
Vall turun di depan sekolah menengah akhir dengan mobil Taksi, karena bus yang tadi dia tumpangi hanya bisa mengantarnya sampai di Terminal Bus saja, terpaksa Vall harus naik kendaraan lain untuk bisa sampai di sekolahannya. Kendaraan Taksi contohnya.
Di depan gerbang masuk sekolah terlihat banyak sekali siswa dan siswi yang keluar masuk dari sekolahan. Mereka ada yang baru saja sampai di sekolah seperti Vall dan ada juga yang akan pergi keluar. Entah ingin bolos sekolah atau nongkrong di tempat lain.
"akhirnya sampai juga."
Vall keluar dari mobil Taksi dan membayar sejumlah ongkos yang ditunjukkan oleh supir Taksi tersebut. beliau menunjuk nominal yang harus Vall bayar yang tercantum di Argometer Taksinya.
"20 Rybel dek."
"ini bang 20 Rybel."
Setelah Vall membayar ongkos Taksi itu. dia berbalik badan dan berjalan pergi menuju gerbang sekolah. Gerbang sekolahannya sangat besar dengan warna biru seperti warna lautan dan ornamen berwarna emas. Di gerbang itu bertulisan nama sekolahannya yaitu Blue Guardian.
Seragam sekolahan Blue Guardian umumnya berwarna hitam dan putih. Untuk anak siswa seragam sekolahnya menggunakan celana panjang hitam dengan kemeja polos berwarna putih berlengan panjang, ada juga sih jasnya berwarna biru tua bagi yang mau memakainya.
untuk anak siswi seragam sekolahnya tidak jauh berbeda dengan seragam milik anak siswa. Baju berwarna putih lengan pendek dengan rok hitam yang panjangnya sepaha. Dihiasi dengan sebuah pita berwarna biru batik dilehernya.
semua orang yang melewati gerbang sekolah Blue Guardian pasti akan melihat sebuah gedung setinggi 3 tingkat yang memiliki lambang burung Phonix berwarna emas sedang bertengger disebuah perisai berwarna biru. Di bawah lambang itu terdapat tulisan Blue Guardian Scool.
Gedung sekolah Blue Guardian memiliki lapangan yang sangat luas di depannya. Lapangan itu digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler lain. Kegiatan ekstrakurikuler yang paling sering keliatan di lapangan adalah olahraga.
"woy Vall."
"yoi."
Orang yang tadi menyapa Vall adalah temannya. Dia bernama Adalvino Archiles, tapi teman - temannya memanggilnya dengan nama Vino, begitu juga dengan Vall. Dia bernama panjang Vall Claude tapi orang - orang lebih sering memanggilnya Vall karena lebih mudah diucapkan.
Adalvino mendatangi Vall menggunakan sepeda motor sport berwarna hitam. dia berhenti disebelah Vall lalu membuka kaca di helmnya.
"naik Taksi mulu Bro."
"enggak beli sepeda motor?" tanya Adalvino
"santai dulu enggak sih."
"nanti bakal beli kalo sudah mau." jawab Vall
Adalvino sering menanyakan hal ini kepada Vall. Kenapa dirinya tidak pernah membeli sepeda motor, padahal Vall sendiri terlihat mampu?. Adalvino saja tahu kalo seragam yang dipakai Vall itu bahan kainnya bukan dari bahan asli yang diberikan oleh sekolahan. bahannya berbeda.
Kain seragam Vall lebih halus dan mengkilap jika disentuh. Curiga bahwa seragam yang dipakai Vall itu berbahan dasar sutra. anak gabut orang kaya mana yang membuat ulang seragam sekolahnya dari sutra? kalo anak tersebut mempunyai penyakit iritasi kain murah sih wajar saja dia melakukan hal seperti itu.
pernah juga dia menawarkan diri kepada Vall untuk menjemputnya di rumah, tapi Vall tidak mau. Dia lebih memilih untuk berangkat sendiri ke sekolah daripada merepotkan orang lain.
"kalo enggak mampu bilang aja Bro."
"nanti aku belikan motor baru dah. no hutang."
Setelah berkata seperti itu, Adalvino menyalakan sepeda motornya lalu pergi menuju tempat parkir yang berada dibelakang sekolah.
"sepeda motormu dengan seragamku masih mahal seragamku bro." kata Vall
karena Adalvino sudah menancap gas sepeda motornya, jadi ucapannya tidak bisa didengar olehnya. Vall hanya bisa berbicara saja dari jauh meskipun Adalvino tidak mendengarnya.
ding....dung.....
(suara bell sekolah berbunyi)
__ADS_1
Bell sekolah sudah berbunyi menandakan waktunya untuk masuk ke dalam kelas masing - masing. Jam besar yang ada di depan gedung Blue Guardian sudah menunjukan pukul 8 tepat.
Sma di kota Agastias dan sekitarnya jam masuk kelasnya itu jam 8 tepat. dewan sekolah menepatkan waktu masuk jam segitu agar semua siswa - siswi yang bertempat tinggal jauh masih sempat untuk datang tanpa terlambat.
"bagaimana yah keadaan Ireena di sekolah sihir disana?" tanya Vall dalam batinnya
kurikulum sekolah di dunia manusia dan dunia sihir hampir sama, tapi di sekolah sihir terdapat pelajaran lain yang menyangkut pemahaman tentang sesuatu hal yang berbau kesihiran, sedangkan di dunia manusia mana ada pelajaran seperti itu di sekolahan.
Mengingat dulu Vall ketika masih Smp pernah mencoba selama 2 minggu bersekolah di dunia sihir saat dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama di kota Agastias. Itu waktu saat Vall dapat libur ujian tengah semester selama 2 minggu.
sambil memikirkan hal itu. Vall berjalan masuk ke pintu gedung sekolah yang terbuat dari kaca lalu masuk ke dalam kelasnya. Kelas 3C.
"kayaknya aku bakalan mampir lagi kapan - kapan." kata Vall dalam hatinya
...****************...
Di dalam kelas 3C banyak sekali siswa - siswi sedang berbincang - bincang satu sama lain. Mereka saling bergerombol kepada temannya masing - masing dan saling berbicara dan tertawa.
Sekolah Blue Guardian memiliki 3 tingkatan kelas yaitu kelas 1, 2 dan 3 dengan pararel kelas A sampai F. Vall berada di kelas 12 atau Sma kelas 3. Pararel kelas menunjukan seberapa pintar murid di kelas tersebut.
Pararel A menunjukan bahwa kualitas siswa - siswi di kelas sana sangat bagus, sedangkan pararel F menunjukan bahwa kualitas siswa - siswi di kelas sana sangat buruk. Beginilah hirarki yang ada di sekolah Blue Guardian.
Vall duduk di bangku paling belakang dekat dengan cendela yang mengarah ke lapangan. Tas yang dia bawa tadi harus ditaruh di loker besi yang ada di ruangan khusus inventaris masing - masing kelas, agar tidak menganggu kenyamanan murid ketika sedang belajar.
"woi Vall." sapa Adalvino
"yoi Bro." jawab Vall
Adalvino sekelas dengan Vall sekarang, padahal dulu saat masih kelas 1 Sma. Dia dan Adalvino berbeda kelas. Adalvino dulu kelas E sedangkan Vall kelas F. Karena mereka mempunyai nilai akademisi yang bagus ketika naik kelas, maka Vall dan Adalvino bisa naik pararel menjadi kelas C.
"Bro. Kau waktu pulang sekolah ada dimana sih?."
Vall cuman memberi senyuman ke Adalvino sambil tertawa sedikit. waktu sepulang sekolah memang Vall pulang menuju penginapannya, tapi hanya untuk menaruh barang - barang sekolahnya saja, setelah itu dia pergi ke tempat portal yang berada di hutan perbatasan kota untuk kembali ke desa Bergendy.
"sorry Bro."
"aku ada urusan sehabis pulang sekolah."
Adalvino dari dulu ingin mengajak Vall untuk berkendara menggunakan sepeda motornya. Dia ingin menunjukan hal - hal luar biasa saat mereka berkendara nanti.
"baiklah anak - anak. mari kembali ke tempat duduknya masing - masing."
Seorang Guru sudah masuk di kelas mereka. Beliau seorang Guru muda yang berpakaian rapi dengan baju kemeja putih berlengan panjang, berdasi juga tentunya berwarna biru, dan bercelana hitam panjang.
siswa - siswi yang melihat beliau sudah datang, langsung kembali ke tempat duduknya masing - masing, begitu juga Adalvino kecuali Vall karena dia sudah di tempat duduknya.
"selamat pagi semua." sapa beliau
"selamat pagi pak." jawab murid - murid
"silahkan buka buku matematikanya halaman~"
ketika beliau sedang berbicara. Dari luar koridor kelas terdengar suara beberapa murid yang sedang berlari. Injakan sepatu mereka terdengar menggema di koridor sekolahan.
bruak......
(suara pintu kelas dibuka dengan keras)
__ADS_1
"gawat Brother." ucap seorang siswa
Siswa itu bernama Cerino. Dia adalah murid kelas 3C di kelas ini. Entah kenapa, dia keliatan sedang mengkhawatirkan sesuatu. Terdapat peluh keringat di dahinya dan ekspresi mukanya seperti orang yang tergesah - gesah.
"mereka datang woy." ucap siswa yang berikutnya datang, setelah Cerino.
Siswa itu juga berasal dari kelas 3C. Dia bernama Rega. Dia juga sama seperti Cerino. datang ke kelas dengan teriak - teriak akan sesuatu hal.
Ketika mereka berdua melihat ke arah koridor sekolah. Cerino dan Rega langsung berlari masuk ke dalam kelas dan memohon sebuah perlindungan kepada siswa - siswa yang ada disana.
"tolong kita dong gaes." ucap Cerino
"iya dong. Tolong kita." begitu juga Rega
Cerino dan Rega menjelaskan bahwa mereka berdua habis bermain judi kartu. Mereka berniat tidak ikut pelajaran sekolah untuk mencari uang dengan cara berjudi.
Mereka berdua memenangkan sebuah judi kartu, tapi dengan sedikit kecurangan. Mereka dituduh menggunakan sulap kecepatan tangan agar kartu poker mereka lebih cepat habis dari kartu poker orang lain.
"sebentar aku mau cek." ucap Nino. Dia ketua kelas disini.
Nino mengecek baju jas yang digunakan Cerino dan Rega. Dia menemukan beberapa kartu remi yang berada di jas pergelangan tangan dan sakunya. Pantas saja orang - orang itu marah.
"waduh. Ini sudah di luar tanggung jawab kita." ucap Nino sambil mengangkat kedua tangannya
Siswa - siswi di kelas ikutan sambil mengangguk menunjukan Gesture setuju akan perkataan Nino barusan.
"kita Party deh." ucap Cerino.
Cerino menunjukan uang segebok yang berhasil dia dapatkan tadi dari hasil judinya. Uang yang sedang Cerino pegang benar - benar banyak.
"kalo kita selamat, kita bakal party bersama." imbuh Rega
teman - teman Cerino yang mendengar ucapan mereka jadi bersemangat. Mereka berteriak kegirangan karena bakal ditrakter apapun oleh Cerino dan Rega jika berhasil melindungi mereka.
Pak Guru hanya bisa diam kebingungan melihat tingkah murid - muridnya. Mereka tiba - tiba bersemangat padahal tadi tidak begitu. Apakah itu yang disebut power of money?.
"woy bocil bangsat!" teriak seseorang di luar kelas
bruak.....
(suara pintu kelas yang ditendang)
Di luar kelas berdiri 12 orang berbadan besar sedang menunggu di muka pintu. Mereka memasang ekspresi wajah kesal ketika melihat ke arah siswa - siswi kelas 3C.
Dengan gaya mentereng 12 pria itu masuk ke dalam kelas. Pria yang tadi menendang pintu kelas pasti bossnya. Dia berjalan lebih dulu sambil diikuti teman - temannya dibelakangnya.
"mana temen kalian yang brengsek itu."
"berani - beraninya main judi dengan cara curang."
Cerino dan Rega langsung mengumpat di belakang Nino bersama para siswa laki - laki didekatnya. Sedangkan, siswi - siswi perempuan menepikan bangku - bangku yang ada di dalam kelas ke tepi dinding.
"mau apa bang?" tanya Nino kepada mereka
"kita mau kasih tutor biar temenmu itu tidak songgong." jawab pria boss itu
Vall dan Adalvino melihat mereka dari sudut pojok kelas. Vall hanya duduk saja di bangku, sedangkan Aldavino lagi mengencangkan ikatan tali sepatunya.
__ADS_1
Di lapangan sekolah, tergeletak 2 satpam yang tadi pagi sedang menjaga gerbang Sma Blue Guardian. Vall menduga pasti orang - orang ini yang sudah membuat satpam sekolahan itu tertidur di lapangan.
mereka belum tahu bahwa sekolah Blue Guardian itu sekolahan berjiwa kompetitif. bukan hanya di bidang akademisi, tapi juga di bidang perkelahian.