[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 11 : TUMBAL PERTAMA


__ADS_3

Abil, Estu, Hagia dan Dian, kini keempat mahasiswa itu sudah berkumpul di dalam sebuah ruangan


yang sama. Berkumpul dalam keadaan tubuh yang terikat, mata yang


tertutup, serta mulut yang tersumpal. Mereka yang ditangkap kemarin oleh


warga desa, kini dikumpulkan di dalam rumah sang sepuh dengan keadaan


yang memilukan.


Hagia dan Dian, kedua perempuan itu dengan jelas sedang meronta-ronta saat


ini. Andai saja mulut keduanya tidak disumpal dengan kain, pastilah


suara teriakan minta tolong mereka sudah menggema ke seisi rumah.


Abil pun demikian. Bahkan karena ia seorang laki-laki, dalam keadaan yang


sudah terikat kaki dan tangannya, Abil masih mampu merangsak melawan Pak


Bimo juga Pak Tomo di sana dengan gerakan yang membabi buta. Tapi


karena bentuk perlawanannya tersebut, baru saja ia di tumbangkan. Dengan


pukulan keras ke wajah serta perut, Abil baru saja tersungkur ke


lantai.


Sedangkan untuk Estu sendiri, laki-laki itu hanya diam menyandarkan tubuhnya ke


belakang. Seakan tidak peduli dengan nyawanya yang terancam, Estu hanya


berdiam diri di sana sembari mendengarkan ketiga temannya yang


meronta-meronta.


Setelah memukul wajah serta perut Abil barusan, Pak Tomo pun mengatakan


sesuatu kepada para mahasiswa itu dengan berkata, "Selama seminggu,


kalian bisa hidup enak di sini. Bisa makan sepuasnya, sampai tidak


pernah merasakan kelaparan sama sekali. Tapi asal kalian tahu, desa ini


sebenarnya adalah desa miskin. Jangankan bisa makan 3x sehari, bahkan


kami sering berpuasa karena tidak ada makanan. Semua makanan yang kami


punya, kami berikan untuk kalian. Jadi sekarang, kalian harus berbalas


budi... dengan mengorbankan nyawa kalian." Ucap Pak Tomo dengan


perasaan puasnya.


Tak lama berselang dari ucapan Pak Tomo barusan, sang sepuh menghampiri


ruangan dimana para mahasiswa itu berada. Dengan wajah dingin, sang


sepuh pun membuka penutup mata para mahasiswa, lalu berkata, "Malam


nanti, salah satu dari kalian akan kami tumbalkan. Berdiskusilah. Pilih


salah satu dari kalian yang harus lebih dulu mati." Tutur sang sepuh


mengakhiri. Lalu ia menyuruh Pak Tomo juga Pak Bimo untuk membuka


penyumpal mulut para mahasiswa.


Dan seperti yang diduga, sesaat setelah penyumpal mulut mereka dibuka,


suara teriakan yang melengking, jeritan meminta tolong, ataupun kalimat


caci makian langsung menggema ke isi rumah. Bahkan dengan frekuensi


suara sekeras itu, rasanya warga yang berada di luar pun akan turut


mendengarnya pula.


Tapi jeritan mereka semua, tidak akan berlangsung lama. Karena hanya


beberapa jam kemudian, teriakan para mahasiswa itu pun mulai memudar


perlahan. Memudar, seiring dengan tubuh mereka yang sudah lelah tak


berdaya.


@ @ @ @ @


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Hari ini juga bertepatan


dengan bulan purnama. Dan waktu yang telah dijanjikan oleh sang sepuh


kepada para mahasiswa pun telah tiba.


Sang sepuh kembali menghampiri ruangan dimana para mahasiswa itu dikurung.


Saat ini, para mahasiswa pun telah kehabisan suara mereka pula karena


terus berteriak hampir di sepertiga hari. Lalu dengan raut wajah yang


dingin, sang sepuh berkata kepada mereka, "Bagaimana cah ayu, cah bagus?


Kalian sudah menentukan siapa yang harus lebih dulu ditumbalkan?" ucap


sang sepuh sembari melototi para mahasiswa itu satu per satu.


Tak ada jawaban yang keluar, Pak Tomo pun berkata kepada sang sepuh, "Maaf


kanjeng, rasanya percuma menyuruh mereka memilih. Lebih baik, kita


ambil salah satu saja langsung."


Tidak setuju dengan saran Pak Tomo, sang sepuh pun menyuruhnya diam. Lalu


sang sepuh berkata kepada Pak Tomo dengan bertutur, "Salah satu dari


mereka akan mati. Kita ndak boleh memilih sepihak. Kita harus cari tahu


siapa diantara mereka yang sudah ikhlas mati hari ini." Ucap sang sepuh


bersahaja. Dan jurur, ia hanya sedang bermain-main saat ini. Dan Pak


Tomo pun tahu, kalau sang sepuh hanya sedang menggoda keempat mahasiswa


itu semata. Karena Pak Tomo tahu, kalau sang sepuh senang bermain-main


dengan orang-orang yang akan ia bunuh.


Sembari menatapi wajah Abil, Estu, Hagia dan Dian, sang sepuh pun mulai


mengajak mereka bicara satu per satu. "Cah bagus, kamu sudah siap mati


malam ini?" ucapnya bertanya kepada Abil. Lalu sang sepuh pun kembali


melanjutkan, "Kalau kamu sudah siap mati hari ini, cah bagus?" ucapnya


kepada Estu. "Cah ayu, kamu sudah siap mati malam ini?" ucapnya barusan


kepada Hagia.


Tapi, ketiga mahasiswa itu tidak berkomentar sama sekali saat sang sepuh


menanyai mereka. Abil, Estu dan Hagia, hanya balik memandangnya dengan


tatapan keji nan bengis. Seakan tatapan mereka mengisyaratkan siap


membunuh semua warga desa termasuk sang sepuh sendiri andai mereka punya

__ADS_1


kesempatan untuk melawan.


Lalu setelah selesai menanyai Abil, Estu dan Hagia, kini sang sepuh mulai


berderap menghampiri Dian dengan senyuman kecil. Setelah berhadapan


dengan Dian, sang sepuh pun berkata, "Kalau kamu sendiri cah ayu, kamu


sudah siap untuk mati malam ini?" tapi berbeda dengan gestur yang


ditunjukkan oleh Abil, Estu dan Hagia yang seakan melawan, Dian yang


sedang ditanyai kini justru mulai menangis pilu. Dan sang sepuh yang


melihat Dian menangis pun mulai tersenyum lebar. Seakan ia menyukai


ekspresi kesedihan Dian yang sebentar lagi akan mati ditangannya.


Sembari menatap Dian dalam, sang sepuh pun mulai membelai rambut Dian pelan.


Lalu mengusap wajah Dian dengan lembut setelahnya. Dian yang tidak bisa


melawan pun hanya bisa menangis dan menangis. Melihat Dian yang


diperlakukan demikian, Abil dan Hagia sontak langsung mencaci maki sang


sepuh dengan lantang.


Di sela-sela caci makian Abil juga Hagia kepadanya, kini sang sepuh pun


telah memutuskan... akan menjadikan Dian... sebagai orang pertama yang


akan ia tumbalkan.


Tanpa bermain-main lagi dengan mangsanya, sang sepuh menyuruh Pak Tomo untuk


membawa dian menuju belakang rumah. Suara tangisan pilu serta mohon


ampunan yang keluar dari bibir Dian pun mulai menggema lantang di sana.


Dan dengan kepala mata mereka sendiri, Abil, Estu dan Hagia melihat


sosok Dian yang mulai berderap keluar ruangan dengan kondisi yang miris.


Ya. Inilah saat dimana, Abil, Estu dan Hagia... melihat wajah Dian untuk yang terakhir kali... sembari meneriakkan namanya.


@ @ @ @ @


Sesampainya di belakang rumah, Pak Tomo melepas cengkramannya dari Dian, membuat


Dian pun jatuh tersungkur di tanah. Lalu Mulan, menantu sang sepuh yang


sudah berada di sana bergegas membangunkan posisi Dian hingga


membuatnya menjadi terduduk.


Masih dengan kaki dan tangan yang terikat, Dian mulai disirami air kembang


yang sudah dipersiapkan oleh menantu sang sepuh di sana. Dengan


menangis, meronta dan meminta ampunan, air kembang yang sudah


dijampi-jampi itu mulai membasahi tubuh Dian yang tak berdaya dengan


sempurna.


Lalu sang sepuh yang baru saja datang dari dalam, mulai menghampiri Dian, lalu ia


pun berkata, "Cah ayu, kamu harus ikhlas. Kematian kamu, darah di


dalam tubuh kamu, akan menyelamatkan desa ini dari kebinasaan. Jangan


menangis cah ayu. Kamu harus bangga. Karena di akhir hidup kamu, kamu


bisa menyelamatkan banyak nyawa di sini." Ucap sang sepuh sembari


Di dalam ketakutannya yang teramat sangat, Dian pun bertutur, "Mbah, Pak,


Bu... tolong lepasin saya sama temen-temen saya. Kami janji akan


menolong desa kalian agar subur kembali. Kalau tidak, biarkan kami


keluar desa lalu meminta bantuan. Kami akan membawa banyak makanan dari


luar ke desa ini." Ucap Dian dengan suara yang lirih.


Lalu dengan cepat sang sepuh pun berkata, "Dulu teman kamu yang bernama


Abil pernah mengeluh kepada saya. Teman kamu bingung karena semua


makanan yang ia bawa dari luar tetiba saja membusuk. Kamu tahu kenapa


alasannya cah ayu? Karena makanan dari luar akan cepat membusuk jika


dibawa ke desa ini. Bukan hanya itu, orang luar pun ndak akan pernah


bisa masuk ke desa ini. Mereka semua akan dibuat tersesat di dalam


kabut. Kalaupun bisa, mereka semua harus dituntun oleh kami sampai ke


sini, lalu harus melakukan getih mawar terlebih dahulu, agar mereka


tidak mati cepat karena tubuh yang mengering. Dan kami pun, ndak bisa


keluar desa dengan sembarang. Karena bisa-bisa kulit kami meleleh.


Andaikan apa yang kamu sarankan barusan bekerja, pastilah kami ndak


akan menumbalkan kamu sekarang, cah ayu." Tegas sang sepuh barusan


dengan penuh kebenaran. Desa ini adalah tanah terkutuk nan jahanam.


Jika ada yang berhasil memasukinya, maka tidak akan ada lagi yang bisa


pergi keluar.


Setelah mejelaskan panjang lebar kesalahan Dian barusan, sang sepuh pun


mengeluarkan sebilah keris berukuran kecil dari dalam bajunya. Keris


yang sedang sang sepuh genggam pun ia mainkan ke wajah Dian dengan


berirama. Menyentuh pipinya. Menyentuh dagunya. Menyentuh keningnya.


Hingga kemudian... keris itu bertengger di ujung nadi leher Dian.


Melihat ekspresi Dian yang begitu kalut, sang sepuh pun kembali berkata,


"Cah ayu, bilang ke saya. Kamu mau saya sayat di bagian tubuh mana


yang lebih dulu? Tangan kamu? Kaki kamu? Atau leher kamu?"


Dian yang melihat keris itu bertengger di lehernya, yang disertai dengan


ucapan bengis sang sepuh barusan, seakan membuat Dian merasa gila.


Tubuhnya langsung memanas, seakan darahnya mendidih bergolak-golak.


Detak jantungnya yang berdebar pun seakan membuat nafas Dian menjadi


terengah-engah. Lalu dengan satu gerakan yang kuat... Dian pun berteriak


keras. Satu teriakan lantang yang akan terdengar sampai jauh. Satu


teriakan yang akan sampai pula ke telinga Abil, Estu dan Hagia berada.


Mendengar teriakan Dian yang begitu melengking, membuat senyum lebar sang sepuh

__ADS_1


pun merekah. Lalu dengan satu gerakan sayatan yang kuat, sang sepuh pun


langsung memotong lidah Dian cepat. Sayatan yang akhirnya memutus


lidah Dian dalam sekejap mata. Darah segar pun mulai mengalir pelan


dari mulut dian yang sedang terpekik. Suara teriakan lantang lainnya


pun mulai menggema di udara. Suara yang menandakan bahwa Dian saat ini


sedang menjerit kesakitan atas siksaan yang pedih.


Ya. Dian mulai dieksekusi mati saat ini. Dan setelah lidahnya dipotong,


sang sepuh pun mulai melanjutkan sayatannya ke bagian tubuh Dian yang


lain. Hingga akhirnya... jerit Dian pun mulai memudar di udara perlahan.


Yang menandakan... bahwa Dian, telah tewas.


Dengan terus menyayat-nyayat tubuh Dian, Pak Tomo, Pak Bimo serta istrinya


mulai menadahi darah yang keluar dari tubuh Dian dengan cekatan. Membuat


wadah yang masing-masing mereka pegang mulai memerah terisi oleh


darah.


Setelah banyak darah terkumpul, sang sepuh sekaligus warga, mulai menyirami


tanah desa dengan darah segar Dian. Ada yang pergi ke sisi barat. Ada


yang berlari ke sisi timur. Ada yang menuju sisi selatan. Dan juga ada


yang berbondong-bondong menuju sisi utara.


Lalu setelah selesai menyirami tanah desa dengan darah, kini jasad Dian


dibawa menuju pohon beringin besar yang letaknya berada di hutan


belakang desa.


Beberapa pria di sana terlihat sedang menggali tanah, termasuk seorang kakek


tua yang dimana Dian takut kepadanya dulu. Dirasa cukup, jasad Dian pun


dibuang ke dalam pusara. Lalu mulai menimbunnya kembali dengan tanah.


Setelah 21 tahun hidup, inilah cerita akhir dari kehidupan Dian.


Setelah berhasil mengubur jasad Dian serta menabur darahnya ke seluruh penjuru


desa, dengan wajah sumringah, para warga mulai saling melempar


senyuman. Seakan-akan inilah penantian yang sedang mereka


tunggu-tunggu. Seakan-akan dahaga mereka telah terbasuh dengan sempurna


di malam ini.


Ya. Semua warga desa memang telah menanti saat-saat ini tiba. Sebuah hari


dimana... ritual 'Nandur Manungsa' atau yang bermakna 'Menanam Manusia',


dapat kembali mereka lakukan setelah 8 bulan menanti. Dengan


menumbalkan Dian, akhirnya warga desa bisa bernafas lega kini.


Karena sebentar lagi, desa mereka akan kembali subur.


@ @ @ @ @


Satu bulan telah berlalu. Dan benar, saat ini, kondisi desa mulai membaik.


Para warga mulai bisa memetik hasil panen mereka pada bulan ini. Meski


dirasa belum maksimal, tapi setidaknya para warga tidak akan kelaparan


hingga ritual 'Nandur Manungsa' berikutnya datang. Yaitu, sekitar 3


bulan lagi.


Bahkan saat ini bukan hanya tanah desa mereka yang kembali subur. Tapi para


wanita dewasa yang ada di desa pun mulai mengandung pula. Jika di total,


ada sekitar 17 wanita yang kini sedang mengandung. Termasuk, istri


dari Pak Bimo yang juga menantu sang sepuh.


Meski miris, tapi berita ini adalah kabar baik bagi para warga desa. Tanah


yang kembali subur, serta para wanita yang kembali hamil, merupakan


anugrah tersendiri bagi warga. Tak terkecuali Pak Tomo. Ia pun saat ini


berada di rumah sang sepuh untuk mengabarkan kalau istrinya juga hamil.


Di hadapan sang sepuh, Pak Tomo pun berkata, "Kanjeng. Dengan


menumbalkan mahasiswa bernama Dian kemarin, sekarang desa kita kembali


sejahtera. Ini benar-benar luar biasa." Ucapnya dengan begitu sumringah.


Tapi berbeda dengan Pak Tomo, raut wajah sang sepuh kini justru terlihat


dingin, seakan ia tidak setuju atas apa yang diucapkan oleh Pak Tomo


barusan. Dengan sorot mata yang dalam, sang sepuh pun bertutur, "Tomo,


kamu jangan terlalu senang. Menumbalkan orang dari luar hanya akan


menekan kutukan sebentar saja. 2 atau 3 bulan lagi, kesuburan di desa


ini pasti akan kembali binasa. Kita jangan berpangku kepada para


mahasiswa yang tersisa. Akan lebih baik, kalau wanita sialan yang ada di


dalam 'Punden' itu hamil dengan segera. Karena menumbalkan garis


keturunan langsung si keparat itu, efeknya jauh lebih kuat untuk menekan


kutukan yang membelenggu kita, dibanding darah dan daging para


mahasiswa itu. Sekarang, bagaimanapun caranya, cepat buat si wanita


sialan itu hamil. Karena kita butuh keturunannya secepat mungkin." Tegas


sang sepuh seakan sedang menghakimi.


Pak Tomo pun tidak membalas petuah sang sepuh barusan. Ia hanya menganggukan kepala seperti orang ketakutan.


Lantas... siapa 'Wanita Sialan' yang sedang dimaksud sang sepuh tadi?


Ya.Namanya adalah Mutih. Dia adalah cucu keturunan langsung dari sang


ketua sekte terdahulu yang memimpin desa. Sang ketua sekte... yang telah


mengutuk desa ini dan seisinya.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2