[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 2 : MENUJU DESA ABIMANTRANA


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan selama 5 jam serta bertanya kesana


kemari, akhirnya mereka sampai di lokasi pegunungan. Jika melihat


sekitar, kurang lebih lokasi dimana mereka ada saat ini sama persis


seperti ancang-ancang yang digambarkan di secarik kertas pemberian


salah satu perwakilan warga desa Abimantrana dulu. Ya, mereka saat ini


telah sampai di Hutan Abimantrana.


Tapi ketika memandang ke


sekeliling, mereka hanya melihat hutan disekitar. Bahkan jalan setapak


yang mereka pijak hingga ke ujung sana terlihat kotor oleh dedaunan,


yang menandakan bahwa lokasi itu jarang dilalui oleh orang-orang. Dan


memang benar, tempat dimana mereka berada sekarang terlihat sangat sepi


dan hening. Jangankan lalu lalang kendaraan, mencari masyarakat


sekitar yang lewat saja tidak ada.


Merasa salah alamat, Abil dan yang lain memutuskan untuk berbalik arah dan mencari lokasi lain.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Abil dan yang lain sudah


bertanya kesana kemari mencari letak desa Abimantrana selama 3 jam,


namun usaha itu berakhir nihil.


Setiap kali mereka bertanya


kepada warga sekitar atau siapapun yang mereka temui, orang-orang itu


menjawab dengan jawaban yang sama. Bahwa di sana tidak ada desa yang


bernama Abimantrana. Desa Abimantrana tidak pernah ada. Kalaupun ada


jawaban yang lain, mereka akan diarahkan menuju Hutan Abimantrana lagi,


hutan yang memiliki atmosfer senyap. Serta hutan yang dianggap tabu


untuk dimasuki oleh warga sekitar.


Melihat kenyataan yang tidak


sesuai harapan, teman-teman Abil mulai memprotes. Terutama Hagia, yang


memang dekat dengan Abil sedari SMP. Karena merasa dibohongi, Hagia


menggerutu di sepanjang jalan.


Abil juga merasa bersalah karena


tidak melakukan survey lokasi terlebih dahulu sebelumnya. Ia percaya


begitu saja kepada denah yang ditulis di secarik kertas itu tanpa


memikirkan medan perjalanannya terlebih dahulu. Alih-alih memastikan


lokasi KKN serinci mungkin, Abil justru disibukkan dengan


mempertanyakan masalah apa saja yang sedang terjadi di desa itu. Dengan


maksud menggali informasi untuk dijadikan proposal nantinya. Karena


kenaifannya tersebut, maka inilah akibatnya.


Merasa patah arang, Abil meminta sang supir untuk melipir sebentar ke warung kecil


dipinggir jalan. Abil berniat rehat sejenak di sana. Setelah


memarkirkan mobil, Abil dan yang lain berbondong-bondong turun lalu


menghampiri warung.


Kehadiran mereka disambut baik oleh sang


pemilik warung yang seorang wanita berusia agak senja. Setelah tahu


pesanan apa yang diinginkan oleh Abil serta yang lain, sang pemilik


warung mulai membuatkan teh manis hangat juga menyiapkan beberapa porsi


makanan berat.


Disela-sela saat menyiapkan pesanan, sang


pemilik warung mencoba beramah tamah, dengan bertanya apa gerangan yang


membuat Abil dan yang lain datang ke desa mereka. Karena dengan


memakai almamater kampus, memarkirkan mobil serta membawa gembolan tas,


tentu pemilik warung yakin kalau Abil dan yang lain memiliki tujuan.


Lalu dengan intonasi yang ramah pula, Abil menjawab pertanyaan ibu pemilik


warung itu dengan mengatakan, bahwa mereka adalah mahasiswa yang sedang


mencari lokasi KKN. Dan jawaban tersebut sepertinya langsung bisa


dipahami oleh beliau.


Saat pemilik warung mulai mengantarkan


pesanan mereka satu persatu, Abil pun bertanya kepada beliau dengan


bertutur, "Bu maaf, ibu tau gak lokasi desa Abimantrana?"

__ADS_1


Tentu kali ini Abil berharap lebih, berharap kalau beliau akan menjawab


pertanyaannya dengan jawaban yang menyenangkan. Tapi sama seperti


orang-orang sebelumnya, beliau juga menggelengkan kepala. Dengan


intonasi yang rendah, beliau menjawab, "Maaf mas, setahu ibu, di sini


gak ada desa yang namanya Abimantrana. Paling adanya hutan Abimantrana."


Lagi, Abil dan yang lain dibuat kecewa.


"Tuh kan, kayaknya elu


tuh salah deh. Mungkin elu salah nulis alamat, atau mungkin desa


Abimantrana adanya bukan di sini. Masa kita mau KKN di hutan?" Timpal


Hagia barusan dengan nada bicara yang ketus kepada Abil. Jika


dilihat-lihat, sepertinya Hagia adalah orang yang paling jengkel saat


ini. Sedangkan Abil yang menjadi bulan-bulanan, telah meminta maaf


sekali lagi lalu mencoba membela diri.


Melihat perdebatan diantara mereka, pemilik warung lalu meneruskan dengan berkata, "Tapi


seinget ibu ya, sekitar 2 tahun yang lalu juga ada mahasiswa kayak


kalian nyari desa Abimantrana. Tapi waktu itu jumlahnya 5 orang."


Mendengar cerita barusan, Abil langsung menimpal, "Nah, terus mereka ketemu desanya gak Bu?"


Beliau pun menjawab, "Ya sama kayak kalian, ibu jawab desa Abimantrana itu


gak ada. Abis itu, ibu gak tau mereka pergi kemana." Tutur beliau


dengan meyakinkan, hingga membuat wajah para mahasiswa itu kembali


kecewa.


Termasuk ibu si pemilik warung, Abil dan teman-temannya


kini sudah bertanya ke lebih dari 20 orang. Menanyai mereka dengan


pertanyaan yang sama. Tapi dengan kompak, orang-orang yang mereka


tanyai menegaskan, bahwa desa Abimantrana itu memang tidak ada.


Mungkin kenyataan itu menyakitkan bagi para mahasiswa yang akan KKN ini,


terutama bagi Abil. Kendati kenyataannya demikian, Abil percaya kalau


masih ada harapan untuk menemukan desa itu. Karenanya, Abil bertanya


sekali kepada beliau. Kali ini dengan nada lirih, Abil berkata, "Bu,


Sama seperti Abil yang kekeh, Beliau


pun sekali lagi menegaskan dengan berkata, "Iya mas. Ibu gak bohong.


Desa Abimantrana itu emang gak ada," jawab beliau dengan tegas. Lalu


beliau pun melanjutkan kalimatnya dengan bertutur, "Tapi kata leluhur


ibu, dulu katanya deket sini emang ada desa yang namanya Abimantrana.


Tapi katanya. Karena ibu yang udah setua ini aja, gak pernah nemu desa


itu. Paling itu cuma mitos. Cuma cerita leluhur."


Mendengar penjelasan ibu si pemilik warung barusan, membuat Hagia merasa semakin


jengah dengan Abil. Dengan intonasi menyindir, Hagia pun berceletuk,


"Abil Abil. Niat KKN gak sih lu? Desanya aja gak ada. Apa jangan-jangan


desanya itu desa gaib? Mau beresin masalah apa di sana? Pertanian? Lu


pikir, setan jual beli sayur kol?"


Untungnya Abil bisa membaca


situasi. Alih-alih membela diri dengan ngotot, Abil justru tidak


membalas ejekan Hagia. Abil tahu, semua teman-temannya sudah lelah dan


kecewa. Jadi Abil tidak ingin bertingkah yang nantinya bisa memperkeruh


suasana. Karenanya, ia memilih untuk diam.


Setelah menghabiskan santapan yang mereka pesan, Abil mengambil dompet di saku celananya,


merogoh beberapa lembar uang kertas, lalu membayar semua tagihan.


Pemilik warung yang tidak memiliki kembalian pun meminta sedikit waktu


untuk menukarkan uang receh. Abil dan yang lain pun menunggu.


Sembari menunggu pemilik warung kembali, tidak ada sedikitpun suara celoteh di


sana. Abil, Estu, Hagia dan Dian tidak saling bicara. Masing-masing


dari mereka terdiam, membuat suasana di sana menjadi hening dan agak


canggung. Tapi apa yang mereka ekspresikan saat ini rasanya adalah hal


normal. Karena mau bagaimanapun, saat ini mereka semua sedang diselimuti


oleh rasa kecewa.


Setelah susah payah membuat proposal,

__ADS_1


mempersiapkan segala hal, melakukan perjalanan yang cukup jauh, lalu


mencari lokasi KKN selama berjam-jam, namun pada akhirnya semua usaha


itu berakhir nihil. Jujur, asa di dalam benak mereka mulai memudar.


Apalagi Abil. Bukan hanya patah semangat, ia juga harus menanggung malu


kepada temannya juga pihak kampus, jika rencana KKN-nya ini sampai


gagal.


Dan saat mereka semua termenung dengan tatap mata yang


kosong, datanglah 3 sosok laki-laki yang bertelanjang kaki menghampiri


mereka. 3 sosok laki-laki itu berpakaian lusuh, penampilan mereka pun


terlihat lusuh pula.


Tapi siapa sangka, kehadiran salah seorang


dari 3 laki-laki itu justru membuat wajah Abil menjadi sumringah. Asa


di dalam benak Abil yang sebelumnya memudar, kini langsung berkobar


kembali. Seketika mengubah wajah murungnya, menjadi senyuman yang


merekah. Sembari tersenyum, Abil pun langsung berucap, "Pak Tomo, ya?"


Benar. Salah satu dari ketiga orang itu bernama, Pak Tomo. Seorang pria paruh


baya yang satu pupil matanya terlihat memutih. Dan dengan ramah, Pak


tomo pun menyapa, "Mas... Abil kan?"


Lalu dengan lugas, Abil menjawab pertanyaan Pak Tomo dengan anggukan yang antusias.


Lantas, siapakah orang-orang ini?


Pak Tomo sendiri adalah orang yang pernah datang ke kosan dimana Abil


tinggal. Pada mulanya, Pak Tomo datang sebagai tamu pemilik kost waktu


itu. Bahkan Abil sendiri pernah melihatnya sedang mengobrol dengan si


pemilik hunian di beranda. Pak Tomo juga terlihat lebih rapih


penampilannya kala itu. Hingga di suatu hari, Abil mendapat kesempatan


berbicara dengan Pak Tomo atas saran dari si pemilik kost. Abil yang


sering mencurahkan kegelisahannya perihal KKN ke ibu kost, nyatanya


berita itu langsung di sampaikan kepada Pak Tomo. Lalu di hari kemudian,


Pak Tomo menawari Abil untuk KKN di desanya. Abil yang sedang


uring-uringan pun menganggap bahwa Pak Tomo adalah jawaban atas segala


harapannya. Jadi tanpa pikir panjang, Abil menyetujui tawaran tersebut


dan mulai mencari anggota KKN.


Dan pada akhirnya, mereka semua bertemu di momen ini.


Dengan raut wajah heran, Pak Tomo kembali melanjutkan kalimatnya dengan


bertanya, "Kemana aja loh mas? Padahal saya daritadi udah nunggu di


titik kita ketemuan."


Dengan terkekeh pelan sembari meminta maaf,


Abil pun menjelaskan dengan berkata, "Tadi saya udah sampai di sana


pak. Di depan hutan Abimantrana kan? Cuma karena saya kira salah


alamat, jadi saya sama yang lain nyari-nyari lokasi lagi."


Mendengar alasan Abil, 3 sosok laki-laki itupun saling melihat satu sama lain.


Tapi pada akhirnya, mereka memaklumi kesalahpahaman tersebut. Lalu Pak


Tomo pun mengajak mereka menuju desa. "Mas Abil, mari saya antar ke desa


Abimantrana. Takut keburu malam."


Dengan segera, Abil menyuruh teman-temannya untuk bergegas. Estu, Hagia dan Dian hanya menuruti


perintahnya sembari bertanya-tanya di dalam hati. Kemudian mereka semua


masuk ke dalam mobil satu persatu.


Abil tentu masih ingat dengan ibu pemilik warung yang belum kembali. Tapi Abil mengikhlaskan uang


kembalian 37 ribunya yang belum dikembalikan tersebut. Abil


menghiraukannya dan memilih untuk bergegas menuju desa tujuan dengan


segera.


Dan dengan menumpang di satu mobil yang sama, mereka semua kini menuju Desa Abimantrana.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2