[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 9 : SANG PENGABDI SETAN


__ADS_3

Malam telah tiba. Hujan pun masih merintik kecil di luar. Tapi sang


sepuh bertuah untuk menguburkan delapan belas mayat para warga dengan


segera. Tidak peduli kondisi yang sedang gerimis, atau pun dengan


langit yang sudah gelap sekalipun.


Lalu, ke 18 mayat itu mulai dibawa satu persatu menuju pemakaman.


Abil dan Estu diminta sang sepuh untuk membantu mengangkat para mayat. Yang


secara bergiliran, diminta pula untuk menggali kubur bersama para


warga. Sedangkan Hagia dan Dian, saat ini keduanya diminta oleh Pak


Tomo untuk menjaga beberapa bayi, kala keluarga sang bayi ikut


mengantar jasad orang terkasih mereka menuju pemakaman.


Menuju tempat dimana Dian dan Hagia saat ini berada.


Baik Dian dan Hagia saat ini, keduanya berada di rumah warga yang berbeda.


Masing-masing dari mereka menjaga seorang bayi dari keluarga yang


berbeda. Meski berbeda rumah, tapi Hagia dan Dian terkejut akan hal yang


sama, yaitu melihat bayi-bayi di sana, yang ditemani burung hantu di


sampingnya. Seakan burung hantu itu sedang mengawasi para bayi di dalam


rumah. Meski aneh dan janggal, tapi Hagia dan Dian diminta untuk tidak


mengusir burung hantu tersebut. Pertanyaan keduanya mengenai


kejanggalan ini pun tak digubris, jadi Hagia dan Dian mulai menjaga


para bayi dengan perasaan bertanya-tanya.


Menuju dimana saat ini Hagia berada.


Posisi Hagia sekarang berada di dalam sebuah kamar. Bayi yang sedang Hagia


jaga kurang lebih berusia 7 bulan, seorang bayi yang mungil dan kurus.


Bayi itupun saat ini dalam kondisi tertidur pulas.


Saat menjaga sang bayi, Hagia ikut merebahkan tubuhnya persis di samping sang bayi,


mencoba mengabaikan burung hantu yang berada di sebrangnya. Lalu


tatkala Hagia sedang menatap sang bayi, tetiba saja obor di dalam kamar


itu mati. Yang membuat Hagia langsung menggerutu dengan berkata, "Dih,


kok mati sih? Perasaan gak ada angin deh. Obornya juga kan baru


dinyalain barusan." Lalu mulai melangkah pelan sembari meraba sekitar


untuk mencari obor pengganti.


Di dalam kegelapan rumah, dengan hati-hati Hagia melangkahkan kaki. Dan mulai berjalan keluar kamar menuju ruang depan.


Kini Hagia sedang memegang obor yang baru diambilnya dari ruang tamu. Lalu


berderap kembali menuju kamar dimana sang bayi berada. Sesampainya ia


di kamar, Hagia melangkah pelan ke arah sebuah ambalan dinding, dengan


maksud ingin menancapkan obor itu di sana. Namun tatkala ketika Hagia


ingin menancapkan obor itu, tetiba saja sang bayi terbangun dan mulai


merengek. Sontak Hagia menoleh cepat ke arah sang bayi, dan di saat yang


sama, obor yang sedang dipegang Hagia mati, kala ia menengok barusan.


Obor yang mati membuat Hagia kembali menggerutu, dan mulai menyalahkan


angin, meski Hagia sendiri tahu bahwa tidak ada angin yang sedang


berhembus di sana. Dan benar, prasangka Hagia mengenai obor yang mati


karena angin adalah salah. Karena saat Hagia menoleh tadi, obor itu


mati... karena ditiup oleh pocong.


Di tempat lain. Dimana saat ini Dian berada.


Kini Dian sedang menjaga bayi di sebuah rumah sembari duduk meringkuk. Dian


pun sedang menahan tangisnya demi membuat sang bayi tidak terbangun di


sana. Meski mencoba sekuat hati untuk tidak menangis, tapi tetes air


mata Dian mulai membasahi pipi. Tetes air mata, yang keluar dari


tangisnya yang tanpa bersuara.


Sembari duduk meringkuk, Dian


mulai membatin. Dari lubuk hatinya yang terdalam, jujur Dian merasa


lelah tinggal di desa ini dengan segala kejanggalan yang membuatnya


menjadi paranoid dan gelisah. Membuat Dian merasa ingin pulang ke rumah


orangtuanya di Bandung saat ini juga. Selama KKN, hidupnya kini


seperti terancam dimana pun ia berada. Ketakutan serta lelah batin

__ADS_1


itulah yang pada akhirnya membuat Dian menjadi berurai air mata saat


ini.


Terlalu banyak air mata yang tumpah, Dian pun membuka


kacamatanya untuk menyeka air mata. Ia memejamkan matanya beberapa kali


lalu membukanya lagi. Hingga kemudian, Dian mengambil nafas panjang,


dan memejamkan matanya lebih lama. Lalu saat ia membuka mata, dengan


sangat samar, Dian melihat, seperti ada seseorang di ujung sana yang


berdiri sembari bersedekap. Kacamatanya yang sedang ia lepas, membuat


penglihatannya kini menjadi kurang. Lalu dengan menyipitkan mata, ia


melihat sosok itu seperti sedang melompat dengan sangat samar. Tidak


jelas apa yang sedang di lihatnya, lalu Dian pun memakai kacamatanya


lagi. Dan saat kacamatanya kembali dipakai, ia tidak melihat ada


apa-apa di ujung sana.


Tapi, untung saja Dian tidak melepas


kacamatanya lagi barusan. Karena jika demikian, maka ia akan melihat...


wajah sesosok pocong... yang sedang bertatapan dengannya kini.


Ditempat lain. Menuju lokasi dimana Abil dan Estu berada saat ini.


Kini waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Akhirnya semua mayat telah


berhasil dikuburkan dengan sempurna. Dengan bantuan seluruh laki-laki


yang ada di desa, termasuk Abil dan Estu, akhirnya ke delapan belas


jenazah itu dapat dimakamkan dengan segera.


Setelah selesai dengan prosesi pemakaman, semua laki-laki desa, kembali menuju rumah


mereka masing-masing. Tak terkecuali Abil dan Estu, yang menuju rumah


singgah mereka.


Tapi saat di perjalanan pulang, Abil sempat


mengatakan isi hatinya kepada Estu dengan bertutur, "Lu ngerasa gak?


Kalo warga desa... kayak ngeliatin kita sinis?"


Estu yang sedang ditanyai pun menjawab, "Iya. Tatapan mereka semua sinis."


Apa yang dirasakan Abil dan Estu memanglah benar. Asumsi mereka mengenai


para warga desa yang menatap keduanya sinis selama prosesi pemakaman


Tomo dan Pak Bimo, sering berbisik sembari melihat ke arahnya tadi. Abil


sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka bertiga bicarakan, tapi Abil


merasa, kalau mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.


Setelah jauh berjalan, akhirnya Abil dan Estu sampai juga di rumah singgah,


dengan baju dan celana yang begitu kotor oleh tanah. Tanpa mengucap


permisi, mereka berdua pun masuk ke dalam rumah singgah, yang dimana


Dian dan Hagia, sedang tertidur di kamar mereka.


Setelah bersih-bersih badan sekaligus berganti pakaian, Abil dan Estu mulai


mengambil posisi untuk merebahkan tubuh. Dengan rasa lelah hari ini yang


teramat sangat, tak membutuhkan waktu lama, mereka berdua pun tertidur


pulas. Dan mulai terlarut di dalam mimpi.


"Bangunlah. Datanglah. Abdikanlah. Bersekutulah denganku. Niscaya, aku akan


memberikan keselamatan untukmu, dan juga semua yang engkau inginkan,


wahai anak manusia." Seketika, Estu langsung terbangun dari tidurnya.


Petuah yang datang dari dalam mimpi barusan, bukan hanya sekedar membangunkan


Estu dari tidur lelapnya, tapi juga membuat seluruh tubuhnya menjadi


kaku dalam waktu sesaat. Mimpi barusan seperti terasa nyata. Bisikannya


terasa nyata. Bahkan sosok yang berbisik itu terasa nyata pula


keberadaannya. Tanpa berlama-lama, Estu pun bergegas. Bergegas menuju


sebuah lokasi yang muncul dalam mimpinya barusan.


Ya, menuju sebuah bangunan kuno yang pernah Hagia temui kemarin. Sebuah tempat


keramat, yang tersembunyi sebuah rahasia besar di baliknya.


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Langit pun masih


menurunkan gerimisnya di luar. Seakan ada yang terus berbisik kepadanya,


Estu terus melaju, menuju lokasi dimana bangunan kuno tersebut berada.


Menyusuri hutan di dalam kegelapan, yang hanya bertemankan sebuah obor

__ADS_1


di tangannya. Dan pada akhirnya, Estu berhasil menemukan lokasi


bangunan kuno itu berada. Ya, berkat suara bisikan yang terus


menuntunnya, Estu telah berdiri di hadapan bangunan kuno yang disebut


'Punden' itu.


Ditengah malam buta nan gerimis, Estu mulai memasuki punden dengan langkah berhati-hati.


Bangunan kuno yang bernama 'Punden' itu memiliki ukuran yang cukup luas. Dan


saat Estu berjalan memasuki punden lebih dalam, kala obornya mulai


menyinari seisi ruang dengan cahayanya yang berwarna oranye, dengan


samar Estu melihat sesosok perempuan di ujung sana. Seorang perempuan


dewasa berambut panjang dengan tubuh yang terikat, mata yang tertutup


serta mulut yang tersumpal.


Estu yang melihat jelas perempuan


itu sedang dipasung, berniat untuk membuka penutup matanya serta


mulutnya yang tersumpal. Tapi tatkala ia ingin melakukan itu, bisikan


suara muncul kembali di telinganya dengan berseraya, "Galilah tanah.


Ambilah tulang belulang yang engkau lihat. Lalu bacalah ayat dengan


menyempurnakannya di atas namaku."


Meski dapat mendengar bisikan


itu dengan jelas, tapi Estu belum mengerti benar apa maksud dari


perkataannya. Tapi satu hal yang Estu tahu, bahwa sosok yang berbisik


kepadanya barusan, meminta agar ia menggali tanah saat ini juga. Tanpa


pikir panjang, Estu mencari apapun yang ada di sana dan mulai menggali


tanah. Menggali lebih dalam. Dan lebih dalam lagi. Hingga akhirnya,


Estu menemukan tulang belulang, dan sebuah manuskrip kuno yang tertulis


'Naraka Paksa'. Atau yang bermakna 'Sayap Neraka'.


Setelah menemukan tulang belulang serta membaca manuskrip itu, kini Estu baru


memahami maksud dari suara bisikan tadi. Dan seperti apa yang sebelumnya


diminta kepadanya, Estu menyatukan tulang belulang untuk memulai


sebuah ritual terlarang. Dengan mengitari obornya di atas tulang


belulang, Estu mulai melafalkan kalimat dengan berseraya, "Di atas


tanah ini, ku janjikan darah jiwa kepadamu. Mata ini menjadi milikmu.


Mulut ini menjadi milikmu. Telinga ini menjadi milikmu. Kaki tangan ini


menjadi milikmu. Ku janjikan mencelakai anak manusia untukmu. Ku


ikrarkan engkau sebagai raja di atas segala nama. Tiada lagi


penangguhan untukku di hari kemudian. Dengan seluruh nafas yang


berhembus, ku abdikan darah ini kepadamu." Sayat jari telunjuk Estu


untuk menyempurnakan ritual terlarang itu.


Kini, darahnya mulai menetes di atas tulang belulang. Sesaat kemudian, suara petir


menghujam keras, membersamainya dengan suara meronta-ronta dari


perempuan yang sedang dipasung di sana. Lalu, hujan pun kembali turun


mengguyur deras.


Setelah melakukan semua ritual yang dibisikan


kepadanya, kini bisikan gaib itu benar-benar telah berhenti. Lalu Estu


bersegera ke rumah singgah kembali dengan membawa seluruh tulang


belulang dan juga manuskrip itu.


Ya. Estu adalah seorang pengabdi iblis. Dengan ditambah ritual terlarang barusan yang


dilakukannya, niscaya, Estu telah semakin dekat dengan tujuan besarnya.


Meski di dalam manuskrip tadi mengatakan, bahwa ritual yang


sesungguhnya akan benar-benar terjadi, apabila semua tulang belulang


sudah lengkap. Karena itu, misi Estu kini hanyalah satu, yaitu


menemukan dimana letak tengkorak kepala tulang itu berada. Tengkorak


kepala, dari sang ketua sekte terdahulu yang dihabisi oleh warga desa


dengan keji.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2