
Visual Cheryl
Cheryl merasakan denyutan yang cukup serius di bagian kepala setelah Badai membuatnya emosi. Maklum ia masih menjalani perawatan berkala.
Kebanyakan orang yang mengalami gegar otak biasanya akan pulih beberapa minggu setelahnya. Gejala gegar otak biasanya sembuh dalam 7–10 hari pada kasus yang terkait olahraga atau dalam 3 bulan untuk non-atlet.
Cheryl duduk bersandar pada sofa, didampingi Queen yang baru saja tiba.
"Badai ke mana?" Wanita cantik itu menoleh ke kanan dan kiri mencari menantunya.
"Sisil bilang ada Badai di sini?" Tanya Queen kembali sembari mengusap lembut bagian kepala Cheryl yang sakit.
"Sudah pulang. Dia ke sini hanya mau mengajak Cheryl ribut." Cheryl menggerutu sambil terpejam.
"Kalian sudah bukan lagi anak kecil." Tegur Queen.
"Dia tidak pernah bisa berkata baik-baik saat bersama ku. Cheryl capek. Kapan Badai yang Cheryl kenal dulu kembali? Dia seperti orang asing. Sudah bagus Cheryl lupain dia kemarin, kenapa Kak Sand mengingatkannya lagi?"
"Baiklah. Cerai saja kalau begitu." Usul Queen.
Cheryl menghela pelan. "Dia bahkan belum menanggapi gugatan ku."
"Kau kan bisa menggugatnya kembali." Sambung Queen.
Cheryl terdiam dalam pergulatan pikirnya. Jujur ia pun masih ragu untuk bercerai. Dan Queen paham betul soal ini.
"Kenapa? Sulit memilih? Kamu masih mau menunggu Badai berjuang kan? Mami yakin permintaan cerai mu kemarin hanya karena gosip yang Gustav buat di media sosial Badai. Jauh di lubuk hatimu, masih ada nama Badai." Kata Queen.
"Cheryl tahu Cheryl terlalu naif. Menunggu Badai seperti menanti hujan di tengah kemarau. Tapi mengejar Badai, sudah sering Cheryl lakukan. Cheryl bosan menunggu, tapi tak pula ingin mengejarnya." Imbuh Cheryl.
Queen mengernyit tipis. "Lalu kenapa minggu lalu kamu menolak lamaran Sandy lagi?"
Cheryl membuka mata. Dan wajah cantik ibunya ia tatap dalam-dalam. "Jawabannya sudah jelas. Aku tidak benar-benar mencintainya. Dia baik, tapi tidak menarik hati Cheryl."
"Karena masih ada Badai di hatimu. Bagaimana bisa kamu menarik Sandy masuk ke dalam sini, sementara hatimu sudah penuh dengan nama Badai?" Queen menunjukan letak hati Cheryl berada.
Cheryl mendengus. "Entahlah. Cheryl capek. Cheryl datang ke butik buat refreshing, berharap tidak lagi menangisi kesedihan Cheryl, tapi Badai lagi-lagi bikin pusing." Gerutunya.
Queen terkikik. "Ya sudah, sekarang telepon Chika gih, suruh dia datang ke sini. Biar dia coba gaun pestanya sekarang juga. Bentar lagi Tante Kimmy datang soalnya." Titahnya.
"Hmm." Cheryl meraih ponsel miliknya, lalu melayangkan panggilan telepon pada nomor adik sepupu cantiknya.
Queen bangkit, melihat-lihat koleksi busana milik Sisil. Ia tersenyum manis menatap satu gaun putih yang dirasa sangat cocok untuk Chika.
Queen lantas beralih pada putrinya. "Gimana? Di angkat nggak, mau datang nggak Chika nya?"
__ADS_1
"Di reject!" Cheryl menghela napas dalam-dalam. "Jangan-jangan Chika berniat kabur lagi?"
"Masa sih?" Queen berkerut kening.
...✴️🔸🔸🔸✴️...
Visual Chika Putri Rain.
Saat ini Chika sedang berada di kantor pusat perusahaan tekstil tersohor milik keluarga Agastya Sandy Cavalera. Gadis berusia 16 tahun itu, putri satu-satunya milik Raja Kryska Rain dengan Kimmy Zoya.
Setelah bertanya rute pada scurity. Chika berlari serampang menuju ruangan 'CMO'. Sebab Sandy lah yang saat ini menduduki kursi 'CMO' atau bisa disebut juga dengan direktur pemasaran.
"Nona muda." Pria paruh baya menyapa Chika dengan senyuman di wajahnya.
Nicko nama karyawan multitalenta itu. Nicko berusia 40 tahun, dia termasuk karyawan yang memiliki rangkap jabatan di sini.
Pastinya, Nicko juga melayani segala sesuatu yang diperlukan oleh CEO dan jajarannya, dari perusahaan ini.
"Mana si Om cupu itu?" Chika bertanya ketus. Lengan seragam sekolahnya ia singsing tinggi-tinggi hingga ke pangkalnya.
Nicko berusaha sabar. "Nona muda datang ke sini, apa sudah ada janji dengan Tuan muda terlebih dahulu?"
"Ngapain buat janji Pak? Chika ke sini emang sengaja mau melabrak Tuan muda cupunya Bapak loh! Apa ada acara labrak melabrak sesopan itu? Musti bikin janji dulu gitu?"
"Urusan Chika lebih penting, daripada rapat dewan manapun. Yang mau Chika sampaikan ini benar-benar emergency!" Sergah Chika.
"Biar saja dia masuk." Nicko mendengar suara dari earphone miliknya. Jelas itu suara Sandy yang terhubung secara tiba-tiba.
"Baik." Angguk Nicko.
"Kenapa? Dia mau ketemu Chika?" Setelah menaik turunkan alisnya, Chika menyipitkan matanya pada Nicko.
"Silahkan kalau begitu, Nona muda sudah ditunggu." Jawab Nicko. Senyuman selalu ia tebar demi membuat kesan terbaik.
Chika terkekeh iblis kecil. "Punya nyali juga tuh Mas-mas!" Gumamnya.
Nicko hanya menggeleng membiarkan Chika masuk ke dalam ruangan Sandy. Meski dalam hati sudah sedikit dongkol pada putri semata Raja itu.
Visual Sandy Cavalera.
"Om!" Secara sepihak Chika menutup laptop milik Sandy, yang mana gerakan itu membuat Sandy mendongak menatap dirinya.
"Hmm?" Menghadapi gadis seusia Chika hanya cukup dengan ketenangan. Tak ada ekspresi tegang atau lainnya yang Sandy isyaratkan.
__ADS_1
"Chika mau bikin perhitungan sama Om!" Ketus Chika.
"Perhitungan apa?"
"Bisa-bisanya Om menyetujui perjodohan kita! Bukannya kemarin kita sudah sepakat untuk sama-sama menolak perjodohan ini?" Meja itu digebrak secara geram.
Sandy menyengir. "Aku berubah pikiran."
"Gimana bisa begitu!" Sulut Chika.
Kedua bahu Sandy terangkat. "Bisa saja."
"Oh, jadi Om mau jadiin Chika baby girl Om gitu? Kemarin Om bilang cintanya sama Kak Cheryl terus sekarang Om tertarik sama Chika, Om suka sama Chika gitu?"
Sandy terkekeh seolah berekspresi bahwa Chika bukanlah gadis yang cukup pantas untuk dicintai. Jelas watak Cheryl dan gadis ini sangat berbeda.
"Kenapa ketawa? Apanya yang lucu?" Chika mengernyit kuat-kuat dahinya.
Sandy menyentuh lengan Chika yang lalu ditepis. "Gimana bisa ada orang yang jatuh cinta padamu sementara sikap mu seperti ini?"
"Terus ngapain Om setuju menikahi Chika hah?"
"Apa menikah perlu alasan khusus?" Pertanyaan Sandy menyulut sumbu kemurkaan Chika putri.
"Tentu saja, Chika mau menikah sama laki-laki bertanggung jawab yang mencintai Chika sepenuh hatinya!"
Sandy terkikik. "Apa akan ada orang yang menyukai gadis berisik seperti mu hmm?"
"Heh!" Chika dengan tegas menunjuk hidung runcing pria itu. "Pokoknya kalo sampe Om nggak mau batalin perjodohan ini, jangan menyesal, di malam pertama kita, Chika cekik Om sampe ko-it!" Ancamnya. Kemudian melengos pergi dari ruangan tersebut.
Meladeni laki-laki tenang seperti Sandy memang membosankan. Tak menarik, Chika membayangkan, pasti menyebalkan jika harus menikah dengan orang yang justru mencintai sepupunya sendiri.
Bersamaan dengan keluarnya Chika, Lukas dan Endre bergantian masuk ke dalam ruangan. Terulas juga tanda tanya besar di wajah-wajah tampan mereka.
"Kawan? Ada apa ini?" Lukas menatap punggung kecil Chika yang mulai berlalu dari retina.
"Dia calon istri ku." Sandy menyengir.
"Apa?" Kejut Endre. Tadinya Endre yang menyukai gadis itu. Lalu Sandy mengklaim Chika sebagai calon istri. "Yang benar saja?"
"Jadi, ..." Lukas menimpali, bingung. Dan Sandy hanya tersenyum lebar seolah membenarkan ucapannya.
Lukas terkekeh. "Tapi dia cantik, lucu, imut, yah, meskipun dadanya masih belum berisi, mungkin karena masih ORI, tapi asyik lah untuk teman satu kamar. Baby girl."
"Pikiran mu!" Endre memukul kepala Lukas yang tergelak.
"Kalian belum pulang?" Sandy memotong pertikaian sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Endre duduk di sofa dengan kaki yang menyilang. "Kami sengaja tidak pulang dulu ke London, kami menunggu sampai acara pertunangan mu dilangsungkan." Katanya.