After One Night

After One Night
[Aneh]


__ADS_3

Camila sang pengasuh menelepon, dia baru saja sampai di hotel setelah mengikuti mobil Badai yang membawa Tuan mudanya.


"Maafkan Mila Nyonya." Camila menundukkan wajahnya segan. Jujur saja, mencegah Tuan muda keras kepala seperti Ezra cukup sulit baginya.


Cheryl tersenyum. "Nggak apa-apa, sekarang kamu ke ruangan sebelah, temani Eza makan sekalian kamu juga makan. Setelah itu, bawa Eza pulang tanpa mampir lagi."


Cheryl beralih pada putrannya. "Mengerti kan Eza?" Tanyanya.


"Iya Mam." Angguk Ezra. Cheryl tersenyum, lalu mengusap-usap pucuk kepala putranya sebelum Camila membawa serta anak itu ke ruangan sebelah.


Badai masih tergagu shock mendapati perbandingan telak dari putra permata cintanya.


Sejatinya sedari dulu Badai terbiasa dibandingkan dengan sikap Sandy, mereka memang bagaikan bumi dan langit, tapi entah kenapa, rasanya terlalu sakit saat Ezra yang mengutarakan.


Cheryl menatap suaminya. "Sudah selesai kan? Mulai besok dan seterusnya, aku sendiri yang pastikan, Ezra ku tidak akan pernah mengganggu mu lagi." Ujarnya.


Badai tersudutkan, sumpah demi apapun, rasa sakit ini sama seperti tercampak ke dasar lautan yang terdalam dan dalamnya lagi. Istrinya benar-benar tidak membutuhkan dirinya selain daripada uangnya.


"Mungkin bagimu kami hanya pengganggu, maaf untuk itu, sukses lah selalu, capailah cita-cita mu, dan yah, aku akan menghapus nomor ponsel mu yang terpaksa memangil ku tadi." Cheryl mengklik tombol hapus nomor di ponselnya lalu menunjukkannya pada Badai.


"Semoga kamu puas dengan pencapaian mu yang sekarang. Meski tanpa aku dan Eza, semoga bahagia selalu menyertai mu. Aku janji, aku dan Eza ku tidak akan pernah mengganggu kehidupan bahagia mu, aku janji, aku tidak akan pernah menggunakan Ezra ku demi merayu mu kembali."


Badai tercekik, sebenarnya rasa apa ini? Badai yang ditinggalkan Cheryl, Badai yang selama ini tak dianggap suami oleh Cheryl.


Cheryl seenaknya saja pergi dan berlagak masih setia setelah ia kembali menjadi putra Savira Li. Kemudian sekarang, Cheryl yang berbicara seolah-olah dirinya lah yang paling benar.


"Jadi menurut mu, aku yang jahat begitu? Lalu bagaimana dengan mu yang pergi meninggalkan ku sementara aku sedang dalam masa yang sulit?" Tanya Badai.


Cheryl terkekeh. "Seandainya kamu sadar bahwa ada nama Gustav di tengah-tengah kita, mungkin aku tidak akan pernah pergi."


"Gustav itu ayah mertua mu Cheryl, meski dia tidak merestui kita, tapi dia masih ayahku! Kamu pikir kamu sudah menjadi istri dan menantu yang baik?"


Cheryl mengangguk. "Baiklah aku akui aku gagal menjadi istri dan menantu yang baik. Tapi sebisa mungkin aku berusaha menjadi ibu yang baik."


"Menjadi ibu yang baik dengan cara hura-hura bersama wanita sosialita, dan Ezra bersama pengasuhnya? Begitu Cheryl Arsya?" Tukas Badai kembali.


"Jangan pernah meragukan kemampuan Cheryl Arsya dalam mendidik putranya disaat kamu sendiri tidak pernah merasakan yang namanya sakit saat putramu sakit! Kamu tidak pantas meragukan ku Badai!" Nada Cheryl kian meninggi.


"Cheryl, ..."


Cheryl terkekeh samar. "Aku tidak tahu bagaimana caranya kau mengingat nama ku. Tapi yang jelas, aku tahu nama Cheryl dan Ezra, sudah tidak lagi ada di hatimu." Ucapnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Badai mematung di tempatnya. Entah kenapa ia sendiri mengutuk keras kepala batunya, hati bekunya, dan tinggi ego yang selalu saja menjadi benteng pemisah antara ia dan anak istrinya.


Cheryl kembali ke ruangannya. Lalu mulai melanjutkan makan bersama teman-teman arisannya. Ia tersenyum manis pada semua orang demi menutupi rasa sakitnya.


Cheryl sudah terbiasa mendapat nyeri seperti ini, kini Cheryl Arsya bukan lagi Cheryl yang lemah, Cheryl Arsya sudah memiliki sumber energi yang kuat yaitu Ezra.


Di ruangan lain Ezra makan siang bersama pengasuhnya. Anak itu berusaha melupakan hal yang membuatnya kecewa.


Badai ngeluyur pergi dengan sikap arogannya. Umpatan merutuk ia tujukan pada dirinya, tapi kembali ia berpikir bahwa Cheryl lah yang meninggalkan dirinya setelah ia tak lagi memiliki sepeserpun uang.


Dari perusahaan Savira Li, selama ini Ezra dan Cheryl mendapatkan kartu hitam tanpa limit. Lalu apa kurangnya Badai selama ini? Cheryl bahkan tak melayaninya meski nafkah tak pernah putus darinya.


"Argh!" Tiba di dalam mobil, Badai memukul setir, berteriak, berkeluh kesah. Jujur ia frustrasi, kacau, terlebih acara hari ini juga gagal total.


Moodnya menjadi tidak baik setelah Ezra memanggilnya Om, dan Cheryl meninggikan suara di depannya seperti sudah hebat saja.


Kriiiiiing...


Badai meraih ponsel yang berdering, sebelum kemudian ia menggeser tombol terima.


"Hmm." Sahutnya.


"Aku segera kembali." Badai menyalakan mesin mobil, lalu memutar setir untuk dibawanya keluar dari halaman parkir.


...โœด๏ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธโœด๏ธ...


Meski Badai kembali ke Indonesia, masih tak ada yang spesial bagi Cheryl dan Ezra. Ibu dan anak itu tidur cepat seperti malam- malam sebelumnya. Biarlah mimpi yang akan menghapus semua luka hari ini.


Sementara Badai dan semua temannya kini berpesta di kelab malam, mereka bersulang merayakan kesuksesan Badai Laksamana.


Nama kepemilikan perusahaan, saham, dan lainnya yang semula Savira Li kini menjadi Badai Laksamana.


Di usia yang baru akan menginjak dua puluh sembilan tahun, Badai sukses meraih gelar doktor setelah kesakitan hatinya ditinggal istri tercinta.


Ia mampu membuktikan pada dunia bahwa Badai bisa mencapai kesuksesan tanpa wanita sang racun dunia.


Bukannya senang, wajah Badai justru muram tak bersemangat. Lukas yang peka kini duduk di sisi sahabatnya. "Kamu kenapa sih? Kok sedih begitu mukanya?" Tanyanya.


"Iya, ini kan perayaan mu. Semangat dong. Lihat, kamu sukses di usia muda bahkan setelah punya anak istri." Sambung Endre.


"Cheers!"

__ADS_1


Ting...


David menyulang gelasnya dengan gelas milik Ernest, Endre dan Lukas lalu menenggak minuman memabukkan secara bersamaan.


"Sandy ke mana?" Badai celingukan, sedari tadi ia tak melihat sahabat perfect yang selalu dibandingkan dengannya. "Ke mana dia?" Ulangnya.


"Sandy bilang, ayahnya mengatur perjodohan lagi. Dan sekarang, dia sedang tidak bisa hadir di sini." Jawab Endre.


Badai berkerut kening mendengarnya. Ia lalu mencondongkan tubuhnya menatap seksama wajah tampan sahabatnya. "Oya? Siapa jodohnya?"


"Kurang tahu, belum ada bocoran." Geleng Endre kembali.


Rasa aneh yang tiba-tiba muncul membuat Badai gelisah dan bangkit dari duduknya, ia berjalan mondar-mandir kemudian mencari tempat sepi dan mulai meraih ponsel mahalnya.


Badai tak ingin mati penasaran. Jujur saja, sedari tadi siang pikirannya kacau karena Ezra membandingkan dirinya dengan Sandy.


Bukankah itu berarti selama ini Ezra dekat dengan Sandy? Bagaimana jika ternyata, jodoh Sandy adalah Cheryl Arsya?


Badai melayangkan panggilan telepon pada kontak bertuliskan Sandy. Tak lama Sandy mengangkatnya.


๐Ÿ“ž "Ya, Bai."


Badai keringat dingin. "Lo di mana? Lo nggak dateng ke acara Gue hah?" Basa-basi nya.


๐Ÿ“ž "Sorry. Gue lagi, ..."


"Di mana? Di mana Lo sekarang?" Cecar Badai.


๐Ÿ“ž "Di hotel Millers-Corpora."


"Ngapain?" Seketika Badai merinding, entah rasa aneh dari mana ini, kenapa ia curiga pada sahabat terbaiknya.


๐Ÿ“ž "Ada urusan pribadi. Sorry Gue tutup Bai."


"Hayys, sial!" Badai mengumpat setelah Sandy menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


Segera Badai keluar dari kelab malam tersebut tanpa berpamitan dengan teman-teman seperjuangannya.


Badai mengejar mobil miliknya kemudian menaikinya dan mengemudikannya sendiri. Sekarang juga ia harus memastikan bahwa Sandy tidak sedang mengkhianati dirinya.


"Kalau sampai kau mau menikahi Cheryl dengan cara diam-diam. Hubungan kita selesai Sand!" Rutuk nya.

__ADS_1


__ADS_2