
Vall berlari keluar dari pasar untuk menghindari kejaran para preman tadi. tempat portal untuk berteleportasi menuju dunia sihir berada tidak jauh dari pasar ini, karena lokasi pasar dengan hutan tempat dirinya berteleportasi hanya berjarak beberapa meter saja.
"mereka sudah tidak mengejar lagi kah?" batin Vall sambil melihat ke arah belakang
Sedari tadi Vall hanya terus berlari untuk menghindari kejaran para preman itu. Ditengoknya ke arah belakang bahwa mereka sudah tidak mengejar lagi, Vall memutuskan untuk berhenti berlari.
Di tempat Vall berada, tidak terdapat sama sekali orang yang sedang melakukan jual - beli karena lokasinya yang bertempatan di sudut pojok pasar. Hanya ada bangunan bekas toko dan sampah - sampah yang berserakan sejauh mata memandang.
Dari tempat ini, Vall bisa melihat kendaraan yang sedang berlalu - lalang di jalan raya berserta hutan yang berada di sisi kiri dan kanannya. Hanya berjarak beberapa meter lagi untuk bisa sampai ke dalam hutan dengan melewati beberapa rumah.
Vall menengok ke arah kiri dan kanan. Dia takut bahwa preman - preman itu akan muncul secara tiba - tiba dihadapannya. Tapi sepertinya tidak ada siapapun lagi yang akan datang ke tempatnya.
...****************...
Vall berjalan menuju ke arah hutan. hanya ada rumput yang terasa saat dirinya sedang berjalan menuju ke sana dan juga suara bising kendaraan yang terdengar samar - samar dari jauh karena terbawa oleh hembusan angin.
"kenapa para preman itu tidak mengejar lagi?"
"bukannya tadi mereka sudah memanggil bala bantuan?" tanya Vall kepada dirinya sendiri
Entah apa yang terjadi, tapi Vall merasa beruntung karena bisa terhindar dari perkelahian barusan. Dirinya tidak menyangka bahwa ada gank kecil lain yang menguasai tempat - tempat tertentu selain gank GREED.
Sesampainya di dalam hutan. Vall berhenti tepat di tengah tanah yang lapang. Di tanah yang lapang itu tidak ada rerumputan ataupun pepohonan yang tumbuh. Hanya ada tanah kosong berserta bebatuannya.
"akhirnya sampai."
Vall menempelkan tangan kanannya ke tanah untuk membuat portalnya menjadi aktif. di tempat itu muncul cahaya berwarna putih berbentuk lingkaran dengan tulisan aneh disekitarnya.
"saatnya pulang."
Cahaya terang berwarna putih membawa Vall masuk menuju area yang berada di tengah tanah lapang. Sekaligus cahaya itu lenyap menghilang.
...****************...
Di portal hutan Bergendy. Vall muncul dengan sedikit sisa cahaya berwarna putih yang berada disekitar tubuhnya. Jam yang berada di menara desa menunjukan pukul 10 padahal di dunia manusia tadi jam sudah menunjukan pukul 12 tepat tengah hari.
Saat ini, banyak sekali pedagang yang sedang mampir untuk membeli bahan - bahan yang dijual oleh warga desa. Pedagang yang singgah di desa Bergendy kebanyakan bukan ras manusia, mereka dari ras monster dengan rupa mereka yang unik.
"halo kakek Gerome." sapa Vall
Kakek Gerome menjawab sapaan Vall dengan mengacungkan jari jempolnya. Beliau sedang asik menikmati minuman sambil duduk di tempat yang sama persis seperti pos kampling yang ada di dunia manusia. entah minuman apa yang sedang beliau pegang. Apa teh atau kopi.
Vall melihat ada monster seperti Orc berbadan gemuk sedang mengangkuti barang yang berada di kotak kayu menuju ke atas kereta kuda. Orc itu hanya memakai celana selutut, tanpa pakaian dengan mukanya yang terlihat seperti hewan babi.
Ada lagi monster serigala. Mereka sedang berbaris untuk memasukkan kotak kecil ke dalam kereta kuda dengan cara menyalurkan satu - persatu kotak kecil itu ke arah temannya. Sepertinya mereka adalah Kobolt.
Yang paling aneh lagi. monster besar bermata satu terlihat sedang mengangkut beberapa potongan kayu ke gerobak mereka. banyak orang yang menyebut jika mereka adalah monster ras Cyclop karena hanya memiliki satu buah mata saja.
Badan mereka yang besar membedakan mereka dari pedagang lain yang sedang mengambil barang dagangan dengan mengunakan kereta kuda. Mereka hanya mengunakan gerobak yang nantinya akan mereka tarik sendiri untuk membawa barang - barang mereka.
"kakek."
"nenek."
"Vall pulang."
Vall membuka pintu rumahnya. Dia memanggil kedua kakek dan neneknya untuk memberitahukan bahwa dirinya sudah pulang. keadaan rumah saat itu sedang sepi tanpa ada seorangpun yang terlihat dipandangan Vall.
"mungkin mereka sedang bekerja."
"makanya enggak dijawab." batin Vall
Setelah melepas alas kakinya, Vall berjalan naik menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua dan langsung masuk ke dalamnya. Mumpung pintu kamarnya sudah terbuka daritadi.
Keadaan desa Bergendy seperti dinaungi oleh sebuah awan. Cahaya matahari dari atas tidak membuat pemukiman warga terang disengat oleh sinar matahari karena dahan pohon yang sangat rimbun. Hanya sebagian saja cahaya dari matahari yang masuk melewati celah - celah dahan pohon.
Kriiiiet.....
(suara engsel pintu sedang bergerak)
Dari balik belakang pintu, berdiri seseorang dengan mulut dan hidung yang ditutupi oleh kain hitam. Orang itu memakai kaos berwarna hitam dengan celana panjangnya berwarna cream. Dia mengeluarkan pisau lalu berlari maju untuk menusuk Vall dari belakang.
__ADS_1
Sadar akan kehadiran orang itu, Vall berbalik badan langsung menghindar ke arah kiri. dia melakukan beberapa kali sabetan, tapi Vall beruntung bisa menghindarinya semua.
"salam pertemuannya seperti ini?."
"jelek sekali." ucap Vall
Orang itu hanya memiringkan kepala menanggapi perkataan Vall barusan. Dia lalu maju melancarkan sabetannya lagi.
Sling... Sling... Singg...
(suara bila pisau ketika menyabet angin)
Vall menangkis tangan kanannya yang sedang memegang bila pisau lalu memukul pinggang kanannya dengan tangan kiri. Tetapi orang itu membalas Vall dengan mendengkul perutnya hingga Vall terdorong menghantam ke tempat rak tempat bukunya berada.
Bruk...
(suara badan Vall menatap rak buku)
Merasa mendapatkan moment yang bagus. Orang itu menyabet kepala Vall secara miring, tapi Vall langsung melompat ke arah kiri sambil mendorong orang itu supaya menjauh darinya.
Slik...
(suara beberapa buku telah terpotong)
Nafas Vall terengah - engah dan bercucuran keringat mengingat kejadian barusan. Jika terlambat menghindar mungkin saja mukanya akan robek seperti luka yang terdapat di karakter Crocodile dari anime One Piece.
"woy kak."
"bukannya ini sudah keterlaluan?" ucap Vall
Orang itu mengkedipkan kedua matanya sambil mengangkat kedua bahu dan tangannya. Dia seperti memberikan isyarat setuju dengan perkataan Vall tersebut.
"maaf Vall."
"aku terbawa suasana." jawabnya
Setelah perkelahian singkat yang hanya mengancam nyawa salahsatu pihak. Orang itu membuka kain hitam yang menutupi wajahnya. Dia adalah kakak kedua Vall yang mengajarinya cara untuk berkelahi saat masih kecil.
"lama tidak ketemu."
Orang itu langsung memeluk Vall. Dia mendekap Vall dengan kedua tangannya ke dada seperti seorang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Dari raut wajahnya bisa terlihat jika dia benar - benar rindu kepada Vall.
"halo juga kak Arf." jawab Vall dengan ketus
Vall menanggapi pertemuan dengan kakaknya secara ketus. Dirinya masih greget dengan sambutan yang telah diberikan oleh kakaknya barusan. Beberapa buku yang berada di raknya terpotong dengan sangat smooth, padahal buku - buku itu memiliki tebal 300 halaman. Mengingat kejadian tadi, yang hampir saja membuat wajah Vall terpotong.
"bagaimana dengan tujuanmu Vall?" tanya kak Arf sambil melepaskan pelukannya
"tujuan apa?" tanya Vall balik
Kak Arf menganggukkan kepalanya pelan. itu bukan gesture untuk setuju akan sesuatu, lebih ke gesture yang menunjukan sebuah kekecewaan akan suatu hal.
"kau sudah lupa?"
"bukannya sejak kau ditemukan di danau."
"kau ingin mencari kedua orang tuamu?" tanya kak Arf lagi
Vall masih berniat untuk mencari kedua orang tuanya. Semenjak kedua orang tuanya menghilang sesudah bertemu dengan kakek tua bermata seperti lampu senter.
"aku masih ingin mencari orang tua ku kak." jawab Vall tegas
kak Arf mendengus sambil menutup kedua matanya, setelah Vall memberikan jawaban atas pertanyaannya barusan.
"begini kah usahamu untuk mencari kedua orang tuamu?"
"yang mereka melawan itu Great Player woy."
"dengan kemampuanmu yang cuman segini, kau mau mencari mereka?" tanya kak Arf dengan tegas
Vall jadi bimbang setelah mendengar perkataan kak Arf. Dia dari dulu tidak pernah berfikir hidupnya akan seperti ini. Melawan monster deh, membunuh orang lah, menyelesaikan quest seperti di novel bergenre sistem, padahal dari dulu dirinya tidak pernah merasakan yang namanya sistem selama jadi player di game kehidupan yang tidak jelas ini.
__ADS_1
"lihatlah kehidupanmu yang sekarang."
"kita para player ada untuk menyelesaikan permainan game ini."
"jangan sama kan dirimu dengan manusia di duniamu."
Mendengar semua quotes dari kak Arf membuat Vall lelah. Dia duduk di pinggir ranjang kasurnya untuk mengurangi rasa lelah yang sedang dirinya alami. Mendengar quotes kak Arf membuatnya lebih capek daripada berkelahi barusan.
"aku sedang berusaha kak."
"aku hanya tidak tahu harus mulai darimana ." ucap Vall dengan tatapan yang kosong
kak Arf duduk di sebelah kanan Vall, sambil memegang pundak kirinya dengan cara menjulurkan tangan kirinya. Kak Arf menatap Vall dengan sangat dekat ke mukanya.
"daripada kau mencari kedua orang tuamu yang tidak jelas kabarnya."
"mari ikut aku Vall dengan kakak eL untuk menaklukan game ini."
"kita yang akan mengatur dunia ini dan juga semua player." kata kak Arf
Vall menoleh ke arah kak Arf. Dia melihat langsung ke arah matanya. Vall sedikit bingung dengan perkataan tidak masuk akal yang kak Arf katakan. Menguasai dunia? Mengatur semua player? Untuk apa? Dan bagaimana caranya?
"aku tidak paham dengan perkataanmu kak." jawab Vall
kak Arf menepuk dada Vall sekali. Raut muka kak Art menjadi senang ketika Vall bertanya apa maksud dari perkataannya barusan.
"jika kau bisa memenangkan sebuah event tertentu."
"kau bisa meminta satu permintaan seperti dimana orang tuamu berada."
Vall terkejut mendengar hal itu. Game stress yang ada di hidupnya bisa mengabulkan sebuah permintaan, jika orang tersebut bisa menyelesaikan sebuah event yang telah diadakan.
Dahulu Vall hanya mengira bahwa game aneh ini seperti sebuah perjara. Para player diharuskan untuk menyelesaikan sebuah quest atau membunuh player untuk mendapatkan reward atau kredit score. Jika kredit score habis maka player akan mendapatkan sebuah pinalti yang kejam dari sistem.
Brakk..
(suara pintu dibuka dengan keras)
"Vall."
"mari tidur siang barsama Yuk."
Ireena datang ke rumah Vall setelah lama bersekolah. Dia lagi - lagi memakai baju tipisnya yang biasa disebut Lingerie. Di dunia sihir pakaian seperti itu dibuat oleh player dari dunia manusia yang tinggal di dunia sihir.
Kak Arf dan Vall menoleh ke arah pintu karena gebrakan dari Ireena. Di depan pintu, Ireena menundukkan kepala sambil menutupi badannya dengan kedua tangan. Dia sepertinya malu akan sesuatu.
"maaf tidak jadi." ucap Ireena sambil menuruni tangga
Melihat Ireena yang malu membuat kak Arf melirik ke arah Vall. Dia menatap Vall seperti tatapan orang yang sedang penasaran.
"aku tahu kalo kalian dulunya sering tidur bersama."
"tidak disangka kalo perkembangannya sampai seperti ini."
Mendengar hal itu, Vall langsung membaringkan tubuhnya ke kasur. Dia mengingat waktu pertama kali dirinya dan Ireena bertemu saat mereka berdua masih kecil.
"kita hanya sahabat masa kecil saja kak." jawab Vall
"benarkah? Hanya sahabat?"
"pasti penyebab kau lupa ambisimu salahsatunya karena dia." ucap kak Arf
Entah kenapa. Ketika kak Arf berkata seperti itu dadanya terasa aneh. Rasa malu dan berdebar muncul secara tiba - tiba.
Ketika Vall sedang merasakan perasaan aneh didadanya. Vall melihat jika kak Arf tidak melelas alas kakinya ketika memasuki kamarnya.
"punya adab enggak sih?"
"masuk kamar orang pakai alas kaki." ucap Vall sambil menyuruh kak Arf pergi ke bawah untuk melepaskan alas kakinya.
"maaf - maaf."
__ADS_1
"kakak sengaja tadi." jawab kak Arf lalu berjalan turun ke bawah