After Dark

After Dark
Tragedi


__ADS_3

Rabu, pukul 08.10


Alea memanggil ku, mengatakan kalau pak Tono meminta bantuanku diruangan labor.


Anak-anak lain sedang bersiap menuju ruang labor, kelas akan dimulai pukul 08.15


Aku bergegas menuju labor.


Bantuan apa yang diminta pak Tono, biasanya kalau ada sesuatu pak Tono selalu memanggil Bara. Aku tak berpikir tentang apapun saat itu, hanya berjalan lurus menuju labor.


Aku membuka pintu,


Kretttt...


Blurrt...


Jatuh seember cairan berwarna merah kental dari atas pintu.


Terdengar suara tawa


haha haha hahaaaahaa.....


"aduh kasian jadi basah gitu"


Aku mendengar suara anak perempuan, badanku masih terpaku diam. Aku tahu siapa pelakunya.


Siswa lain berdatangan satu-persatu tertawa melihat aku yang sudah basah dari atas kepala hingga kaki. Pakaian dalam ku terlihat jelas saat itu, karena aku mengenakan pakaian dalam berwarna gelap.


Untuk pertama kalinya aku menerima bullyan disekolah. Aku sering mendengar anak kelas lain membully teman sekelasnya, hanya saja aku tak menyangka hal ini akan terjadi juga padaku.


Rasanya sangat sakit, melihat anak lain menatapku sambil tertawa.


Aku berlari menuju toilet.


Aku tak menangis, aku tidak menangis!!!


Bara melihatku berlari menuju kamar mandi, ia mengejarku.


"Lulu Lulu,,


Berulang kali memanggilku, aku tak menghiraukannya.


Sesampai di toilet, aku mengunci pintu.


AKU SUNGGUH TAK MENANGIS!!!


tangan ku gemetar melihat cairan berwarna merah kental membasahi tubuhku.


terngiang-ngiang ditelingaku,


"Kamu pembunuh,


"PEMBUNUH,,,


Aku menutup kedua telingaku


"Bukan bukan BUKANNNN" teriakan ku terdengar sampai keluar toilet.


Aku yang sudah mulai tak karuan menjambaki rambutku.


Bara mendobrak pintu, memanggil ku.


"Lulu buka pintunya, Lulu"


Tetesan air mata membasahi pipiku,


Aku tidak bisa menangis, tidak bisa.


"Masih kerasa hangat DARAHNYA,,


"Kamu saja yang seharusnya mati,,


"Kamu SAJA LULUUUUU.....


Brakkkk

__ADS_1


Pintu toilet terbuka,


Bara melihatku duduk terdiam disudut wastafel, badanku gemetar.


Bara melespakan jaketnya, mengenakannya kepadaku.


Mata Bara memerah, emosinya mulai tidak terkontrol. Bara memeluk erat tubuhku


"Aku disini lulu, gak papa ada aku disini" ucap lembut Bara sembari mengusap air matanya.


Tubuhku sudah mulai melemah,


"Barrra.... Aku bukan pembuuunnn.."


Aku pingsan dipekukan Bara.


******


Aku tak sadarkan diri selama 3 jam.


Ketika aku sadar, pakaianku sudah diganti. tak ada lagi cairan itu ditanganku,


Aku membuka mata perlahan.


Bara yang sedang duduk disampingku, menggenggam tanganku.


"Lulu lulu.. kamu udah sadar?"


Terdengar hiruk pikuk dari luar jendela.


Bu Zinci memeriksa detak jantungku,


"Syukurlah jantung kamu sudah normal kembali"


Aku masih merasa lemas,


Bu Zinci meminta Bara kembali ke kelas,


"Bara karna Lulu udah sadar kamu kembali dulu saja ke kelas, biar ibu yang jaga Lulu disini"


Aku mengedipkan mataku, Bara keluar dari UKS.


******


Ruang kelas,


Kejadian pagi ini sampai ditelinga wali kelas kami, Pak Fajar. Kebetulan setelah kelas kimia selesai dilanjutkan dengan kelas pak Fajar.


Selama kelas berlansung pak Fajar mendisiplinkan semua siswa.


Bara masuk ke kelas, membuka pintu


Kretttt


Anak-anak tak berani melirik kearah Bara, dikarenakan pak Fajar yang sudah mengamuk beberapa menit yang lalu.


"Bara gimana kondisi Lulu?" tanya pak Fajar


"Lulu udah sadar pak, cuma masih butuh istirahat" jawab Bara


"Yaudah gak papa, kamu duduk dulu. Nanti kita ke UKS buat ngecek kondisi Lulu lagi"


Bara duduk kembali dengan kondisi mata yang masih memerah.


Nano mengelus punggung Bara,


Pak Fajar kembali memarahi anak-anak lain hingga bel istirahat berbunyi.


"Kalian mengerti apa yang bapak katakan tadi? (semua siswa berkata "mengerti") jangan sampai bapak dengar lagi ada hal seperti ini dikelas bapak! (menatap Tamya)" Tutur keras pak Fajar.


Semua siswa dipersilahkan untuk istirahat. Tapi, Tamya dan Alea disuruh pak Fajar untuk mengikutinya ke UKS.


Mereka berjalan menuju UKS,


"Bara.... (berusaha memegang tangan Bara. Tapi Bara menepis genggamannya) kamu marah sama aku?" Tanya Tamya

__ADS_1


Nano dan Bintang yang berada dibelakang Bara merasa muak melihat sikap Tamya seperti ini. Nano dan bintang tahu persis bagaimana perasaan Bara saat ini. Kalau hal ini tidak terjadi disekolah Bara pasti sudah mengamuk seperti hewan buas yang lepas kendali.


Mereka sampai diruang UKS, bertemu dengan Ibu Zinci. Aku tahu kalau mereka datang keruangan ini, hanya saja aku tak ingin berbicara dengan siapapun saat ini.


Aku berpura-pura tertidur.


"Bagaimana bu Zinci?" tanya pak Fajar


"Lulunya masih tidur, kayaknya dia punya trauma yang cukup dalam. Mendengar kejadian yang diceritakan Bara ditoilet, ketika cairan kental berwarna merah itu melekat ditubuhnya membuat traumanya kembali. Saran saya untuk beberapa hari ini, Lulu istirahat saja dirumah pak. Saya takut detak jantungnya berdetak kencang lagi" Jelas bu Zinci


Pak Fajar menganggukkan kepalanya, kemudian bertanya tentang orang tua ku. Bu Zinci telah berulang kali menghubungi Mama dan Papa tapi tak diangkat.


"Bara kamu tahu rumah Lulu?" tanya pak Fajar.


"Lulu disini ngekos pak, tapi saya tahu kosan Lulu" jawab Bara


"Baik kalau gitu. Kamu bisa nyetirkan? (Bara mengangguk) kamu bawa mobil bapak buat antar Lulu pulang dulu. Ajak Nano atau Bintang, biar bapak hubungi pak satpam untuk bukakan pintu gerbang"


Pak Fajar memberikan kunci mobil kepada Bara.


"Biar gua aja yang ambil mobil Bar, lu gendong Lulu aja keparkiran" Tutur Nano


Bara menggendongku yang masih berpura-pura tidur.


"pelan-pelan" tutur bu Zinci


Pak Fajar sudah menghubungi satpam, Bara keluar UKS menggendongku menuju parkiran.


"Kalian lihat apa yang sudah kalian lakukan keteman sekelas kalian sendiri! (menatap Tamya dan Alea) Tamya, Alea, besok kalian berdua minta maaf kek Lulu. Jangan ulangi lagi kesalahan ini, paham?" ucap tegas pak Fajar.


******


Bara, Bintang dan Nano membawaku pulang kekosan.


"Bar, kita kerumah sakit dulu atau lansung kekosan Lulu?" Tanya Bintang


"Kerumah sakit dulu aja Bin, gua takut jantung Lulu bermasalah.


Mendengar mereka yang ingin membawaku kerumah sakit, aku lansung terbangun.


"Gak perlu kerumah sakit" tuturku sembari beranjak dari pangkuan Bara.


"Lu kamu udah sadar? kalau masih mau tidur, tidur lagi aja. nanti kalau udah sampai aku bangunin" ucap Bara


Aku menggelengkan kepalaku. Mengatakan sekali lagi tidak perlu membawaku kerumah sakit.


"Kita kekosan aja Bar, aku udah mendingan kok" ucap ku


"Kamu yakin?"


Aku menggangguk.


Awalnya Bara bersikeras membawaku kerumah sakit. Tapi, akhirnya dia mengalah. Aku harus berjanji kepadanya untuk istirahat yang cukup, dan meminum semua vitamin yang diberikan bu Zinci tadi.


Sebelum ke kosan, Bara menyuruh Nano berhenti di swalayan dekat kosan. Bara membeli banyak sekali cemilan dan buah-buahan untukku. Aku menolak pemberian Bara,


"Bar gak usah, aku bisa beli lain waktu kalau aku mau" ucapku


"Lulu kamu terima aja, kalau kamu nolak pemberian Bara (menatap Bara) takutnya dia bakalan nginap dikosan kamu selama seminggu" ledek Bintang


Nano tertawa mendengar ledekan Bintang.


Nano mengambil satu cemilan,


"Aku ambil satu kalau merasa ini terlalu banyak" tawa Nano


"Kalau gitu aku juga bakal ngambil satu" tutur Bintang sembari mengambil satu cemilan didalam plastik.


Bara memukul tangan Bintang,


"Jangan ambil lagi!" ketus Bara


Aku tertawa melihat kelakuan mereka, Bara menatapku yang sedang tertawa. Mata Bara berkedip kemudian tersenyum, ia terlihat bahagia.


******

__ADS_1


__ADS_2