
Sehari sebelum camping, aku pergi kesalah satu mall dikota ini. Aku pergi bersama buk Tina. Buk Tina ingin membelikanku jaket tebal untuk ku bawa camping. Aku sudah menolak berulang kali untuk tidak menerimanya, tetapi buk Tina bersikeras ingin membelikannya untukku.
Sesampainya di mall, Aku dan buk Tina lansung memasuki store pakaian. Buk Tina menggenggam tanganku menuju ke area baju musim dingin. Ada beragam jaket berbahan wol dengan beraneka motif dan warna disini.
"Lulu apakah yang seperti ini kamu suka?" Tanya buk Tina sembari memperlihatkan jaket berwarna orens kepadaku.
Aku menganggukkan kepala, kemudian memegang jaket tersebut, bahannya sangat lembut jika dikenakan pasti akan terasa hangat.
"Kamu suka?" Tanya buk Tina
"Suka bu, tapi warnanya lebih baik yang netral aja" tutur ku
"Warna netral,,, (buk Tina mengatakannya berulang kali sembari membolak - balikkan jaket yang tertata dikeranjang)
"Nah ketemu, yang putih aja ya. kalau yang hitam nanti kamu malah dikerumunin nyamuk" senyum buk Tina
Aku menyukai warnanya.
Buk Tina memilih beberapa baju kasual untuk dikenakan sehari - hari. Disaat buk Tina memilih baju, aku tak sengaja melihat kak Jason.
"Sama siapa dia?" tutur pelanku
"Lulu, lihatin apa?" tanya buk Tina
"haa? gak papa buk, ibuk udah selesai?"
"Udah sayang, tinggal bayar. kamu disini dulu ya, ibuk ke kasir bentar" Jawab buk Tina
Buk Tina menuju kekasir, aku masih melirik kekiri dan kekanan mencari Jason.
"Apa yang dia lakukan dikota ini? Bukannya kak Mimi sudah kembali kekampusnya" lirihku
Buk Tina selesai membayar.
"Lulu kita makan dulu aja disini, kamu mau makan apa?" Tanya buk Tina
"Kita makan dirumah aja buk, lagian tadi ibuk kan udah masak banyak juga" tutur ku
"ihhh kamu ini, kan kita udah dimall. Sekalian nikmati makanan disini aja. Ibuk juga dari dulu pengen nyoba itu, apa ya namanya. Makanan jepang itu.."
Buk Tina terlihat kebingungan. Aku tertawa kemudian berkata,
"Maksud ibu sushi?"
__ADS_1
"Nah iya itu sushi, kemarin pak Koko bilang habis makan shusi bareng teman kantornya. ya... ibuk kan pengen nyobain juga" tutur buk Tina sembari menggaruki kepalanya
Aku pun mengajak buk Tina ke restoran yang menyediakan sushi. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai ikan mentah seperti itu. Rasanya aneh dilidah ku.
Kami memesan semua menu yang ingin dimakan buk Tina. Pesanan kami sampai setelah menunggu sekitar 20 menit. Buk Tina mulai mencicipi satu persatu jenis sushi.
"Gimana buk?" Tanya ku
Ekspresi buk Tina sudah tergambar jelas kalau dia menyukainya.
"Enak kok Lu, tapi ini apaan ya? kok pedas gitu" tutur buk Tina sembari menunjuk mangkok kecil
"Ini namanya wasabi buk, kalau yang ini namanya shoyu. Ibuk boleh pilih sendiri sushinya mau dicocolin saus yang mana" tutur ku
Buk Tina menganggukkan kepalanya, mengambil satu sushi dan mencocolnya ke shoyu.
"Wahhhhh.... Rasanya enak Lulu. Kamu juga makan sayang" ucap buk Tina
Aku juga ikut mencoba satu persatu sushi. Suasana di restoran ini sangat tenang.
Setalah selesai makan kami membeli sedikit cemilan untuk dibawa pulang buat pak Koko. Tanpa terasa hari sudah malam, memang kalau berada didalam mall pergantian siang dan malam pun tak terasa.
Keluar dari mall, kami menunggu busway dihalte depan mall. Sembari menunggu busway datang buk Tina menelpon pak Koko. menyuruh untuk menjemput kami dipemberhentian halte dekat kosan.
Titttt tiiitttt tittttt
Aku menoleh melihat lampu mobil mengarah kearah kami duduk. Suara klakson mobil dibunyikan berulang kali.
Tanganku mulai gemetar,
Brakkkk
Titttttttttttttttttttt
Aaaaaaa, Tolonggg...... Tolo..ngghh
Mobil itu menabrak pengendara sepeda motor di depannya. Buk Tina berteriak kemudian berlari menolong anak kecil yang tergeletak dijalan yang sudah bersimbah darah.
Kejadian itu terulang kembali tepat didepan mataku. Buk Tina memanggilku berulang kali menyuruh ku untuk membantu anak kecil itu.
Tapi......
Aku... kaki ku tak bisa melangkah.
__ADS_1
Aku menangis, kembali mengingat kejadian malam itu.
******
Taman Kota, tahun 2013.
"Kak aku mau makan semua cemilan yang ada disana" tutur ku
"Iya sayang, Anna mau apa aja nanti tinggal pilih, biar kakak yang bayar" tutur Ray
Ray Marley kakak aku satu - satunya. Ray Marley orangnya sangat lembut, selalu menuruti semua yang aku inginkan. Usia kami berjarak 5 tahun.
Dari kecil setiap harinya aku selalu mengikuti kemanapun kakak pergi. Mama dan Papa selalu menyuruhku untuk diam dirumah, karna kalau ikut pasti bakal ngerepotin kakak.
Sewaktu kecil aku sangat nakal, selalu menjaili teman - teman kakak. Karena itu Mama sering tidak memperbolehkan aku ikut setiap kakak keluar bareng temannya.
Tapi, semenjak kakak kuliah tidak bisa lagi melihat kakak setiap hari. Jarak kampus dari rumah sangat jauh. Kakak memutuskan untuk mengekos. Selama kakak kuliah aku merasa sangat bosan dirumah sendiri.
Mama dan Papa setiap harinya selalu berada ditoko. Keluarga kami memiliki toko bakery dan pastry. Kebetulan semua jenis cake dan dessert di toko kami sangat disukai banyak orang. Jadi, setiap harinya toko selalu ramai.
Setiap harinya setelah pulang sekolah aku mengerjakan Pr kemudian menonton TV. Sesekali aku mengusuli nenek tetangga samping rumah. Nenek itu selalu marah - marah setiap aku datang kerumahnya. Padahalkan aku hanya ingin memberi kucingnya makan.
Aku selalu memberi kucing peliharaannya dengan makanan ikan segar. Ikan itu aku dapati dari kolam milik sinenek.
Aku tidak mengerti mengapa dia semarah itu? Padahal nenek hanya memiliki satu kucing sementara ikan dikolam itu sangat banyak.
Setiap harinya nenek datang kerumahku untuk menemui mama dan papa. Setelah itu mama akan memarahiku. Mendengar ceramah mama setiap hari sangat bosan.
Tapi, setelah itu mama akan mengajakku ke toko. Aku sangat senang kalau berada di toko. Aku mengambil semua cake dan mencobanya satu persatu. Cake buatan mama sangat enak.
Melihat mama selalu tersenyum ketika membuat roti, aku jadi ingin membuat roti sendiri. Aku membujuk mama untuk membiarkanku membuat roti sendiri.
Mama tak mengizinkan ku, katanya anak kecil tidak boleh bermain didapur. Tapi, akukan sudah SMP. Bukan anak kecil lagi. Aku merayu mama berulang kali, dan akhirnya mama mengizinkanku.
Selama membuat roti aku hanya suka bagian menguleni adonan. adonannya terasa lembut seperti slime. Mama tertawa melihatku memainkan adonan.
Papa marah kepada mama karena membiarkanku bermain - main ketika membuat roti. Tapi, mama bilang
"Biarkan saja, selagi Anna senang apapun yang dia lakukan biarkan saja"
Aku tersenyum mendengar mama berkata seperti itu. Aku selalu mengatakan kepada teman sekelasku. Kalau keluargaku sangat baik dan selalu menyayangiku sampai kapanpun. Mereka sangat menyayangiku.
******
__ADS_1