![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Beberapa puluh tahun silam. Mengilas balik masa lalu. Saat dimana, Desa Abimantrana pertama kali terbentuk.
Dahulu kala, para pelarian penganut partai komunis yang ingin dihabisi
pemerintah, mulai lari kocar-kacir ke berbagai pelosok daerah. Dari
sekian banyaknya para pelarian yang ingin menyelamatkan diri, beberapa
puluh orang berbondong-bondong datang ke dalam sebuah pegunungan. Ya.
Mereka bersembunyi ke dalam hutan Abimantrana. Salah satu diantarnya
adalah sang sepuh, dan juga sang kakek yang sering berbicara kepada
Dian.
Saat mereka masuk ke dalam hutan Abimantrana untuk
bersembunyi, mereka bertemu seseorang yang bernama Damar. Seorang pria
yang mulai memasuki usia senja. Pertemuan diantara mereka itulah yang
menjadi cikal bakal terbentuknya desa Abimantrana.
Pak Damar yang melihat para pelarian ini sedang mencari tempat persembunyian pun,
berinisiatif untuk mengajak mereka semua tinggal di kediamannya yang
berada di dalam hutan. Dengan tangan terbuka, Pak Damar beserta istri
dan ketiga anak perempuannya, mempersilahkan mereka untuk tinggal di
sana. Meski ada satu syarat yang harus para pelarian ini lakukan, yaitu
berikrar menjadi anggota sekte yang di ketuai oleh Pak Damar sendiri.
Ya. Pak Damar dan sekeluarga adalah penganut sekte sesat yang tinggal
di dalam hutan.
Merasa tak masalah dengan syarat tersebut,
akhirnya para pelarian pun mulai membangun koloni baru di dalam hutan
itu, bersama Pak Damar beserta keluarganya.
Hari demi hari dilalui bersama. Melakukan aktivitas normal warga desa pada umumnya
bersama-sama selama bertahun-tahun. Lalu, di selingi dengan aktivitas
ritual-ritual aneh yang diperintahkan oleh Pak Damar selaku ketua sekte
dan juga kepada desa. Tapi, tak ada satupun yang memprotes hal
tersebut. Karena setiap apa yang diinginkan oleh warga, Pak Damar
selaku ketua sekte pasti mampu mengabulkan permintaan apapun dari
mereka.
Awalnya, mereka semua hidup rukun dan damai dengan
kondisi desa yang sejahtera. Bahkan para pelarian ini mulai melupakan
bahwa mereka pernah akan dihabisi oleh pemerintah. Hingga di suatu
hari, Pak Damar meminta seseorang dari warganya untuk menumbalkan
jari-jemarinya. Lalu warga lain dengan menumbalkan satu lengannya. Lalu
satu bola matanya. Hingga bahkan, ada seorang warga yang diminta untuk
menumbalkan anak mereka sendiri.
Lantas, kenapa Pak Damar melakukan hal demikian?
Pak Damar memang mampu mengabulkan apapun yang diminta oleh warga. Hasil
panen yang melimpah. Kesembuhan dari penyakit. Meminta momongan. Bahkan
sampai menghidupkan kembali mereka yang sudah mati, meski sebenarnya
yang terjadi, iblis lah yang sedang menunggangi jasad mayat itu, dan
membuatnya seakan hidup kembali. Pak Damar mampu melakukan itu semua.
Tapi sebagai gantinya, ia akan meminta tumbal yang setimpal dengan apa
yang ia berikan.
Jika meminta kesembuhan dari penyakit, Pak Damar
hanya akan meminta jari-jemari orang tersebut untuk bayarannya. Jika
meminta kesejahteraan, Pak Damar akan meminta satu lengan orang
tersebut untuk bayarannya. Dan semakin besar permintaannya, maka akan
semakin dahsyat harga yang harus dibayar. Dan secara luar biasa, Pak
Damar tidak memberitahukan perihal ini lebih awal. Saat seisi desa
sudah makmur dan sejahtera, barulah Pak Damar menagih bayarannya.
Tentu, kala itu warga tidak ada yang mau menuruti permintaan Pak Damar.
Memotong jari, memotong lengan, mencungkil bola mata, apalagi sampai
menumbalkan anak, tentu tidak ada satupun warga yang mau melakukan itu.
Tapi apa mau dikata, Pak Damar sudah menuruti semua permintaan, kini ia
menagih bayarannya.
Tapi karena tidak ada satupun warga yang mau membayarnya, tak membutuhkan waktu lama, Desa itu mulai binasa secara perlahan. Banyak dari warga yang mulai jatuh sakit. Salah
satunya adalah yang mengalami hal seperti 'Sukma Purnama'. Yaitu, mata
mendelik dengan pupil yang memutih, mulut menganga, namun kondisi tubuh
seperti koma.
Dan bukan hanya sampai di situ, hasil panen pun
mulai binasa. Apa-apa saja yang ditanam, hasilnya hanya akan membusuk.
Di momen ini, mulailah terjadi kelaparan. Semua warga desa mengalami
kepahitan kala itu. Dan jika ada orang yang masih hidup dengan
sejahtera, itu adalah Pak Damar sendiri selaku ketua sekte dan juga
keluarganya.
Menumbalkan anggota tubuh apalagi sampai anak
sendiri tentu mustahil dilakukan. Berdiam diri dalam keadaan sempit
seperti waktu itupun rasanya terlalu menyakitkan. Bahkan jika ingin
kabur dari desa, Pak Damar tidak akan segan membinasakan orang tersebut
dengan membuat kulitnya meleleh. Pernah ada satu keluarga yang
melakukan itu, lalu dengan ajian keramatnya yang bersumber dari kitab
'Naraka Paksa', semua keluarga itu mati secara menyakitkan dengan kulit
yang meleleh.
Merasa terpenjara, sang sepuh kala itu yang masih
muda, mulai mengompor-ngompori warga untuk melakukan kudeta, atau lebih
__ADS_1
tepatnya... membunuh Pak Damar.
Dengan skenario matang, akhirnya Pak Damar pun dapat ditangkap oleh warga. Lalu ia dibawa dan
diikat di pohon beringin raksasa yang berada di belakang desa. Ia
dihajar. Dipukul habis-habisan. Yang warga inginkan kala itu hanyalah
satu hal, yaitu agar Pak Damar mensejahterakan kembali kondisi desa.
Paling tidak, warga meminta agar mereka bisa bebas pergi dari desa.
Tapi alih-alih menuruti permintaan warga, Pak Damar justru menyumpahi semua
warga desa. Yang pada akhirnya, membuat warga menjadi geram. Lalu
jemari Pak Damar pun mereka potong satu persatu. Kedua bola mata Pak
Damar pun dicungkil hingga membuatnya buta. Menganggap bahwa jika Pak
Damar mati akan memusnahkan kesengsaraan desa, sang sepuh kala itu
menghunuskan tombaknya ke perut Pak Damar beberapa kali, hingga
membuatnya jatuh dalam keadaan sekarat.
Lalu sebelum kematiannya tiba, Pak Damar yang juga selaku ketua sekte pun mengutuk mereka semua
dengan berseraya, "Hidup dan mati kalian semua kini ada di tanganku.
Akan ku buat hidup kalian menderita. Akan ku kutuk desa ini sampai
binasa. Tidak ada satupun dari kalian yang bisa pergi dari desa ini,
melainkan kematian yang akan mendatangi kalian. Tidak ada yang bisa
menyelamatkan kalian semua yang berada di sini. Aku, sang sayap neraka,
telah mengutuk kalian hingga datangnya kematian yang membinasakan."
Lalu sang sepuh saat itu pun langsung menghunus tombaknya ke leher Pak
Damar hingga tembus ke belakang, yang membuat Pak Damar pun akhirnya
tewas. Sementara Pak Damar yang tewas, istri dan ketiga anak
perempuannya disekap dan mulai diperlakukan selayaknya budak oleh
seluruh warga.
Pada awalnya, kutukan Pak Damar kala itu terkesan
seperti omong kosong. Hingga akhirnya, dendam kesumatnya untuk
mencelakai seluruh warga desa mulai terasa setahun kemudian.
Kesuburan desa mulai binasa. Terjadi kelaparan berkepanjangan. Dalam kondisi
yang sempit, beberapa warga mencoba kabur dari desa. Awalnya baik-baik
saja, hingga di hari kedelapan, kulit mereka mulai meleleh seperti
terbakar. Berpikir bahwa kembali ke desa akan menyembuhkan mereka, sang
sepuh kala itu justru membunuh mereka semua sesampainya mereka di
sana. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani kabur dari desa.
Kutukan Pak Damar sang ketua sekte seakan menciptakan kabut tebal di
depan gerbang masuk desa. Tidak ada satupun orang dari luar yang bisa
memasuki desa karenanya. Mereka semua akan dibuat bingung dan kembali
lagi ke titik awal, yaitu gapura desa. Seakan jalan menuju Desa
Abimantrana menjadi seperti sebuah labirin tanpa ujung. Tidak ada jalan
keluar, tidak ada jalan masuk. Warga desa benar-benar terpenjara di
pedih.
Dalam kondisi desa yang sempit, tetiba saja di suatu
malam, sang sepuh bermimpi. Seakan mendapat wahyu dalam mimpinya, sang
sepuh pun diberitahu bagaimana cara menekan kutukan tersebut. Yaitu,
dengan cara 'Nandur Manungsa'. Sebuah ritual menguliti keturunan Pak
Damar. Menabur darah mereka ke seluruh penjuru desa lalu menanam
jasadnya ke dalam tanah di dekat pohon beringin, dimana waktu itu ia
dibunuh.
Nandur Manungsa adalah sebuah bentuk perlawanan dari
warga desa terhadap kutukan Pak Damar sang ketua sekte. Dengan
menumbalkan keturunanya, warga desa seakan tak gentar terhadap kutukan
tersebut. Dan benar, desa kembali menjadi subur setelah melakukan
ritual itu.
Dengan adanya ritual Nandur Manungsa, dibangunlah
sebuah tempat yang cukup besar untuk menampung keturunan Pak Damar sang
ketua sekte. Bangunan itu disebut 'Punden'. Di dalam bangunan itu,
istri serta anak-anak Pak Damar, dipasung dan diperkosa untuk
melahirkan keturunan.
Jika nanti terlahir anak laki-laki, jika memang dibutuhkan, maka anak itu akan langsung dikuliti hidup-hidup
lalu ditanam. Jika tidak terlalu dibutuhkan, maka anak itu akan
dibiarkan hidup sampai akhirnya waktu untuk dikuliti tiba.
Dan jika terlahir anak perempuan, ia akan dibiarkan terus hidup untuk
melahirkan banyak anak. Saat dirasa cukup, barulah ia akan dikuliti
hidup-hidup. Dan selama bertahun-tahun, ritual ini terus berlanjut.
Sampai akhirnya, tinggal satu keturunan saja yang tersisa kini. Bahkan satu
keturunan Pak Damar yang tersisa kini pun, tidak bisa hamil. Yaitu,
perempuan yang bernama 'Mutih'. Yang di waktu kini, dirinya sedang di
pasung di dalam punden.
Sang sepuh pun menjadi dilema. Sejujurnya, ia ingin menumbalkan Mutih dengan segera. Tapi di lain
sisi, jika Mutih ditumbalkan, maka ritual 'Nandur Manungsa' tidak akan
bisa dilakukan kembali. Yang juga artinya, menumbalkan Mutih sama saja
dengan bunuh diri. Tapi dengan tidak adanya ritual 'Nandur Manungsa',
kesuburan tanah di desa mereka kembali binasa. Dilema itu akhirnya,
membuat hidup mereka kala itu benar-benar menjadi sengsara.
Dan ternyata, kutukan Pak Damar sang ketua sekte bukan hanya sampai berhenti
di sana. Warga yang usianya menginjak 40 tahun, akan jatuh sakit.
Diawal-awal, mereka menjadi tuli dan buta. Lalu mereka akan mengalami
__ADS_1
'Sukma Purnama' beberapa hari setelahnya. Sebuah penyakit, yang seakan
membuat penderitaan mereka semakin menjadi-jadi. Dan tidak ada satupun
yang akan selamat ketika sudah jatuh sakit seperti itu, selain kematian
yang akan datang kepadanya.
Hingga keajaiban akhirnya muncul. Dimana seorang kakek akhirnya terbangun setelah 17 tahun lamanya
mengalami 'Sukma Purnama'. Ya, dia adalah kakek yang sering mengajak
Dian bicara.
Dalam tidur panjangnya, sang kakek mendapat ilham
untuk melakukan rencana 'Getih Mawar'. Sebuah ritual sakral yang bisa
menyelamatkan desa dari kebinasaan. Dimana 'Getih Mawar' sendiri adalah
sebuah rencana dengan membawa tumbal dari luar untuk dijadikan
persembahan. Ritual inilah yang membawa Abil, Estu, Hagia, Dian dan 5
mahasiswa sebelum mereka, akhirnya masuk ke desa terkutuk ini.
Tapi dengan kehadiran Estu di sana, rasanya, kebinasaan desa ini telah
sampai di ujung nadi. Ya. Kedatangan Estu ke tanah jahanam ini, akhirnya
membawa desa terkutuk ini... menuju kebinasaan.
Kembali lagi ke waktu kini.
Setelah selesai melakukan ritual terlarang tadi, Estu mulai meninggalkan desa
dengan langkah tertatih. Di segala penjuru, ia melihat pemandangan
mengerikan yang sama. Dengan mata kepalanya sendiri, Estu melihat warga
desa tersungkur sembari berteriak keras tanpa henti. Tapi, tidak peduli
dengan apa yang sedang dilihatnya, Estu terus menyusuri jalan
meninggalkan desa.
Hingga tak terasa, saat ini, Estu sudah sampai
di gapura desa. Inilah gerbang masuk dan keluar dari desa Abimantrana.
Dan saat Estu ingin meneruskan perjalanan, terdengar samar suara
tangisan bayi di sana. Ya, Mutih baru saja melahirkan. Perempuan yang
dianggap mandul itu baru saja melahirkan. Estu memang mendengar
tangisan seorang bayi. Tapi, ia tidak peduli dengan itu. Dan meluyur
pergi begitu saja meninggalkan desa terkutuk yang telah binasa di
belakangnya.
Lalu seakan ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Estu, hujan pun mulai mengguyur deras.
Hujan deras yang akan turun... hingga 3 hari lamanya.
@ @ @ @ @
"Kejadian mengerikan baru saja terjadi di dalam hutan Abimantrana. Telah
ditemukan sebuah danau berisi ratusan mayat yang mengapung. Polisi pun
menemukan identitas seorang mahasiswa yang hilang beberapa bulan
terakhir di lokasi kejadian. Lalu, tragedi apa yang sebenarnya terjadi
di tempat ini? Mengapa mayat-mayat itu mati dalam keadaan mata mendelik
serta pupil yang memutih? Ditambah, kulit mereka seakan meleleh karena
terbakar pula. Kejadian janggal dan mengerikan ini memang belum bisa
dipastikan, karena polisi pun belum bisa memberikan keterangannya saat
ini. Tapi mari kita coba telusuri lebih jauh dengan bertanya kepada
seorang warga yang—"
Dengan wajah serius, Estu terus menonton berita yang sedang tayang di layar televisi.
Saat ini, hutan Abimantrana sedang di datangi oleh banyak kalangan. Berita
tentang danau berisi ratusan mayat yang dikabarkan oleh banyak media,
telah menjadi berita nasional yang mengundang banyak perhatian.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam hutan Abimantrana?
Sesaat setelah Estu pergi meninggalkan desa 5 hari yang lalu, hujan mulai
mengguyur deras ke seluruh penjuru desa. Hujan deras selama 3 hari
berturut-turut itupun, akhirnya menenggelamkan desa Abimantrana beserta
seluruh isinya. Kecuali, Pak Bimo seorang. Saat ia kembali, Pak Bimo
melihat desanya sudah tenggelam menjadi danau. Dan ia pergi entah kemana
setelahnya.
Lalu, berita mengerikan ini mencuat setelah ada
seorang petani yang tak sengaja memasuki hutan Abimantrana, dan melihat
sebuah danau yang berisi ratusan mayat di dalamnya. Sontak, berita
yang keluar dari mulutnya seketika langsung menyambar cepat dari mulut
ke mulut, hingga tersiar menjadi berita nasional kini. Persis, seperti
tayangan berita yang sedang Estu nikmati barusan.
Masih asyik menonton berita, tetiba saja ada suara lantang yang memanggil. "Estu... Estu."
Estu yang sedang enak menonton pun, tetiba saja menjadi terganggu
karenanya. Lalu orang itu menghampiri Estu dan kembali berkata, "Estu,
ada orang yang mencari kamu. Sana temui." Ucap nenek Estu sembari
tersenyum.
Ya. Nenek Estu yang sebelumnya terbujur kaku menjadi
mayat, kini telah hidup kembali. Tanah yang Estu bawa dari desa
Abimantrana, telah membangkitkan neneknya kembali.
Lalu dengan langkah tegap, Estu mulai berjalan keluar rumah menemui orang yang neneknya maksud.
Dan setelah tahu siapa yang menemuinya, Estu pun... mulai tersenyum lebar.
TAMAT.
## Makasih banyak yang udah baca cerita ini sampai habis. Tolong di vote ya manteman :)
## Sekali lagi terima kasih banyak :)
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw