
Kota Agastias adalah kota tempat sekolahan Vall berada. kota dengan fasilitas modern yang mengusung model rumah kekinian.
Ketika malam hari akan muncul beberapa warga Agastias disekitaran kota dengan sebuah Quest untuk para Player Game yang mau menerima Quest dari mereka.
Para Player Game menyebut beberapa warga itu dengan sebutan Non Player Game. Mereka hanya menyediakan Quest untuk Player Game yang berada di kota Agastias untuk mendapatkan sebuah reward.
Quest dari Non Player Game yang berada di dunia manusia itu berbeda dengan Quest yang didapatkan dari Non Player Game yang ada di dunia sihir.
Quest yang berada di dunia manusia dikategorikan menjadi 2 macam : 1. Mengumpulan barang yang tercecer di kota seperti mencari barang yang hilang, 2. Menyewa jasa seperti kita dibayar untuk melakukan sesuatu, meskipun hal yang akan kita lakukan itu membunuh.
"aku pulang."
"dunia lamaku." ucap Vall
Vall diteleportasi di sebuah hutan dekat perbatasan kota. Kelemahan skill teleportasi ini adalah harus adanya kordinat tempat yang akan dikunjungi.
Di dunia sihir, sudah banyak altar tempat teleportasi yang terletak di setiap tempat tertentu yang membuat kordinat skill tidak akan meleset dari lokasi tujuan. sedangkan, di dunia manusia tempat altar untuk melakukan teleportasi sangat jauh dari pusat kota.
Para penyihir tidak berani mengambil resiko dengan membuat altar teleportasi di tengah kota yang padat penduduk. Itu sama saja memberitahu musuh letak lokasi persembunyian kita kepada mereka.
jika ada sebuah altar teleportasi yang dibuat di tempat ramai seperti di kota pasti akan membuat orang bingung. dibenak mereka pasti penasaran, bagaimana bisa ada orang muncul secara tiba - tiba dari tempat itu?.
"sama seperti kemarin malam."
"tidak ada yang berubah."
saat kemarin malam juga Vall kembali ke dunia sihir mengunakan Altar Portal ini. Altar Portal sengaja dibuat di dekat perbatasan kota agar susah untuk ditemukan warga.
Apalagi lokasi Altar yang harus masuk ke dalam hutan terlebih dahulu menambah keamanan Altar Agar tidak ditemukan oleh orang lain.
Vall mengambil buku dan tasnya yang berada di kotak kayu yang tersender di batang pohon. Kotak kayu tersebut sengaja ditaruh disitu agar Vall tidak kerepotan membawa barang - barangnya dari dunia sihir ke dunia manusia.
sesudah memasukkan semua buku dan barang - barang ke dalam Tas. Vall pergi menuju Halte Bus yang tidak jauh dari sini.
"Black Burning Call."
Dia mengunakan skill teleportasi bernama Black Burning Call untuk mengubah struktur tubuhnya menjadi sebuah bara api agar dapat bergerak bebas tanpa dikekang oleh ruang.
Halte Bus yang berada di perbatasan kota Agastias adalah tempat pemberhentian bus antar kota yang membawa penumpang dari kota Agastias ke kota Gratova ataupun sebaliknya.
"akhirnya sampai."
Vall muncul dengan sedikit kobaran api berwarna hitam dibadannya. Untungnya Halte Bus masih sepi jam segitu dari orang - orang yang ingin pergi ke kota Gratova.
Baju dan Tas Vall tidak terbakar. karena mereka dibuat dari sutra monster ulat senja dari dunia sihir yang memiliki kualitas bagus dalam menghantarkan energi sihir penggunanya.
Monster ulat senja adalah monster yang hidup di tanah. Mereka keluar malam untuk mencari makan berupa monster kecil. Sutra mereka diambil ketika mereka menjadi kepompong di dalam tanah sebelum ulat senja menjadi seekor kupu - kupu raksasa.
brum........
(terdengar suara kendaraan datang)
Karena Bus sudah datang dari kejauhan. Vall berdiri di pinggir jalan agar kernet dan supir bus tahu bahwa ada penumpang di pinggir jalan.
"mau kemana dek?" tanya kernet bus itu
"ke kota bang." jawab Vall
kernet bus mengangguk. Lalu, mempersilahkan Vall untuk masuk ke dalam bus. penumpang bus masih sepi dan hanya ada dirinya saja di dalam. Sepertinya bus ini baru saja berangkat untuk mencari penumpang.
di dunia manusia Vall sebisa mungkin ingin keliatan normal seperti orang pada umumnya. Dia tidak ingin memperlihatkan skillnya ke sembarang orang.
Di rumorkan ada badan keamanan khusus yang bertugas untuk menghabisi para Player Game dan para monster di dunia manusia.
mereka sering membunuh para Player Game dan Monster yang berkeliaran di kota saat malam hari. sepertinya mereka bergerak ketika para Player Game sedang menyelesaikan Quest pada malam hari.
"aku jadi bingung."
"buat apa semua ini terjadi?." tanya Vall sambil melihat pantulan wajahnya di kaca bus
Vall menutup kedua matanya lalu membuka matanya kembali. kedua matanya kembali menjadi warna semula, biru dan merah.
melihat kedua mata ini. Vall jadi teringat akan kenangan masa kecilnya bahwa banyak tetangga rumahnya yang suka mencubiti kedua pipinya. Mereka gemas sekali dengan Vall kecil yang imut dengan kedua matanya yang berwarna unik.
"apa yang dicari kakek tua itu dariku?."
Perkataan kakek tua yang dulu pernah datang ke rumahnya masih membekas dibenaknya. Dia jadi teringat kejadian itu karena suasana bus yang sepi membawa ingatannya menuju kenangan masa lalunya.
__ADS_1
...****************...
Vall melihat pria tua itu menodongkan laras senapannya kepada Ayah, Ibu dan juga dirinya. lalu, menekan pelatuk senjatanya.
"baang." ucap pria tua itu
moncong senapan pria tua itu mengeluarkan cahaya putih yang membutakan mata. Cahayanya menerangi seisi rumah bagaikan lampu sorot yang berada di menara mercusuar.
Vall yang melihat cahaya itu langsung memejamkan matanya. Entah apa yang dilakukan oleh Ayah dan Ibunya saat kejadian itu. Dia tidak tahu.
duar........
(muncul suara ledakan)
Rumah tempat tinggal Vall meledak. Ledakan itu sangat dahsyat hingga membuat bangunan rumah hancur berkeping - keping.
"Vall. Kau harus pergi dari sini."
"ikuti petunjuk di peta itu." ucap ibu Vall
Ibu Carmila sedang mengendong Vall. entah bagaimana caranya mereka bertiga bisa selamat dari peristiwa barusan. Rumah mereka saja hancur berantakan hingga sisa puing - puingnya berjatuhan bersama dengan tetesan air hujan.
"aku harus lari kemana Bu?."
"aku tidak mau." kata Vall sambil merengek menangis
ibu Carmila menurunkan Vall dari gendongannya. tubuh mereka berdua basah karena air hujan. Meskipun tubuh mereka sama - sama basah, Ibu Carmila masih bisa melihat air mata anaknya sedang turun membasahi kedua pipinya.
"Carmilla. Kita tidak punya waktu lagi."
"orang ini pasti Player."
"aku sendiri tidak akan mampu melawannya." kata Ayah Vall
Ibu Carmila duduk jongkok agar muka beliau bisa sejajar dengan muka putranya. Beliau memegang kedua pipi anaknya untuk menyakinkannya supaya jangan takut.
"kamu anak yang hebat Vall."
"Ibu percaya. Suatu saat kamu akan membawa sebuah perubahan kepada dunia ini."
"jadi pergilah Vall. Balaskan kematian kita jika kamu mau."
"kami sudah bahagia dengan kehadiran kamu."
Ibu Carmila menangis setelah mengatakan hal tersebut kepada Vall. Entah putranya paham atau tidak paham akan perkataan Ibunya tadi. Beliau hanya ingin menyampaikan semua perasaannya sekarang.
"pergi yah nak."
"jaga dirimu baik - baik."
Ibu Vall lalu berdiri mendekati suaminya. Rambut beliau berubah dari warna pirang menjadi warna putih dengan mata berwarna merah darah.
Ayah Vall merogoh kantong celananya untuk mengambil sesuatu. yang beliau ambil dari saku celananya adalah sebuah cincin 2 biji. beliau memasang 2 cincin itu di masing - masing jari manis tangan kiri dan kanan.
Setelah 2 cincin itu dipakai, muncul partikel cahaya mengelilingi tubuh beliau. Partikel itu membentuk sebuah sebuah tabung di kedua tangannya dengan motif yang sangat unik.
"sihir cahaya yah."
"aku tidak menyangka ada penyihir dari Farvagar disini." ucap pria tua itu
Dia tersenyum ketika melihat sihir yang digunakan oleh Ayah Vall. senyumannya membuatnya terlihat seperti kakek tua psikopat yang telah menemukan seorang mangsa.
"sihir yang kau gunakan tadi juga sihir cahaya bukan?" kata Ayah Vall
Pria tua itu sedikit tertawa mendengar ucapan Ayah Vall barusan. Dia mengangkat topi Cowboynya dan mengarahkannya ke arah dadanya. Itu adalah cara seorang Cowboy untuk merespect orang dihadapannya.
"hampir benar tuan."
"sudah cukup basa - basinya."
"aku akan menangkap anak itu. Hidup atau mati."
Pria tua itu mengarahkan moncong senapannya kepada Vall. Lalu, menekan pelatuknya. Cahaya putih keluar dengan cepat kepada Vall.
"ting."
(suara benda keras ditangkis)
__ADS_1
"tidak akan aku biarkan." jawab Ayah Vall
Cahaya dari senapan itu memantul ke langit katika terbentur oleh perisai Ayah Vall yang muncul di tangannya . Perisai itu terbuat dari sihir cahaya milik Ayah Vall.
boom.......
(terdengar suara ledakan di langit)
"menarik."
"mari hibur aku." ucap pria tua itu kepada Ayah Vall.
Ibu Carmila menoleh kepada Vall. Wajahnya berbeda dari sebelumnya. Wajah beliau berubah menjadi seperti remaja berumur 20 tahunan dengan rambut berwarna putih dan mata berwarna merah.
"patuhi perintah ibu Vall."
Vall kecil yang mendengarkan itu langsung berlari. Dia terkejut dengan penampilan ibunya yang sudah berubah tidak seperti ibunya yang dulu lagi.
Kertas tua yang dikasih oleh ibu Vall ternyata memang sebuah peta, tapi hampir sama persis seperti GPS. gambar di dalam peta memiliki sebuah garis yang menuju ke suatu tempat jika diikuti.
Garis peta itu menuju ke bangunan tua terbengkalai bekas proyek mangkrak yang ada di sekitar sana. dan, berhenti disebuah pintu tua yang ada di bangunan tua tersebut.
Ketika pintu itu dibuka. Di dalam pintu hanya ada kabut berwarna putih sejauh mata memandang. Tidak ada sesuatu hal lain yang ada kecuali warna putih dari kabut itu.
Ketika Vall kecil melangkah memasuki kabut putih itu. Tiba - tiba pintu tertutup dengan sendirinya. dia merasa seperti sedang ditarik oleh sesuatu yang ghaib untuk masuk lebih dalam ke dalam kabut.
(terasa cepat)
(lebih cepat)
(sangat cepat)
Kabut itu seperti menarik Vall kecil dengan sangat cepat hingga sangat dalam. Kepala Vall kecil sampai pusing karena kecepatan yang dia rasakan. Bagai main perosotan yang bergerak dengan kecepatan motoGP.
buk.........
(suara tubuh Vall kecil ketika mengantam tanah)
"Ibu. Tolong."
"suruh buminya jangan berputar."
"Vall jadi pusing." ucap Vall. Sepertinya dia sedang mengigau.
Pandangan Vall menjadi buram karena kepala pusing. Dia merasa seperti masuk ke dalam perosotan dengan kecepatan tinggi. Semakin lama kabut tadi membawanya malah semakin cepat.
ketika kepala Vall kecil masih pusing. Di pandangan matanya yang masih buram dan bergoyang - goyang. Dia melihat ada seorang yang mendatanginya.
"siapa itu?." tanya Vall
Ketika pandangan Vall mulai agak tidak buram. Dia sedikit bisa melihat siapa orang yang ada di depannya.
"dek."
"adek."
(terdengar suara seseorang)
"woy dek."
Vall terbangun dari tidurnya. Di depannya berdiri kernet bus yang daritadi berusaha untuk membangunkan dirinya. Melamun tadi membuat Vall sampai ketiduran.
"iya bang?" tanya Vall
"mau sampai tuh."
"ongkosnya 10 Rybel." kata kernet bis tersebut
Vall yang barusan bangun langsung mengucek kedua matanya. Dia ketiduran gara - gara tadi malam dia kurang tidur. Apalagi Ireena membangunkannya pagi - pagi.
"ini bang. 10 Rybel." sambung Vall
Kernet itu menerima uang Vall dan memberitahunya bahwa bis akan turun di terminal kota Agastias. Setelah itu Vall biasanya akan naik taksi hingga ke sekolahannya.
"omong - omong matamu bagus juga." celetuk kernet bis itu
Vall yang sadar akan hal itu langsung menutupi kedua matanya dengan kanannya. Dia bukan malu tapi tidak mau saja orang lain tahu.
__ADS_1
"makasih bang." kata Vall