi lain, Hagia sadar bahwa keinginan
sederhananya itu sudah mustahil untuk terwujud. Jadi saat ini... Hagia
hanya akan pasrah dengan apapun yang terjadi. Termasuk, jika ia
benar-benar harus mati malam ini juga.
Sudah sekitar 15 menit berlalu. Pak Tomo serta Pak Bimo tak kunjung
menemukan dimana keris keramat itu berada. Sang sepuh yang mulai jengah
pun masuk ke dalam rumah untuk ikut mencari. Meninggalkan Hagia dan
menantunya berdua di sana.
Saat ini, Hagia masih duduk bersimpuh menunduk dengan raut wajah putus asa.
Rambut panjangnya yang acak-acakan pun menyembunyikan wajah rapuhnya
itu. Lalu di kala Hagia menundukkan pandangan, tetiba saja suara
hantaman keras terdengar dalam sekejap. Ya. Menantu sang sepuh di sana
baru saja dipukul oleh batu. Saat menoleh, Hagia melihat perempuan itu
sudah tersungkur pingsan. Hagia pun, melihat seorang kakek tua sedang
memegang batu di hadapannya.
Ya. Kakek itu adalah lansia yang dulu sering mengajak Dian mengobrol.
Dengan mengeluarkan keris keramat milik sang sepuh, sang kakek pun memutus
tali buritan yang mengikat kaki dan tangan Hagia. Setelah berhasil
__ADS_1
melepaskan Hagia, sang kakek pun berkata, "Cah ayu, pergilah. Kamu
sekarang sudah bebas. Carilah jalan keluar dari desa ini. Kamu ndak mau
kan mati tersiksa?" ucapnya sembari tersenyum.
Setelah dilepaskan, Hagia pun mulai berlari terhuyung-huyung keluar desa.
Dengan seluruh tubuhnya yang lelah, Hagia terus melangkahkan kakinya
menuju gerbang desa.
Lantas... apa alasannya sang kakek membebaskan Hagia barusan?
Setelah menguburkan jasad Dian dulu, sang kakek mulai dihantui oleh sosok Dian
di setiap harinya. Dian yang menghantuinya pun selalu meminta sang
kakek untuk membebaskan teman-temannya yang terisisa. Dan perasaan
takut serta bersalah itulah yang pada akhirnya membawa sang kakek di
titik ini. Yaitu, menyelamatkan Hagia.
Setelah berhasil membebaskan Hagia, sang kakek memandangi sosoknya yang mulai
menghilang dalam kegelapan malam. Setelah berhasil memastikan Hagia
meninggalkan Desa, sang kakek pun langsung menusuk perutnya sendiri
beberapa kali dengan keris itu. Ia tak mau mati disiksa oleh sang sepuh
nantinya jika tertangkap. Karena itulah, ia memilih untuk mati bunuh
diri.
Darah segar pun mulai keluar perlahan dari dalam perut sang kakek. Suara pekikannya
pun menggema samar sesaat. Lalu dengan perlahan, pandangannya pun mulai
memudar dan semakin memudar. Hingga kemudian... sang kakek pun mati.
Tapi, ia bangga dengan ini. Karena kematiannya, telah membawa dirinya menepati janji kepada Dian.
@ @ @ @ @
Di dalam kegelapan malam, Hagia terus berlari menyusuri jalan berhutan.
Selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya, ia melihat gapura yang
merupakan gerbang masuk desa di ujung sana. Dengan langkah tertatih,
Hagia pun menuju gapura itu berada.
Kini Hagia baru saja melewati gapura. Itu juga berarti, bahwa ia telah
berhasil keluar dari desa. Ia pun sempat menoleh ke belakang sesaat,
seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada desa terkutuk itu. Lalu
dengan wajah meringis, Hagia melanjutkan perjalanannya.
Tapi, setelah jauh berjalan, Hagia pun dibuat terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya.
Di ujung sana, Hagia kembali melihat gapura desa yang kusam nan rusak.
Gapura yang terlihat sama persis dengan apa yang ia lihat sebelumnya.
Tentu Hagia dibuat keheranan karena hal ini. Tapi karena tidak ada waktu
untuk berpikir, Hagia terus melanjutkan perjalanannya kembali.
Dan setelah jauh berjalan, Hagia pun kembali dibuat terkejut. Karena,
diujung matanya, ia kembali melihat gapura desa itu lagi. Gapura yang
sama persis dengan apa yang ia lihat tadi. Hagia pun sontak mengambil
nafas panjang sembari memejamkan mata. Ia tidak habis pikir. Dirinya
yang sudah bebas sekalipun, ternyata belum bisa keluar seutuhnya dari
teror desa terkutuk ini.
Tapi ini adalah satu-satunya kesempatan untuk kabur. Tidak mau menyerah begitu saja, Hagia pun kembali melanjutkan langkahnya.
Tapi pada akhirnya, sekeras apapun Hagia berusaha melarikan diri, ia akan
dibawa kembali ke gapura itu lagi. Seakan-akan, ia sedang berada di
dalam sebuah labirin tanpa jalan keluar. Hagia merasa seperti berada di
dalam lingkaran setan tanpa akhir. Membuatnya putus asa dan mulai
menangis. Setelah berbulan-bulan berputus asa... akhirnya Hagia mampu
kembali menangis kini.
Hingga kemudian, Hagia melihat sebuah pohon beringin besar di dalam
perjalanannya. Tanpa Hagia sadari, langkahnya kini membawanya menuju
pohon beringin besar itu berada. Sebuah pohon beringin raksasa, yang
dikelilingi oleh pohon beringin lainnya dengan ukuran yang bermacam.
Ya. Inilah tempat, dimana dulu Hagia pernah melihat seorang perempuan mati
gantung diri. Bahkan, tali yang membunuh perempuan itu pun masih
menggantung saat ini.
Dengan rasa putus asa yang tidak bisa menemukan jalan keluar. Dengan
ketakutannya yang akan ditemukan oleh warga, lalu mati disiksa dengan
penuh kesakitan, Hagia pun mulai memandangi tali yang menggantung di
sana.
Lalu ia pun...
Memilih untuk mati gantung diri.
Ya. Baru saja... Hagia meregang nyawa dengan cara menggantung diri.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw