
"maaf komandan."
"jadi musuh kita bukan monster dari sistem game saja?" tanya Dazan
Suster Shifara dan Komandan Rendra melihat ke wajah Dazan yang sedang kebingungan. Dazan berpikir bahwa departemen keamanan akan melawan sesuatu yang lain lagi.
"sebenarnya Dazan."
"banyak sekali penjahat yang harus kita basmi."
"gank GREED, monster sistem yang bermunculan dan sekarang orang dari dunia sihir."
Komandan Rendra mengambil satu batang rokok dari bungkus rokok yang ada di saku celananya lalu menyalakan rokok itu. Kepulan asap beliau hembuskan, setelah beliau menyedot rokoknya.
Suster Shifara mundur sedikit menjauh dari dekat komandan Rendra. Bau asap rokok sepertinya sangat menganggu bagi suster Shifara.
Berbeda dengan suster Shifara. Pria yang baru saja datang setelah suster Shifara tidak peduli dengan kepulan asap yang menyebar di depan wajahnya.
"jika tidak ada yang bisa saya bantu."
"saya izin untuk pergi keluar komandan." ucap suster Shifara
Komandan Rendra mengangguk dan memberi isyarat dengan tangannya untuk boleh pergi. Tangan kanan beliau seperti berkibas - kibas.
"nama kamu Caleon bukan?" ucap beliau sambil melihat berkas
Beliau melihat beberapa lembar laporan yang diberikan oleh pria bernama Caleon. Dia sepertinya yang ditugaskan untuk memantau pergerakan gank GREED.
"siap pak." ucapnya dengan nada tegas
"amati lagi mereka."
"kekuatan player mereka bisa menjadi ancaman untuk kota." ucap komandan Rendra
Bapak Caleon sedikit menunduk lalu berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Dazan dan komandan Rendra berdua, dengan sedikit batuk - batuk.
"bapak Rendra."
"sebenarnya apa yang terjadi di kota sekarang?"
"kenapa ada quest seperti di dalam game?"
"dan juga kenapa kita bisa memiliki kekuatan ini?"
Komandan Rendra menyedot rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke atas. Beliau diam untuk berpikir sejenak, karena pertanyaan dari Dazan terkesan seperti pertanyaan yang berat untuk dijawab.
"makhluk hidup itu selalu bosan akan hal yang sudah dia miliki."
"mereka akan mau lagi dan lagi apapun hal yang menurut mereka menarik."
Beliau mengambil asbak untuk meletakkan sisa abu rokoknya yang sudah terbakar. Beliau memukulkan batang rokoknya dengan sangat pelan agar sisa batang rokok yang telah menjadi abu terlepas.
"karena sifat manusia yang seperti itulah game ini tercipta."
"sebuah sosok yang menganggap dirinya Tuhan menawarkan sebuah permainan."
"sebuah permainan yang dapat memenuhi semua keinginan playernya."
Dazan terdiam setelah mendengar perkataan komandan Rendra. Dia sedang mencari kesimpulan dari ucapan beliau barusan dengan segala peristiwa yang sudah dialami dirinya dan juga Leira.
"jadi departemen keamanan mengumpulkan para player untuk melindungi warga kota?"
"jadi kami dipekerjakan oleh negara hanya untuk berkorban diri?"
"kenapa harus para player? Jika warga juga bisa menjadi player?" ucap Dazan panjang lebar
Komandan Rendra menaruh puntung rokoknya di asbak, meskipun masih tersisa batang rokok yang belum menjadi abu. Beliau melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Dazan dengan serius.
Beliau sempat terdiam sambil menatap ke arah Dazan. Begitu juga dengan Dazan yang sedang diam berdiri menunggu jawaban dari komandan Rendra.
"memang seperti itulah tugas kita."
"departemen khusus ini dibuat untuk melindungi masyarakat."
"kita tidak bisa membiarkan para player itu bertindak semau mereka saja bukan?"
"mereka bisa membunuh, mereka bisa menindas orang lain, bahkan membuat dunia ini kiamat."
Komandan Rendra berkata seperti itu lalu tersenyum. Lipatan di kedua bibirnya terlihat naik tanpa memperlihatkan gigi depan beliau.
Dazan lalu memejamkan kedua matanya. Dia teringat dengan kejadian kedua orang tuanya yang tiba - tiba dibunuh oleh orang misterius yang diduga sebagai player.
Orang tuanya mati dibunuh oleh orang misterius ketika beliau sedang pulang ke rumah. Beliau ditemukan tewas di jalan yang sepi dengan bekas luka tusuk di perutnya.
"apa masih ada yang perlu dipertanyakan Dazan?" tanya komandan Rendra
"tidak komandan."
__ADS_1
"terima kasih." jawab Dazan
Dazan merasa tidak sopan jika terus - menerus menanyakan hal - hal kepada komandan Rendra. Beliau juga terlihat masih sibuk dalam pekerjaannya.
"izin pamit komandan."
"saya ingin menjenguk Leira di ruang perawatan." ucap Dazan sambil menunduk
Komandan Rendra merapikan berkas - berkas yang tadi diberikan oleh bapak Caleon dan menyingkirkan golok yang berada di atas meja.
Untung saja darah di golok tersebut sudah mengering yang membuat bau amis darah tidak bergitu pekat di hidung. Jika masih basah mungkin bau anyir darah akan tercium kuat di hidung.
"silahkan."
"sampaikan salamku kepada Leira disana." ucap beliau
Dazan sedikit menunduk lalu pergi keluar menuju ke tempat Leira sedang dirawat. Mungkin saja Leira sudah bangun sekarang.
...****************...
"kak Dazan."
"bagaimana laporannya?"
"apa sudah selesai?" tanya Leira
Dia sedang terbaring di tempat tidur seperti yang sering ditemui di rumah sakit. Kata dokter, kondisi Leira seperti orang yang kecapekan dan pusing kepala sebab itulah Leira lemas setelah mengunakan skillnya tadi.
"seharusnya kau itu istirahat."
"kenapa malah makan es krim."
"di jam segini juga." ucap Dazan
Leira sedang menjilati es krimnya sambil scroll sosmed di handpone. Jam di dinding ruangan Leira dirawat menunjukan pukul 1 jam lebih 30 menit.
"makan es krim malam hari itu aman kok."
"hanya mitos kalau makan es krim malam hari bikin pilek besoknya."
Dazan mendekati Leira dan mengecek kedua lubang hidungnya. Dua jari telunjuk dan jari tengah Dazan dimasukan ke hidung Leira.
Di jari telunjuk dan jari tengah Dazan terdapat bercak darah segar. Darah itu berasal dari kedua lubang hidung Leira saat Dazan mencabut kedua jarinya.
"jangan pakai skillmu sembarangan."
"tubuhmu selalu mengeluarkan darah jika kau terus memaksakan diri."
"ihh... aneh banget deh."
"mengecek lubang hidung orang lain tanpa izin."
"aku masih malu meskipun kau sudah aku anggap kakak sendiri."
Leira berkata seperti itu sambil memalingkan mukanya. Dia terlihat malu merasakan lubang hidungnya dicek oleh seorang pria.
Lelehan es krim yang meluncur turun ke pergelangan tangannya sampai tidak dia hiraukan. Semalu itu mungkin yang Leira rasakan.
"udah cukup malunya."
"mari kita pulang."
Dazan menjulurkan tangan kanannya ke arah Leira yang sedang berpaling. Tidak lama, Leira berpaling melihat ke arah Dazan yang sedang menjulurkan tangan di depan wajahnya.
"bukannya besok kau masuk sekolah?"
"sekarang sudah larut malam loh." ucap Dazan
Leira memegang tangan kanan Dazan dengan tangan kirinya. Tangan kanannya masih membawa es krim yang tersisa sedikit jadi tidak mungkin Leira memakai tangan kanannya.
"jangan lakukan hal seperti itu lagi oke."
"aku tidak suka." ucap Leira dengan cemberut
Dia turun dari tempat tidurnya lalu memasang kedua sepatu di kakinya dan berjalan keluar dari ruangan tempat dia dirawat. Tidak lupa memasukkan ponselnya ke saku bajunya.
Ruangan yang Leira pakai termasuk ruangan VIP karena hanya ada satu ranjang saja untuk pasien disana. Berbeda dengan ruangan lain yang ada tiga ranjang untuk tempat pasien.
Di luar ruangan terlihat ada sedikit orang yang sedang mondar - mandir di koridor rumah sakit. Mungkin karena malam yang sudah larut pengunjung hanya ada sedikit yang datang.
"permisi tante."
"selamat malam tante."
Dazan dan Leira menyapa tiga wanita yang sedang menjaga di meja resepsionis. untungnya biaya Leira sudah sepenuhnya ditanggung oleh departemen keamanan khusus jadi mereka tidak perlu membayar tagihannya.
"eh Dazan."
__ADS_1
"kalo aku tidak ditemukan oleh para polisi."
"sepertinya aku masih jadi anak gelandangan."
"atau mungkin saja bisa lebih parah lagi." ucap Leira
Bagi Leira yang seorang player. Kemampuannya untuk survive menyelesaikan quest dari Non Player Game itu terbilang susah - susah gampang. Meskipun skillnya sangat hebat, tapi berdampak buruk bagi kesehatan dirinya sendiri.
"untungnya juga aku bertemu denganmu."
"kau seperti kakak laki - laki bagiku."
"padahal aku itu anak tunggal."
Dazan teringat ketika dia pertama kali melakukan tugas menjadi satuan polisi khusus. Waktu itu dirinya dengan polisi lain sedang menyelidiki kota kecil yang terletak di pinggir wilayah Agastias yang berdekatan dengan wilayah kota Orubis.
Kota di tempat itu sangat minim penduduk dikarenakan banyaknya penduduk yang melakukan urbaninasi atau perpindahan dari tempat tinggal mereka menuju kota lainnya. Mereka berharap di kota yang lain dapat mengubah nasib mereka untuk lebih baik lagi.
Lima polisi khusus dan tentunya Dazan juga menemukan seorang gadis muda tergeletak di tanah dengan pemandangan disekitarnya penuh dengan darah, tanpa adanya jasad yang ditemukan.
Di tempat itu seperti telah terjadi pembantaian yang membunuh banyak sekali orang. Gadis yang tergeletak waktu itu adalah Leira yang sekarang menjadi partner Dazan.
"kau mengingatkanku akan kejadian dulu."
"semenjak kau ditemukan aku disuruh menjadi partnermu."
"sepertinya lebih cocok jadi pengasuhmu sih."
Leira melihat ke arah Dazan dengan pandangan terkejut. Matanya terbuka lebar dengan mulutnya yang sedikit terbuka.
Ternyata kehadiran dirinya bagi Dazan begitu merepotkannya, sampai Dazan menganggap dirinya sebagai pengasuh ketika harus merawat Leira.
"aku merepotkan apa sih bagimu?"
"mungkin aku cuman sering lupa pakai ****** ***** saja."
"waktu bangun tidur."
Sangat pelan Leira ketika mengucapkan hal itu kepada Dazan. Dia sering tidak secara sadar melepaskan ****** ******** waktu tidur. Tiba - tiba saja ****** ******** ketinggalan di lantai.
"bukan hanya itu saja."
"masih banyak lagi hal darimu yang merepotkan."
Saat mendengarkan itu membuat Leira cemberut. Kedua pipinya mengembung seperti balon yang sedang diisi oleh angin.
"kau tahu bukan."
"aku yatim piatu sejak kelas 3 sekolah dasar."
"orang tuaku terhasut untuk memainkan game laknat ini."
"entah seberapa bodohnya mereka bisa sampai terbunuh ketika menyelesaikan sebuah quest."
Karena es krim yang Leira bawa sudah habis. Dia berjalan menuju tempat sampah yang berada di luar rumah sakit lalu membuangnya. Sekaligus mencuci tangan di wastefel yang terdapat di sekitar rumah sakit berada.
"kita juga bodoh kayaknya."
"kita mau saja memainkan game laknat ini."
"meskipun kedua orang tua kita sudah menjadi korbannya."
Angin malam berhembus menusuk ke kulit. Entah sekarang selarut apa, hingga angin bisa berhembus sedingin ini. Di langit terlihat dengan jelas bundarnya bulan dengan cahayanya yang berwarna kuning tidak menyilaukan.
Dazan menyangka bahwa Ayahnya dulu bekerja dengan menjadi player game laknat ini. Beliau menyelesaikan quest - quest kecil untuk bisa mendapatkan uang.
ketika beliau tidak bisa menyelesaikan quest itu. Beliau terbunuh oleh monster yang terdapat di dalam quest, tapi kenapa tidak hanya Ayahnya saja yang terbunuh? Kenapa Ibunya juga dibunuh tidak lama setelah itu?.
"maaf lama Dazan."
"baju di lenganku ada noda darah."
"eh tadi kau bilang apa?"
"aku tidak dengar karena kau terlalu jauh?"
Dazan melihat ke arah Leira. Tubuh Leira lebih pendek dari Dazan yang membuatnya harus menurunkan pandangan hanya untuk melihat wajah imut Leira.
Kedua bola mata Leira membesar yang menandakan seorang yang sangat ingin tahu. Di bawah cahaya remburan rambut hitam Leira terlihat semakin mengkilat, dengan tiga jepit rambutnya yang berkerlap - kerlit di kepala.
"tidak ada kok."
"mari pulang."
"aku akan pinjam mobil kantor."
Ekspresi wajah Leira menjadi bete. Dia sudah memasang wajah imut dan memelas untuk bertanya, tapi Dazan tidak mau untuk memberikan jawaban.
__ADS_1
"sebel." ucap Leira
Lagi - lagi dia membesarkan kedua pipinya. Perubahan perilaku anak pubertas itu memang lucu sekali. Tidak bisa ditebak dan diprediksi.