![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Jarak dari gapura menuju pusat desa agak lumayan jauh. Karena itu,
mereka semua masih harus berjalan lagi beberapa ratus meter untuk
sampai di pemukiman warga.
Dan setelah jauh berjalan, mereka
mulai melihat beberapa bangunan rumah yang berdiri di ujung sana.
Akhirnya, Abil, Estu, Hagia dan Dian telah sampai di pemukiman desa.
Sebuah desa, yang suasananya terasa senyap.
Baru saja sampai, ke
empat mahasiswa itu langsung diajak oleh Pak Tomo menemui seseorang.
Dengan nada yang ramah, Pak Tomo berucap, "Beliau ini adalah sesepuh di
sini. Namanya mbah Adanu. Saya ingin mengajak kalian ke rumahnya." Dan
dengan jawaban yang ramah pula, para mahasiswa itu menurut.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sang sepuh, mahasiswa-mahasiswi itu
menyapu pandangan mereka ke sekitar. Mereka melihat, rumah-rumah warga
yang kusam nan rapuh di sana. Mereka juga tidak menemui satupun warga
saat jalan berkeliling. Suara aktivitas sehari-hari pun serasa
menghilang. Hari yang mulai gelap juga seakan menambah bumbu
penyempurna, yang membuat desa itu terasa senyap seperti kota mati.
Setelah berjalan beberapa ratus meter, kini mereka telah sampai di rumah sang sepuh.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali sembari mengucap salam, kemudian pintu
rumah terbuka. Putra sang sepuh membukakan pintu lalu mempersilahkan
Abil dan yang lain untuk masuk. Setelah masuk ke dalam rumah, mereka
langsung dipertemukan dengan sang sepuh.
Sembari bersalaman, sang
sepuh pun menyapa dengan bertanya, "Kalian mahasiswa yang mau KKN
itu?" Tutur sang sepuh dibarengi senyuman kecil.
Abil dan teman-temannya langsung mengiyakan pertanyaan tersebut secara bersama.
Setelah di persilahkan duduk, sang sepuh mulai mengajak ngobrol para
mahasiswa. Beliau memulainya dengan bertanya nama mereka masing-masing.
Lalu darimana mereka semua berasal. Secara bergantian, para mahasiswa
itu mulai menjawab satu persatu. Abil menjelaskan bahwa dirinya berasal
dari Jakarta. Hagia berkata bahwa ia berasal dari Jakarta pula. Dian
berasal dari Bandung, dan Estu yang berasal dari Malang. Dan secara tak
langsung, mereka kompak menegaskan memilih kuliah di luar kota yang
jauh dari keluarga.
Saat bercakap-cakap, menantu sang sepuh
datang membawa beberapa cangkir teh. Makanan ringan rumahan pun ikut
disuguhkan olehnya. Keempat mahasiswa itu dijamu baik oleh sang tuan
rumah. Kemudian putra tunggal sang sepuh mulai memantik api lalu
menyambarkannya sebagai obor untuk menerangi seisi rumah yang gelap.
Dan mereka semua saling bercerita satu sama lain dalam kondisi yang ala
kadarnya.
Di sela-sela pembicaraan, Abil mengatakan bahwa
mereka datang ke desa tanpa ada perwakilan dari kampus. Kemudian Abil
merogoh isi tasnya lalu memberikan secarik surat izin KKN yang telah
ditanda-tangani pihak kampus. Anak sang sepuh yang bernama Bimo pun
menerima surat itu lalu menyimpannya. Lalu mereka semua saling
bercerita dengan lebih intens.
Tak terasa 2 jam telah berlalu.
Obrolan diantara mereka telah berakhir. Selepas itu, sang sepuh
mengatakan kepada Abil dan yang lain untuk tinggal di sebuah rumah yang
sudah disiapkan untuk mereka. Letaknya tidak begitu jauh dari rumah
sang sepuh berada. Tanpa berlama-lama lagi, sang sepuh menyuruh Pak
Tomo mengantar Abil dan yang lain menuju rumah singgah yang akan mereka
tinggali selama KKN.
Abil dan yang lain pun berpamitan kepada
sang sepuh dan sekeluarga, lalu mulai berjalan mengikuti Pak Tomo dari
belakang. Dan mengenai 2 rekan Pak Tomo yang sedari tadi mengikuti
mereka, baru saja keduanya kembali ke rumah masing-masing.
Di saat perjalanan menuju rumah singgah, Hagia tiba-tiba bertanya kepada
Abil dengan berkata, "Abil, hape lu ada sinyal gak? Minjem dong. Mau
ngabarin orangtua gue di Jakarta." Tanya Hagia yang baru saja melihat
__ADS_1
ponselnya tidak mendapatkan sinyal.
Mendengar pertanyaan Hagia
barusan, Abil pun langsung bereaksi dengan menjawab, "Boro-boro. Kalo
ada sinyal mah, gue udah nelpon ibu kost tadi, pas kita lagi nyasar
nyari desa ini sebelumnya." Tukas Abil dengan suara agak terkekeh. Abil
pun memang bicara apa adanya barusan. Lagi pula desa ini adalah desa
pelosok, yang dimana listrik saja belum ada. Mengharapkan di desa ini
ada sinyal? Sudah pasti mustahil.
Setelah beberapa langkah
berjalan, akhirnya Pak Tomo memberhentikan langkahnya. Abil, Estu,
Hagia dan Dian yang mengekor di belakang pun ikut berhenti. Dengan
bantuan gestur tangannya, Pak Tomo pun memperkenalkan Abil dan yang
lain kepada rumah singgah di depannya dengan berkata, "Mas Abil, Mas
Estu, Mbak Hagia dan Mbak Dian, ini tempat tinggal kalian selama KKN di
sini." Kemudian Pak Tomo membuka pintu rumah itu yang tidak terkunci.
Rumah singgah itu sendiri luasnya tidaklah besar. Hanya terdiri dari 3 petak
ruang. Yang sudah pasti 1 petak untuk kamar tidur Abil dan Estu. 1
petak untuk kamar tidur Hagia dan Dian. Dan 1 petak sisanya adalah
ruang tengah yang menghubungkan 2 petak kamar tadi. Untuk kamar mandi
sendiri berada di luar rumah, dimana airnya tentu harus ditimba
terlebih dahulu dari sumur. Dari sini juga diceritakan oleh Pak Tomo,
bahwa rumah ini dulunya ditempati oleh adik sang sepuh serta
keluarganya yang kini sudah meninggal semua.
Setelah selesai memberikan pengarahan kepada Abil dan yang lain mengenai posisi rumah
serta sedikit sejarahnya, mengajari menyalakan api secara manual, serta
memberitahukan tentang apa yang akan mereka lakukan besok, Pak Tomo
pun pamit kepada mereka. Tapi sebelum Pak Tomo berderap pergi, ia
meminta agar Abil dan yang lain memaklumi kondisi desa mereka yang masih
tertinggal. Bermaksud menghargai ucapan Pak Tomo, Abil dan yang lain
bereaksi dengan tersenyum disertai beberapa kalimat sanggahan. Hingga
kemudian, Pak Tomo benar-benar pulang ke rumahnya dan meninggalkan
mereka berempat di rumah singgah nan tua itu.
lingkungan yang baru. Yang tidur tanpa adanya kasur. Tanpa adanya
listrik. Tanpa adanya penerangan saat malam, yang hanya bermandikan
cahaya oranye dari api obor yang menyala-nyala. Jika membandingkan
dengan kehidupan mereka di kota, jelas ini benar-benar jauh dari apa
yang diharapkan.
@ @ @ @ @
Satu malam telah terlewati. Pagi
ini, Abil, Hagia dan Dian sudah bersiap menuju rumah sang sepuh lagi
sesuai dengan arahan dari Pak Tomo kemarin malam. Hanya tinggal
menunggu Estu selesai mandi saja.
Sembari menunggu, Abil menaiki
ayunan yang posisinya berada tidak jauh dari depan rumah singgah.
Ayunan sederhana yang dibuat dengan mengaitkannya di sebuah pohon
rimbun yang berukuran sedang. Dan saat menaiki ayunan, Abil melihat
Estu keluar dari kamar mandi. Lalu mereka berempat langsung menuju
rumah sang sepuh setelahnya.
Berbeda dengan kemarin malam, pagi
ini Abil dan yang lain terkejut saat berjalan menyusuri desa. Saat ke
empat mahasiswa itu menyapu pandangan ke sekeliling, mereka dikejutkan
dengan melihat beberapa pintu rumah warga yang tergelantung jari-jari
manusia di sana. Dengan mengernyitkan dahi, mereka saling memandang
satu sama lain dengan wajah meringis dan mulai bertanya-tanya.
Contohnya adalah Hagia, ia bertanya kepada 3 temannya dengan berkata,
"Itu yang digantung... jari manusia beneran?" tanya Hagia barusan
dengan perasaan ngeri.
Saat mereka datang ke sini kemarin, cahaya
gelap malam perlahan menyelimuti desa. Yang akhirnya membuat
pemandangan kala itu menjadi samar. Dan saat fajar telah membentang
kini, barulah mereka bisa melihat pemandangan sesungguhnya yang berada
di desa itu. Dan salah satunya adalah pemandangan jari-jari manusia
__ADS_1
yang terlihat jelas tergelantung di beberapa pintu masuk rumah warga.
Saat Abil, Estu, Hagia dan Dian sampai di rumah sang sepuh, mereka pun
langsung menanyakan perihal jari manusia itu kepada Pak Tomo yang
ternyata sudah berada di sana sebelum mereka datang. Tapi dengan santai
Pak Tomo menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, "Ndak apa-apa.
Ndak usah dipikirkan. Itu cuma salah satu tradisi warga desa ini aja.
Orang-orang yang sudah meninggal biasanya akan dipotong jarinya sama
pihak keluarga, untuk dijadikan kenang-kenangan sebelum dikubur."
Adat getih mawar yang para mahasiswa ini lakukan sebelum memasuki desa saja
sudah janggal. Kini, mereka menemukan satu kejanggalan lain yang
terjadi di dalam desa. Tapi alih-alih mempermasalahkannya apalagi
sampai memperdebatkannya, Abil dan yang memilih acuh dengan hal
tersebut. Bukan mereka bersikap apatis, hanya saja mereka enggan untuk
bentrok dengan semua warga desa jika menentangnya. Jadi daripada
mencari masalah, mereka lebih memilih mencari aman. Dan kini, para
mahasiswa itu mulai berjalan mengikuti Pak Tomo untuk berkeliling desa.
Layaknya seorang pemandu wisata, Pak Tomo berkeliling sekaligus memberitahukan
Abil dan yang lain tentang semua hal yang ada di desa. Dian pun mencoba
berinisiatif mencatat semua informasi yang keluar dari bibir Pak Tomo
ke dalam sebuah catatan. Satu-satunya informasi yang luput dan membuat
Dian bertanya-tanya saat ini adalah tentang warga desa yang memandang
sinis saat melihat keberadaan Abil, Estu, Hagia dan Dian di sana.
Mungkin warga desa tidak suka jika ada orang luar yang masuk ke
lingkungan mereka. Dian mencoba memaklumi hal tersebut, lalu
berpura-pura tidak menyadarinya. Jikalaupun ada warga yang memberi kesan
baik, itu adalah seorang kakek tua yang baru saja tersenyum kepada
Dian. Tapi alih-alih membalas senyuman sang kakek, Dian justru
memalingkan wajahnya, karena takut dengan senyum kakek itu yang terlihat
mengerikan.
Dan saat mereka mulai meninggalkan pemukiman warga
untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan, mereka disambut oleh sebuah
pohon beringin yang sangat besar di sana. Tinggi dan rimbun daunnya
bukan main. Hagia dan Dian mulai bergidik di sekujur tubuh saat
memandang. Dan tidak jauh di dekatnya tumbuh pohon beringin lain yang
ukurannya belum begitu besar.
Tidak ada cerita khusus di sekitar
sini, karena itu Pak Tomo langsung melanjutkan perjalanan menuju
belakang hutan yang sedikit lagi sampai.
Sesampainya mereka di ujung hutan, kini jurang yang seakan tak berdasar menyambut kedatangan
mereka. Dan apa yang dikatakan Pak Tomo dulu adalah benar, bahwa
satu-satunya jalan untuk masuk ke desa hanyalah dari sisi selatan.
Karena selain selatan, semuanya adalah jurang.
Singkat cerita, mereka akhirnya telah selesai berkeliling desa. Kini Pak Tomo, Abil dan
yang lain sudah berada kembali di dalam rumah sang sepuh.
Saat mereka kembali, menantu sang sepuh telah menyiapkan mereka sarapan
pagi. Meski hanya makanan seadanya, ke empat mahasiswa itu mulai
menyantap dengan lahap. Seteleh selesai menyantap sarapan, ke empat
mahasiswa itu mulai membahas program kerja mereka kepada Pak Tomo, Pak
Bimo, dan Sang Sepuh. Proposal yang sebelumnya Abil, Estu, Hagia dan
Dian buat, mulai mereka bahas di depan orang-orang penting desa ini.
Saling menyanggah pendapat satu sama lain tentu tidak dapat terelakkan. Tapi
pada akhirnya, kesimpulan dari rapat kali ini berjalan lancar dan
melahirkan sebuah agenda penting untuk ke depannya.
Tak lama berselang, masih berada di dalam rumah sang sepuh, mereka semua
mendengar suara ricuh dari luar rumah. Suara teriakan disertai tangisan
yang membuat terkejut siapapun yang ada di sana. Dengan
berbondong-bondong, warga sekitar berlari menuju tempat perkara, tak
terkecuali sang sepuh dan seluruh tamunya.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw