[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 5 : DESA ABIMANTRANA


__ADS_3

Jarak dari gapura menuju pusat desa agak lumayan jauh. Karena itu,


mereka semua masih harus berjalan lagi beberapa ratus meter untuk


sampai di pemukiman warga.


Dan setelah jauh berjalan, mereka


mulai melihat beberapa bangunan rumah yang berdiri di ujung sana.


Akhirnya, Abil, Estu, Hagia dan Dian telah sampai di pemukiman desa.


Sebuah desa, yang suasananya terasa senyap.


Baru saja sampai, ke


empat mahasiswa itu langsung diajak oleh Pak Tomo menemui seseorang.


Dengan nada yang ramah, Pak Tomo berucap, "Beliau ini adalah sesepuh di


sini. Namanya mbah Adanu. Saya ingin mengajak kalian ke rumahnya." Dan


dengan jawaban yang ramah pula, para mahasiswa itu menurut.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah sang sepuh, mahasiswa-mahasiswi itu


menyapu pandangan mereka ke sekitar. Mereka melihat, rumah-rumah warga


yang kusam nan rapuh di sana. Mereka juga tidak menemui satupun warga


saat jalan berkeliling. Suara aktivitas sehari-hari pun serasa


menghilang. Hari yang mulai gelap juga seakan menambah bumbu


penyempurna, yang membuat desa itu terasa senyap seperti kota mati.


Setelah berjalan beberapa ratus meter, kini mereka telah sampai di rumah sang sepuh.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali sembari mengucap salam, kemudian pintu


rumah terbuka. Putra sang sepuh membukakan pintu lalu mempersilahkan


Abil dan yang lain untuk masuk. Setelah masuk ke dalam rumah, mereka


langsung dipertemukan dengan sang sepuh.


Sembari bersalaman, sang


sepuh pun menyapa dengan bertanya, "Kalian mahasiswa yang mau KKN


itu?" Tutur sang sepuh dibarengi senyuman kecil.


Abil dan teman-temannya langsung mengiyakan pertanyaan tersebut secara bersama.


Setelah di persilahkan duduk, sang sepuh mulai mengajak ngobrol para


mahasiswa. Beliau memulainya dengan bertanya nama mereka masing-masing.


Lalu darimana mereka semua berasal. Secara bergantian, para mahasiswa


itu mulai menjawab satu persatu. Abil menjelaskan bahwa dirinya berasal


dari Jakarta. Hagia berkata bahwa ia berasal dari Jakarta pula. Dian


berasal dari Bandung, dan Estu yang berasal dari Malang. Dan secara tak


langsung, mereka kompak menegaskan memilih kuliah di luar kota yang


jauh dari keluarga.


Saat bercakap-cakap, menantu sang sepuh


datang membawa beberapa cangkir teh. Makanan ringan rumahan pun ikut


disuguhkan olehnya. Keempat mahasiswa itu dijamu baik oleh sang tuan


rumah. Kemudian putra tunggal sang sepuh mulai memantik api lalu


menyambarkannya sebagai obor untuk menerangi seisi rumah yang gelap.


Dan mereka semua saling bercerita satu sama lain dalam kondisi yang ala


kadarnya.


Di sela-sela pembicaraan, Abil mengatakan bahwa


mereka datang ke desa tanpa ada perwakilan dari kampus. Kemudian Abil


merogoh isi tasnya lalu memberikan secarik surat izin KKN yang telah


ditanda-tangani pihak kampus. Anak sang sepuh yang bernama Bimo pun


menerima surat itu lalu menyimpannya. Lalu mereka semua saling


bercerita dengan lebih intens.


Tak terasa 2 jam telah berlalu.


Obrolan diantara mereka telah berakhir. Selepas itu, sang sepuh


mengatakan kepada Abil dan yang lain untuk tinggal di sebuah rumah yang


sudah disiapkan untuk mereka. Letaknya tidak begitu jauh dari rumah


sang sepuh berada. Tanpa berlama-lama lagi, sang sepuh menyuruh Pak


Tomo mengantar Abil dan yang lain menuju rumah singgah yang akan mereka


tinggali selama KKN.


Abil dan yang lain pun berpamitan kepada


sang sepuh dan sekeluarga, lalu mulai berjalan mengikuti Pak Tomo dari


belakang. Dan mengenai 2 rekan Pak Tomo yang sedari tadi mengikuti


mereka, baru saja keduanya kembali ke rumah masing-masing.


Di saat perjalanan menuju rumah singgah, Hagia tiba-tiba bertanya kepada


Abil dengan berkata, "Abil, hape lu ada sinyal gak? Minjem dong. Mau


ngabarin orangtua gue di Jakarta." Tanya Hagia yang baru saja melihat

__ADS_1


ponselnya tidak mendapatkan sinyal.


Mendengar pertanyaan Hagia


barusan, Abil pun langsung bereaksi dengan menjawab, "Boro-boro. Kalo


ada sinyal mah, gue udah nelpon ibu kost tadi, pas kita lagi nyasar


nyari desa ini sebelumnya." Tukas Abil dengan suara agak terkekeh. Abil


pun memang bicara apa adanya barusan. Lagi pula desa ini adalah desa


pelosok, yang dimana listrik saja belum ada. Mengharapkan di desa ini


ada sinyal? Sudah pasti mustahil.


Setelah beberapa langkah


berjalan, akhirnya Pak Tomo memberhentikan langkahnya. Abil, Estu,


Hagia dan Dian yang mengekor di belakang pun ikut berhenti. Dengan


bantuan gestur tangannya, Pak Tomo pun memperkenalkan Abil dan yang


lain kepada rumah singgah di depannya dengan berkata, "Mas Abil, Mas


Estu, Mbak Hagia dan Mbak Dian, ini tempat tinggal kalian selama KKN di


sini." Kemudian Pak Tomo membuka pintu rumah itu yang tidak terkunci.


Rumah singgah itu sendiri luasnya tidaklah besar. Hanya terdiri dari 3 petak


ruang. Yang sudah pasti 1 petak untuk kamar tidur Abil dan Estu. 1


petak untuk kamar tidur Hagia dan Dian. Dan 1 petak sisanya adalah


ruang tengah yang menghubungkan 2 petak kamar tadi. Untuk kamar mandi


sendiri berada di luar rumah, dimana airnya tentu harus ditimba


terlebih dahulu dari sumur. Dari sini juga diceritakan oleh Pak Tomo,


bahwa rumah ini dulunya ditempati oleh adik sang sepuh serta


keluarganya yang kini sudah meninggal semua.


Setelah selesai memberikan pengarahan kepada Abil dan yang lain mengenai posisi rumah


serta sedikit sejarahnya, mengajari menyalakan api secara manual, serta


memberitahukan tentang apa yang akan mereka lakukan besok, Pak Tomo


pun pamit kepada mereka. Tapi sebelum Pak Tomo berderap pergi, ia


meminta agar Abil dan yang lain memaklumi kondisi desa mereka yang masih


tertinggal. Bermaksud menghargai ucapan Pak Tomo, Abil dan yang lain


bereaksi dengan tersenyum disertai beberapa kalimat sanggahan. Hingga


kemudian, Pak Tomo benar-benar pulang ke rumahnya dan meninggalkan


mereka berempat di rumah singgah nan tua itu.


lingkungan yang baru. Yang tidur tanpa adanya kasur. Tanpa adanya


listrik. Tanpa adanya penerangan saat malam, yang hanya bermandikan


cahaya oranye dari api obor yang menyala-nyala. Jika membandingkan


dengan kehidupan mereka di kota, jelas ini benar-benar jauh dari apa


yang diharapkan.


@ @ @ @ @


Satu malam telah terlewati. Pagi


ini, Abil, Hagia dan Dian sudah bersiap menuju rumah sang sepuh lagi


sesuai dengan arahan dari Pak Tomo kemarin malam. Hanya tinggal


menunggu Estu selesai mandi saja.


Sembari menunggu, Abil menaiki


ayunan yang posisinya berada tidak jauh dari depan rumah singgah.


Ayunan sederhana yang dibuat dengan mengaitkannya di sebuah pohon


rimbun yang berukuran sedang. Dan saat menaiki ayunan, Abil melihat


Estu keluar dari kamar mandi. Lalu mereka berempat langsung menuju


rumah sang sepuh setelahnya.


Berbeda dengan kemarin malam, pagi


ini Abil dan yang lain terkejut saat berjalan menyusuri desa. Saat ke


empat mahasiswa itu menyapu pandangan ke sekeliling, mereka dikejutkan


dengan melihat beberapa pintu rumah warga yang tergelantung jari-jari


manusia di sana. Dengan mengernyitkan dahi, mereka saling memandang


satu sama lain dengan wajah meringis dan mulai bertanya-tanya.


Contohnya adalah Hagia, ia bertanya kepada 3 temannya dengan berkata,


"Itu yang digantung... jari manusia beneran?" tanya Hagia barusan


dengan perasaan ngeri.


Saat mereka datang ke sini kemarin, cahaya


gelap malam perlahan menyelimuti desa. Yang akhirnya membuat


pemandangan kala itu menjadi samar. Dan saat fajar telah membentang


kini, barulah mereka bisa melihat pemandangan sesungguhnya yang berada


di desa itu. Dan salah satunya adalah pemandangan jari-jari manusia

__ADS_1


yang terlihat jelas tergelantung di beberapa pintu masuk rumah warga.


Saat Abil, Estu, Hagia dan Dian sampai di rumah sang sepuh, mereka pun


langsung menanyakan perihal jari manusia itu kepada Pak Tomo yang


ternyata sudah berada di sana sebelum mereka datang. Tapi dengan santai


Pak Tomo menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, "Ndak apa-apa.


Ndak usah dipikirkan. Itu cuma salah satu tradisi warga desa ini aja.


Orang-orang yang sudah meninggal biasanya akan dipotong jarinya sama


pihak keluarga, untuk dijadikan kenang-kenangan sebelum dikubur."


Adat getih mawar yang para mahasiswa ini lakukan sebelum memasuki desa saja


sudah janggal. Kini, mereka menemukan satu kejanggalan lain yang


terjadi di dalam desa. Tapi alih-alih mempermasalahkannya apalagi


sampai memperdebatkannya, Abil dan yang memilih acuh dengan hal


tersebut. Bukan mereka bersikap apatis, hanya saja mereka enggan untuk


bentrok dengan semua warga desa jika menentangnya. Jadi daripada


mencari masalah, mereka lebih memilih mencari aman. Dan kini, para


mahasiswa itu mulai berjalan mengikuti Pak Tomo untuk berkeliling desa.


Layaknya seorang pemandu wisata, Pak Tomo berkeliling sekaligus memberitahukan


Abil dan yang lain tentang semua hal yang ada di desa. Dian pun mencoba


berinisiatif mencatat semua informasi yang keluar dari bibir Pak Tomo


ke dalam sebuah catatan. Satu-satunya informasi yang luput dan membuat


Dian bertanya-tanya saat ini adalah tentang warga desa yang memandang


sinis saat melihat keberadaan Abil, Estu, Hagia dan Dian di sana.


Mungkin warga desa tidak suka jika ada orang luar yang masuk ke


lingkungan mereka. Dian mencoba memaklumi hal tersebut, lalu


berpura-pura tidak menyadarinya. Jikalaupun ada warga yang memberi kesan


baik, itu adalah seorang kakek tua yang baru saja tersenyum kepada


Dian. Tapi alih-alih membalas senyuman sang kakek, Dian justru


memalingkan wajahnya, karena takut dengan senyum kakek itu yang terlihat


mengerikan.


Dan saat mereka mulai meninggalkan pemukiman warga


untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan, mereka disambut oleh sebuah


pohon beringin yang sangat besar di sana. Tinggi dan rimbun daunnya


bukan main. Hagia dan Dian mulai bergidik di sekujur tubuh saat


memandang. Dan tidak jauh di dekatnya tumbuh pohon beringin lain yang


ukurannya belum begitu besar.


Tidak ada cerita khusus di sekitar


sini, karena itu Pak Tomo langsung melanjutkan perjalanan menuju


belakang hutan yang sedikit lagi sampai.


Sesampainya mereka di ujung hutan, kini jurang yang seakan tak berdasar menyambut kedatangan


mereka. Dan apa yang dikatakan Pak Tomo dulu adalah benar, bahwa


satu-satunya jalan untuk masuk ke desa hanyalah dari sisi selatan.


Karena selain selatan, semuanya adalah jurang.


Singkat cerita, mereka akhirnya telah selesai berkeliling desa. Kini Pak Tomo, Abil dan


yang lain sudah berada kembali di dalam rumah sang sepuh.


Saat mereka kembali, menantu sang sepuh telah menyiapkan mereka sarapan


pagi. Meski hanya makanan seadanya, ke empat mahasiswa itu mulai


menyantap dengan lahap. Seteleh selesai menyantap sarapan, ke empat


mahasiswa itu mulai membahas program kerja mereka kepada Pak Tomo, Pak


Bimo, dan Sang Sepuh. Proposal yang sebelumnya Abil, Estu, Hagia dan


Dian buat, mulai mereka bahas di depan orang-orang penting desa ini.


Saling menyanggah pendapat satu sama lain tentu tidak dapat terelakkan. Tapi


pada akhirnya, kesimpulan dari rapat kali ini berjalan lancar dan


melahirkan sebuah agenda penting untuk ke depannya.


Tak lama berselang, masih berada di dalam rumah sang sepuh, mereka semua


mendengar suara ricuh dari luar rumah. Suara teriakan disertai tangisan


yang membuat terkejut siapapun yang ada di sana. Dengan


berbondong-bondong, warga sekitar berlari menuju tempat perkara, tak


terkecuali sang sepuh dan seluruh tamunya.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2