After One Night

After One Night
[Cemburu Eza]


__ADS_3

Antara malu dan bernafzu, di atas ranjang putih berhiaskan taburan kelopak bunga mawar merah, Cheryl memandangi wajah sensual pria itu.


Surai pirangnya tergelar seksi. Mata birunya sedikit membesar tatkala t-shirt putih Badai melayang serampangan dan mendarat pada kepala sofa.


Senyuman gairah tertampil begitu erotik... Deru napas yang menggebu terdengar menggelitik... Tuhan, begini kah rasanya ketika cinta fanatik mengalahkan ego dan menumbuhkan kembali simpatik...


Inginnya melupakan, namun sulit sekali beralih, cerita manis yang hanya sekelumit, mampu membekas, ia terus menyesap, hingga mencekik, tak mau terganti pada yang lain.


"Aku merindukan mu." Terlebih lagi, ketika suara berat itu selalu memanjakan telinganya.


Cheryl terdiam pasrah, menyaksikan betapa lembutnya sentuhan pria tampan itu. Kini semuanya terasa seperti saat pertama kali mereka melakukannya.


Tak ada telapak tangan yang kasar, tak ada lagi bau matahari, ataupun aroma kepedihan yang dahulu terhirup dari tubuh Badai.


Tiada rasa khawatir akan hangusnya masakan yang terpaksa mereka tinggal ketika tersengat gairah seperti sekarang ini.


Di luar angin meniup pepohonan rindang hingga dedaunan mendayu-dayu, mereka bergemuruh seperti sedang membunyikan backsound romansa cinta dari sepasang suami istri itu.


Jangan ditanya bagaimana seksinya saat mata Cheryl terpejam dan terbuka beriringan dengan lenguh yang mengudara.


Ia polos tak bersisa lagi helaian benang miliknya. Handuk entah dibuang ke mana. Badai menyisir seluruh lekukan raganya dengan bibir yang basah.


Gelitik hidung runcing Badai mengenai setiap inci kecil dari ceruk leher mulusnya. Aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya, menjadi bagian yang paling digemari pria nya.


"Emmh." Apa lagi selain menikmati? Cheryl telah lama hanya bermain-main mandiri, biar saja kali ini sang pemilik hati yang melayani.


"Kau tahu, betapa beruntungnya aku, memiliki kembali kesempatan ini. Sumpah, kau wanita yang takkan mungkin ada gantinya."


Cheryl membuka mata. Ia merasakan tetesan air yang terjatuh dari sudut netra suaminya membasahi bibir. Isak kecil lamat-lamat terdengar.


Di bawah kungkungan pria itu, Cheryl tergagu, ia berusaha menyimak ungkapan hati Badai yang langka.


"Kenapa kau mencabut tuntutan Papa?" Di sela kegiatan nikmat mereka, Badai masih sempat bertanya, jujur itulah hal yang belum ia ketahui alasannya.


Kenapa masih ada wanita yang sebaik Cheryl Arsya? Memaafkan tanpa berharap apa pun darinya.


Cheryl tersenyum. "Bagaimana pun, dia ayah dari suamiku." Ujarnya pelan.


"Apa aku masih pantas diakui?" Badai kembali mengikis jarak hingga bertaut bibirnya pada pipi mulus wanitanya.


"Tujuh tahun aku tanpa mu, tapi aku merasa tidak pernah kehilangan kesetiaan mu. Itulah kenapa aku masih mengakui mu."

__ADS_1


Wajah Badai meringsut mundur. Ia tatap dalam-dalam wajah istrinya. Tak ada yang berubah masih cantik dan awet muda.


"Kak Sandy, Kak Lukas, dan lainnya, mereka sering memberikan informasi tentang mu. Dan yah, kesetiaan mu yang membuat ku bertahan selama ini." Jelas Cheryl kembali.


Badai berkerut kening menatap serius bibir sensual istrinya. "Aku ingin menggigit bibir mu." Bisiknya.


"Lakukan saja." Sekejap bibir mungil itu bertaut dengan gigi-gigi juga belitan indera perasa.


Tak ada waktu untuk bernapas, Cheryl mencoba mengambil udara sesekali saat ada kesempatan. Badai tak mau terlepas, ia pun sama. Terlebih ketika tubuh pusatnya tersentuh oleh jemari-jemari nakal.


"Sayang." Cheryl menggeleng cepat saat wajah lelaki itu berada di antara paha mulusnya. "Eza gimana?"


Sepertinya jika terlalu lama melakukan pemanasan, tidak lagi aman bagi mereka. Sekarang sudah ada Ezra yang mungkin akan menggedor pintunya kapan saja.


Badai terkekeh. "Eza pasti mengerti. Kita melepas rindu." Bisiknya lagi.


"Ah!" Cheryl mendongak secara frontal, langit-langit kamar menjadi teman di kala ia meremang.


Ada ujung tak bertulang yang menyikat inti kehidupannya. Lama sudah Cheryl tak merasakan kenikmatan ini, ia sampai harus menarik rambut di puncak kepala laki-laki itu, demi mempertahankan posisinya.


Jangan cepat selesai. Jangan cepat berlalu, biarkan dirinya merasakan adukan lebih lama lagi. Tak mau menyudahinya, tak ingin menolaknya, sungguh manis separuh wajah Badai yang masih bisa terlihat oleh retinanya.


"Mau lebih?" Setelah cukup lama bermain di bawah sana, Badai bangkit dan mengutak-atik kepala gesper nya. "Mau?" Ulangnya.


"Oh My God!" Cheryl meninggikan lenguhnya. Lalu ia tekan kembali teriakannya dengan menggigit bibir bawahnya. Kamar ini belum teruji kekedapan suaranya. Rasanya seperti saat pertama kali Badai mencicipinya.


"Sakit hmm?" Tak mungkin Cheryl menjawab yah. Karena ini terlalu sayang untuk direlakan.


Dahulu saat pertama kali saja, di tengah tangisan kesakitannya Badai sempat ingin menyudahi nya, namun kembali ia menggoda pria tampan itu, dan berkata aku baik-baik saja.


"Sayang yakin?" Badai memastikan, ia berbisik di telinga wanita itu. "Yakin mau lanjut?"


Cheryl mengangguk. "Yakin." Desahnya.


Berlanjut Badai memacu istrinya. Bukan ilusi, ini begitu nyata walau rasanya seperti mimpi di pagi buta.


Buliran peluh mulai berembun, ia muncul di dahi, leher, wajah, pelipis, bahkan seluruh tubuh sepasang suami istri yang dimabuk asmara.


"Gila! Ini gila!" Pujian demi pujian yang Cheryl lontarkan, membuat Badai kian bersemangat. Yah, Badai selalu membuatnya candu dengan ketahanan, kekuatan, dan inovasi gayanya.


Cukup lama mereka berganti-ganti style, dari yang lembut sampai yang ekstrim. Tak di pungkiri, keduanya sama-sama kreatif untuk hal bercinta. Lenguh lirih menggema, tiada jedanya.

__ADS_1


"Mami, Papi, apa kalian di dalam?" Suara dari luar pintu mengganggu konsentrasi Badai yang sedikit lagi menuju puncak surga dunia.


"Ya Tuhan, Eza!" Badai menekan sedikit suaranya. Cheryl terkikik di sela kegiatannya.


"Mami!"


"Iya Sayang." Bersuara sengal Cheryl menjawab teriakan putranya. Benar kan dugaannya, kamar ini tidak kedap suara.


"Apa Eza boleh masuk?" Teriak Ezra.


Badai menggeleng. "Jangan kabur Yank. Sedikit lagi." Memelas nya.


"Gantian saja." Cheryl mengambil alih posisi supaya suaminya lebih cepat menyerah di bawah aktivitasnya.


Sejurus kemudian, Badai tersenyum manis setelah mampu membuang unek-unek yang terpendam bermiliar-miliar detik kesepiannya.


Cepat-cepat Cheryl memasuki kamar mandi, membersihkan diri secara kilat. Cheryl lantas membuka lemari kayu yang terdapat di sisi dipan dan meja rias.


Villa klasik berlantai tiga ini tidak begitu modern. Semua perabotannya masih menggunakan ukiran Jepara. Dan itulah kesan estetikanya.


Tak ada baju perempuan di dalam sana. Kemeja putih besar milik suaminya ia pakai asal saja.


Badai bangkit dari ranjang sambil tersenyum, kemudian memeluk wanita seksi itu dari belakang tentunya setelah mengenakan kembali celananya.


"Terima kasih."


Cheryl berbalik, ia raih kaos t-shirt suaminya lalu menyodorkan. "Pakai baju gih. Eza sudah mau masuk."


"Ok." Badai memakainya dengan bibir menyengir, matanya menatap Cheryl yang berjalan menuju pintu, lantas membukanya.


"Mami!"


Ezra memeluk ibunya, lalu berlari masuk menerjang tubuh ayahnya hingga terduduk di sofa.


Cheryl kembali menutup pintu sebelum ia melangkah kembali mendekati anak suaminya.


"Papi kok nggak bilang-bilang ada Mami? Jadi kamu mau menguasainya sendiri?" Tukas Ezra.


Badai terkikik. "Tidak."


"Lalu kenapa curang?" Ezra menatap protes ayahnya. "Mami di sini, tapi nggak bilang Eza."

__ADS_1


Badai melirik sekilas istrinya. "Ok kita bagi waktu saja. Mami milik Ezra, pagi siang sore. Tapi malam harinya Mami punya Papi, gimana?"


__ADS_2