![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Malam telah tiba. Hujan pun masih merintik kecil di luar. Tapi sang
sepuh bertuah untuk menguburkan delapan belas mayat para warga dengan
segera. Tidak peduli kondisi yang sedang gerimis, atau pun dengan
langit yang sudah gelap sekalipun.
Lalu, ke 18 mayat itu mulai dibawa satu persatu menuju pemakaman.
Abil dan Estu diminta sang sepuh untuk membantu mengangkat para mayat. Yang
secara bergiliran, diminta pula untuk menggali kubur bersama para
warga. Sedangkan Hagia dan Dian, saat ini keduanya diminta oleh Pak
Tomo untuk menjaga beberapa bayi, kala keluarga sang bayi ikut
mengantar jasad orang terkasih mereka menuju pemakaman.
Menuju tempat dimana Dian dan Hagia saat ini berada.
Baik Dian dan Hagia saat ini, keduanya berada di rumah warga yang berbeda.
Masing-masing dari mereka menjaga seorang bayi dari keluarga yang
berbeda. Meski berbeda rumah, tapi Hagia dan Dian terkejut akan hal yang
sama, yaitu melihat bayi-bayi di sana, yang ditemani burung hantu di
sampingnya. Seakan burung hantu itu sedang mengawasi para bayi di dalam
rumah. Meski aneh dan janggal, tapi Hagia dan Dian diminta untuk tidak
mengusir burung hantu tersebut. Pertanyaan keduanya mengenai
kejanggalan ini pun tak digubris, jadi Hagia dan Dian mulai menjaga
para bayi dengan perasaan bertanya-tanya.
Menuju dimana saat ini Hagia berada.
Posisi Hagia sekarang berada di dalam sebuah kamar. Bayi yang sedang Hagia
jaga kurang lebih berusia 7 bulan, seorang bayi yang mungil dan kurus.
Bayi itupun saat ini dalam kondisi tertidur pulas.
Saat menjaga sang bayi, Hagia ikut merebahkan tubuhnya persis di samping sang bayi,
mencoba mengabaikan burung hantu yang berada di sebrangnya. Lalu
tatkala Hagia sedang menatap sang bayi, tetiba saja obor di dalam kamar
itu mati. Yang membuat Hagia langsung menggerutu dengan berkata, "Dih,
kok mati sih? Perasaan gak ada angin deh. Obornya juga kan baru
dinyalain barusan." Lalu mulai melangkah pelan sembari meraba sekitar
untuk mencari obor pengganti.
Di dalam kegelapan rumah, dengan hati-hati Hagia melangkahkan kaki. Dan mulai berjalan keluar kamar menuju ruang depan.
Kini Hagia sedang memegang obor yang baru diambilnya dari ruang tamu. Lalu
berderap kembali menuju kamar dimana sang bayi berada. Sesampainya ia
di kamar, Hagia melangkah pelan ke arah sebuah ambalan dinding, dengan
maksud ingin menancapkan obor itu di sana. Namun tatkala ketika Hagia
ingin menancapkan obor itu, tetiba saja sang bayi terbangun dan mulai
merengek. Sontak Hagia menoleh cepat ke arah sang bayi, dan di saat yang
sama, obor yang sedang dipegang Hagia mati, kala ia menengok barusan.
Obor yang mati membuat Hagia kembali menggerutu, dan mulai menyalahkan
angin, meski Hagia sendiri tahu bahwa tidak ada angin yang sedang
berhembus di sana. Dan benar, prasangka Hagia mengenai obor yang mati
karena angin adalah salah. Karena saat Hagia menoleh tadi, obor itu
mati... karena ditiup oleh pocong.
Di tempat lain. Dimana saat ini Dian berada.
Kini Dian sedang menjaga bayi di sebuah rumah sembari duduk meringkuk. Dian
pun sedang menahan tangisnya demi membuat sang bayi tidak terbangun di
sana. Meski mencoba sekuat hati untuk tidak menangis, tapi tetes air
mata Dian mulai membasahi pipi. Tetes air mata, yang keluar dari
tangisnya yang tanpa bersuara.
Sembari duduk meringkuk, Dian
mulai membatin. Dari lubuk hatinya yang terdalam, jujur Dian merasa
lelah tinggal di desa ini dengan segala kejanggalan yang membuatnya
menjadi paranoid dan gelisah. Membuat Dian merasa ingin pulang ke rumah
orangtuanya di Bandung saat ini juga. Selama KKN, hidupnya kini
seperti terancam dimana pun ia berada. Ketakutan serta lelah batin
__ADS_1
itulah yang pada akhirnya membuat Dian menjadi berurai air mata saat
ini.
Terlalu banyak air mata yang tumpah, Dian pun membuka
kacamatanya untuk menyeka air mata. Ia memejamkan matanya beberapa kali
lalu membukanya lagi. Hingga kemudian, Dian mengambil nafas panjang,
dan memejamkan matanya lebih lama. Lalu saat ia membuka mata, dengan
sangat samar, Dian melihat, seperti ada seseorang di ujung sana yang
berdiri sembari bersedekap. Kacamatanya yang sedang ia lepas, membuat
penglihatannya kini menjadi kurang. Lalu dengan menyipitkan mata, ia
melihat sosok itu seperti sedang melompat dengan sangat samar. Tidak
jelas apa yang sedang di lihatnya, lalu Dian pun memakai kacamatanya
lagi. Dan saat kacamatanya kembali dipakai, ia tidak melihat ada
apa-apa di ujung sana.
Tapi, untung saja Dian tidak melepas
kacamatanya lagi barusan. Karena jika demikian, maka ia akan melihat...
wajah sesosok pocong... yang sedang bertatapan dengannya kini.
Ditempat lain. Menuju lokasi dimana Abil dan Estu berada saat ini.
Kini waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Akhirnya semua mayat telah
berhasil dikuburkan dengan sempurna. Dengan bantuan seluruh laki-laki
yang ada di desa, termasuk Abil dan Estu, akhirnya ke delapan belas
jenazah itu dapat dimakamkan dengan segera.
Setelah selesai dengan prosesi pemakaman, semua laki-laki desa, kembali menuju rumah
mereka masing-masing. Tak terkecuali Abil dan Estu, yang menuju rumah
singgah mereka.
Tapi saat di perjalanan pulang, Abil sempat
mengatakan isi hatinya kepada Estu dengan bertutur, "Lu ngerasa gak?
Kalo warga desa... kayak ngeliatin kita sinis?"
Estu yang sedang ditanyai pun menjawab, "Iya. Tatapan mereka semua sinis."
Apa yang dirasakan Abil dan Estu memanglah benar. Asumsi mereka mengenai
para warga desa yang menatap keduanya sinis selama prosesi pemakaman
Tomo dan Pak Bimo, sering berbisik sembari melihat ke arahnya tadi. Abil
sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka bertiga bicarakan, tapi Abil
merasa, kalau mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.
Setelah jauh berjalan, akhirnya Abil dan Estu sampai juga di rumah singgah,
dengan baju dan celana yang begitu kotor oleh tanah. Tanpa mengucap
permisi, mereka berdua pun masuk ke dalam rumah singgah, yang dimana
Dian dan Hagia, sedang tertidur di kamar mereka.
Setelah bersih-bersih badan sekaligus berganti pakaian, Abil dan Estu mulai
mengambil posisi untuk merebahkan tubuh. Dengan rasa lelah hari ini yang
teramat sangat, tak membutuhkan waktu lama, mereka berdua pun tertidur
pulas. Dan mulai terlarut di dalam mimpi.
"Bangunlah. Datanglah. Abdikanlah. Bersekutulah denganku. Niscaya, aku akan
memberikan keselamatan untukmu, dan juga semua yang engkau inginkan,
wahai anak manusia." Seketika, Estu langsung terbangun dari tidurnya.
Petuah yang datang dari dalam mimpi barusan, bukan hanya sekedar membangunkan
Estu dari tidur lelapnya, tapi juga membuat seluruh tubuhnya menjadi
kaku dalam waktu sesaat. Mimpi barusan seperti terasa nyata. Bisikannya
terasa nyata. Bahkan sosok yang berbisik itu terasa nyata pula
keberadaannya. Tanpa berlama-lama, Estu pun bergegas. Bergegas menuju
sebuah lokasi yang muncul dalam mimpinya barusan.
Ya, menuju sebuah bangunan kuno yang pernah Hagia temui kemarin. Sebuah tempat
keramat, yang tersembunyi sebuah rahasia besar di baliknya.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Langit pun masih
menurunkan gerimisnya di luar. Seakan ada yang terus berbisik kepadanya,
Estu terus melaju, menuju lokasi dimana bangunan kuno tersebut berada.
Menyusuri hutan di dalam kegelapan, yang hanya bertemankan sebuah obor
__ADS_1
di tangannya. Dan pada akhirnya, Estu berhasil menemukan lokasi
bangunan kuno itu berada. Ya, berkat suara bisikan yang terus
menuntunnya, Estu telah berdiri di hadapan bangunan kuno yang disebut
'Punden' itu.
Ditengah malam buta nan gerimis, Estu mulai memasuki punden dengan langkah berhati-hati.
Bangunan kuno yang bernama 'Punden' itu memiliki ukuran yang cukup luas. Dan
saat Estu berjalan memasuki punden lebih dalam, kala obornya mulai
menyinari seisi ruang dengan cahayanya yang berwarna oranye, dengan
samar Estu melihat sesosok perempuan di ujung sana. Seorang perempuan
dewasa berambut panjang dengan tubuh yang terikat, mata yang tertutup
serta mulut yang tersumpal.
Estu yang melihat jelas perempuan
itu sedang dipasung, berniat untuk membuka penutup matanya serta
mulutnya yang tersumpal. Tapi tatkala ia ingin melakukan itu, bisikan
suara muncul kembali di telinganya dengan berseraya, "Galilah tanah.
Ambilah tulang belulang yang engkau lihat. Lalu bacalah ayat dengan
menyempurnakannya di atas namaku."
Meski dapat mendengar bisikan
itu dengan jelas, tapi Estu belum mengerti benar apa maksud dari
perkataannya. Tapi satu hal yang Estu tahu, bahwa sosok yang berbisik
kepadanya barusan, meminta agar ia menggali tanah saat ini juga. Tanpa
pikir panjang, Estu mencari apapun yang ada di sana dan mulai menggali
tanah. Menggali lebih dalam. Dan lebih dalam lagi. Hingga akhirnya,
Estu menemukan tulang belulang, dan sebuah manuskrip kuno yang tertulis
'Naraka Paksa'. Atau yang bermakna 'Sayap Neraka'.
Setelah menemukan tulang belulang serta membaca manuskrip itu, kini Estu baru
memahami maksud dari suara bisikan tadi. Dan seperti apa yang sebelumnya
diminta kepadanya, Estu menyatukan tulang belulang untuk memulai
sebuah ritual terlarang. Dengan mengitari obornya di atas tulang
belulang, Estu mulai melafalkan kalimat dengan berseraya, "Di atas
tanah ini, ku janjikan darah jiwa kepadamu. Mata ini menjadi milikmu.
Mulut ini menjadi milikmu. Telinga ini menjadi milikmu. Kaki tangan ini
menjadi milikmu. Ku janjikan mencelakai anak manusia untukmu. Ku
ikrarkan engkau sebagai raja di atas segala nama. Tiada lagi
penangguhan untukku di hari kemudian. Dengan seluruh nafas yang
berhembus, ku abdikan darah ini kepadamu." Sayat jari telunjuk Estu
untuk menyempurnakan ritual terlarang itu.
Kini, darahnya mulai menetes di atas tulang belulang. Sesaat kemudian, suara petir
menghujam keras, membersamainya dengan suara meronta-ronta dari
perempuan yang sedang dipasung di sana. Lalu, hujan pun kembali turun
mengguyur deras.
Setelah melakukan semua ritual yang dibisikan
kepadanya, kini bisikan gaib itu benar-benar telah berhenti. Lalu Estu
bersegera ke rumah singgah kembali dengan membawa seluruh tulang
belulang dan juga manuskrip itu.
Ya. Estu adalah seorang pengabdi iblis. Dengan ditambah ritual terlarang barusan yang
dilakukannya, niscaya, Estu telah semakin dekat dengan tujuan besarnya.
Meski di dalam manuskrip tadi mengatakan, bahwa ritual yang
sesungguhnya akan benar-benar terjadi, apabila semua tulang belulang
sudah lengkap. Karena itu, misi Estu kini hanyalah satu, yaitu
menemukan dimana letak tengkorak kepala tulang itu berada. Tengkorak
kepala, dari sang ketua sekte terdahulu yang dihabisi oleh warga desa
dengan keji.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw