
"Aku tidak bercanda, karena pisau ini sebentar lagi akan bermain-main dengan mu?? ia akan merusak wajah mu yang cantik, dan mengoyak hatimu yang angkuh" gumam Jimmy semakin lepas kendali, sambil menggoyang-goyangkan pisau lipatnya di depan wajah gadis itu.
"Jim... tolong lepaskan aku, dan kalau aku punya salah tolong maafkanlah aku. Jimm maafkan aku, ampuni a----------"
Tubuh Windy mulai gemetar, dan dalam ketakutan Windy berusaha memohon dan meminta maaf. Namun Jimmy, tidak perduli dengan ucapan yang di ucapkan Windy kepadanya. Bahkan tanpa ampun, Jimmy malah kembali menarik kasar rambut Windy. Kemudian menyeret tubuh Windy, ke ruang sebelah untuk menyambut kematian Windy yang sebentar lagi.
"Jim... ampuni aku, maafkan aku Jimm"
Menyadari sikap Jimmy yang tak biasa, sontak Windy meronta-ronta. Dalam hati, Windy sangat ketakutan. Ia berusaha melepaskan diri, karena ia tidak ingin berakhir tragis, seperti di film pembunuhan pada umumnya.
Bertepatan dengan rasa takut, perlahan air matanya menetes. Windy tidak menyangka, Jimmy akan memperlakukan dirinya seperti ini. Bahkan tubuhnya yang semula biasa saja, kini mulai gemetar merasakan takut yang teramat dalam. Windy menangis dan ketakutan, karena semua usaha untuk melepaskan diri itu hanya sia-sia. Di tambah rambutnya di tarik oleh Jimmy, membuat Windy semakin panik dan tidak berdaya.
Windy hanya pasrah, di perlakukan demikian oleh Jimmy. Ia ingin melawan, namun tidak bisa karena tangan dan kakinya masih dalam keadaan terikat.
Terusik dengan suara ponsel, Jimmy langsung menjawab panggilan tersebut dengan suara yang terdengar marah.
"Astaga... Windy sayang, kamu dari mana sih?? kamu di mana, udah larut malam kenapa belum pulang" tanya seseorang dari seberang telepon.
"Windy sedang bersama ku, kamu usah menganggu kami" jawab Jimmy dengan suara beratnya karena berusaha mengendalikan diri.
"Siapa kamu, di mana Windy, kenapa kamu yang menjawab----"
"Aku adalah dewa kematian putrimu, dan minta jangan cari dia lagi"
"Ya Tuhan, siapa kamu sebenarnya? kami mohon jangan, celakai putri-----"
"Tidak bisa?? karena seorang penghianat, tidak pantas hidup di dunia ini??"
"Kami... mohon, siapapun kamu tolong maafkanlah putri kami?? a---- apa yang kamu minta tolong bilang sama kami, tapi kami mohon jangan apa-apakan putri-----"
"Terlambat??"
__ADS_1
BRUK.
Sedangkan Windy, melihat Jimmy sedang sibuk menerima telepon dari orangtuanya. Windy dengan cepat mengambil kesempatan, untuk melepaskan diri. Tapi sebelum usahanya berhasil, Jimmy tiba-tiba membanting ponsel tersebut.
"Mau ngapain, hmm?? jangan pikir kau bisa melepaskan diri dari aku"
"Aaukhh?? lepaskan aku Jimmy?? sadar Jim, aku Windy kekasih mu?? kenapa kamu berubah, kenapa kamu seperti ini" ucap Windy dengan suara lepas, karena Windy berhasil membuka ikatan pada mulutnya
"Nanti... kau pasti akan tahu sendiri, lihatlah sebentar lagi??"
"Tapi... Jim aku mohon, jangan perlakukan aku seperti ini?? jangan tarik rambut ku seperti, kepala ku sakit Jimm"
"Emang aku perduli"
"Aaukh... Jim, sakit!!"
Melihat Windy berusaha melepaskan diri, Jimmy semakin di sulut emosi. Bahkan tanpa ampun, ia langsung menarik kasar rambut Windy kembali. Windy memohon dan berusaha meminta maaf, untuk membuat Jimmy tersadar, karena semua ucapannya seperti tak di tanggapi. Bukannya mengurungkan niat, Jimmy seperti semakin marah dan aksinya semakin brutal dalam menyiksa dirinya.
"Jangan harap penghianatanmu itu, bisa aku maafkan?? bahkan setelah kau di neraka, jangan parnah harap aku akan memaafkan mu"
BRUK.
"Tutup mulut mu, dan lihatlah siapa seseorang di dalam video itu" sambung Jimmy langsung memutar video, dan wajah Windy seketika berubah pucat. Windy sangat terkejut, dan matanya pun melotot melihat video yang di putar oleh Jimmy.
"Gak usah melotot, perhatiankan saja orang-orang dalam video itu?? wajahnya sangat mirip ya dengan wajahmu, dan laki-laki itu siapa ya, kok wajahnya juga mirip Bobby?? tapi... kalau di pikir-pikir, apa yang mereka lakukan ya??" tanya Jimmy berbicara panjang lebar, dengan wajah pura-pura tidak tahu. namun tatapannya, sangat jelas terlihat. Ia sangat murkah, dengan sorotan mata tajam seperti elang.
Sedangkan Windy, semakin gemetar melihat video tersebut. Wajahnya pucat seperti mayat hidup, tidak menyangkah jika penghianatannya akan terbokar jelas di depan mata kekasihnya.
"Bagaimana... apa sekarang kau sudah percaya, kalau saat ini aku benar-benar tidak bercanda" ucap Jimmy di sela-sela, membuat Windy semakin panik dan ketakutan.
"Lihat... sayang, pisau ini sangat tajam?? jika ini mengoyak-ngoyak tubuhmu, mau seberapa sempurna tubuhmu, siapapun laki-laki tidak akan pernah lagi mengenali tubuhmu" sambung Jimmy yang semakin membuat Windy ketakutan, sambil pisau tersebut Jimmy ia elus-elus ke wajah Windy.
__ADS_1
Sedangkan Windy, Ia semakin meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri.
"hahahahahahahaha"
Bahkan suara tertawa Jimmy, kini terdengar mengerikan di telingahnya.
"ssstt.... gak usah takut, karena sebentar lagi benda ini akan bermain-main di tubuh mu"
"Jangan Jimm, aku mohon jangan bunuh aku?? ampuni aku sayang, maafkan akuuu"
SRET... SRET.
"Aaukh... sakit, Jimm"
"hahahahahahahaha, tidak ada kata ampun untuk seorang penghianat seperti kau"
SRET.... SRET!!
"ampunnn Jim, maafkan aku?? Aaaaakhh!!"
"Selamat Ulang Tahun sayang?? sambutlah kematian mu, semoga kau bahagia di neraka"
SRET... SRET.
"Aaaaakhh!!"
SRET... SRET.
"Aaaaakhh!!"
"hahahaha.... matilah kau, penghianat"
__ADS_1
Bersambung
...terima kasih 🙏🙏🙏...