
setelah melaporkan hasil pengintaiannya. Gravaro pergi keluar dari ruangan tempat tuan Prude berada. Dia berjalan menuju ke pertigaan terowongan untuk mampir ke Bar yang ada di gorong - gorong Agantara.
Bar Agantara terletak memanjang mengikuti panjang gorong - gorong. Hanya di terowongan bagian Bar saja penerangan bukan dari pembakaran serabut akar, tapi dari lampu minyak yang digantungkan di dinding terowongan.
Penyebab air limbah gorong - gorong tidak memiliki bau dan tidak kotor, karena mereka menggunakan pembersih alami dari dunia sihir yaitu monster Slime. Slime adalah monster yang memakan sesuatu untuk diuraikan yang memiliki 2 jenis yaitu Slime pengurai dan Slime karnivora.
Slime pengurai dilepas di aliran air agar mereka bisa menjernihkan air yang sudah terkontaminasi oleh limbah dan melelehkan sampah yang mereka temui. Semua monster yang berada di dunia manusia harus menjaga kebersihan diri mereka karena kebersihan diri adalah salahsatu hal yang paling diperhatikan oleh manusia.
"bang Grav." ucap Fandasa
"mampir sini bang Grav." ucap Robata dan Edoru juga
Mereka bertiga adalah sahabat Gravaro di dunia manusia. para monster yang tinggal di gorong - gorong Agantara mendirikan gank mereka sendiri yang disebut dengan Agantha Brother. Hampir sama dengan gank yang menguasai kota Agastias dari balik bayangan yaitu Rude Boys.
"sudah melapor ke beliau bang?" tanya Fandasa
"tuan Prude kasih misi baru lagi kah bang?" tanya Robata juga. Eboru hanya diam menyimak.
Gravaro menghampiri 3 anak buahnya yang sepertinya sedang menunggu dirinya datang ke Bar. Mereka sedang duduk di meja yang terbuat dari kayu berbentuk lingkaran.
"masih belum."
"hanya nasehat agar kita harus lebih berhati - hati."
Gorong - gorong Agantara memiliki beberapa cabang terowongan. Setiap terowongan memiliki area khususnya masing - masing. Ada terowongan yang berisi banyak sekali kegiatan jual - beli seperti di pasar, ada terowongan yang digunakan untuk rest area. disana terdapat sebuah Bar, ada juga terowongan yang memiliki kabut putih yang digunakan untuk menghubungkan dunia sihir dengan dunia manusia.
Gravaro menutup kedua matanya. Penampilannya yang sebelumnya seorang manusia berubah menjadi seekor goblin. Di base camp kebanyakan para monster menggunakan wujud asli mereka untuk mengurangi pengurangan kredit score karena penggunaan skill yang didapat dari sistem game.
Fandasa, Robata dan Eboru juga melakukan hal yang sama dengan Gravaro. Wujud monster mereka yaitu goblin berbadan kekar dengan kulit berwarna hijau kusam. Mereka bertiga monster goblin yang sudah berevolusi menjadi Hobgoblin.
"beliau berkata bahwa musuh kita nanti bukan hanya gank GREED."
"menurut informasi yang beliau dapat, pihak negara sudah membentuk badan keamanan untuk melawan para Player Game." ucap Gravaro
Fandasa, Robata dan Eboru yang mendengar itu terlihat seperti sedang merenungkan sesuatu. Pandangan mereka menjadi kosong.
"permisi."
"ini pesanannya tadi." ucap pelayan Bar
tiba - tiba datang seorang pelayan wanita membawakan 4 gelas yang terbuat dari kayu, dan 4 daging bakar dengan saos sambalnya yang masih berasap. pelayan itu menggunakan celemek putih dengan rangkapan baju berwarna hitam layaknya Maid.
Dia seorang pelayan yang cantik, meskipun aslinya dia adalah seekor monster yang sedang menyamar menjadi manusia. Rambutnya hitam panjang dan yang paling mencolok dari penampilannya adalah adanya 2 tanduk berwarna merah jambu didahinya seperti tuan Prude.
"halo nona Sifara." ucap Fandasa
"ehh nona Sifara." sahut Eboru yang daritadi diam
Nona Sifara juga sama seperti tuan Prude. Dia dulu adalah monster kontrak ketika berada di dunia sihir. Hidupnya kini sudah berbeda lebih dari 180 derajat. Dahulu dirinya hanyalah seekor goblin dekil jelek yang tidak bisa berbicara yang saat ini menjadi seorang gadis yang cantik.
"dunia manusia kejam atau enggak nona?" tanya Fandasa
"masih kejam waktu dahulu kayaknya."
__ADS_1
"kita harus saling membunuh untuk bertahan hidup." jawab nona Sifara
Gravaro paham sekali apa maksud perkataan nona Sifara. Dahulu sebelum para monster diberikan kecerdasan seperti ini. Mereka hanyalah objek pembunuhan untuk latihan para petualang. Semua monster akan dibunuh jika mendekat ke pemukiman warga manusia, bahkan ketika diam tidak melakukan apapun keberadaan mereka seolah menjadi hama.
"kenapa kalian masih bertarung seperti monster premitif?"
"di dunia manusia terdapat banyak cara untuk bisa bertahan hidup selain dengan bertarung." ucap nona Sifara
Nona Sifara mendapat reward dari sang majikan, setelah majikannya memenangkan sebuah event bersama teman partynya. Dahulu sebelum Sifara mendapatkan reward, dia masih ingat bahwa tugasnya di party itu hanya sebagai tukang angkat barang dan pengecek lokasi musuh. Kejadian hidup dan mati sering dirinya lalui.
sebelum sebuah tragedi terjadi. Ketika event berlangsung banyak sekali petualang yang dihabisi saat itu. Event yang sangat susah, dimana para petualang harus melawan monster yang berwujud manusia tanpa bisa menggunakan sihir.
Mereka harus melawan dengan peralatan dan bahan - bahan yang ada di lapangan, sedangkan para monster bisa menggunakan sihir untuk menghabisi semua orang. Akibat event yang gagal diselesaikan, semua monster berwujud manusia bisa bebas hidup di antara 2 dunia untuk mengacaukan kehidupan semua player dan bukan player.
"kami sudah lelah ditindas nona."
"mau di dunia sihir atau di dunia manusia, keberadaan kita dianggap seperti hama." ucap Gravaro
"betul itu."
"karena itu banyak ras monster pergi ke dunia manusia untuk mengubah nasib."
"siapa tahu hidup di dunia manusia tidak seburuk hidup di dunia sihir." tambah Robata
"di dunia manusia. Ras monster seperti kita bisa hidup dengan sedikit aman."
"senjata mereka yang disebut senjata api, hanya bisa memberikan luka yang tidak serius." sahut Fandasa
Eboru yang mendengar perkataan senjata api langsung menunjukan senjata yang telah dia ambil ketika melawan polisi dari bawah meja. Senjata api itu berjenis senjata serbu model AK - 47 yang sering diperjual - belikan secara illegal di pasar gelap.
"kita terkena serangan senjata ini masih bisa menyembuhkan diri."
"tetapi jika kita terkena senjata kualitas A ke atas jangan harap deh bisa pulang selamat." kata Eboru sambil merelote senjata api itu.
Nona Sifara memahami pemikiran mereka, tetapi menurut dirinya ras monster harus lebih dari itu. Kekuatan saja belum bisa membuat semua hal menjadi lebih baik.
"semua itu terserah kepada kalian juga."
"aku tahu bahwa kalian bertarung pasti memiliki tujuan yang layak diperjuangkan."
Setelah berkata seperti itu. Nona Sifara sedikit menundukan kepala lalu pergi untuk mengantarkan pesanan pelanggan lainnya. Dia berjalan ke depan menuju ke tempar kasir dan dapur Bar berada.
"nona Sifara lebih mirip seperti seorang manusia daripada seekor monster." ucap Fandasa
"sepertinya sekolah di dunia manusia telah mengubah sudut pandang hidupnya." tambah Eboru
sejauh ini. Hanya nona Sifara saja ras monster yang mau belajar ilmu pengetahuan dari ras manusia. Dia bersekolah di universitas dengan mengambil prodi ilmu Ekonomi. monster yang lain di dunia manusia hanya bersenang - senang tanpa memikirkan ilmu pengetahuan yang mereka punya.
Menurut mereka. Buat apa belajar susah payah jika sistem game menyediakan semua hal yang mereka butuhkan? Reward yang didapat dari menyelesaikan quest dari Non Player Game bisa menjadi 2 macam : yaitu 1. Pertukaran item dan 2. penambahan kredit score.
Kredit score yang didapat bisa ditukarkan dengan apapun yang mereka mau kepada Non Player Game yang sedang berdagang. Sedangkan pertukaran item bisa mendapatkan barang dari Non Player Game ketika telah menyelesaikan sebuah misi.
"nona Sifara juga memiliki nama yang bagus."
__ADS_1
"sedangkan nama kita seperti nama asal buat." kata Fandasa
mereka yang telah melihat nona Sifara pergi, mulai menyentuh makanan yang telah mereka pesan barusan. Mengobrol dengan nona Sifara sedikit membuat mereka lupa bahwa ada hidangan yang harus mereka makan di atas meja.
"masih mending kita monster yang masih mempunyai nama."
"di luar sana banyak monster yang bernasib lebih buruk daripada kita disini." ucap Edoru
"selagi nama kita jelas untuk diucapkan apa masalahnya?" tambah Robata
ketika mereka berempat sedang memakan hidangan yang hampir dingin itu. Datang seseorang laki - laki menuju ke arah meja mereka. Dia seorang laki - laki remaja dengan pakaian kain levis seperti seorang preman.
"bang Fandasa."
"abang tahu saudaraku. Dandel?"
Fandasa yang sedang makanpun menoleh ke arahnya. Dia juga salahsatu ras monster yang sama seperti mereka yaitu ras goblin yang sudah berevolusi menjadi hobgoblin.
"kenapa dengan saudaramu. Avel?" tanya Fandasa
"dia tidak keliatan selama 2 hari bang."
"aku kira. Dia ikut berpatroli bersama kalian di kota." ucap Avel
Fandasa memang dari kemarin berpatroli dengan 12 orang untuk melihat aktifitas gank yang berada di kota Agastias dan mencari informasi yang mungkin terasa penting. Tapi di anggotanya sama sekali tidai ada Dandel ketika melakukan patroli itu.
"kapan terakhir kali dia pergi?" tanya Gravaro
"2 hari yang lalu bang."
"dia ingin mencari uang katanya. Entah untuk apa." jawab Avel
Gravaro menyangka, bahwa si Dandel pergi di waktu malam untuk mencari quest dari Non Player Game untuk mendapatkan sebuah reward. Karena di waktu siang hari quest dari Non Player Game selalu diambil oleh gank yang menetap disekitar Non Player Game berada.
"kalian coba cari saja nanti."
"jika kepala dijasadnya masih utuh. Kita bisa meminta untuk disambung raga buatnya." ucap Gravaro
Fandasa, Eboru, Robata dan juga Avel mengangguk untuk mengisyaratkan setuju. Pencarian kepada Dandel memang harus segera dilakukan sebelum jasadnya sulit untuk dilacak keberadaannya.
"bang Grav akan ikut nanti?" tanya Fandasa
"jika tidak ada misi mengintai dari tuan Prude."
"aku akan ikut pergi mencari dengan kalian." jawab Gravaro
Gravaro adalah salahsatu intel yang dimiliki oleh gank Agantara Brothers. Tugas dia adalah mengecek berapa banyak gank Player Game yang ada di kota, sekaligus mengamati pergerakan gank besar seperti GREED.
Setelah menghabiskan makanan dan minumannya. Mereka bersama membahas rencana apa yang harus dilakukan nanti malam untuk mencari Dandel di kota.
Informasi yang mereka punya masih terkumpul sedikit. Tapi cara biasa yang sering para monster gunakan untuk mencari saudara mereka yang hilang adalah dengan bertanya ke kantor polisi. Informasi sekecil apapun yang didapat dari tempat itu bisa menjadi petunjuk untuk melakukan pencarian.
"jangan cari masalah dengan gank Agastias. Apalagi gank Rude Boys."
__ADS_1
"kita bisa dijual untuk membuat bahan obat - obatan nanti." ucap Gravaro
ada rumor juga bahwa beberapa player membuat obat dari tubuh para monster, karena kandungan mana dan sihir yang terkandung dalam darah dan daging monster memiliki khasiat terhadap tubuh manusia.