
Gelap mulai datang setelah sang matahari turun untuk bergantian dengan temannya si bulan. Langit yang tadinya berwarna abu - abu perlahan berubah menjadi merah lalu menghitam.
Desa Bergendy mulai terang karena cahaya yang dikeluarkan dari rumah - rumah warga oleh lampunya. cahaya dari rumah mereka ada yang berwarna kuning bagai matahari dan juga berwarna putih.
Rasa dingin angin malam datang dengan sepoi - sepoi berserta gesekan antara ranting pohon bergendy yang mengeluarkan suara seperti musik relaksasi. Cahaya bulan terlihat samar - samar menyinari jalanan setapak desa yang tidak terhalang oleh apapun.
"loh Arf."
"kamu kapan datangnya?" tanya nenek Cia
Beliau tadi siang sedang berada di tempat untuk jual - beli karena banyaknya pedagang dari ras monster yang sedang singgah, entah hanya untuk melepas penat atau bertransaksi barang dagang.
Tempat jual - beli di desa Bergendy sedikit berbeda dengan pasar. Tempat itu tidak ada orang banyak yang sedang tawar - menawar atau berlalu - lalang untuk mengecek dagangan di tempat pedagang lainnya.
hanya ada beberapa orang desa yang sedang memilih, apakah ada barang yang bagus yang dapat ditukarkan, dibeli atau dijual dengan barang dagang yang dibawa oleh para monster atau tidak.
"tadi siang nek."
"ikut rombongan pedagang tadi." ucap kak Arf
Nenek Cia menunjuk ke arah alat pemanggang untuk mengambil makanan yang berada disana mengunakan sihir. cahaya berwarna ungu dan biru keluar dari ujung jari telunjuknya lalu melayang terbang menuju ke alat pemanggang.
"permisi."
"nenek. Ireena datang."
Ireena datang mengunakan dress yang berbeda dengan saat dia akan tidur. Dress itu tidak transparan dan berwarna putih kebiruan yang memperlihatkan kedua tulang selangka miliknya. Leher dan bahunya putih mulus seperti kulit yang sudah ditebali dengan sebuah make up.
"silahkan duduk dek Ireena." ucap nenek Cia
Vall dan nenek Cia sudah menunggu makan malam sambil duduk di tempat makan, sedangkan kakak Arf. Dia hanya berdiri di dinding sambil bersenderan dengan mendekapkan kedua tangannya di dada. Kakek Damon belum terlihat sama sekali sampai saat ini.
"Arf. Kau mau jadi pajangan dinding?"
"sini ikutan duduk buat makan bersama."
Nenek Cia menyuruh kak Arf untuk duduk bersama di tempat makan, karena dia daritadi hanya berdiri sambil bersender di dinding. Tiga orang sudah duduk soalnya, kecuali kak Arf sendiri. Kakek Damon tidak dihitung karena beliau tidak kunjung datang.
ketika semua makanan dan minuman sudah berada di meja yang dibawa dengan cara dilayangkan oleh sihir nenek Cia. Kak Arf menjulurkan tangan kanannya tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berada.
Sebuah gelas yang terletak di meja tiba - tiba saja terbang menuju ke tangan kanan kak Arf. Gelas itu tiba - tiba bergetar sebentar lalu bergerak ke tangan kak Arf seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak kasat mata.
"aku cuman mau minum saja nek."
"soal makan, aku akan makan di luar saja." ucap kak Arf
Dia meminum air yang berada di gelas lalu berjalan menuju pintu keluar. Ketika sampai di depan pintu, kak Arf melempar gelasnya tanpa melihat ke arah belakang. Anehnya lemparannya bisa tepat mendarat di tempat gelas yang dia ambil itu.
"jadi sombong kayaknya kakakmu itu sekarang."
"habis jadi bocah petualang sudah tidak mau makan masakan rumahan lagi."
Nenek Cia mengira, jika kak Arf sudah ketagihan masakan alam jadi ketika disodorkan masakan rumahan dia sudah tidak mau lagi. tapi kayaknya sama aja masakan rumahan dan masakan alam. Enggak ada bedanya.
"entahlah nek."
"kak Arf sedang enggak mood makan kayaknya."
Vall kemudian melirik ke arah Ireena. Dia sedari tadi hanya menunduk terus seperti menghindari untuk berkontak mata. Ketika kak Arf sudah pergi, Ireena mulai berani mengangkat wajahnya untuk melihat ke sekitar.
"kenapa kau enggak bilang kalau ada kakakmu tadi?" tanya Ireena dengan suara pelan
"tadi siang? Aku juga baru tahu kalo dia sudah datang di kamar." jawab Vall
Akhirnya hanya tiga orang saja yang makan malam di rumah, sedangkan kak Arf lebih memilih makan malam di luar rumah. Ada beberapa warung yang buka di sekitar desa karena biasanya banyak pedagang atau pelancong yang berkunjung disini.
Entah kemana kakek Damon. Beliau belum terlihat sama sekali sejak tadi siang bahkan belum pulang ke rumah hingga malam ini.
__ADS_1
Sedangkan Ireena ikut makan di rumah Vall karena kedua orang tuanya sedang ada pekerjaan di luar desa yang mengharuskan mereka untuk berpergian jauh selama beberapa hari.
...****************...
Jam di menara desa telah menunjukan pukul 06.30. Suara gemuruh ranting pohon yang bergesek - gesekkan sudah tidak terdengar lagi seperti saat akan memasuki malam hari.
Hanya ada bayangan dari ranting - ranting pohon yang membekas di bangunan dan jalanan desa Bergendy karena pancaran cahaya dari rumah ke ranting - ranting itu.
Di warung yang berada tidak jauh dari rumah yang berada di perempatan jalan. Di tempat itu terlihat banyak orang yang sedang duduk sambil menikmati rokok dan kopi mereka. Ada pula yang membeli makanan seperti nasi goreng atau mie kuah seperti di dunia manusia.
"kak Arf."
"kenapa kakak enggak ikutan makan tadi?" tanya Vall
Vall penasaran, kenapa kakaknya tidak mau makan malam di rumah. Dia tidak mau kakak keduanya ini terkena prasangka buruk dari neneknya jika dia tidak mau makan bersama lagi nantinya.
"tidak kok Vall."
"hanya lagi ingin aja makan di luar." jawab kak Arf
Di tempat ini banyak sekali orang yang sedang bercakap - cakap, ataupun hanya mampir untuk makan atau minum. ada pembeli dari ras manusia dan juga dari ras monster sedang duduk bersama tanpa memandang perbedaan ras satu sama lain.
"sepertinya kau sudah tahu deh."
"penyebabnya." ucap kak Arf sambil menghisap rokoknya
Vall tersenyum mendengar perkataan kak Arf barusan. Sebenarnya dia sudah tahu dengan menebaknya waktu melihat tingkah laku Ireena.
...****************...
Di meja yang dekat dengan tempat kasir. banyak sekali orang - orang yang sedang berkumpul. Di tempat itu ada makhluk ras monster berkulit coklat dengan mulutnya yang seperti moncong serigala dan berambut kusut panjang. Tanpa memiliki bulu dibadannya.
Dia dikelilingi oleh banyak orang yang berbeda ras dengan dirinya. Walaupun begitu, semua orang tetap antusias untuk mendengarkan perkataannya.
"susah sekarang buat berpergian ke tempat lain."
"belum lagi ada perampok juga." ucap si moncong serigala
Monster kecil yang berada didekatnya juga ikutan bicara. Dia menegaskan, jika yang dikatakan si monster moncong serigala memang benar apa adanya.
Dia monster yang mirip dengan hewan anjing dengan bulunya berwarna oren acak - acakan. Yang ikonik dari penampilannya adalah lidahnya yang selalu sedikit menjulur keluar. kadang di bagian kiri dan kadang di bagian kanan.
"betul itu."
"sudah banyak pedagang dari berbagai ras dirampok ketika sedang dalam perjalanan."
Orang - orang disana mengangguk mendengarkan perkataan mereka berdua. Ada juga yang sedang menaruh tangan kanannya di dagu seperti sedang mencari kesimpulan atas fenomena yang telah terjadi.
"Vall."
"nanti malam ikut aku yah?" tanya kak Arf
Vall langsung paham dengan apa yang diinginkan oleh kakaknya. Mereka juga mendengarkan perkataan orang - orang itu. Kakaknya seperti ingin mencoba melawan beberapa Non Player Monster yang telah merampok para pedagang.
"aku nanti jam 7 ada tugas kak." jawab Vall
Kak Arf menyedot rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke atas. Kepulan asap rokok itu membumbung tinggi lalu perlahan menghilang bercampur udara.
"ayo lah Vall."
"sudah 5 tahun kita tidak bertemu."
"dan kau belum menjelajah dunia ini lebih jauh bukan?" ucap kak Arf sambil melihat ke arah Vall
Kak Arf seperti seorang badboy ketika sedang merokok. Tatapannya terasa penuh kharisma ketika dia melakukan kontak mata. Apalagi rambutnya yang hanya tersisa bagian atas saja, sedangkan bagian samping kiri, kanan dan belakang dicukur tipis.
"nilai sekolahku nanti terancam kak." kata Vall dengan nada sedikit sedih
__ADS_1
"sekolah tidak menjamin dirimu untuk sukses Vall."
"sukses itu didapat dari kerja keras dan kerja cerdas dan mau melihat peluang." ucap kak Arf
Vall merenungkan perkataan dari kak Arf. Ada benarnya juga jika sekolah itu tidak menjamin seseorang untuk sukses, tapi jika bersekolah aja tidak menjamin sukses, bagaimana dengan tidak bersekolah? bukannya malah semakin buruk?.
"baiklah kak."
"aku akan ikut denganmu nanti."
"sesekali bolos sekolah kayaknya enggak apa."
Kak Arf tersenyum mendengar perkataan Vall. Dia mematikan rokoknya yang tersisa setengah dengan cara menekan bara apinya ke asbak yang berada di meja.
"nanti malam kita bantai para perampok itu."
"sekalian kita ambil balik barang yang telah mereka rampok." ucap kak Arf sambil menepuk pundak Vall
Setelah berbicara sedikit lama. Kak Arf berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke tempat kasir. Dia sepertinya ingin memesan makanan karena di mejanya tidak terlihat satupun piring atau minuman.
"Vall."
"ingin minta sesuatu?" tanyanya ketika sudah di tempat kasir
"minuman saja kak."
"aku ikut kakak pesan minuman apa." jawab Vall
Kak Arf kembali menuju ke tempat duduknya untuk menunggu pesanan makanan yang sedang dimasakan. Di tangan kanannya, kak Arf membawa sebungkus rokok tanpa filter.
Rokok di dunia sihir di buat dari daun yang sama seperti tembakau. Daun tersebut sama - sama memiliki efek adiktif untuk meringankan beban pikiran bagi penggunanya.
"mau rokok Vall?" tanya kak Arf sambil menyodorkan bungkusnya
"tidak kak."
"merokok itu enggak sehat." jawab Vall sambil mendorong bungkusan rokok
Kak Arf membuka bungkusnya lalu mengesek - gesekkan batang rokok dibibirnya lalu membakar ujungnya. Gunanya rokok digesek - gesekkan di bibir agar kertas rokok tidak lengket di bibir karena rokok yang kak Arf pakai itu rokok tanpa filter.
"merokok sesekali tidak apa loh."
"selama tidak berlebihan." ucap kak Arf lalu menyedot rokoknya dan menghembuskan asapnya
Untuk menghormati kak Arf. Vall hanya tertawa kecil "hehehe." saja. tidak ada minat bagi Vall untuk merokok, meskipun teman - teman di sekolahnya juga banyak yang melakukan itu.
"pesanannya sudah datang." ucap seorang pelayan
Pelayan itu adalah tante Agatha. Dia melayani pembeli di warung ini dengan pakaian biasa, tanpa memakai pakaian seperti maid.
Makanan yang tante Agatha bawa adalah nasi goreng dengan topping mie goreng bertabur bawang goreng dengan tiga timun dan banyak potongan ayam. Yang bikin wow lagi itu nasi seporsi kuli dan dua minum es teh gelas besar.
"enggak minum bir kak?" tanya Vall
"mabuk itu tidak sehat Vall." jawab kak Arf
Vall sedikit kesal dengan perkataan kak Arf barusan. Merokok boleh walaupun sedikit, tapi minum bir tidak boleh. Standar ganda memang.
"bayarnya habis makan saja yah." ucap tante Agatha
Sebelum beliau pergi. Tante Agatha berjalan di belakang Vall dan mengatakan sesuatu. Perkataan itu membuat Vall tersenyum sendiri.
"punyamu besar juga ternya."
"yang tadi pagi."
Ternyata tante Agatha masih mengingat kejadian pagi hari itu. Kejadian yang disebabkan karena ketidaksadaran Vall ketika dirinya melihat di cendela.
__ADS_1