After Dark

After Dark
Telaga Misteri


__ADS_3

Kamipun sampai di titik camp ground. Semua siswa turun dari bus, untuk memasuki hutan kami harus berjalan kaki lebih kurang satu jam.


Kak Gani memastikan semua siswa memasuki hutan.


"Ayo cepat jalan, jangan sampai ada yang ketinggalan. Bawa semua barang-barang kalian" Ucap Kak Gani


Kelas kami terdiri dari 32 orang dan kelas kak Gani terdiri dari 30 orang. Secara total keseluruhan kami berjumlah 65 orang. Dimana 3 orang lagi pak Fajar (wali kelas XI) dan pak Gio (wali kelas XII) dan satunya lagi Pak Wilsa (Pemandu camping). 65 orang ini terdiri dari 30 perempuan dan 35 laki-laki.


Untuk mencapai titik camping ditengah hutan, kami harus berjalan ekstra hati-hati. Sebagian permukaan tanah ada yang licin dan sebagiannya lagi jalanan menanjak.


"Hati-hati (Teriak) bagi anak laki-laki tolong bantu anak perempuan" teriak pak Wilsa.


Belum sampai dititik puncak ada anak-anak yang sudah tidak sanggup lagi berjalan. Nafas kami semua terengah-engah.


"Pak saya gak sanggup jalan lagi" tutur Erika


Anak-anak lainnya pada berhenti mengikuti Erika yang sudah terduduk. Pak Gio memberikan kami semangat.


"Ayo ayo ayo, Kalau kita berlama-lama disini akan memakan waktu lebih lama lagi"


"Pak gimana kalau kita istirahat sebentar disini. Mereka sudah kehabisan nafas pak" tutur Bara


Kak Gani ikut setuju dengan perkataan Bara. Akhirnya Pak Wilsa setuju untuk beristirahat selama 5 menit.


Aku duduk disebuah pohon yang tumbang, melihat kelangit. Awannya semakin gelap.


"Sebentar lagi bakal hujan" lirih pelanku


"Lulu, jangan ngomongin hujan sekarang. Konon katanya ditempat ini (Beberapa anak berkumpul ingin mendengarnya) Suatu ucapan yang buruk bakal terjadi" Ucap Bintang


"Yang bener lu bin?" tanya Alea


"Kalian tahu (Kami mendengar dengan serius) tadi malam gua tanya ke si mbah. Katanya disini ada telaga, yang dipercaya bisa merenggut nyawa"


Bintang mengatakannya tanpa berkedip. Bulu kuduk kami merinding mendengarnya.


"Si Mbah siapa Bin?" Tanya Kak Vera


Kami menatap kak Vera.


"Kenapa?" Tanya polos Kak Vera


Kak Gani mengacak rambut kak Vera dari belakang, kemudian berkata


"Lu bego apa polos sih”


Bintang dan Nano tertawa.


"Kakak gak tahu si Mbah" ketus Tamya


Kak Vera masih kebingungan


"Maksud Bintang itu Google kak" ketus Alea


Kak Vera menganggukkan kepalanya. Aku yang masih penasaran bertanya pada Bintang,


"Berapa banyak nyawa yang udah direnggutnya?"


Nano menatapku

__ADS_1


"Lulu jangan bikin tambah horor, pertanyaan lu kayak psikopat tahu gak" ketus Nano


Bintang berkata lagi,


"Yang gua baca udah delapan orang yang meninggal disini"


Alea menanyakan dimana keberadaan telaga tersebut.


"kalian tahu kenapa bisa di sebut telaga misteri (Suara Bintang semakin pelan, kami semakin dekat mendengarnya) katanya telaga itu bakal berpindah tempat setiap malamnya. Dan info yang paling penting, kalau nanti kalian ketemu sosokkk (semakin pelan)...


Disaat Bintang melanjutkan ceritanya, tiba-tiba pak Gio datang.


"Berdiri berdiri berdiri, kita akan melanjutkan perjalanan" teriak pak Gio


Teriakan pak Gio mengagetkan kami semua.


"bapak" teriak Erika


Pak Gio yang tidak tahu apa-apa juga kaget mendengar teriakan Erika.


Jantungku berderbar kencang mendengar teriakan pak Gio, aku mengusap-usap dadaku.


"Masih bisa jalan?" tanya Bara padaku


Aku menoleh dan berkata,


"Kenapa? kamu mau gendong aku?" Candaku


Bara tertawa kecil,


"Kalau butuh bantuan kasih tahu aku" tutur Bara.


Aku melihat sekeliling, sepertinya hutan ini masih belum sering ditijaki manusia. Semakin kami memasuki hutan, semakin banyak kami melihat pepohonan besar dan tinggi.


Akhirnya kami sampai dititik camp. Pak Wilsa menyuruh kami untuk mendirikan tenda terlebih dahulu. Beberapa anak laki-laki disuruh untuk mencari kayu bakar.


Hari semakin gelap, cuaca saat ini dihutan sangat dingin. Angin kencang membuat banyak dedaunan berjatuhan.


"Cepat anak-anak sebentar lagi akan hujan. Bagi yang tendanya sudah selesai tolong bantu teman lainnya" tutur pak Fajar


Duarrrr


Suara petir menyambar beberapa pohon didalam hutan. Kak Gani membantu kami mendirikan tenda.


Dalam satu tenda ada empat orang. Dihari sebelumnya, pak Fajar sudah memberikan list nama disetiap satu tenda. Disetiap list terdiri dari dua orang kelas kami dan dua orang lagi kakak kelas.


Kebetulan aku satu tenda dengan Kak Vera, kak Erika dan Alea.


Tenda kami berhasil didirikan. Aku memasukkan semua barang-barang kedalam tenda.


Tiba-tiba kilat disertai petir menyambar lagi,


Duarrrrr


"Anak-anak yang tendanya sudah selesai silahkan masuk saja kedalam" Ucap pak Wilsa


Hujan deraspun turun.


"Bagi yang tendanya belum selesai, masuk dulu kedalam tenda yang lain. Tinggalin dulu, biarkan saja diluar" Teriak Pak Gio

__ADS_1


Alea berlari dan masuk kedalam tenda. Alea terkejut,


"Kenapa jadi disini semua?" ucap Alea


Kak Erika tertawa,


"hehehe, kakak yang nyuruh mereka masuk kedalam. Lagian tenda mereka belum selesai"


Tenda yang awalnya khusus utuk empat orang saja. Tetapi, sekarang didalam tenda ada delapan orang.


"Geser geser geser sedikit Nano" ketus Alea


"Lu mau rebahan disini" Teriak Nano


Alea terlihat kesal,


"Harusnya bangun tenda kalian dulu baru punya orang" Ketus Alea lagi


"Kalau kami bangun tenda kami dulu, sekarang lu gak bakal ada didalam tenda ini" Saut Bintang


"Udah kalian jangan bertengkar, cuma sebentar kok sampai hujannya reda" Lerai Kak Gani


Aku mengekuarkan barang dari tasku.


Nano melihat kearahku,


"Apa?" tanyaku


"Mau ngeluarin apaan? Lulu lu kalau punya sesuatu dari buk Tina lu bagi ke gua juga" ketus Nano


Aku tertawa kecil dan berkata ketus,


"Bukannya semuanya udah habis kamu makan tadi dibus Nano?"


Nano menggaruk kepalanya, pura-pura tidak tahu. Bara bertanya kepada Bintang tentang apa yang kami lakuiin dibus tadi. Rasa penasaran Barapun terjawab mendengar jawaban Bintang.


Kak Erika mengeluarkan cemilan dari ranselnya. Kami memakannya sambil mendengar kembali cerita Bintang tentang telaga misteri itu.


Hutan ini bukan hutan terlarang yang tidak boleh dimasuki manusia. Hanya saja ada beberapa mitos yang dipercaya oleh warga setempat.


Dahulu kala orang-orang sering kesusahan dengar air bersih. Hingga suatu ketika ada seorang nenek tua yang menemukan telaga didalam hutan.


Nenek tersebut bercerita kepada masyarakat setempat. Mereka pun berbondong-bondong membawa ember untuk mengambil air dari telaga itu.


Tetapi ketika mereka sampai dititik yang disebutkan oleh nenek tersebut, telaga itu tidak ada. Mereka tidak menemukan telaga tersebut.


Hingga warga setempat mencaci nenek tersebut karena sudah berbohong kepada mereka. Nenek itu tidak merasa berbohong dan berkata


*Saya akan pergi kehutan dan membawakan seember air kesini*


Nenek itupun pergi kedalam hutan, dan berhasil membawa air. Warga setempat kaget. Bagaimana bisa? Kami tidak menemukan satupun telaga.


Seorang laki-laki menyuruh nenek itu pergi lagi kedalam hutan dan mengikutinya dari belakang. Ternyata benar, telaga tersebut ada dititik yang disebutkan oleh nenek tadi.


Tetapi, telaga itu hanya bisa terlihat kalau ada nenek disitu. Dengan niat jahat laki-laki itu mengancam nenek. Menyuruh nenek untuk tetap disini dan mengambil keuntungan dengan meminta uang dari warga yang menginginkan air. Jika nenek menolak dia akan membunuhnya.


Kami semakin penasaran mendengar cerita Bintang. Hujan deras disertai kilat dan petir membuat kami terbawa kedalam cerita Bintang.


******

__ADS_1


__ADS_2