Adventure Of Two Worlds

Adventure Of Two Worlds
sekolah (2)


__ADS_3

"sorry deh bang."


"kalo tidak mau kalah yah jangan main judi dong." ucap Nino


"temanmu curang woy."


"beda cerita kalo enggak curang."


Abang itu berkata dengan ngegas sambil menunjuk - nunjuk ke wajah Nino. Dia benar - benar tidak terima akan kekalahannya tadi. Apalagi ada orang yang masih membela pelaku yang jelas - jelas salah disini.


"salah sendiri otak enggak dipakai." tambah Cerino


"makanya jangan tolol bang."


"kalo enggak bisa judi, mending main monopoli aja." tambah Rega juga


Di belakang abang itu. Teman - temannya sepertinya sudah tidak sabar. Ekspresi mereka seperti orang yang sudah kelamaan menunggu antrian untuk membeli belanjaan di toko sembako. keliatan marah dan kedua kaki mereka tidak bisa diam di tempat.


Nino menatap abang itu dari atas sampai bawah. Pakaiannya biasa tidak ada ciri khas khusus atribut gank lain yang mereka pakai. mereka seperti orang yang habis pergi nongkrong dari suatu tempat.


Setiap Gank pasti memiliki ciri khas khusus untuk membedakan mereka semua. Sekolah Blue Guardian jika akan tawuran sekolah pasti selalu memakai atribut lengkap dengan jasnya yang berwarna biru tua.


Atribut lengkap itu harus dipakai ketika akan tawuran sekolah untuk membedakan antara siapa yang kawan dan mana yang lawan. Tidak mungkin juga bukan? Jika seluruh siswa sekolah saling mengenal satu sama lain saat sedang tawuran?.


"kau ajak berkelahi hah?." ucap abang itu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nino


Wajah Nino dengan wajah abang itu saling bertatapan. jarak pandangan mereka berdua jika diperhatikan hanya sejengkal tangan saja.


Tinggi Nino jika diukur dengan tinggi abang itu. Dia setinggi hidungnya. Pasti orang - orang ini adalah seorang pengacara. Pengangguran banyak acara. Perawakan orang dewasa tapi kelakuan kayak brandalan.


"maaf bang."


"kalian kesini ada apa yah?." tanya pak guru


bruak......


(suara badan beliau ketika ditendang)


"berisik kau bangsat."


Baru saja bertanya. Pak guru langsung ditendang oleh abang itu. Beliau terpental menatap ke meja yang sudah ditaruh dipinggir tembok oleh para siswi tadi.


"wihhhh."


"sakit pasti."


"pastinya deh." ucap para siswi yang melihat dari belakang


Vall dan Adalvino cuman bisa diam saja melihat hal itu. Di lain sisi kasihan juga, seorang guru yang ingin membuat murid - muridnya pintar malah jadi babak belur seperti itu. Semoga beliau dikuatkan jiwa dan raganya.


"kau ingin berkelahikah?" tanya Nino


"aku juga sudah muak dengan basa - basimu." jawab abang itu


Mereka berdua sama - sama mengepalkan kedua tangan. Saling bertatap mata dengan pandangan yang tajam, bahkan tarikan nafas yang mereka keluarkan bisa dirasakan. Tarikan nafas yang menunjukan bahwa adrenalin sedang terpacu.


murid siswi yang berada di belakang kelas langsung menyeret bapak Guru menuju ke belakang. Mereka tidak mau beliau terkena baku hantam lagi setelah ini.


"silahkan kau mulai duluan."


"kau yang mulai duluan."


Abang itu menarik lengannya ke belakang lalu menghantamkan tinjunya ke muka Nino, tapi Nino menghindari pukulan itu lalu menghajar balik ke wajahnya.


Diikuti abang - abang yang ada di luar koridor langsung berlari masuk ke dalam kelas. Mereka berniat membantu temannya yang sedang berkelahi.


"hajar."


para siswa yang dari tadi hanya diam, melihat adu mulut antara Nino dan abang itu langsung ikutan maju. sudah bosan kayaknya mereka hanya menonton acara adu mulut yang tidak jelas ending episodenya.


bruak....pruak....cetuak....


(suara benda dilempar dan dibanting)


Perkelahian antara orang baru dewasa dengan anak sekolahanpun terjadi.


Murid siswa kelas 3C berjumlah 16 orang, tapi berkurang 2 orang karena Vall dan Adalvino sedang mengobrol dibelakang, sedangkan abang kalah judi dan teman - temannya berjumlah 12 orang.


bak...buk...bak...


(suara badan saat terkena pukulan)

__ADS_1


suara saling jual beli pukulan terdengar jelas di dalam ruangan, sampai murid dari kelas lain yang sedang dalam pembelajaran ikutan menonton gara - gara suara gaduh yang sangat menganggu dari kelas 3C.


"mampus kau dek."


"kau yang mampus bang."


Mereka saling memukul, menendang untuk membalaskan temannya yang sudah kena pukulan. Ada yang terpental hingga menatap meja di dinding kelas sampai dibanting ke lantai juga.


"ayo dek."


"gitu aja kemampuanmu." ucap abang itu kepada Nino


Nino berfirasat, bahwa orang yang sedang beradu pukulan dengannya ini adalah pentolan dari abang - abang ini. power pukulan dia terasa berat begitu juga dengan tendangannya ketika sedang ditangkis.


buk....


(suara pukulan keras ke perut)


Pukulannya mengenai perut Nino lalu ditambah lagi dengan pukulan ke samping menuju pipi sebelah kanannya.


Pak...


(suara pukulan ke wajah)


abang itu meregangkan kedua pergelangan tangannya seusai memberikan 2 pukulan kepada Nino. Muka mereka berdua sedikit lebam dengan mulut bibir sedikit berdarah dibagian kanan.


"hebat."


"orang - orang ini tangguh juga ternyata." ucap Adalvino


Vall menyangka pasti orang - orang ini adalah Player Game. Salahsatu keuntungan menjadi Player Game adalah memiliki kekuatan diatas manusia normal.


abang - abang itu bisa membuat kewalahan anak kelas 3C. Mereka hanya berkelahi dengan tangan kosong, sedangkan siswa yang lain menggunakan apa yang ada sebagai senjata seperti kursi dan meja juga.


"woy para gadis."


"jagain ini dulu." teriak Cerino


Dia melempar tasnya yang tadi dia bawa. Tas itu berisi uang hasil judinya yang berhasil dia dapat waktu itu.


Cerino langsung maju menghajar beberapa orang yang ada di depannya. Diikuti dengan Rega di belakangnya. pukulan dan tendangan mereka berdua serasi.


Jika Cerino menghajar bagian depan pasti Rega akan melindungi bagian belakang Cerino, begitupun sebaliknya. Mereka berdua seperti sepasang sahabat yang sudah lama berkelahi bersama.


"sepertinya saatnya turun tangan." ucap Adalvino sambil menepuk pundaknya


"duluan saja deh."


"aku ikutan kalo suasana mulai memburuk." sahut Vall


Adalvino berjalan maju pelan - pelan lalu memukul wajah mereka satu persatu. Dia menendangi semua orang yang keliatan sedang menghajar teman sekelasnya.


"makan ini woy."


"makan ini bangsat."


Teman kelas yang sudah dibantu oleh Adalvino langsung berterima kasih. Mereka berterima kasih sambil memegangi bagian tubuh mereka yang sedang sakit.


Di lain sisi. Nino masih jual beli pukulan dengan abang boss itu. Mereka berdua awal - awal imbang, tapi lama kelamaan Nino terlihat sedang kewalahan.


"kau tangguh juga bang." kata Nino


"kau juga meski selevel bocah." jawab abang itu


Vall yang daritadi hanya duduk di bangkunya mulai merasa kalau sekarang saatnya. sedangkan di belakang banyak para murid siswi sedang merekam dan memfoto kejadian tersebut.


"apa boleh buat."


Vall berdiri dari kursinya dan mendorong tempat duduknya ke samping dinding. Hal itu dimaksudkan agar tempat duduknya tidak jadi objek senjata saat perkelahian nanti.


"baiklah aku bakal ikut~"


Ketika Vall akan berlari untuk menghantam kepala salahsatu orang. Dari koridor, para siswa dan siswi yang sedang melihat perkelahian itu sedikit demi sedikit mulai pergi.


"ayo disudahi pestanya."


Orang yang datang itu ternyata salahsatu anggota Osis. Dia seorang perempuan berambut coklat panjang sepunggung dengan kacamata berwarna merah. murid - murid mengenal kakak itu dengan nama Marcela.


Kak Marcela adalah salahsatu anggota Osis yang masih menjabat sebagai komite kedisiplinan. Jabatannya akan segera digantikan oleh anak kelas 3 sekarang dalam waktu 3 bulan lagi.


"siapa lagi kau?" ucap orang yang tadi melawan Nino

__ADS_1


Semua murid yang ada di luar koridor dan di dalam kelas fokus melihat kak Marcela. Apa yang sedang dia lakukan disana? Di antara segerombolan pria?


"maafkan atas kelakuan murid Blue Guardian."


"mungkin saya bisa menengahi masalah ini?."


Dari belakang. temannya orang yang tadi berkelahi dengan Nino menyentuh pundak kak Marcela.


"perempuan sebaiknya jangan menganggu."


Buk....


Buak....


(suara pukulan dan bantingan)


Kak Marcela langsung memukul ulu hati pria yang memegangnya lalu membantingnya ke lantai.


"menyentuh wanita tanpa izin itu pelecehan namanya."


Semua orang yang menyaksikan hal itu langsung terkejut. Ternyata nama anggota Komite Kedisiplinan itu bukan cuman tittle belaka. contohnya kak Marcela bisa mendisiplinkan orang yang sedang melecehkannya barusan.


"kita cuman ingin memberi pelajaran ke salahsatu anak yang kurang ajar." ucap salahsatu orang


Kak Marcela yang mendengar itu langsung melihat ke arah para siswa yang tadi sudah berkelahi. sepertinya dia sedang mengamati siapa anak yang kurang ajar tersebut dari reaksi mereka.


"apa yang sudah mereka lakukan?" tanya kak Marcela


"dia main judi pakai cara curang." ucap salahsatu orang lainnya


"kami akan rugi jika ada orang yang curang dalam permainan kami." tambahnya lagi


Cerino dan Rega langsung berbalik badan bertingkah seperti orang bodoh yang tidak tahu apa - apa tentang hal itu, sedangkan kak Marcela sudah tahu sepertinya mereka berdua yang bertanggung jawab akan hal ini.


"baiklah aku bayar 500 rybel."


"untuk ganti rugi itu."


Kak Marcela langsung mengeluarkan uang kertas 100 rybel 5 lembar dan melemparnya ke lantai. Dia tidak mau tangannya bersentuhan dengan pria yang sedang dia ajak bicara.


Uang di kota Agastias itu bernominal kecil, bukan bernominal ribuan. Jika uang biasa itu bernominal 1000, 2000, 5000 tapi berbeda dengan uang kota Agastias yang bernominal dari 1 rybel, 2 rybel, 5 rybel.


semakin kecil nominal mata uang suatu kota menandakan bahwa kurs mata uang negara itu sangat makmur, hingga bisa menurunkan nilai moneter uang mereka agar masyarakat bisa dengan leluasa membelanjakan uangnya.


"kalian mau uang lebih?"


"setelah menghancurkan inventaris sekolahan ini?." ucap kak Marcela


Mendengar perkataan kak Marcela orang - orang itu merenung. Mereka lebih memilih mengambil uang yang tergeletak di bawah lantai lalu pergi.


"bang Grav."


"kita pergi begitu aja?" tanya salahsatu temannya


orang yang tadi berkelahi dengan Nino, dia bernama Grav. Pria berbadan sedikit kekar dengan potongan rambutnya yang keliatan sangar. Rambut poninya saja yang dipanjangkan.


"sudahlah."


"kita pulang."


"jangan babak belur sia - sia hanya untuk melawan anak Irreguler."


Bang Grav langsung berjalan keluar dari kelas 3C dengan sedikit luka memar diwajahnya, sedangkan siswa kelas 3C banyak yang tergeletak di lantai kelas sambil memegangi perut masing - masing.


"kalian kelas 3C."


"waktu jam pelajaran sekolah kalian diganti malam hari."


"besok malam hari. kalian pergi ke toko cabang milik sekolah untuk belajar praktikum." ucap kak Marcela


Sebelum dia pergi. Kak Marcela mendatangi Cerino dan Rega, lalu menghajar mereka berdua hingga terpental ke tempat para siswi yang ada di belakang kelas.


"jika kalian bikin masalah lagi."


"kalian semua bakalan kena ospek."


Setelah berkata seperti itu. kak Marcela berjalan keluar kelas dan menyuruh murid - murid yang masih ada di koridor untuk masuk ke kelasnya masing - masing.


Vall dan Adalvino terkagum dengan pukulan kak Marcela barusan ketika memukul Cerino dan Rega. Dia seorang perempuan, tapi tenaganya kuat sekali.


"sebutan anak Irreguler sekolah ternyata bukan sekedar dongeng yah." batin Vall

__ADS_1


Vall penasaran. Apa yang dilakukan oleh mereka di kelas khusus yang tidak boleh sembarangan murid masuk ke sana? Di pintu yang menuju ke tempat itu saja banyak sekali tulisan Do Not Enter.


__ADS_2