
"Vall. Jika kau punya kesempatan, kau harus pergi dari sini." ucap perempuan berambut pirang itu. Dia adalah ibu Vall.
Vall kecil yang masih bingung dengan maksud perkataan Ibunya hanya bisa memeluk erat kaki kanan ibunya.
Dia kebingungan dengan perkataan pergi. dia harus pergi kemana? Sebab apa dia harus pergi?
"dimana anak setengah iblis itu? Aku hanya ingin mengamankannya." ucap pria tua yang sedang berkunjung ke rumah mereka.
Pria tua itu memakai topi jenis Cowboy seperti seorang Koboi sungguhan dengan jenggot dan kumis putih tebal dan memakai pakaian basah yang menetes di lantai. Matanya bagai hewan buas, pupil hitamnya lebih kecil daripada warna putih bola matanya.
duar......
(terdengar suara petir sedang menyambar)
di luar rumah, hujan sedang turun dengan semakin deras hingga membuat kedatangan orang itu terasa semakin mencekam, disusul suara petir yang menyambar di atas langit.
Kilatan petir barusan membuat raut muka pria koboi itu menjadi menyeramkan. Dia hanya menatap mereka bertiga dengan tatapan dingin tanpa ekspresi sedikitpun diwajahnya.
"apa maumu bung?." ucap pria berambut putih yang sedang berdiri di depan Ibu dan Vall, dia adalah Ayah Vall.
Beliau terlihat seperti seorang Ayah yang sedang melindungi keluarganya dari ancaman orang asing.
ibu Vall mengeluarkan sesuatu dari saku roknya. Beliau memberikan sebuah barang kepada Vall. sebuah kertas berwarna kuning yang terlihat sudah kuno berukuran persegi kecil karena sudah dilipat.
"Vall kamu harus lari. Ikuti saja apa yang ditunjukan di kertas itu yah nak." ucap ibu Vall sambil mengelus kepalanya. Beliau menunduk untuk mencium kepala Vall.
Vall merasakan sebuah firasat buruk, bahwa hal yang sedang dia alami sekarang seperti di film - film yang sedang menunjukan bahwa alur konflik akan dimulai.
"jika bapak, ibu tidak mau memberikan anak itu kepadaku, maka akan aku ambil sendiri." ucap Pria bertopi koboi itu.
Dia mengangkat tangan kanannya ke arah belakang punggungnya, seperti orang yang akan mengambil sesuatu.
Di belakang punggungnya muncul partikel cahaya berwarna putih sedikit biru muda yang sedang berkumpul, setelah itu di tangan kanannya muncul sebuah senapan Shotgun yang terbuat dari logam perak, padahal tadi di belakang punggung tidak ada senjata apapun yang sedang dia bawa.
"Carmila. Awas." teriak Ayahku
Pria bertopi koboi itu menodongkan senjatanya kepada mereka bertiga lalu menekan pelatuknya.
Cahaya berwarna putih keluar dari moncong laras senjata yang dia pegang. Cahaya itu membuat pandangan menjadi silau lalu disusul dengan ledakan yang dahsyat.
"Vall."
"Vall."
(terdengar seseorang memanggilnya)
"Vall."
"Vall. Sadar dong, jangan melamun terus." ucap Ireena sambil mencubit pipinya
Vall langsung tersadar dari lamunannya. Dia lupa jika sekarang waktunya sedang sarapan pagi. Nenek Cia dan Ireena sedang melihati dirinya, mungkin mereka bingung dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Vall saat sarapan sekarang, sedangkan kakek Damon tidak memperdulikan hal itu. beliau lanjut saja makan dengan lahap.
"ada sesuatu yang dipikirkan Vall? Apa tentang orang tuamu?." ucap nenek Cia. Beliau lalu mengambil nasi dengan sendok besar yang terbuat dari kayu menuju ke piringnya.
"enggak apa Nek." ucap Vall sambil mengelengkan kepala
Ireena yang mendengar bahwa Vall sepertinya memiliki kenangan buruk tentang orang tuanya di masa lalu memilih diam tidak menanyakan hal barusan.
Dia tidak mungkin menanyakan hal itu kepada Vall, meskipun dirinya penasaran. Apa yang sudah terjadi kepada kedua orang tua Vall di masa lalu.
__ADS_1
"waktunya makan. Jangan bicara kesana kesini." ucap kakek Damon.
Beliau mengambil sendok besar yang berada dinampan besi untuk mengambil nasi lagi. Beliau sepertinya sedang lapar hingga menambah porsi makannya.
Vall yang mendengar ucapan kakek Damon hanya bisa tersenyum. Dia lalu minta maaf karena sudah menganggu waktu sarapan pagi ini.
"akan aku cari kau pak tua koboi sialan." ucap Vall dalam hatinya.
Tangan kanannya yang berada di bawah meja mengepal kuat mengingat kejadian waktu itu yang membuat dirinya berpisah dari kedua orang tuanya.
"oh iya Ireena."
"Vall keliatan hanya memakai ****** ***** oleh tante Agatha tadi, waktu dia menghirup udara luar di cendela." ucap kakek Damon
Ireena yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah kakek Damon. Matanya terlihat penasaran dengan kejadian barusan yang diceritakan oleh kakek Damon kepadanya.
"eh iya kah?."
"aku kok engga sadar sih?."
"aku tarik saja tadi selimutnya." ucap Ireena sambil melihat ke arah Vall.
Vall yang mendengar kakek sudah menceritakan kejadian tadi hanya bisa diam. Dia mencoba untuk tetap cuek akan hal itu, meskipun dia merasa sedikit malu sampai tidak mau menatap ke arah Ireena.
Siapa coba yang tidak malu jika hal seperti itu diceritakan? Ke teman perempuannya sendiri juga?
"dasar pengadu." ucap Vall
Nenek Cia merasa sedikit kesal dengan kelakuan suaminya. Dia menyuruh orang lain untuk diam saat sedang makan, malahan dia sendiri yang mengkompori orang lain saat sedang makan untuk berisik.
"kau ini suruh orang lain enggak boleh berisik, tapi malah ajak orang makan buat berisik juga."
"yang sudah makan serahlah mau ngapain."
"aturan tadi hanya untuk orang yang sedang sarapan saja."
setelah berkata begitu, kakek Damon berjalan ke toilet. Vall paham pasti kakeknya sedang membuang hasil makannya tadi yang barusan beliau makan.
Terkadang ada orang yang habis memasukan makanan ke dalam perutnya lalu langsung mengeluarkannya lagi setelah sudah selesai makan.
setelah kakek Damon pergi menghilang ke arah belakang rumah untuk melakukan kegiatannya. Mereka bertiga melanjutkan sarapan paginya karena waktu sudah berlalu.
Vall dan Ireena juga memiliki kegiatan penting masing - masing saat pagi hari tiba, begitu juga dengan nenek Cia. Waktu mereka jadi terpangkas karena sedikit bercanda waktu itu.
...****************...
jam yang berada di menara kayu desa Bergendy menunjukan pukul 08.00 pagi, meskipun matahari sudah muncul, tapi suasana desa Bergendy hanya sedikit terang karena ranting pohon yang berada di desa ini sebagian menutupi pancaran sinar matahari untuk menyinari desa.
Para warga Desa Bergendy memiliki banyak sekali profesi : dari bertani, berternak, membudidaya ikan, dan membuat obat dengan efek tertentu bahkan berpetualang.
warga yang memiliki profesi yang membutuhkan cahaya matahari seperti bertani dan berkebun harus membuka lahan terlebih dahulu, dikarenakan cahaya di desa Bergendy terhalangi oleh rimbunnya ranting pohon yang ada.
Untuk warga yang berprofesi lain juga memiliki resiko tersendiri. Jika budidaya ikan maka harus selalu waspada dengan monster yang akan selalu menyerang dari air, darat atau udara.
Untuk warga yang berprofesi sebagai berternak harus selalu menjaga hewan mereka dari predator monster yang siap untuk memangsa ternaknya.
"Vall aku berangkat." ucap Ireena
"dadah Ireena." jawab Vall
__ADS_1
Setelah sarapan pagi di rumah Vall. Ireena kembali pulang ke rumahnya untuk mandi dan berangkat ke sekolah.
Ireena masih duduk di kelas 2 SMA meskipun umurnya sudah sekitaran 30 tahunan. seingat Vall dia berumur 34 tahun atau lebih.
Ireena berada di altar portal yang biasa digunakan oleh warga desa Bergendy untuk pergi berteleportasi ke kota lain.
Dia menggunakan seragam sekolah berupa Dress berwarna merah yang dipadukan warna putih dan hitam dengan rok panjangnya selutut, tanpa lengan.
Untuk menutupi ketiak para siswinya, sekolah juga memberikan setelah baju sepanjang badan yang bagian atasnya terdapat rompi berwarna hitam dan putih dengan tali pita dibagian keranya.
"sudah siapkah adik Ireena?." tanya seorang kakek tua yang sedang berdiri di dekat altar portal
Beliau adalah seorang penyihir yang memiliki kemampuan untuk menteleportasi seseorang menuju tempat lain.
sihir teleportasi beliau mengandalkan sebuah kordinat untuk bisa sampai ke tempat yang akan dituju.
Kordinat yang dimaksud itu seperti sebuah tanda untuk tempat tertentu. Beliau mengunakan altar portal sebagai kordinat yang menghubungkan altar portal satu dengan altar portal yang lain.
Jika penyihir melakukan teleportasi tanpa mengetahui kordinatnya, maka teleportasi akan terjadi kemelesetan dari lokasi tujuan. maka dari itu, para penyihir harus mengunjungi tempat yang akan mereka lakukan teleportasi untuk mengetahui kordinatnya, meskipun sudah mengunjungi tempatnya, terkadang lokasi teleport masih bisa salah.
"sudah siap Kek." jawab Ireena
beliau merapalkan mantra lalu memejamkan matanya. altar portal itu langsung menyala dan bersinar terang. Sebelum cahaya portal itu membawa Ireena pergi, Vall melihat Ireena sedang melambaikan tangan kepadanya.
"hati - hati di jalan Ireena." ucap Vall meskipun Ireena sudah menghilang diteleportasi menuju ke kota.
Vall jadi teringat jika di dunia manusia ada hal sama seperti ini yang disebut dengan Ojek, tapi bedanya Ojek di dunia sihir untuk mengantarkan penumpangnya menggunakan cara yang lebih Mind Blowing.
"Vall enggak berangkat sekolah juga?."
"Ireena sudah berangkat loh."
" Kamu jam berapa?." tanya beliau
Karena terjadi perbedaan waktu antara dunia manusia dan dunia sihir, hal itu membuat Vall jadi sedikit lebih santai akan waktu masuk sekolahnya. Dilatasi Waktu itulah mengapa waktu dunia manusia dan dunia sihir berbeda. Teori Albert Einstein mengatakan bahwa waktu itu tidak absolut. Waktu ada ketika kita mengukurnya.
"bentar lagi kok Kek." jawab Vall
penjaga portal desa Bergendy adalah kakek Gerome. Beliau dulunya adalah seorang penyihir hebat saat masih aktif menjadi Player Game. Tapi sekarang, beliau memutuskan untuk menjauh dari dunia seperti itu. Penampilan beliau sudah tua dengan kulit yang sudah kendor dan rambut dan jenggot berwarna putih.
Beliau sudah lelah untuk saling bertarung dan membunuh hanya untuk mendapatkan sebuah reward. Kakek Gerome merasa bahwa reward yang dia dapat sekarang sudah cukup untuk memenuhi sisa - sisa keinginannya sampai dirinya wafat.
"cepetan yah Vall."
"kakek bakalan pergi setelah ini."
"kalo kakek sudah pergi, kamu harus pakai batu portal buat ke dunia manusia." kata kakek Gerome sambil memegangi janggutnya
Vall yang tahu kalo kakek Gerome akan segera pergi langsung masuk ke rumah untuk mandi. lalu, bersiap memakai seragam sekolahnya.
Jika tanpa bantuan sihir kakek Gerome untuk datang ke dunia manusia. Cara lainnya dengan menggunakan batu portal, tapi batu portal memiliki sebuah kelemahan yaitu lokasi kordinat yang pasti tidak tepat. karena batu portal hanya digunakan untuk datang ke lokasi yang dimaksudkan, jadi orang yang memakainya tidak dapat memilih dia akan muncul di tempat apa.
"sudah kek." ucap Vall ketika sudah selesai berganti seragam sekolahnya
Kakek Gerome menyuruh Vall untuk berdiri di altar portal. Lalu beliau merapalkan mantra untuk melakukan sihir teleportasi.
Sebelum Vall berteleportasi. Dia mengusap kedua matanya dengan telapak tangan kanannya. Dia tidak mau matanya yang memiliki warna berbeda diketahui oleh orang lain.
"selamat jalam Vall." ucap kakek Gerome
__ADS_1
Cahaya berwarna putih muncul dari lantai altar portal. Bersinar terang berwarna putih lalu menghilang membawa Vall pergi.