
Restoran fine dining, tempat di mana Ezra dan Rigie duduk menghadapi meja bundar berhiaskan lilin aromaterapi beserta makanan mahal.
Beberapa waktu lalu, mereka keluar dari ruang teater. Malam ini Ezra memenuhi janjinya menemani Rigie menonton film.
"Filmnya seru banget kan Za?" tanya Rigie yang kemudian diralat olehnya sendiri.
"Oh iya, sepanjang film kan kamu tidur tadi, gimana bisa berbagi cerita sama aku," ujarnya cemberut.
Ezra asyik menyantap makan malamnya, sesekali melirik sekilas wajah merengut sahabatnya.
"Udah dibilang, Gue nggak suka film horor," katanya.
"Sukanya apa?"
Tak menyahuti gadis itu, Ezra lebih memilih menyuapkan makanannya pada Rigie. "Steak ini lebih enak dari pada cerita Lu," ujarnya.
Terpaksa, Rigie mengunyah penuh manyun makanan Ezra. "Nggak seru," gerutunya.
Ezra menerbitkan sedikit senyuman, sebelum kembali melahap makanannya. "Makan, terus pulang," titahnya.
Kendati masih dengan bibir merengut, Rigie menurut untuk melanjutkan makan malamnya.
Tanpa sepengetahuan Rigie, lagi-lagi Ezra tersenyum kecil. Asal bersama gadis cantik itu, rasa nyaman ini masih ia miliki.
...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...
Tiga bulan sudah bayi perempuan Cheryl Arsya lahir di dunia. Ezra bahagia memiliki adik secantik ibunya.
Keysha Arsya Laksamana nama yang akhirnya disematkan pada bayi mungil nan lucu tersebut.
Semua anggota keluarga Rain dan Miller berbahagia, terlebih keluarga Savira Li yang hanya segelintir saja.
Gustav juga sudah dibebaskan secara bersyarat, dan lelaki itu diberikan tempat tinggal yang layak oleh putra semata wayangnya.
Pun, Gustav masih sering menggerutu soal kemiripan Ezra yang semakin besar lebih condong ke wajah Raka.
Syukurlah wajah Keysha plek ketiplek Savira, yang artinya berwajah oriental seperti Badai Laksamana.
Lupakan soal kemiripan wajah rupawan Keysha dan Ezra, beralih kita pada kasus baru yang masih cukup hangat.
Bak tergores sembilu Ezra tengah dirundung cemburu nun membuatnya pilu. Wajah tampan itu tertekuk lusuh.
Pasalnya Rigie yang selama ini merecoki hari harinya, telah bergelar sebagai tunangan Lucky pranata.
Sebuah berita yang benar-benar mencengangkan bagi seleb muda dan pebasket Azriel Ezra Laksamana.
__ADS_1
Di sudut tempat Badai mengusap punggung putranya, ia tahu Ezra tak berniat datang ke acara hingar bingar ini.
Di mana Ezra harus menyaksikan jari manis Rigie di isi cincin oleh tangan pemuda lain.
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Rigie dijodohkan.
Perjodohan dini Rigie dengan pemuda bernama Lucky pranata mampu menorehkan luka di hati putra perdana Badai Laksamana.
"Jangan patah hati gitu jagoan Papi, masih banyak gadis cantik yang lain," ucap Badai, ia terkekeh mendapati wajah muram nun dingin putranya.
Ezra diam tak menyahut, jangankan untuk bicara, tak ada setitik pun hasrat yang mampu Ezra keluarkan saat ini.
"Badai," sapaan seseorang membuat Badai menoleh dan reflek meninggalkan putranya.
"Selamat datang di Indonesia," ucap Badai pada satu orang relasinya. Mereka bertegur sapa layaknya teman bisnis.
Ezra semakin kacau saat sendiri, ia menuju meja bartender demi memesan minuman bersoda.
Ezra duduk di depan Mr. bartender yang membuatkan dirinya minuman. Seteguk, air itu tandas dari gelasnya.
"Eja."
Pemuda tampan itu melirik sekilas ke arah si penyeru, lalu kembali memandangi inci kecil gelas heels miliknya. Dingin menceku perangai pria muda itu.
Gadis bergaun silver blink blink duduk di sisi Ezra. Siapa lagi jika bukan Rigie Priscilia.
"Selamat," ucap Ezra singkat.
Rigie memiringkan kepala, menatap seksama wajah datar Ezra. "Kok kayak nggak ikhlas gitu?" tanyanya.
Ezra menoleh. "Lu mau Gue doain semoga langgeng, begitu?" tanya baliknya.
"Setidaknya kamu nggak cuekin aku," kata Rigie.
Ezra mengudarakan tawa kecil. "Lo salah kalo sampai berpikir akan mendapat doa yang baik-baik dari Gue," ucapnya.
"Maksudnya?" Rigie berkerut kening.
"Gue malah pengen liat Lu dicampakkan, diabaikan, disakiti, ditinggalkan, plus tidak bahagia sama tunangan Lo," doa Ezra.
Rigie mengernyit. "Kok Eja gitu sih doanya?"
"I have the right to do that!" enteng Ezra. Naik pula kedua bahunya yang bidang, dan rona kecewa tak kalah mencuat di wajahnya.
"Jahat banget sih," sambung Rigie, bibirnya meleyot seperti menahan kesedihannya.
__ADS_1
Tak mau melihat drama ini, Ezra turun dari kursinya, kemudian ngeluyur pergi. Melihat itu, segera Rigie mengikuti.
"Eja," panggilnya. "Kamu cemburu?" tanyanya.
Ezra terkekeh. "Masih penting bahas itu?"
"Selama ini kamu juga nggak bilang suka sama Rigie, sekarang pas aku dijodohin malah doain yang buruk-buruk," ketus Rigie.
Ezra menghentikan langkah untuk menatap kembali gadisnya. "Now, pentingnya apa bahas ini?" tanyanya lagi.
Ezra perlihatkan cincin yang melingkar di tangan Rigie dengan menghampar jari-jari lentik itu, tepat di wajah sang empu.
Rigie tahu tak ada lagi guna untuk membahas hal yang tidak seharusnya dibahas di acara pertunangannya.
Ezra terlihat kecewa saat pergi meninggalkan Rigie. "Eja," secuil pun panggilan gadisnya tak ia hiraukan.
Ezra mendatangi meja yang dikhususkan untuk tempat makan keluarganya. Bersama stroller baby Keysha, Cheryl sang ibunda masih duduk di atas kursinya.
"Kalian berantem lagi?" sambut Cheryl. Ibu dua anak rupawan itu paham betul bagaimana sikap putranya saat marah dan kecewa, persis seperti Badai suaminya.
Ezra hanya meraih ponsel dari atas meja. "Eza pulang sendiri," pamitnya.
"Pake taksi?"
"Hmm," angguk kecil Ezra, kemudian berlalu pergi. Menatap punggung putranya, Cheryl hanya bisa mendengus pelan.
"Dia pasti cemburu," sekilas ia mengingat kembali bagaimana hancurnya saat Badai dikabarkan berpacaran dengan Eveline.
Masa kelam yang sudah berselang, acap kali terngiang menjadi sebuah kenangan yang seolah tak mampu melekang.
...鉁达笍馃敻Thanks for reading馃敻鉁达笍...
Sekedar Info gess, buat yang tanya Chika Sandy, ternyata cerita itu mangkrak di 6 bab saja gess, so daripada ku gantung di bab ke tujuh, aku pending lagi yg itu.
Kasusnya sama seperti cerita Murni Joon yang udah ku kasih judul Touch Me Gently, baru sepuluh bab, eh tapi rupanya cerita itu sulit untuk dikembangkan.
Untungnya aku enggak keburu up, kalo jadi di up, kalian pasti keceweeee karena enggak bisa lanjut, dan aku pengen meminimalisir kecewa kalian dengan enggak sembarangan meng up cerita gitu aja.
Belajar dari pengalaman. Ku lihat banyak juga author yg mangkrak karena terburu napzu buat up cerita baru.
Aku mau tanggung jawab buat cerita sampai ending, biar pun laaaamaaaaaaa gitu yak, hehe, asal ada endingnya ajah deh daripada enggak.
Jadi sekali lagi mohon maaf yaaa sayang kooh, izinkan akooh nyari ide dulu yg menarik untuk di up.
Kalo ceritanya garing juga kan nggak enak dibacanya. Karena terkadang aku udah sekeras mungkin mikir alurnya, masih ajah ada yang kasih bintang Buruk, kan sedih yak.
__ADS_1
Aku pengen berkarya dan meninggalkan kesan di setiap cerita kooh, biar pun enggak seberapa banyak yg baca karya kooh, asal dapet reward komentar bahagia dari kalian udah seneng banget... 鉂わ笍 Lopeyou all readers
See you next bonus chapter....