Adventure Of Two Worlds

Adventure Of Two Worlds
player pemerintah (1)


__ADS_3

Ting... Ting... Ting...


(suara orang saling menangkis pedang)


Di pinggir jalan kota Agastias terdapat dua orang pria saling berkelahi menggunakan senjatanya masing - masing. Mereka berdua sama - sama menggunakan pedangnya untuk bisa membunuh satu sama lain.


Salahsatu dari mereka ada yang berpenampilan mencolok. Dia menutupi mukanya dengan karung goni tanpa melubangi kedua matanya untuk melihat. Pakaiannya berwarna putih dengan banyak sekali noda darah dimana - mana.


Satunya lagi tidak. Dia pria muda dengan rambut poni sedikit panjang menggunakan jaket kulit coklat dan celana kain berwarna hitam. Wajah kelelahannya terlihat jelas karena tidak tertutupi apapun, tidak seperti lawannya yang mukanya tertutup karung goni.


"Leira."


"aku butuh bantuan." teriak pria itu kepada temannya


Di belakang pria itu. seorang wanita kecil mengarahkan tangan kanannya ke arah pria bertopeng dihadapannya.


"Shadow Spear."


Di sekitarnya muncul bayangan yang memadat membentuk sebuah tombak lalu melesat menusuk pria bertopeng di depannya. Temannya yang sadar jika ada beberapa shadow spear yang akan datang langsung melompat ke arah kiri.


Lima shadow spear itu menancap di tubuh orang bertopeng dan membuatnya tersungkur ke tanah. Shadow spear lalu menghilang menjadi asap setelah menancap ke tubuh orang itu. Darah muncrat membanjiri jalan aspal.


"dikonfimasi." ucap wanita kecil itu


Melihat orang bertopeng goni itu tumbang. Pria berponi itu meregangkan tangan kanannya yang sedari tadi beradu pedang untuk saling menangkis dan menebas. Persendian di bahunya terasa berbunyi saat melakukan hal itu.


"jangan santai dulu Leira."


"monster dari sistem tidak semudah itu mati." ucap pria itu


"kalau kau capek Dazan."


"biar aku saja yang turun tangan untuk menebasnya." sambung wanita kecil itu


Pria bernama Dazan itu tidak menjawab perkataan temannya Leira. Dia hanya meregangkan otot lehernya saja menunggu orang bertopeng itu bangkit atau tidak.


Tubuh pria bertopeng itu bergerak. Kakinya mulai bergetar lalu kedua tangannya dan dia langsung terbangun, meskipun tubuhnya sudah penuh dengan luka.


"Leira."


"kau akhiri saja." ucap Dazan sambil membuang pedangnya


Leira memejamkan mata sambil mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin. Di atas langit muncul bayangan hitam yang terus memadat membentuk sebuah makhluk.


Makhluk itu seperti Grim Reaper dengan matanya yang bersinar merah di langit malam. Sabitnya mulai terbentuk lalu menghantamkannya ke orang bertopeng itu.


Bum...


(suara aspal hancur terkena hantaman)


Dazan yang melihat skill ultimate milih Leira langsung terkejut. Leira tidak menggunakan skill kelas menengahnya untuk membunuh non monster game itu.


Tubuh orang bertopeng itu hancur terbelah menjadi dua dengan tidak rapi. Aspal di jalan yang orang bertopeng itu pijak juga membekas seperti telah dibelah.


"eh Leira."


"bukannya kau berlebihan?" tanya Dazan


Ketika Dazan menenggok ke belakang. Leira sudah terbaring di jalanan aspal. Dia hanya bisa mengacungkan jari jempolnya saja ke arah Dazan.


Dazan jadi khawatir, jika ada warga sipil yang melihat kejadian ini. Semoga saja mereka tidak melihat hal ini. Bisa heboh nanti di berita jika seseorang melihat makhluk seperti malaikat maut di langit malam.


"selamat atas questnya." kata seseorang


Entah darimana datangnya. Orang berjubah hitam dengan menggunakan topeng setengah wajah tiba - tiba muncul di pinggir jalan. Orang itu memakai tudung dan hanya bagian kedua matanya yang tertutupi oleh topeng.


Bagaimana orang itu bisa muncul tiba - tiba di jalanan yang terletak jauh dari keramaian warga. Anehnya lagi jalanan ini sangat sepi dan hanya ada sampah - sampah yang berserakan. Jika ada seseorang datang pasti terdengar suara langkahnya.


"kalian telah menyelesaikan quest pembunuan berantai."


"terimalah reward ini."


Pria itu meletakkan karung kecil di aspal lalu menghilang menjadi angin yang menerbangkan sampah - sampah di tempat itu.


Pria bertopeng karung goni itu juga menghilang bersamaan dengan orang misterius yang telah memberikan reward kepada mereka berdua. Hanya ada bekas retakan seperti aspal yang telah dipotong.


"eh Leira."


"kau tidak apa - apa?" tanya Dazan lalu mengambil karung kecil itu


"badan aku lemas semua."


"apa olahraga malam juga selelah ini ya?" jawab Leira dengan posisi tengkurap

__ADS_1


Dazan menghampiri Leira sambil menyeka keringat di dahinya. Rambutnya basah dengan keringat ketika dirinya menaikkan rambutnya ke belakang agar tidak menganggu pandangannya.


Brum...


(terdengar suara mobil datang)


Sorot lampu mobil berjalan menuju mereka. Mobil itu adalah mobil polisi dengan bagian kap mesinnya yang bertulisan Police. Mobil polisi itu berwarna hitam mengkilat seperti mobil sport di negara sultan.


"Dazan, Leira."


"kalian baik - baik saja?"


Dari mobil polisi itu keluar dua orang pria mengunakan seragam elegan. Jas krim dan celana krim mengkilat dengan pin berwarna emas.


Dua orang itu bernama bapak Truan Jikasa dan bapak Parasa Jamen. Nama mereka tertulis jelas di pin yang sedang mereka pakai.


"pak Truan, pak Parasa."


"selamat malam." ucap Dazan dengan sedikit menunduk


Pak Truan dan Pak Parasa menghampiri Dazan dan Leira, sedangkan Dazan mengendong Leira yang sedang tergeletak di jalanan aspal.


"kalian habis melawan monster?" tanya pak Truan


Dazan yang mendengar pertanyaan pak Truan membalas dengan anggukan, sedangkan si Leira hanya diam sambil melihat ke arah langit malam.


"tolong kalian kerja jangan terlalu berisik."


"masyarakat akan tahu jika ada monster di sekitar mereka." ucap pak Parasa


Dazan menoleh ke pak Parasa setelah mendengar perkataan beliau barusan. Dengan nafas masih terenggah - enggah Dazan mengatakan sesuatu.


"monster yang kita lawan itu Immortal pak."


"kenapa enggak kalian sendiri yang melawannya kalo begitu?" ucap Dazan


Pak Truan merasa bahwa sekarang bukan waktunya yang cocok untuk membahas standar SOP pekerjaan, langsung mengubah topik pembicaraan mereka.


"dek Leira istirahatkan dulu ke mobil."


"maaf kami Dazan."


"kami tahu jika kalian lelah." ucap pak Truan


Leira yang sedari tadi sedang digendong Dazan mulai berbicara. Dia sepertinya tidak nyaman terlalu lama untuk digendong.


"Dazan."


"turunkan aku di mobil."


"keringatmu lengket di bajuku."


Pak Truan langsung berlari ke arah mobil untuk membukakan pintu agar Dazan tidak kesulitan untuk meletakkan Leira di kursi belakang. Diikuti dengan Dazan dan pak Parasa dibelakangnya berjalan.


...****************...


Mobil yang Dazan dan Leira tumpangi berjalan memasuki sebuah pangkalan militer yang berada di kota Agastias.


Di depan pangkalan militer itu dijaga oleh empat orang berseragam militer di gerbang portal sambil membawa senjata api dipunggungnya.


"kau sudah membawa bukti untuk misimu Dazan?" tanya pak Parasa


"aku sudah membawa golok orang tadi pak." ucap Dazan sambil menginjak - injak besi golok itu


Ting... Ting...


(suara golok ketika diinjak)


Dazan melihat Leira sedang tidur. dia tertidur dengan menggunakan paha kiri Dazan sebagai batal untuk kepalanya. pengunaan skill tadi pasti sangat menguras tenaganya.


"kenapa kau tidak sabaran Leira?" ucap Dazan pelan sambil membelai rambut Leira


Pak Truan memparkir mobilnya di tempat yang sepi kendaraan agar ketika akan mengeluarkan mobil tidak akan terjadi kesulitan.


"Dazan."


"kami mau pergi dulu." ucap pak Truan


"tugas orang dewasa itu lebih serius daripada tugas anak muda." tambah pak Parasa


Dazan membuka pintu mobil lalu mengendong Leira menuju tempat rumah sakit di pangkalan militer ini berada.


...****************...

__ADS_1


Distrik militer kota Agastias sudah mengetahui bahwa ada sebuah permainan yang menjerat masyarakat untuk menyelesaikan sebuah quest.


Banyak masyarakat yang menganggap hal tersebut hanyalah sebuah urban legend konyol. Dipikir juga, mana ada sebuah quest yang harus diselesaikan oleh orang tersebut dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri?


Dikarenakan banyak masyarakat yang masih menganggap permainan iblis ini hanya sebuah urban legend belaka. badan keamanan masyarakat jadi mudah untuk memanipulasi ketakutan warga akan hal - hal yang berkaitan dengan game ini.


Tok... Tok...


(suara Dazan mengetuk pintu)


"silahkan masuk." ucap seorang pria tua dari suaranya


"permisi komandan."


"saya ingin melapor." jawab Dazan dengan hormat


Seorang pria tua dengan rambut, jenggot dan kumis tebal berwarna putih sedang duduk di meja kerjanya. Meja kerja beliau kosong dan rapi tanpa ada sesuatu di atas sana seperti berkas - berkas. Hanya ada topi koboy saja yang terlihat di mata.


"bapak Rendra."


"saya sudah menyelesaikan tugasnya."


Dazan meletakkan golok berdarah milik pria bertopeng itu di atas meja dan uang sekarung kecil yang telah dia dapatkan dari Non Player Game.


"bagus Dazan."


"terima kasih atas kerja kerasmu." ucap komandan Rendra


Beliau pemimpin tertinggi dari badan keamanan negara bagian player game. Pemerintah membuat badan keamanan ini untuk melindungi masyarakat dari sasaran quest player game.


Quest game ini kadang menargetkan warga sipil daripada player game sendiri. Hal itu terjadi karena tidak adanya player game yang mengambil quest dari Non Player Game yang berada di kota.


"besok warga akan aman dari rumor ini."


"kasus pembunuhan berantai ditutup." ucap komandan Rendra


Beliau mengambil berkas di laci mejanya lalu mengeluarkan stempel untuk menandai berkas itu. bekas stempel di berkas itu bertulisan closed. Yang diartikan bahwa misi tentang pembunuh berantai yang memakai topeng goni sudah berhasil diselesaikan.


Tok... Tok... Tok...


(terdengar suara ketukan pintu lagi)


"permisi komandan." ucap seoran wanita dari suaranya


"silahkan masuk Shifara." ucap komandan Rendra


Dari pintu yang dibuka. Seorang wanita cantik menggunakan pakai perawat berwarna putih berjalan menuju meja komandan Rendra.


Wanita itu memakai seragam suster sepanjang pahanya tanpa menggunakan rok. Sepatu high heels yang dipakainya membuat suster itu terlihat tinggi.


"player milliter telah menemukan jasad asing."


"jasad itu ditemukan dengan kepala gosong hancur."


"dokter forensik menduga bahwa mayat itu adalah Hobgoblin." ucap suster bernama Shifara


Komandan Rendra mengangguk - angguk setelah mendengar hal itu. Dia memegangi jenggot putihnya sambil menatapi laporan yang telah Shifara beri.


"masyarakat dari dunia sihir yah."


"apa mereka datang ke dunia manusia untuk menjajah?" ucap komandan Rendra


Dazan yang berada disana menjadi tahu bahwa ada dunia lain, selain dunia yang dia pijak. Suster Shifara dan komandan Rendra menyebutnya dengan dunia sihir.


"dunia sihir apa itu komandan?" tanya Dazan


Menurut Dazan. ada quest yang harus diselesaikan dengan taruhan nyawa saja sudah sangat aneh. Apalagi ada dunia lain selain dunia manusia. Hal aneh dan di luar nurul apalagi yang akan terjadi nanti?.


Tok... Tok... Tok...


(suara ketukan pintu yang lain lagi)


"silahkan masuk." ucap komandan Rendra dengan sedikit keras


"bapak komandan."


"gank GREED seperti sudah mulai bergerak."


Orang kedua yang datang setelah suster Shifara adalah seorang pria yang terlihat lebih tua dari Dazan. dia juga berjalan terburu - buru dengan membawa berkas hasil laporannya.


"astaga."


"banyak juga masalah yang harus diselesaikan sekarang." ucap komandan Rendra

__ADS_1


Beliau memasukkan berkas tentang pembunuhan berantai tadi ke laci mejanya. melihat tingkah laku beliau sekarang, sepertinya beliau benar - benar serius menanggapi laporan ini.


__ADS_2