
Hanya karena menikah dengan Sandy yang kaya raya, keluarga Rain seolah menutup semua fasilitasnya.
Lihat saja, bahkan untuk makan di restoran Kimmy food milik keluarga ibunya saja dia harus bayar.
Tapi baguslah, setidaknya dua ratus lima puluh juta yang ia kuras dari dompet suaminya masuk ke perusahaan keluarga.
Chika jadi berpikir, mungkin anak Raja Kryska Rain dan Kimmy Zoya hanya abangnya saja yaitu Rega Putra Rain.
Di atas ayunan rotan, Chika duduk memeluk kedua betisnya. Semenjak Sandy membentaknya di hotel kemarin, Chika tak mau bicara pada lelaki itu.
Hari ini tak ada kelas, Chika jadi jenuh sendiri di rumah dari pagi sampai malam. Inginnya jalan-jalan, tapi tidak mungkin juga karena uang jajannya mulai berkurang.
Bergantung pada suaminya memang sangat-sangat tidak enak. Rasanya ingin kabur dari pernikahan sandiwara ini, tapi bagaimana caranya?
Bahkan Gala yang selalu ada untuknya saja tidak sekaya suaminya. Gala si teman kecilnya, hanya anak badung yang juga bergantung pada ayah dan ibunya.
Selain Gala, semua teman terbaik dan terdekatnya sudah kuliah di luar negeri. Dan hanya Gala saja yang tersisa.
Malangnya dia... Anak orang kaya, putri satu-satunya yang lahir dari pewaris sah perusahaan X-meria dan Kimmy food harus bernasib sial seperti sekarang.
Di tengah heningnya, langkah kaki besar mendekat, tanpa menoleh Chika sudah sangat tahu Sandy lah yang duduk di sisinya.
Tak sedikitpun bergerak, Chika hanya diam meratap. "Makan dulu, Sayang." Chika mematung.
Suapan tangan suaminya tak sedikitpun ia hiraukan. Setelah membuatnya sakit hati, apa pedulinya lelaki itu?
"Maaf untuk yang kemarin, sekarang makan lah, dari tadi pagi, Baby belum makan. Kakak bikin sendiri barusan."
Chika masih hening. Sandy menghela napas berat setelah kemudian, Chika bangkit dan pergi keluar meninggalkan dirinya.
Sejenak Sandy merutuk. Ia sudah seperti seorang ayah yang sedang membujuk putri kecilnya makan.
Biasanya Chika lahap makan makanan yang dibuat oleh tangan suaminya. Hari ini tak sedikitpun berselera.
Chika melangkah gontai, kakinya terayun menuju ruang tengah, di mana biasanya ia menonton film. Ruangan yang sengaja di desain temaram seperti di bioskop-bioskop.
Bukannya mendapat ketenangan dan hiburan, lagi-lagi teman-teman Sandy membuatnya menghela napas. Kemarin relasi bisnis, sekarang, sahabat dari luar negeri.
Tak ayal, Endre, Lukas, David dan Ernest, duduk tak beraturan di sofa abu-abu sana, hampir beberapa bulan sekali mereka datang ke Indonesia dan berkumpul bersama, sekedar menghabiskan waktu di bar dan melepas rindu.
Chika maklum, semua teman Sandy bule yang tajir melintir. Hidupnya seolah hanya untuk bersenang-senang dan traveling saja.
Merasa hanya mengenakan dress tidur pendek, Chika urung dari niatnya. Baru akan memutar tubuhnya kembali, Endre sudah lebih dulu menyeletuk.
__ADS_1
"Baby..."
Chika sudah terpergok, Chika menoleh dan nyengir. Bagaimana pun, Endre selalu ramah dan baik padanya. "Bang...," sapanya senyum.
Chika memang selalu memanggil mereka dengan sebutan Bang.
"Kenapa tidak jadi? Kemari lah, gabung dengan kami," ajak Lukas. Inilah alasan kenapa mereka lebih suka di rumah Sandy daripada Badai.
Ada Chika yang segar di pandangan seorang om-om seperti mereka ini. "Baby mau hotdog?" tawar Ernest.
Chika memegang perut. Dia memang belum makan sedari tadi pagi, ternyata lapar juga terus menolak makanan enak.
Terlebih, makanan siap saji yang ditawarkan itu terlihat sangat menggoda lidahnya. Ada pizza, spaghetti bolognese, hotdog, dan masih banyak lagi yang lainnya.
"Boleh..." Chika menyengir sembari mendekat. Ada note yang tertulis di atas salah satu kotaknya. "Waw, ekstra sosis mayonaise?"
"Hmm, makanlah!" David menyodorkannya.
Chika menyengir seraya duduk di sofa yang sedikit berjarak dengan teman-teman suaminya. Dia buka kotak-kotak berisi makanan siap lahapnya, lalu memulai ritual makan malamnya.
Lapar membuat Chika bersemangat, satu persatu ia cicipi makanan miliknya. Sesekali, Chika menjilati bibir atasnya demi melibas saos mayonaise yang terserak di sana.
"Mmmph...."
"Enak?" tanya Endre. Dan Chika mengangguk senyum sambil mengusap sedikit ujung bibirnya.
Bahkan, Lukas, Endre, Ernest dan David terperangah melihat aksinya yang terbilang sangat sensual.
Di tengah makan malam Chika yang disaksikan ke empat bule tampan, Sandy tiba dan mengerut keningnya.
Barusan Chika menolak suapan tangannya, sekarang di depan teman prianya, Chika makan dengan sangat lahap.
Sandy juga melihat bagaimana seksinya seorang Chika saat memasukan makanan berbentuk memanjang ke dalam mulutnya. Bukan terlihat jelek, ia justru terlihat seksi.
Sandy berdecak. Teman temannya tentu membayangkan, bagaimana saat mulut Chika penuh oleh milik inti laki-laki? Sandy yakin betul, pasti itu, khayalan bar-bar ke empat teman sengklek-nya.
"Tv-nya di depan!" Sandy melangkah dan memutus pandangan mereka. Ia duduk di sisi Chika, lalu merentangkan sebelah tangan di punggung istri gadisnya.
Lukas menyengir. "Chika lebih seru dari filmnya, Sand," katanya.
"Ck!" Bantal sofa Sandy lempar pada pria Casanova itu. Endre dan lainnya terkikik menangkap ekspresi wajah Sandy yang aneh.
Melihat Sandy datang, Chika jadi malas. Selera makannya tiba tiba saja menurun. Tak banyak kata, Chika segera menyelesaikan makannya sebelum nantinya ia pergi.
__ADS_1
Sesekali Sandy melirik istrinya, cara makan Chika memang berbeda. Bibir mungil yang bervolume penuh itu juga membuat dirinya berdesir.
Oh Tuhan, sejak kapan Sandy melihat hal lain dari istri kecilnya. Kemarin, Chika masih terlihat seperti bocah.
Kenapa malam ini, ia baru menyadari bahwa ekspresi wajah istrinya begitu sensual saat melahap hotdog berukurang jumbo.
Belum lagi, desah geraman yang alami muncul dari gumaman gadis itu. Sumpah demi apa pun, Sandy dibuat meremang.
"Mending Sayang makan di meja saja gih," usirnya halus. Sandy tak suka, keseksian istrinya ikut dinikmati teman-temannya.
Belum lagi, film yang mereka tonton bukan film bimbingan orang tua. Sekelas Lukas dan temannya, tentu saja tontonannya film thriller yang banyak adegan erotis-nya.
"Pindah."
Chika tak menyahut, tapi menurut. Dia bangkit dari duduk, lalu pergi ke arah kamarnya. Setidaknya Sandy sedikit lega, Chika sudah terlihat kenyang setelah banyak makan.
"Sand!" Lukas menyeletuk.
"Hmm?" Sandy mengalihkan pandangan pada layar lebar televisinya.
"Kalian pasti sudah...."
Endre paham apa yang ditanyakan oleh Lukas. Ia pun ikut menimpali. "Sudah kan?"
Sandy menatap wajah temannya secara bergantian. "Sudah apa?"
"Having s.e.x with your wife."
Sandy menelan ludah. Apa jadinya kalau ia mengaku, tak pernah menyentuh Chika, bisa dipastikan keempat temannya menertawakan statusnya.
"T-tentu saja!" ketusnya berkilah.
"Ceritakan, bagaimana saat Chika..." Lukas memperagakan permainan bibir dan tangan wanita yang paling disukai laki-laki.
"Enyah saja kalian!" Sandy ketus. Pembicaraan temannya tak luput dari seksualitas.
Semuanya tertawa terkecuali Sandy yang tampak kesal. "Ayolah, jangan marah begitu!" David menyeloroh.
"Chika seksi," timpal Ernest. "Kemarin dia masih terlihat lucu dan menggemaskan, sekarang dadanya sudah lebih berisi dan menggairahkan," ledeknya.
"Dari sini kita tahu, Sandy teman kita cukup handal membentuk tubuh istrinya," canda Endre dengan gelaknya.
Bukan pujian, karena Sandy seperti mendengar hinaan dari ke empat teman bulenya. Jangankan membentuk, tahu rasa kenyalnya saja Sandy tak pernah.
__ADS_1
"Ahh, eumph, ahh...." Sandy kembali fokus pada layar televisi miliknya. Di mana adegan erotis telah dimulai.
"Wohoo, setelah ini hanya Sandy kita yang akan mempraktekkannya!" sindir Ernest seraya tertawa sedang Sandy mendengus.