[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 16 : MENANG


__ADS_3

Beberapa puluh tahun silam. Mengilas balik masa lalu. Saat dimana, Desa Abimantrana pertama kali terbentuk.


Dahulu kala, para pelarian penganut partai komunis yang ingin dihabisi


pemerintah, mulai lari kocar-kacir ke berbagai pelosok daerah. Dari


sekian banyaknya para pelarian yang ingin menyelamatkan diri, beberapa


puluh orang berbondong-bondong datang ke dalam sebuah pegunungan. Ya.


Mereka bersembunyi ke dalam hutan Abimantrana. Salah satu diantarnya


adalah sang sepuh, dan juga sang kakek yang sering berbicara kepada


Dian.


Saat mereka masuk ke dalam hutan Abimantrana untuk


bersembunyi, mereka bertemu seseorang yang bernama Damar. Seorang pria


yang mulai memasuki usia senja. Pertemuan diantara mereka itulah yang


menjadi cikal bakal terbentuknya desa Abimantrana.


Pak Damar yang melihat para pelarian ini sedang mencari tempat persembunyian pun,


berinisiatif untuk mengajak mereka semua tinggal di kediamannya yang


berada di dalam hutan. Dengan tangan terbuka, Pak Damar beserta istri


dan ketiga anak perempuannya, mempersilahkan mereka untuk tinggal di


sana. Meski ada satu syarat yang harus para pelarian ini lakukan, yaitu


berikrar menjadi anggota sekte yang di ketuai oleh Pak Damar sendiri.


Ya. Pak Damar dan sekeluarga adalah penganut sekte sesat yang tinggal


di dalam hutan.


Merasa tak masalah dengan syarat tersebut,


akhirnya para pelarian pun mulai membangun koloni baru di dalam hutan


itu, bersama Pak Damar beserta keluarganya.


Hari demi hari dilalui bersama. Melakukan aktivitas normal warga desa pada umumnya


bersama-sama selama bertahun-tahun. Lalu, di selingi dengan aktivitas


ritual-ritual aneh yang diperintahkan oleh Pak Damar selaku ketua sekte


dan juga kepada desa. Tapi, tak ada satupun yang memprotes hal


tersebut. Karena setiap apa yang diinginkan oleh warga, Pak Damar


selaku ketua sekte pasti mampu mengabulkan permintaan apapun dari


mereka.


Awalnya, mereka semua hidup rukun dan damai dengan


kondisi desa yang sejahtera. Bahkan para pelarian ini mulai melupakan


bahwa mereka pernah akan dihabisi oleh pemerintah. Hingga di suatu


hari, Pak Damar meminta seseorang dari warganya untuk menumbalkan


jari-jemarinya. Lalu warga lain dengan menumbalkan satu lengannya. Lalu


satu bola matanya. Hingga bahkan, ada seorang warga yang diminta untuk


menumbalkan anak mereka sendiri.


Lantas, kenapa Pak Damar melakukan hal demikian?


Pak Damar memang mampu mengabulkan apapun yang diminta oleh warga. Hasil


panen yang melimpah. Kesembuhan dari penyakit. Meminta momongan. Bahkan


sampai menghidupkan kembali mereka yang sudah mati, meski sebenarnya


yang terjadi, iblis lah yang sedang menunggangi jasad mayat itu, dan


membuatnya seakan hidup kembali. Pak Damar mampu melakukan itu semua.


Tapi sebagai gantinya, ia akan meminta tumbal yang setimpal dengan apa


yang ia berikan.


Jika meminta kesembuhan dari penyakit, Pak Damar


hanya akan meminta jari-jemari orang tersebut untuk bayarannya. Jika


meminta kesejahteraan, Pak Damar akan meminta satu lengan orang


tersebut untuk bayarannya. Dan semakin besar permintaannya, maka akan


semakin dahsyat harga yang harus dibayar. Dan secara luar biasa, Pak


Damar tidak memberitahukan perihal ini lebih awal. Saat seisi desa


sudah makmur dan sejahtera, barulah Pak Damar menagih bayarannya.


Tentu, kala itu warga tidak ada yang mau menuruti permintaan Pak Damar.


Memotong jari, memotong lengan, mencungkil bola mata, apalagi sampai


menumbalkan anak, tentu tidak ada satupun warga yang mau melakukan itu.


Tapi apa mau dikata, Pak Damar sudah menuruti semua permintaan, kini ia


menagih bayarannya.


Tapi karena tidak ada satupun warga yang mau membayarnya, tak membutuhkan waktu lama, Desa itu mulai binasa secara perlahan. Banyak dari warga yang mulai jatuh sakit. Salah


satunya adalah yang mengalami hal seperti 'Sukma Purnama'. Yaitu, mata


mendelik dengan pupil yang memutih, mulut menganga, namun kondisi tubuh


seperti koma.


Dan bukan hanya sampai di situ, hasil panen pun


mulai binasa. Apa-apa saja yang ditanam, hasilnya hanya akan membusuk.


Di momen ini, mulailah terjadi kelaparan. Semua warga desa mengalami


kepahitan kala itu. Dan jika ada orang yang masih hidup dengan


sejahtera, itu adalah Pak Damar sendiri selaku ketua sekte dan juga


keluarganya.


Menumbalkan anggota tubuh apalagi sampai anak


sendiri tentu mustahil dilakukan. Berdiam diri dalam keadaan sempit


seperti waktu itupun rasanya terlalu menyakitkan. Bahkan jika ingin


kabur dari desa, Pak Damar tidak akan segan membinasakan orang tersebut


dengan membuat kulitnya meleleh. Pernah ada satu keluarga yang


melakukan itu, lalu dengan ajian keramatnya yang bersumber dari kitab


'Naraka Paksa', semua keluarga itu mati secara menyakitkan dengan kulit


yang meleleh.


Merasa terpenjara, sang sepuh kala itu yang masih


muda, mulai mengompor-ngompori warga untuk melakukan kudeta, atau lebih

__ADS_1


tepatnya... membunuh Pak Damar.


Dengan skenario matang, akhirnya Pak Damar pun dapat ditangkap oleh warga. Lalu ia dibawa dan


diikat di pohon beringin raksasa yang berada di belakang desa. Ia


dihajar. Dipukul habis-habisan. Yang warga inginkan kala itu hanyalah


satu hal, yaitu agar Pak Damar mensejahterakan kembali kondisi desa.


Paling tidak, warga meminta agar mereka bisa bebas pergi dari desa.


Tapi alih-alih menuruti permintaan warga, Pak Damar justru menyumpahi semua


warga desa. Yang pada akhirnya, membuat warga menjadi geram. Lalu


jemari Pak Damar pun mereka potong satu persatu. Kedua bola mata Pak


Damar pun dicungkil hingga membuatnya buta. Menganggap bahwa jika Pak


Damar mati akan memusnahkan kesengsaraan desa, sang sepuh kala itu


menghunuskan tombaknya ke perut Pak Damar beberapa kali, hingga


membuatnya jatuh dalam keadaan sekarat.


Lalu sebelum kematiannya tiba, Pak Damar yang juga selaku ketua sekte pun mengutuk mereka semua


dengan berseraya, "Hidup dan mati kalian semua kini ada di tanganku.


Akan ku buat hidup kalian menderita. Akan ku kutuk desa ini sampai


binasa. Tidak ada satupun dari kalian yang bisa pergi dari desa ini,


melainkan kematian yang akan mendatangi kalian. Tidak ada yang bisa


menyelamatkan kalian semua yang berada di sini. Aku, sang sayap neraka,


telah mengutuk kalian hingga datangnya kematian yang membinasakan."


Lalu sang sepuh saat itu pun langsung menghunus tombaknya ke leher Pak


Damar hingga tembus ke belakang, yang membuat Pak Damar pun akhirnya


tewas. Sementara Pak Damar yang tewas, istri dan ketiga anak


perempuannya disekap dan mulai diperlakukan selayaknya budak oleh


seluruh warga.


Pada awalnya, kutukan Pak Damar kala itu terkesan


seperti omong kosong. Hingga akhirnya, dendam kesumatnya untuk


mencelakai seluruh warga desa mulai terasa setahun kemudian.


Kesuburan desa mulai binasa. Terjadi kelaparan berkepanjangan. Dalam kondisi


yang sempit, beberapa warga mencoba kabur dari desa. Awalnya baik-baik


saja, hingga di hari kedelapan, kulit mereka mulai meleleh seperti


terbakar. Berpikir bahwa kembali ke desa akan menyembuhkan mereka, sang


sepuh kala itu justru membunuh mereka semua sesampainya mereka di


sana. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani kabur dari desa.


Kutukan Pak Damar sang ketua sekte seakan menciptakan kabut tebal di


depan gerbang masuk desa. Tidak ada satupun orang dari luar yang bisa


memasuki desa karenanya. Mereka semua akan dibuat bingung dan kembali


lagi ke titik awal, yaitu gapura desa. Seakan jalan menuju Desa


Abimantrana menjadi seperti sebuah labirin tanpa ujung. Tidak ada jalan


keluar, tidak ada jalan masuk. Warga desa benar-benar terpenjara di


pedih.


Dalam kondisi desa yang sempit, tetiba saja di suatu


malam, sang sepuh bermimpi. Seakan mendapat wahyu dalam mimpinya, sang


sepuh pun diberitahu bagaimana cara menekan kutukan tersebut. Yaitu,


dengan cara 'Nandur Manungsa'. Sebuah ritual menguliti keturunan Pak


Damar. Menabur darah mereka ke seluruh penjuru desa lalu menanam


jasadnya ke dalam tanah di dekat pohon beringin, dimana waktu itu ia


dibunuh.


Nandur Manungsa adalah sebuah bentuk perlawanan dari


warga desa terhadap kutukan Pak Damar sang ketua sekte. Dengan


menumbalkan keturunanya, warga desa seakan tak gentar terhadap kutukan


tersebut. Dan benar, desa kembali menjadi subur setelah melakukan


ritual itu.


Dengan adanya ritual Nandur Manungsa, dibangunlah


sebuah tempat yang cukup besar untuk menampung keturunan Pak Damar sang


ketua sekte. Bangunan itu disebut 'Punden'. Di dalam bangunan itu,


istri serta anak-anak Pak Damar, dipasung dan diperkosa untuk


melahirkan keturunan.


Jika nanti terlahir anak laki-laki, jika memang dibutuhkan, maka anak itu akan langsung dikuliti hidup-hidup


lalu ditanam. Jika tidak terlalu dibutuhkan, maka anak itu akan


dibiarkan hidup sampai akhirnya waktu untuk dikuliti tiba.


Dan jika terlahir anak perempuan, ia akan dibiarkan terus hidup untuk


melahirkan banyak anak. Saat dirasa cukup, barulah ia akan dikuliti


hidup-hidup. Dan selama bertahun-tahun, ritual ini terus berlanjut.


Sampai akhirnya, tinggal satu keturunan saja yang tersisa kini. Bahkan satu


keturunan Pak Damar yang tersisa kini pun, tidak bisa hamil. Yaitu,


perempuan yang bernama 'Mutih'. Yang di waktu kini, dirinya sedang di


pasung di dalam punden.


Sang sepuh pun menjadi dilema. Sejujurnya, ia ingin menumbalkan Mutih dengan segera. Tapi di lain


sisi, jika Mutih ditumbalkan, maka ritual 'Nandur Manungsa' tidak akan


bisa dilakukan kembali. Yang juga artinya, menumbalkan Mutih sama saja


dengan bunuh diri. Tapi dengan tidak adanya ritual 'Nandur Manungsa',


kesuburan tanah di desa mereka kembali binasa. Dilema itu akhirnya,


membuat hidup mereka kala itu benar-benar menjadi sengsara.


Dan ternyata, kutukan Pak Damar sang ketua sekte bukan hanya sampai berhenti


di sana. Warga yang usianya menginjak 40 tahun, akan jatuh sakit.


Diawal-awal, mereka menjadi tuli dan buta. Lalu mereka akan mengalami

__ADS_1


'Sukma Purnama' beberapa hari setelahnya. Sebuah penyakit, yang seakan


membuat penderitaan mereka semakin menjadi-jadi. Dan tidak ada satupun


yang akan selamat ketika sudah jatuh sakit seperti itu, selain kematian


yang akan datang kepadanya.


Hingga keajaiban akhirnya muncul. Dimana seorang kakek akhirnya terbangun setelah 17 tahun lamanya


mengalami 'Sukma Purnama'. Ya, dia adalah kakek yang sering mengajak


Dian bicara.


Dalam tidur panjangnya, sang kakek mendapat ilham


untuk melakukan rencana 'Getih Mawar'. Sebuah ritual sakral yang bisa


menyelamatkan desa dari kebinasaan. Dimana 'Getih Mawar' sendiri adalah


sebuah rencana dengan membawa tumbal dari luar untuk dijadikan


persembahan. Ritual inilah yang membawa Abil, Estu, Hagia, Dian dan 5


mahasiswa sebelum mereka, akhirnya masuk ke desa terkutuk ini.


Tapi dengan kehadiran Estu di sana, rasanya, kebinasaan desa ini telah


sampai di ujung nadi. Ya. Kedatangan Estu ke tanah jahanam ini, akhirnya


membawa desa terkutuk ini... menuju kebinasaan.


Kembali lagi ke waktu kini.


Setelah selesai melakukan ritual terlarang tadi, Estu mulai meninggalkan desa


dengan langkah tertatih. Di segala penjuru, ia melihat pemandangan


mengerikan yang sama. Dengan mata kepalanya sendiri, Estu melihat warga


desa tersungkur sembari berteriak keras tanpa henti. Tapi, tidak peduli


dengan apa yang sedang dilihatnya, Estu terus menyusuri jalan


meninggalkan desa.


Hingga tak terasa, saat ini, Estu sudah sampai


di gapura desa. Inilah gerbang masuk dan keluar dari desa Abimantrana.


Dan saat Estu ingin meneruskan perjalanan, terdengar samar suara


tangisan bayi di sana. Ya, Mutih baru saja melahirkan. Perempuan yang


dianggap mandul itu baru saja melahirkan. Estu memang mendengar


tangisan seorang bayi. Tapi, ia tidak peduli dengan itu. Dan meluyur


pergi begitu saja meninggalkan desa terkutuk yang telah binasa di


belakangnya.


Lalu seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Estu, hujan pun mulai mengguyur deras.


Hujan deras yang akan turun... hingga 3 hari lamanya.


@ @ @ @ @


"Kejadian mengerikan baru saja terjadi di dalam hutan Abimantrana. Telah


ditemukan sebuah danau berisi ratusan mayat yang mengapung. Polisi pun


menemukan identitas seorang mahasiswa yang hilang beberapa bulan


terakhir di lokasi kejadian. Lalu, tragedi apa yang sebenarnya terjadi


di tempat ini? Mengapa mayat-mayat itu mati dalam keadaan mata mendelik


serta pupil yang memutih? Ditambah, kulit mereka seakan meleleh karena


terbakar pula. Kejadian janggal dan mengerikan ini memang belum bisa


dipastikan, karena polisi pun belum bisa memberikan keterangannya saat


ini. Tapi mari kita coba telusuri lebih jauh dengan bertanya kepada


seorang warga yang—"


Dengan wajah serius, Estu terus menonton berita yang sedang tayang di layar televisi.


Saat ini, hutan Abimantrana sedang di datangi oleh banyak kalangan. Berita


tentang danau berisi ratusan mayat yang dikabarkan oleh banyak media,


telah menjadi berita nasional yang mengundang banyak perhatian.


Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam hutan Abimantrana?


Sesaat setelah Estu pergi meninggalkan desa 5 hari yang lalu, hujan mulai


mengguyur deras ke seluruh penjuru desa. Hujan deras selama 3 hari


berturut-turut itupun, akhirnya menenggelamkan desa Abimantrana beserta


seluruh isinya. Kecuali, Pak Bimo seorang. Saat ia kembali, Pak Bimo


melihat desanya sudah tenggelam menjadi danau. Dan ia pergi entah kemana


setelahnya.


Lalu, berita mengerikan ini mencuat setelah ada


seorang petani yang tak sengaja memasuki hutan Abimantrana, dan melihat


sebuah danau yang berisi ratusan mayat di dalamnya. Sontak, berita


yang keluar dari mulutnya seketika langsung menyambar cepat dari mulut


ke mulut, hingga tersiar menjadi berita nasional kini. Persis, seperti


tayangan berita yang sedang Estu nikmati barusan.


Masih asyik menonton berita, tetiba saja ada suara lantang yang memanggil. "Estu... Estu."


Estu yang sedang enak menonton pun, tetiba saja menjadi terganggu


karenanya. Lalu orang itu menghampiri Estu dan kembali berkata, "Estu,


ada orang yang mencari kamu. Sana temui." Ucap nenek Estu sembari


tersenyum.


Ya. Nenek Estu yang sebelumnya terbujur kaku menjadi


mayat, kini telah hidup kembali. Tanah yang Estu bawa dari desa


Abimantrana, telah membangkitkan neneknya kembali.


Lalu dengan langkah tegap, Estu mulai berjalan keluar rumah menemui orang yang neneknya maksud.


Dan setelah tahu siapa yang menemuinya, Estu pun... mulai tersenyum lebar.


TAMAT.


## Makasih banyak yang udah baca cerita ini sampai habis. Tolong di vote ya manteman :)


## Sekali lagi terima kasih banyak :)


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2