
Mitos tentang telaga misteri itu belum selesai diceritakan oleh Bintang.
"Lalu apa yang terjadi pada nenek itu" tanya Kak Erika.
"Apalagi yang bisa terjadi, nenek itu tentu tidak rela kalau laki-laki itu memanfaatkannya untuk uang" tutur Bintang
"Apa laki-laki itu memenggal kepala nenek dari belakang? atau menusuknya dengan pisau?" tanyaku
Lagi-lagi Nano menatapku dengan sinis.
"Lulu kamu kenapa makin kesini makin psikopat" Takut Nano
"Harusnya laki-laki itu mendorong nenek tersebut kedalam telaga" tutur Kak Vera
Nano semakin merinding mendengar omongan Kak Vera.
"Kalian berdua lebih cocok kalau disatuin. Sama-sama psikopat" ketus Nano
Bara dan Kak Gani memandangi Nano dengan tajam. Lagi-lagi Nano berpura-pura tidak tahu. Bintang melanjutkan kembali ceritanya.
Nenek tersebut menolak tawaran laki-laki tersebut. Seharusnya air dari telaga ini bisa dinikmati oleh semua orang. Laki-laki tersebut marah dengan nenek. Ia mencekik leher nenek, hingga nenek kehabisan nafas.
Nenek tersebut mati ditangannya. Tiba-tiba awan menjadi gelap, angin kencang datang. Muncullah sesosok hitam besar dan tinggi dihadapan laki-laki itu.
Tangan laki-laki itu gemetar, kakinya pun juga ikut gemetar.
Karna nenek dan laki-laki itu sudah pergi cukup lama. Warga memasuki hutan dan mencari mereka.
Laki-laki itu melihat banyak warga yang datang, ia meminta tolong kepada warga. Tetapi, tidak ada seorangpun yang melihatnya.
Tiba-tiba cerita Bintang dipotong kembali oleh Alea.
"Apa sosok hitam besar dan tinggi itu penghuni telaga tesebut?" Tanya Alea
"Benar, menurut cerita yang gua baca begitu" jawab Bintang.
"Lalu gimana nasib laki-laki itu sekarang?" Tanya Bara
Kak Gani tertawa mendengar pertanyaan Bara.
"Bar lu percaya dengan omong kosong begini?" ejek Kak Gani
Bara mencoba terlihat cool, Nano menepuk-nepuk pundak Bara.
"Gak usah ganggu" ucap kak Vera sembari mencubit tangan kak Gani.
Bintang melanjutkan kembali ceritanya.
Laki-laki itu terus meminta tolong berulang kali dan tidak ada satupun orang yang mendengarnya. Warga akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah.
Setelah seminggu berlalu dari kejadian tersebut. Salah seorang warga menemukan mayat laki-laki tersebut sudah tergeletak dihutan tanpa lumuran darah sedikitpun.
Warga menjadi takut akan peristiwa tersebut dan melarang anak cucunya untuk memasuki hutan. Tapi, ada beberapa orang yang mata pencahariannya menjual kayu bakar. Mau tidak mau ia harus memasuki hutan. Dan siapa yang melihat telaga tersebut pasti dia akan hilang dan dikemudian hari mayatnya ditemukan.
Bintang mengambil keripik kentang yang ada ditanganku. Kami terdiam dan masih ingin mendengarkan ceritanya.
"Lalu Bin?" tanya kak Vera
"Udah selesai" tutur Bintang
Kami merasa kecewa mendengar akhir ceritanya. Aku mengalihkan pandanganku,
"Mengapa tidak diceritakan bagaimana sosok hitam besar itu membunuh mereka" ucap kak Vera.
Aku mengangguk,
__ADS_1
"Harusnya lebih detail lagi. Apakah dia juga mencekik mereka seperti yang dilakukan laki-laki itu kepada nenek" Lirihku
"Mungkin saja dia menghisap habis semua darah mereka" tutur kak Vera
Aku dan kak Vera mengangguk bersama.
Nano merasa takut berada didekat kami. Nano berdiri dan duduk diantara Bara dan kak Gani, kemudian berbisik
"Dua perempuan psikopat seperti mereka yang kalian sukai" tutur Nano
Bara dan Kak Gani memukul Nano.
Hujan pun mulai mereda. Banyak anak-anak lain yang sudah keluar tenda.
Kami semua pun ikut keluar.
Anak-anak lain mulai mendirikan tenda yang tidak sempat dibangun tadi.
Hari mulai cerah, waktu menunjukkan pukul 17.00 wib.
Dihutan ini tidak ada satupun telaga, pak Wilsa berkata kalau untuk akses mandi dan buang air harus kesungai.
Ada sungai kecil yang mengalir dihutan ini. Jadi, sore itu kami semua pergi kesungai untuk mandi. Dibangun dua tenda kecil ditepi sungai untuk tempat mengganti pakaian. satu tenda untuk laki-laki dan satu tenda lagi untuk perempuan.
Pak Wilsa melarang kami untuk mandi bersamaan. Jadi, perempuan mandi bersama terlebih dahulu baru kemudian laki-laki.
Setelah semuanya selesai mandi, hari semakin gelap. Waktu magrib pun tiba. Saat magrib kami juga tidak dibenarkan untuk berkeliaran, semuanya masuk kedalam tenda untuk melaksanakan sholat.
Selesai sholat, pak Fajar dan pak Gio ternyata sudah mulai membuat api unggun.
Aku mengenakan pakaian tebal dan menutupinya dengan jaket yang dibeli bersama buk Tina waktu itu.
"Lulu kamu punya jaket lagi?" tanya Kak Vera
"Aku cuma bawa satu kak" jawab ku
Alea terlihat masih sibuk memilih baju mana yang hendak ia kenakan. Kak Vera keluar tenda menemui kak Gani.
Aku keluar bersama kak Erika untuk mengambil jatah makan malam. Setiap harinya akan ada catering yang datang dari warga setempat yang sudah dipesan oleh pak Wilsa. Jadi, kami tidak akan memasak dihutan ini.
Api unggun selesai dibuat, kami duduk berkumpul mengelilingi api unggun sembari menyantap menu makan malam.
Alea keluar tenda menghampiri Tamya.
"kenapa lama banget?" tanya Tamya
"Aku bingung mau make baju yang mana" tutur Alea sembari melihat bajunya
"Kamu mau ngapain dandan kayak gini?" Tamya memegang baju Alea
"Lu lihat gak kakak yang disamping kak Gani (Tamya melirik kearah mereka) Ganteng bangettt" Malu Alea
"Jangan bilang lu mau ngejar kakak itu?"
"Iya, gua harus dapatin dia sebelum"
Omongan Alea terhenti ketika melihat Kakak itu membelai rambut kak Erika. Tamya tertawa keras melihat ekspresi Alea.
"Diam lu" ketus Alea
"Hahahah (nafas Tamya tak bisa diatur) Lagian lu suka sama orang kagak cari tahu dulu dia udah punya pacar apa belum" Ledek Tamya
"Mana gua tahu kalau dia pacar kak Erika" Kecewa Alea
Tamya membawa Alea untuk mengambil makanan. Sementara Alea masih memandangi Kakak laki-laki tersebut.
__ADS_1
"dah ayok gak usah dilihatin lagi" tutur Tamya sembari menyeret Alea.
Malam itu kami tidak melakukan kegiatan apapun. Karena, kondisi tanah yang licin setelah hujan membuat sedikit susah untuk bergerak. Kami hanya duduk mendengarkan dongeng dari beberapa anak lainnya.
Tak terasa hari semakin gelap, sekarang sudah pukul 21.45 wib.
"Bagi yang sudah mengantuk diperbolehkan untuk tidur. Besok pagi semuanya harus bangun sebelum pukul 06.00" Teriak Pak Gio
Kamipun berangsur bubar kembali ketenda.
Aku tidur disamping Alea. Semakin malam suhu udara disini semakin dingin.
Pukul dua dini hari Alea terbangun karena suara nyamuk yang mengganggunya. Alea tak sengaja melihat keluar tenda, dia terkejut.
Ada orang yang berlari sangat kencang didepan tenda. Alea membangunkan ku.
"Lulu bangun, Luluuuuu"
Aku bangun dengan kondisi masih setengah tidak sadar.
"Apaaa" ucapku
"Kamu lihat tadi ada orang yang lari" ucap Alea
Kak Vera dan kak Erika juga terbangun. Tiba-tiba kami mendengar suara jeritan yang sangat keras dari luar tenda.
Bulu kuduk kami berdiri.
"Apa jangan-jangan itu nenek yang diceritakan Bintang tadi?" tutur kak Vera
"Mana mungkin nenek larinya kencang begitu kak" jawab Alea
Suara jeritan itu terdengar lagi, kali ini suaranya terdengar cukup dekat dari tenda kami.
"Suaranya makin dekat gak sih?" tuturku
Terdengar langkahan kaki dari belakang tenda. Kami mengalihkan pandangan kebelakang tenda. Terdengar suara orang minta tolong,
TOLONGGG...
TOLONGGGG...
TOLONG SAYA...
Mendengar suara itu berulang kali kamipun teriak bersama.
"AAAAAAAAAA" Teriak kami
Aku berusaha membuka resleting tenda untuk keluar. Tetapi aku menariknya terlalu kencang hingga resletingnya patah.
"Lulu kenapa dipatahin" teriak Alea
Masih dalam kondisi takut dan panik kami mendengar lagi orang itu tertawa,
Hihiiiiiii
TAKUT YAAA
TOLONGGGG
Hiiiiiiiiiiiii
Orang itu tertawa semakin keras.
Kami berteriak sangat kerasss
__ADS_1
"Aaaaaaaa, tolong tolonggg" Teriak Kami
******