![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Setelah melakukan perjalanan selama 5 jam serta bertanya kesana
kemari, akhirnya mereka sampai di lokasi pegunungan. Jika melihat
sekitar, kurang lebih lokasi dimana mereka ada saat ini sama persis
seperti ancang-ancang yang digambarkan di secarik kertas pemberian
salah satu perwakilan warga desa Abimantrana dulu. Ya, mereka saat ini
telah sampai di Hutan Abimantrana.
Tapi ketika memandang ke
sekeliling, mereka hanya melihat hutan disekitar. Bahkan jalan setapak
yang mereka pijak hingga ke ujung sana terlihat kotor oleh dedaunan,
yang menandakan bahwa lokasi itu jarang dilalui oleh orang-orang. Dan
memang benar, tempat dimana mereka berada sekarang terlihat sangat sepi
dan hening. Jangankan lalu lalang kendaraan, mencari masyarakat
sekitar yang lewat saja tidak ada.
Merasa salah alamat, Abil dan yang lain memutuskan untuk berbalik arah dan mencari lokasi lain.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Abil dan yang lain sudah
bertanya kesana kemari mencari letak desa Abimantrana selama 3 jam,
namun usaha itu berakhir nihil.
Setiap kali mereka bertanya
kepada warga sekitar atau siapapun yang mereka temui, orang-orang itu
menjawab dengan jawaban yang sama. Bahwa di sana tidak ada desa yang
bernama Abimantrana. Desa Abimantrana tidak pernah ada. Kalaupun ada
jawaban yang lain, mereka akan diarahkan menuju Hutan Abimantrana lagi,
hutan yang memiliki atmosfer senyap. Serta hutan yang dianggap tabu
untuk dimasuki oleh warga sekitar.
Melihat kenyataan yang tidak
sesuai harapan, teman-teman Abil mulai memprotes. Terutama Hagia, yang
memang dekat dengan Abil sedari SMP. Karena merasa dibohongi, Hagia
menggerutu di sepanjang jalan.
Abil juga merasa bersalah karena
tidak melakukan survey lokasi terlebih dahulu sebelumnya. Ia percaya
begitu saja kepada denah yang ditulis di secarik kertas itu tanpa
memikirkan medan perjalanannya terlebih dahulu. Alih-alih memastikan
lokasi KKN serinci mungkin, Abil justru disibukkan dengan
mempertanyakan masalah apa saja yang sedang terjadi di desa itu. Dengan
maksud menggali informasi untuk dijadikan proposal nantinya. Karena
kenaifannya tersebut, maka inilah akibatnya.
Merasa patah arang, Abil meminta sang supir untuk melipir sebentar ke warung kecil
dipinggir jalan. Abil berniat rehat sejenak di sana. Setelah
memarkirkan mobil, Abil dan yang lain berbondong-bondong turun lalu
menghampiri warung.
Kehadiran mereka disambut baik oleh sang
pemilik warung yang seorang wanita berusia agak senja. Setelah tahu
pesanan apa yang diinginkan oleh Abil serta yang lain, sang pemilik
warung mulai membuatkan teh manis hangat juga menyiapkan beberapa porsi
makanan berat.
Disela-sela saat menyiapkan pesanan, sang
pemilik warung mencoba beramah tamah, dengan bertanya apa gerangan yang
membuat Abil dan yang lain datang ke desa mereka. Karena dengan
memakai almamater kampus, memarkirkan mobil serta membawa gembolan tas,
tentu pemilik warung yakin kalau Abil dan yang lain memiliki tujuan.
Lalu dengan intonasi yang ramah pula, Abil menjawab pertanyaan ibu pemilik
warung itu dengan mengatakan, bahwa mereka adalah mahasiswa yang sedang
mencari lokasi KKN. Dan jawaban tersebut sepertinya langsung bisa
dipahami oleh beliau.
Saat pemilik warung mulai mengantarkan
pesanan mereka satu persatu, Abil pun bertanya kepada beliau dengan
bertutur, "Bu maaf, ibu tau gak lokasi desa Abimantrana?"
__ADS_1
Tentu kali ini Abil berharap lebih, berharap kalau beliau akan menjawab
pertanyaannya dengan jawaban yang menyenangkan. Tapi sama seperti
orang-orang sebelumnya, beliau juga menggelengkan kepala. Dengan
intonasi yang rendah, beliau menjawab, "Maaf mas, setahu ibu, di sini
gak ada desa yang namanya Abimantrana. Paling adanya hutan Abimantrana."
Lagi, Abil dan yang lain dibuat kecewa.
"Tuh kan, kayaknya elu
tuh salah deh. Mungkin elu salah nulis alamat, atau mungkin desa
Abimantrana adanya bukan di sini. Masa kita mau KKN di hutan?" Timpal
Hagia barusan dengan nada bicara yang ketus kepada Abil. Jika
dilihat-lihat, sepertinya Hagia adalah orang yang paling jengkel saat
ini. Sedangkan Abil yang menjadi bulan-bulanan, telah meminta maaf
sekali lagi lalu mencoba membela diri.
Melihat perdebatan diantara mereka, pemilik warung lalu meneruskan dengan berkata, "Tapi
seinget ibu ya, sekitar 2 tahun yang lalu juga ada mahasiswa kayak
kalian nyari desa Abimantrana. Tapi waktu itu jumlahnya 5 orang."
Mendengar cerita barusan, Abil langsung menimpal, "Nah, terus mereka ketemu desanya gak Bu?"
Beliau pun menjawab, "Ya sama kayak kalian, ibu jawab desa Abimantrana itu
gak ada. Abis itu, ibu gak tau mereka pergi kemana." Tutur beliau
dengan meyakinkan, hingga membuat wajah para mahasiswa itu kembali
kecewa.
Termasuk ibu si pemilik warung, Abil dan teman-temannya
kini sudah bertanya ke lebih dari 20 orang. Menanyai mereka dengan
pertanyaan yang sama. Tapi dengan kompak, orang-orang yang mereka
tanyai menegaskan, bahwa desa Abimantrana itu memang tidak ada.
Mungkin kenyataan itu menyakitkan bagi para mahasiswa yang akan KKN ini,
terutama bagi Abil. Kendati kenyataannya demikian, Abil percaya kalau
masih ada harapan untuk menemukan desa itu. Karenanya, Abil bertanya
sekali kepada beliau. Kali ini dengan nada lirih, Abil berkata, "Bu,
Sama seperti Abil yang kekeh, Beliau
pun sekali lagi menegaskan dengan berkata, "Iya mas. Ibu gak bohong.
Desa Abimantrana itu emang gak ada," jawab beliau dengan tegas. Lalu
beliau pun melanjutkan kalimatnya dengan bertutur, "Tapi kata leluhur
ibu, dulu katanya deket sini emang ada desa yang namanya Abimantrana.
Tapi katanya. Karena ibu yang udah setua ini aja, gak pernah nemu desa
itu. Paling itu cuma mitos. Cuma cerita leluhur."
Mendengar penjelasan ibu si pemilik warung barusan, membuat Hagia merasa semakin
jengah dengan Abil. Dengan intonasi menyindir, Hagia pun berceletuk,
"Abil Abil. Niat KKN gak sih lu? Desanya aja gak ada. Apa jangan-jangan
desanya itu desa gaib? Mau beresin masalah apa di sana? Pertanian? Lu
pikir, setan jual beli sayur kol?"
Untungnya Abil bisa membaca
situasi. Alih-alih membela diri dengan ngotot, Abil justru tidak
membalas ejekan Hagia. Abil tahu, semua teman-temannya sudah lelah dan
kecewa. Jadi Abil tidak ingin bertingkah yang nantinya bisa memperkeruh
suasana. Karenanya, ia memilih untuk diam.
Setelah menghabiskan santapan yang mereka pesan, Abil mengambil dompet di saku celananya,
merogoh beberapa lembar uang kertas, lalu membayar semua tagihan.
Pemilik warung yang tidak memiliki kembalian pun meminta sedikit waktu
untuk menukarkan uang receh. Abil dan yang lain pun menunggu.
Sembari menunggu pemilik warung kembali, tidak ada sedikitpun suara celoteh di
sana. Abil, Estu, Hagia dan Dian tidak saling bicara. Masing-masing
dari mereka terdiam, membuat suasana di sana menjadi hening dan agak
canggung. Tapi apa yang mereka ekspresikan saat ini rasanya adalah hal
normal. Karena mau bagaimanapun, saat ini mereka semua sedang diselimuti
oleh rasa kecewa.
Setelah susah payah membuat proposal,
__ADS_1
mempersiapkan segala hal, melakukan perjalanan yang cukup jauh, lalu
mencari lokasi KKN selama berjam-jam, namun pada akhirnya semua usaha
itu berakhir nihil. Jujur, asa di dalam benak mereka mulai memudar.
Apalagi Abil. Bukan hanya patah semangat, ia juga harus menanggung malu
kepada temannya juga pihak kampus, jika rencana KKN-nya ini sampai
gagal.
Dan saat mereka semua termenung dengan tatap mata yang
kosong, datanglah 3 sosok laki-laki yang bertelanjang kaki menghampiri
mereka. 3 sosok laki-laki itu berpakaian lusuh, penampilan mereka pun
terlihat lusuh pula.
Tapi siapa sangka, kehadiran salah seorang
dari 3 laki-laki itu justru membuat wajah Abil menjadi sumringah. Asa
di dalam benak Abil yang sebelumnya memudar, kini langsung berkobar
kembali. Seketika mengubah wajah murungnya, menjadi senyuman yang
merekah. Sembari tersenyum, Abil pun langsung berucap, "Pak Tomo, ya?"
Benar. Salah satu dari ketiga orang itu bernama, Pak Tomo. Seorang pria paruh
baya yang satu pupil matanya terlihat memutih. Dan dengan ramah, Pak
tomo pun menyapa, "Mas... Abil kan?"
Lalu dengan lugas, Abil menjawab pertanyaan Pak Tomo dengan anggukan yang antusias.
Lantas, siapakah orang-orang ini?
Pak Tomo sendiri adalah orang yang pernah datang ke kosan dimana Abil
tinggal. Pada mulanya, Pak Tomo datang sebagai tamu pemilik kost waktu
itu. Bahkan Abil sendiri pernah melihatnya sedang mengobrol dengan si
pemilik hunian di beranda. Pak Tomo juga terlihat lebih rapih
penampilannya kala itu. Hingga di suatu hari, Abil mendapat kesempatan
berbicara dengan Pak Tomo atas saran dari si pemilik kost. Abil yang
sering mencurahkan kegelisahannya perihal KKN ke ibu kost, nyatanya
berita itu langsung di sampaikan kepada Pak Tomo. Lalu di hari kemudian,
Pak Tomo menawari Abil untuk KKN di desanya. Abil yang sedang
uring-uringan pun menganggap bahwa Pak Tomo adalah jawaban atas segala
harapannya. Jadi tanpa pikir panjang, Abil menyetujui tawaran tersebut
dan mulai mencari anggota KKN.
Dan pada akhirnya, mereka semua bertemu di momen ini.
Dengan raut wajah heran, Pak Tomo kembali melanjutkan kalimatnya dengan
bertanya, "Kemana aja loh mas? Padahal saya daritadi udah nunggu di
titik kita ketemuan."
Dengan terkekeh pelan sembari meminta maaf,
Abil pun menjelaskan dengan berkata, "Tadi saya udah sampai di sana
pak. Di depan hutan Abimantrana kan? Cuma karena saya kira salah
alamat, jadi saya sama yang lain nyari-nyari lokasi lagi."
Mendengar alasan Abil, 3 sosok laki-laki itupun saling melihat satu sama lain.
Tapi pada akhirnya, mereka memaklumi kesalahpahaman tersebut. Lalu Pak
Tomo pun mengajak mereka menuju desa. "Mas Abil, mari saya antar ke desa
Abimantrana. Takut keburu malam."
Dengan segera, Abil menyuruh teman-temannya untuk bergegas. Estu, Hagia dan Dian hanya menuruti
perintahnya sembari bertanya-tanya di dalam hati. Kemudian mereka semua
masuk ke dalam mobil satu persatu.
Abil tentu masih ingat dengan ibu pemilik warung yang belum kembali. Tapi Abil mengikhlaskan uang
kembalian 37 ribunya yang belum dikembalikan tersebut. Abil
menghiraukannya dan memilih untuk bergegas menuju desa tujuan dengan
segera.
Dan dengan menumpang di satu mobil yang sama, mereka semua kini menuju Desa Abimantrana.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1