After Dark

After Dark
Ungkapan Perasaan (Bagian Kedua)


__ADS_3

Teng teng teng....


"Bara kali ini lu harus ikut" ucap Bintang


"Kenapa harus ngajak gua?" tutur Bara sembari memasukan buku kedalam tas.


"Kalau lu gak ikut, ini anak (memegang kepala Nano) gak bakal berani ngomong apapun!" tegas Bintang


"Gua udah ada janji, lagian nanti malam kita bakal ngumpul lagi buat bahas tugas kimia" ucap Bara


"Makanya sekalian habis dari cafe kita bahas soal tugas itu"


Bintang tetap memaksa Bara untuk ikut.


Bara tak memperdulikan omongan Bintang, mereka keluar kelas menuju parkiran belakang.


Aku yang sudah menunggu Bara diparkiran motornya, melihat mereka jalan menuju kearah ku.


"lu janjian sama siapa?" Tanya Bintang


Nano melihatku, menggelengkan kepalanya. Lalu berkata,


"Gua tahu Bara janjian sama siapa"


Bara melihat kearahku, kemudian mendorong Nano,


"Lu lihat kemana?"


Bintang tertawa kecil, terbesit ide nakal dipikiran Bintang.


"Sekalian aja lu ajak dia" senyum Bintang


Mereka semakin dekat. Aku tidak ada niatan untuk pulang bersama Bara. Aku menunggu Bara hanya untuk mengembalikan almamaternya saja.


Tapi, pada akhirnya mereka juga meyeretku kemasalah mereka kali ini.


"Kalian mau ngapain kesana?" tanyaku


Bara membantu memasangkan helmku.


"Cuma sebentar aja Lu (bujuk Bintang), kalau lu gak ikut. Bara juga gak bakal ikut. Jadi, kali ini mohon bantuannya" Bintang mencoba menggenggam tanganku.


Bara lansung menepis genggamam Bintang.


Aku yang masih kebingungan menaiki motor Bara, mengikuti kemana mereka akan pergi saja. Anak perempuan lainnya menatap sinis kearahku, melihat aku yang sedang dibonceng Bara. Bara lumayan terkenal disekolah ini. Selain ketampanan yang dimiliki oleh Bara, Bara juga terkenal akan kepintarannya. Apalagi Bara berasal dari keluarga kaya raya, semua pakaian dan aksesoris yang dikenakannya milik brand ternama. Aku harap Tamya tak mendengar akan hal ini dari anak-anak lain. Kalau Tamya tahu, aku bakal berurusan cukup lama dengannya.


******


Cefe yang dipilih oleh mereka cukup jauh dari sekolah, memakan waktu hampir sejam. Pinggangku sudah mulai terasa capek duduk dimotor segede ini. Bara membuka kaca helmnya dan menoleh kebelakang.


"kenapa lulu?" Tanya Bara


"Ha? gak papa, cuma agak pegel" ucap polosku.


Bara tertawa,


"Sabar ya bentar lagi sampai" tutur lembut Bara.


Akhirnya kami sampai,


Cafe Awan, pukul 17.45 wib


Bintang turun dari motor, menepuk-nepuk bahu Nano.


"Semangat bro!" ucap Bintang

__ADS_1


Aku yang sedang kesusahan melepaskan helm melirik kearah Nano. Nano tampak gugup tapi matanya bersinar.


Mereka berdua masuk kedalam cafe.


Tanganku mulai tak karuan melepas helm ini, Bara mengangkat daguku, kemudian membuka kaca helmku.


"Bukan begitu caranya, (aku menatap mata Bara) kalau kamu buka begitu yang ada tangan kamu nanti terluka lagi lulu" tutur Bara sembari melepaskan helmku.


Bara membelai rambutku dan merapikan kerah bajuku yang terlipat.


"Bara,,, (bara menyaut) Nano sama Bintang mau ngapain?" Tanyaku


"Kamu bakal tahu sendiri nantinya"


Bara mengajak ku masuk, Nano kembali berlari keluar menghampiri kami.


dengan nafas yang terengah-engah.


Nano berkata,


"Lulu (memegang bahu Bara) sebentar gua nafas dulu (haaa-haa-aa)"


Nano menarik nafas,


"Bantu aku jawab (aku menganggukkan kepala) perempuan suka warna pink kan? terus mereka suka wangi-wangian bungakan? suka cincin berlian tidak? atau lebih suka hal yang romantis?"


Nano menyerangku dengan banyak pertanyaan. Aku tak sempat berpikir, hanya mengiyakan semua pertanyaan Nano.


"oke, kalau begitu. kamu boleh pesan apa saja dicafe ini. aku bakal traktir kamu"


ucap Nano, kemudian berlari masuk ke cafe.


Aku masih kebingungan, ada apa dengan Nano. Kami pun masuk kedalam cafe. Kebetulan aku merasa sangat lapar sekarang, tanpa pikir panjang aku dan Bara yang duduk terpisah dari meja Bintang dan Nano, memesan semua menu yang aku suka. Aku tak peduli jika harus malu dihadapan Bara, yang terpenting sekarang aku makan sepuasnya.


"Gimana kabar kamu violet?"


Nano bertanya dengan gugup, kakinya gemetar.


"Bukannya kamu bakal ajakin si Bara juga? Baranya mana?" tanya Violet


Bintang yang tak suka mendengar pertanyaan dari Violet mencoba mengalihkan pembicaraan. Bintang menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu.


Semua menu yang aku pesan tadi sudah tersusun rapi di meja, aku melahap semuanya. Bara ikut mencicipi satu-persatu makanan.


Makanan di cafe ini sangat enak sekali, rasanya aku bisa nambah berulang kali.


Jarang-jarangnya aku makan sebanyak ini.


Mereka terlihat membicarakan hal serius, untung saja Bara tidak melihat cara makanku. Ia hanya fokus kepada Nano, yang kakinya sedang gemetar.


Mereka selesai makan, dan terlihat sedang membicarakan hal serius.


Nano mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Terlihat seperti kotak kecil, kemudian Nano menggenggam tangan perempuan itu.


Mata Bara tak teralihkan sedikitpun dari Nano, aku mengerti sekarang apa yang sedang mereka lakukan.


"Viiviiioo...


"Vioole..


"VVvViolettt, kita sudah lama saling mengenal (Bintang berjalan menuju kearah meja kami)


"Selama ini kita banyak menghabiskan waktu bersama, kamu bilang waktu itu. kalau kamu suka cincin berlian dengan permata kecil kan?


Nano membuka kotak kecil yang diambilnya tadi, aku yang sedang minum terkejut melihat isi kotak itu.

__ADS_1


Dari kejauhan kotak itu bersinar sangat cantik.


air yang ada dimulutku menyembur keluar.


Blurrftrrr


Mata Bara teralihkan kepadaku,


"Kenapa lu?"


Bara mengambil tisu kemudian mengelap bibirku yang basah.


"Cantikk,," tutur pelanku


Bara yang mendengar ucapanku, lansung tersenyum.


"Kamu juga suka berlian?" tanya Bara


"Haaa? Berlian? yang didalam kotak sekecil itu isinya BERLIANN?" tanya ku dengan suara keras


"iya, kalau suka nanti aku belikan"


Bara duduk kembali,


Mereka semudah itu mengeluarkan uang untuk membeli berlian? Memang orang-orang kaya berbeda dengan orang sepertiku. Untuk makan saja aku harus bekerja terlebih dahulu saat ini.


Tiba-tiba perempuan yang duduk bersama Nano berdiri, kemudian pergi meninggalkan Nano sendiri.


Bintang bergegas menuju kekursi Nano, begitupun dengan Bara. Aku mengikuti mereka dari belakang.


Nano menghela nafas, melihat kearah Bintang dan Bara.


"Lain waktu mungkin lain waktu" ucap Nano sembari meneteskan air mata


Bintang memeluk Nano,


"Masih banyak perempuan lainnya didunia ini" tutur Bintang


Bara tak berkata apapun, dia mengambil cincin itu dari tangan Nano.


"No, dia bukan perempuan yang tepat untuk lu sayangi. Jangan terlalu dipikirin" Ucap Bara.


"Barrr.... (teriak Nano) dia dia DIAAAAA sukaaa sama lu"


Nano menangis sangat keras. Bintang mengelus punggung Nano. Rasanya berada dikondisi saat ini sangat canggung sekali bagi mereka. Bagaimana tidak perempuan yang disukai oleh Nano ternyata menyukai Bara. Meskipun Bara tidak menyukai perempuan itu, tetapi aku tahu persis bagaimana perasaan Nano saat ini.


Hari mulai gelap, kami masih berada dicafe. kejadian ini membuat aku lupa akan janjiku pada Kak Jason malam ini. Kak Jason juga tak menghubungiku. Sepertinya dia ingkar akan janjinya.


Disaat kondisi Nano sudah mulai tenang, aku mencoba mencairkan suasana


"ehhh (mereka menatapku) bukan aku bukan mau ganggu kalian. cuma sekarang udah mulai gelap, kita juga belum bahas apapun soal praktek besok. jadi, sekarang..."


ucapan ku yang belum selesai, lansung dipotong Bara


"Aku antar kamu pulang dulu sekarang lulu, soal tugas praktek biar aku yang kerjakan nanti. kalau udah kelar aku bakal kirim ke email kalian"


Bara mengambil tasku,


"Kalau udah sampai rumah kabari gua bin" tutur Bara kepada Bintang,


Bara menuju ke kasir, aku mengikuti Bara dari belakang. Semua tagihan sudah dibayar oleh Bara. Barapun mengantar ku pulang ke kosan. Selama perjalanan pulang Bara hanya diam, aku tak pernah mengajak Bara ke kosan ku. Tetapi, Bara berhenti tepat didepan kosanku.


Aku turun dari motor Bara. Bara meminta maaf kepadaku atas kejadian malam ini, kemudian pulang.


******

__ADS_1


__ADS_2