
Anak-anak lain terbangun karena mendengar suara teriakan kami. Mereka bergegas keluar, kami terus berteriak minta tolong didalam tenda.
"Siapa didalam tenda?" teriak pak Wilsa
"Ini tenda Alea pak" tutur Tamya
"Tolonggggg"
Alea menangis terisak-isak,
"Buka resletingnya Lulu" Ucap Bara
"Gak bisa, resletingnya patah" tuturku
Kak Gani berlari kedalam tendanya dan mengambil gunting. Bara merobek tenda dengan gunting. Mereka melihat kami dengan kondisi wajah pucat.
"Ambil air" tutur pak Gio
Bara memberikanku air, nafasku masih sangat berantakan. Setelah kami mulai sedikit tenang, pak Wilsa bertanya tentang apa yang terjadi.
"Kenapa? kenapa kalian berteriak?" tanya pak Wilsa
"Aaadddaaa" Alea berbicara terisak-isak
Kak Vera mengganggam erat baju kak Gani.
Jantungku masih berdetak kencang, aku memegangi jantungku. Detak jantungnya terasa makin cepat, hingga aku kesulitan untuk bernafas.
"Luluuu" ucap Bara
Bara memegang pipiku, aku menatapnya.
"Ambil nafas pelan-pelan" ucap Bara
Aku menarik nafas dengan perlahan. Anak-anak lain bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada kami. Kondisi kak Erika mulai membaik, ia menceritakan semua kejadiannya.
Mereka lansung mengecek bagian belakang tenda. Tapi, tidak ditemukan apapun.
Anak-anak lain mulai ketakutan.
"Gak papa, kalian semuanya tenang aja" tutur pak Fajar.
Karena sekarang masih jam tiga. Pak Wilsa menyuruh anak-anak lain untuk kembali tidur.
"Pak kami takut" tutur salah seorang siswa
"Gak usah takut, bapak, pak Fajar dan pak Gio bakal duduk diluar buat ngejaga kalian" ucap pak Wilsa
Mendengar hal itu membuat kepanikan mereka sedikit berkurang. Tenda kami sudah robek. tamya meminta izin kepada pak Fajar untuk membawa Alea ketendanya. Sementara kami tidur ditenda Kak Gani.
Kak Gani, Bara, Nino dan Bintang duduk diluar bersama pak Wilsa, pak Fajar dan pak Gio. Kak Wandu juga ikut menemani mereka.
Kak Wandu adalah pacar kak Erika. Kak Wandu satu kelas dengan kak Gani, ia juga sahabat dekat kak Gani.
Mereka mengecek sekitaran perkemahan, tapi tidak menemukan hal mencurigakan apapun.
__ADS_1
******
Pagi pukul 07.45 wib
Pagi ini kami semua terlambat bangun. Tamya berlari keluar tenda menemui pak Fajar.
Alea mengalami demam tinggi setelah kejadian tadi malam. Pak Fajar meminta Tamya untuk mengambil kotak P3K ditenda Bara. Tamya pergi menemui Bara.
Sebagian anak-anak turun kesungai untuk mencuci muka. Aku ikut bersama kak Vera kesungai.
Empat orang warga desa datang kehutan untuk mengantarkan makanan. Pak Wilsa menceritakan kejadian tadi malam kepada mereka.
Salah seorang warga berkata kalau kejadian hal mistis seperti itu sudah biasa terjadi dihutan ini.
Hal yang terjadi tadi malam masih merupakan hal wajar. Jika, ada salah satu hal yang kita lakukan dan mereka tidak menyukainya maka akan terjadi hal yang lebih buruk lagi.
Pak Wilsa kemudian bertanya,
"Lalu apa yang seharusnya kami lakukan pak?"
"Lebih baik kalian pulang saja hari ini. Kami takut hal yang lebih buruk lagi akan terjadi" ucap salah seorang warga
"Kami baru sehari disini, anak-anak juga tidak melakukan hal yang aneh dihutan ini" tutur pak Gio.
"Kami hanya memberikan saran pak, tapi sebaiknya kalian keluar dari hutan ini sebelum sore" ucap salah seorang warga
******
Kondisi Alea semakin parah. Alea menggigil setelah meminum obat.
"Kamu tunggu disini sebentar"
Pak Fajar keluar tenda menemui pak Gio.
Pak Gio terlihat sedang berdebat dengan pak Wilsa.
"Mereka belum melakukan apapun disini" ucap pak Gio
"Bukannya tadi bapak dengar ada salah seorang siswa yang mungkin telah melakukan hal yang dilarang dihutan ini" ketus pak Wilsa
"Siapa? siapa orangnya? (pak Wilsa terdiam) bapak gak bisa jawabkan" tegas pak Gio
Pak Fajar bertanya tentang apa yang terjadi. Pak Wilsa menjelaskannya,
"Sebaiknya kita pergi dari sini" tutur pak Fajar
"Bapak percaya dengan hal seperti itu?" tanya pak Gio
Keputusan pak Wilsa sudah bulat, ia akan keluar dari hutan ini. Pak Gio menolak hal itu karena, pak Gio merasa anak-anak masih bisa menikmati camping ini.
Ditengah pertebatan itu, Tamya berlari menghampiri pak Fajar.
"Pak, Alea makin parah pak, nafasnya sekarang mulai sesak terus timbul ruam-ruam merah dimukanya" ucap Tamya
"Ayo kita pulang sekarang" tutur pak Fajar
__ADS_1
Pak Fajar menyuruh kami untuk membereskan barang-barang. Sementara pak Gio masih bulat dengan keputusannya.
Pak Fajar berkata kalau kelas kami akan pulang sekarang, pak Wilsapun ikut dengan kami.
Kak Gani mencoba membujuk pak Gio untuk ikut pulang. Anak-anak lain juga meminta pak Gio agar mereka ikut pulang. Anak-anak mulai ribut karena ketakutan.
Mau tidak mau pak Gio pun memutuskan untuk pulang.
"Baiklah kalau gitu, bereskan semua barang-barang kalian. kita akan berangkat 20 menit lagi" tutur pak Gio
Kami semua membereskan barang-barang, membuka tenda dan membersikan area sekitar tenda.
Setelah semua barang dikemasi, pak Fajar menyuruh kami untuk makan terlebih dahulu sebelum pergi. Karena makanan sudah diantar jadi rasanya akan mumbazir jika tidak dimakan, selain itu kami juga harus mengisi tenaga kami.
Kamipun mulai keluar dari hutan. Pak Wilsa meminta kami untuk tetap bersama.
"Jangan sampai ada yang misah atau tertinggal" teriak pak Wilsa
Alea digendong oleh pak Fajar.
Aku membawa satu tas milik Alea, Kak Gani mengambil tas tersebut.
"Biar kakak yang bawa" ucap Kak Gani
Kami berhenti beberapa kali diperjalanan. Setelah lebih dari sejam akhirnya kami keluar dari hutan tersebut.
Diluar hutan kami masih harus menunggu sampai siang, karena bus sedang dalam perjalanan kemari dan kemungkinan akan sampai disini jam dua siang.
"Kita tunggu bus disini terlebih dahulu. Cari tempat yang teduh untuk beristirahat" ucap pak Fajar
Pak Fajar sudah memesan grab untuk membawa Alea kerumah sakit terlebih dahulu. Pak Pajar, Alea dan Tamya akan pulang terlebih dahulu dengan taxi.
"Bara, bapak titip anak-anak ke kamu ya, Jangan lupa pastikan semuanya nanti naik kedalam bus" tutur pak Fajar
"Baik pak (membukakan pintu mobil, pak Fajar masuk kedalam mobil) bapak gak usah khawatir, saya akan menjaga mereka" Ucap Bara
Pak Fajar juga berpamitan ke pak Wilsa dan pak Gio.
Matahari semakin terik. Selain kepanasan kami juga merasa lapar setelah menunggu tiga jam disini. Anak-anak mengeluarkan cemilan yang ada didalam tas mereka dan meletakkannya. Bagi yang mau diperbolehkan untuk mengambilnya.
Tiba-tiba ada kakak kelas yang berkata,
"Camping yang sama sekali tidak menyenangkan. Siapa yang menyuruh untuk melakukan camping didalam hutan"
"Benar, sudah tahu hutan malah dipilih" tutur kakak kelas lainnya.
"Udah kalian mau perdebatin apa disini? semuanya udah terjadi" Tegas Kak Gani
Kakak kelas tersebut menatap sinis kami.
Pukul 13.45 wib bus akhirnya tiba. Kami masuk kedalam bus. Bara dan Kak Gani mengabsen terlebih dahulu sebelum berangkat.
Aku duduk sendiri dikursi nomor empat. setelah Bara selesai mengabsen, ia duduk disampingku. Bara melepaskan jaketnya memberikannya kepadaku.
Selama perjalanan pulang, kami semua tertidur karena merasa lelah. Pengalaman camping yang seharusnya menyenangkan tetapi malah jadi yang mengerikan bagi kami.
__ADS_1
******