
Pelukan erat dariku membuat Jason sulit melepaskan tanganku. Jason mengatakan semua hal buruk kepadaku.
"PEREMPUAN GILA"
"OTAK UDANG"
"LEBIH BAIK KAMU SAJA YANG MATI WAKTU ITU"
Mendengar semua hal itu, membuat aku semakin emosi.
"Sekali lagi kakak mengatakan hal buruk kepadaku, aku akan berteriak keras dan memberitahukan semuanya kepada Mimi" ucap kesal ku.
Jason memegang erat kedua pergelangan tanganku, kemudian mendorong aku hingga jatuh.
"Rasain lu perempuan GILA" Ejek Jason
Aku menatap sinis Jason, dan berteriak keras,
"Kak Mimmm..."
Perkataan ku belum sempat selesai Jason membekap mulutku.
Aku menyuruh Jason untuk melepaskan bekapannya. Tapi, Jason malah membekap mulutku semakin kuat.
Menggunakan gigi taringku, aku menggigit tangan Jason.
Jason melepaskan bekapannya dan merintih kesakitan.
"Rasain lu" Aku membalas ejekan Jason.
Jason menarik nafas yang cukup dalam, kemudian bertanya,
"Mau kamu apa, perempuan Gila?"
Aku berdiri. Jason pun ikut berdiri. Aku berbisik ketelinga Jason, lalu berkata aku ingin kita ketemu besok malam dicafe ini lagi.
Jason tertawa,
"Buat apa? kamu mau lakuin hal gila apalagi? kamu dengar baik-baik, aku gak bakal kesini lagi buat nemuin kamu. apalagi cuma berdua sama perempuan gila" Tutur Jason.
"Kalau gak mau ya udah (sembari melihat telapak tanganku yang terluka) kita bicarain aja disini!" ucapku sambil menunduk.
Jason tak bisa berkata-kata lagi setelah melihat sikapku yang seperti ini. Muka Jason memerah dan terlihat sangat marah.
"Kalau saja kamu bukan anak kecil, leher kamu udah putus saat ini" Ucap Jason sembari menggepalkan kedua tangannya.
Mimi semakin dekat dengan kami.
Dengan penuh amarah Jason pun menyetujuinya.
"Tapi ingat, besok kakak harus jemput aku dikosan sebelum jam tujuh!"
Aku mengedipkan mataku kepada Jason, Jason menggertakkan giginya. Aku tahu ucapannya barusan sungguh dari dalam hatinya.
Malam itu Jason dan Mimi akhirnya mengantarkan aku pulang. Selama diperjalanan aku tertidur tapi aku masih bisa mendengar secara samar-samar pembicaraan mereka.
Jason menyuruh Mimi untuk tidak terlalu dekat denga aku. Tetapi, Mimi tak mau mendengarkan saran dari Jason.
__ADS_1
Katanya Jason bisa merasakan aura negatif dari diriku. Aku tertawa didalam hati saat mendengar Jason berkata seperti itu.
******
pagi, pukul 06.10 wib.
Mata ku yang terlihat sembab keluar kamar lalu duduk diwarung bu Tina sembari mengenakan sepatu.
Bu Tina sedang memasak telur untuk sarapan pak Koko.
"Tumben kamu bangunnya pagi Lulu" tanya bu Tina.
Aku menguap cukup lebar, bu Tina tertawa.
"Mata kamu kenapa? semalam bergadang lagi?"
Bu Tina menyentuh kedua mataku, lalu mengambil dua sendok dan memberikannya kepadaku.
"Buat apa bu?" Tanya aku
Bu Tina mengambil lagi dua sendok dan menempelkan kedua sendok itu dimatanya. Aku meletakkan kembali sendok tersebut diatas meja. Aku tak ingin melakukannya,
Bu Tina menghela nafas,
"Setidaknya bisa ngurangin sembab mata kamu lu"
Bu Tina menyuruhku terus untuk menempelkannya. Pada akhirnya bu Tina sendiri yang menempelkannya dimataku.
Pak Koko keluar kamar sembari membaca koran pagi ini. Bu Tina menyeduhkan teh hangat dan sepiring gorengan.
Aku mengambil satu gorengan milik pak Koko, kemudian berkata
Aku mengucapkan hal itu sambil mengunyah goreng pisang. Bu Tina dan Pak Koko terdiam mendengar perkataanku.
"Lulu kamu sekolah ngapain aja?" Tanya bu Tina
Aku menatap bu Tina,
"Belajar bu, emang kenapa?" Tanya balikku.
"Otak kamu encer, tapi kenapa gak tahu situasi buat bertanya?"
Bu Tina tersenyum kepadaku. Tapi, senyuman bu Tina terlihat lebih tertekan.
"Bukannya Pak koko juga duda? jadi cocok sama ibu"
Lagi-lagi aku berbicara tanpa mengetahui apapun. Pak koko melepaskan kacamatanya. berjalan menuju wastafel. aku memperhatikan gerak-gerik pak Koko. Pak Koko melihatku,
"Kenapa Lulu? kenapa kamu menatap bapak seperti itu?" tanya pak Koko
Aku terdiam, mengambil kembali goreng pisang yang dibuat khusus oleh bu Tina untuk sarapan pak Koko.
"Kalau bapak kelamaan ngelamar nanti bu Tina direbut orang lain" tutur pelanku
Aku tahu selama ini sebenarnya bu Tina dan pak Koko saling suka. Mereka selalu menjaga satu sama lain, hanya saja mereka malu dengan umur yang sudah cukup tua untuk membicarakan hal tersebut.
Muka bu Tina memerah, pak Koko menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau waktunya sudah tepat, kamu orang yang pertama bapak kirimi undangan pernikahan lulu" tutur pak Koko dengan wajah yang sudah memerah.
Aku tersenyum, mengambil tisu dan mengelap tanganku.
"kalau begitu aku yang sebagai anak baik hati ini harus melaksanakan tugas ku terlebih dahulu sebelum datang kepernikahan kalian" senyum ku
Aku berpamitan pergi kesekolah.
******
Ruang kelas Ipa 2,
Kali ini aku tidak telat masuk kelas, kalau sampai telat lagi ibu Riana bakalan ngehukum aku.
Aku duduk di barisan ketiga dekat jendela, kelas kami berada dilantai 3. Dari jendela aku bisa melihat sekeliling taman belakang. Memperhatikan siswa-siswi lain yang berada ditaman membuatku mengantuk. Tanpa disadari mataku terpejam, aku tertidur.
Saat itu ruangan kelas masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang datang.
Bara memasuki kelas, melihat aku yang sedang tertidur pulas. Bara tersenyum.
"Pagi ini dia datang lebih awal, tetapi malah tidur dikelas" tutur pelan Bara
Bara melewati kursiku, berhenti dan melepaskan almamater miliknya. Bara melihat sekeliling, tidak ada yang memperhatikannya. Bara menyelimuti aku dengan almamaternya.
Tak lama kemudian kelas mulai rame, aku terbangun dari tidurku karna mendengar Nano yang sedang menggeser meja.
Aku terkejut melihat almamater yang sudah menyelimuti punggungku. dengan separuh sadar, aku mengambil almamater tersebut.
"Perasaan tadi aku tidak membawa almamater" ucapku dalam hati
Aku melihat nick name pada almamater tersebut,
BARA AGARA
ternyata almamater ini milik Bara, aku lansung menoleh ke Bara yang sedang mengobrol dengan Bintang.
"Kapan dia melakukan ini? aku kembalikan nanti saja, kalau dilihat anak-anak kelas nanti malah jadi gosip" tuturku sembari melipat almamater milik Bara dan menyimpanya kedalam laci.
Kelas pertama dimulai,
Semua siswa menuju ruang lab biologi, kali ini kami mempelajari tentang struktur organ tubuh manusia lebih mendalam.
Nano mendapat tugas untuk menjelaskan materi hari ini, Nano menjelaskan materi dengan sangat baik.
Nano Prilian, salah satu sahabat Bara. Nano dan Bara sudah beteman sedari mereka kecil. Mereka bertiga sangat akrab.
bertiga?
satunya lagi Bintang,
Bintang Trafalgar, sahabat kedua dari Bara. Bintang mengenal Bara dan Nano ketika duduk dibangku SMP.
setelah Nano selesai menjelaskan materi, Pak Gama memberikan kami kuis. Bagi 5 siswa pertama yang berhasil mengerjakan kuis tersebut diberi reward minggu ini.
Pak Gama gemar sekali memberikan kami kuis seperti ini. reward yang berhasil kami kumpulkan diakhir semester akan mendapatkan beragam hadiah dari pak Gama. Aku tak terlalu tertarik dengan reward yang siberikan pak Gama, hanya saja terkedang pak Gama memberikan reward berupa uang tunai.
Aku jadi sangat bersemangat kalau berhubungan dengan uang.
__ADS_1
hehehe...
******