After One Night

After One Night
[Berbaikan]


__ADS_3

Chika keluar dari gedung megah berlogo Cavalera. Di depan sana, satu mobil sport menyambut kedatangannya.


"Gimana?" Setelah Chika masuk dan duduk, teman gesrek satu sektenya bertanya.


Rara nama gadis tomboi itu. Pakaian mereka masih seragam SMA. Yah, keduanya memang masih duduk di bangku kelas tiga, masih bau kencur menurut Sandy dan teman-temannya.


"Lo berhasil ngancem tuh Om Om?" Ulang Rara kembali. Kemudian mobil putih itu dia lajukan perlahan.


Chika berdecak. "Nggak tahu deh. Lu tahu nggak, bukanya takut diancam, dia malah senyum-senyum kayak psikopat gila! Serem banget nggak sih cowok kayak gitu?"


"Smirk devil gitu maksud Lo?" Sambung Rara.


"Ya gitu deh pokoknya, dia tuh sok cool gitu orangnya, padahal udah tua! Lo bayangin nih yah, kalo sampe Gue jadi nikah sama Om Sandy, nanti pas umur Gue empat puluh tahun, dia udah keriput dong! Nggak asyik kan?" Rutuk Chika.


"Tapi Kakek Lo ajah masih kelihatan muda kok, padahal udah tua, cucunya banyak. Kayaknya tingkat tuanya laki-laki tuh tidak dilihat dari umur deh, tapi dari kartu no limitnya!" Sanggah Rara.


"Ah, kalo tua ya tua ajah sih! Mau duit banyak kek, mau duit tipis kek, pokoknya nggak asyik nikah sama Om Om!" Ketus Chika.


"Tapi macho kan? Kebanyakan Om Om tuh perutnya sixpack loh. Lo bayangin aja, pas di sentuh terus dia natap Lo dengan has-rat." Rara terkikik geli membayangkannya.


"Apaan sih Lo! Ngeres!" Chika menimpuk kepala Rara dengan buku. "Macho an juga Bara Abang Lo!" Imbuhnya.


"Bang Bara masih kuliah, belum kerja, Lo kalo sama Abang Gue, pasti Lo semua yang bayarin keperluan dia!" Tampik Rara.


Chika terkekeh. "Bokap nyokap Gue udah kaya dong! Ngapain mikirin duit! Gue punya banyak warisan lagi. Jadi nggak perlu minta dibayarin sama cowok!"


"Serah Lo deh!" Tukas Rara. Keduanya melanjutkan perjalanan menuju sebuah cafe untuk berkumpul dengan teman lainnya.


...✴️🔸🔸🔸✴️...


Malam ini Badai rapi dengan pakaian kasual, sepatu sneaker dan jaket jeans mahal telah melekat sempurna padanya, ia menyatroni kelab malam legal yang paling terkenal di kalangan masyarakat menengah ke atas.


Jimmy masih setia di sisinya mengamati raut wajah sang Tuan yang tak pernah tersenyum sekalipun. Bagaimana tidak, siang tadi ia mendapati kenyataan yang cukup menyentak kewarasan.


Dia meninggalkan Cheryl di butik karena panggilan darurat dari pengacaranya. Tak pelak, ia dibuat tercengang oleh informasi yang terburai dari mulut kuasa hukumnya siang tadi.


Jadi rupanya, Cheryl menemui banyak pengacara hanya untuk mencabut tuntutan Dhyrga dan Raka supaya meringankan hukuman Gustav.


Maka perkara Gustav yang masih berlanjut sampai saat ini, hanya tuntutan dari Helena dan Eveline saja.

__ADS_1


Badai benar-benar tak habis pikir, ia sendiri tak mampu memaafkan kesalahan Gustav ayahnya, bagaimana bisa Cheryl mencabut perkara semudah membalikkan telapak tangan?


Bukan untuk minum-minum, Badai datang ke kelab malam ini hanya karena undangan dari teman-teman seperjuangannya.


Lukas, David, Ernest dan Endre masih berada di Indonesia untuk bersenang-senang bersamanya.


Mungkin benar kata orang, di balik polusi kemacetan, negara ini memiliki banyak hal yang membuat orang asing betah.


"Bai." Sandy tersenyum menyapanya.


Bugh...


Satu bogem menumbangkan tubuh Sandy hingga terlentang di sofa ruang VVIP. Lukas dan Ernest melerai. "Hei, apa ini?" Teriaknya.


Badai kembali meraih kerah jaket Sandy dengan kegeraman tatapannya. "Aku sengaja menjauhinya karena malam itu dia menunggu mu bajingan!" Sarkas nya.


"Bai!" Endre menegur.


"Dan kau malah bertunangan dengan adik sepupunya!" Badai meneriaki sahabat terbaiknya.


Sandy terkekeh. "Aku tidak butuh belas kasihan mu!" Ungkapnya.


"Kenapa tidak kau rebut lagi saja dia, seperti dulu, kau juga merebutnya saat aku sudah akan menikahinya." Tukas Sandy.


"Kami saling mencintai bodoh!"


Sandy lagi-lagi terkikik. "Lalu mana Badai yang ku kenal hah? Mana yang katanya sangat mencintai Cheryl Arsya, bahkan sangat setia padanya? Selama ini kau mempertahankan semua yang kau miliki termasuk tubuhmu hanya untuk dia bukan?"


Badai termangu, memang benar adanya ucapan Sandy Cavalera itu. Berapa banyak wanita dan para gadis yang merayu lantas dihempas jauh-jauh? Sepertinya sudah tak terhingga jumlahnya.


Kembali Sandy menyeringai. "Kau bahkan menciut setelah istrimu menyambut ku dengan busana seksinya? Kau pengecut!" Umpatnya.


"Seperti dirinya, aku berusaha berkorban juga. Mungkin saja memang kau yang dia mau." Lirih Badai.


Brugh....


Sandy mendorong tubuh Badai hingga terlepas darinya. Badai terkapar lengah di atas sofa hitam. Sandy kemudian menunjuk lurus wajah tampan sahabatnya.


"Kau tahu Badai arogan! Sepanjang malam itu, setelah aku mengingatkan kembali memori tentang mu, dia hanya menangisi hilangnya ingatan manis bersama mu. Dia masih sangat mencintai mu Badai!"

__ADS_1


"Aku ragu dengan perasaannya." Badai meraup wajahnya dengan gesture frustrasi.


Sandy tergelak. "Kenapa tidak kau paksa saja dia seperti saat kau membawanya lari dari rumah? Kenapa setelah kau sukses, kau justru bertingkah seperti anak kecil? Dulu saat kau masih menjadi Badai 21 tahun, kau berjuang sekuat tenaga untuknya bukan?"


"Jangan jadi pengecut!" Tambah Sandy lagi.


Teman lainnya saling melempar senyum, akhirnya kedua sahabatnya kembali bersama dengan kasih sayang mereka seperti biasanya.


Cukup lama Badai bergeming, ia setia menyimak kata demi kata yang berderai dari bibir Sandy.


"Kau yakin mau menikahi anak kecil?" Seperti tak nyambung dengan pembahasan sebelumnya, Badai justru mempertanyakan keputusan Sandy menikahi Chika.


Sandy terkekeh-kekeh. "Dia manis, kenapa tidak?" Celetuknya.


Yah, mungkin keputusan ini jahat, karena jujur, Sandy tak memiliki secuil pun rasa pada bocah ingusan seperti Chika.


Langkah ini Sandy ambil hanya karena, tak mau lagi menjadi orang ke tiga di antara kedua sahabat tersayangnya, yaitu Badai Laksamana dan Cheryl Arsya Kiehl Miller.


"Aku menyukai Chika, dia cantik juga menarik. Kau bayangkan saja, saat usiaku empat puluh satu tahun, dia masih dua puluh sembilan tahun. Bukankah itu menyenangkan?"


"Brengsek!" Badai memukul kepala Sandy yang terkekeh.


Lukas duduk di tengah-tengah sahabatnya lalu merangkul keduanya. "Kalian manis sekali, ..."


Ernest ikut memeluk mereka. "Aku merindukan persahabatan yang seperti ini." Ucapnya.


Endre dan David pun menyusul. "Terima kasih sudah berbaikan sebelum kami pulang ke London." Ujarnya.


Badai tergelak di sela air mata haru nya. Dan Sandy menoyor pria itu. "Lihat, Tuan arogan kita cengeng."


"Sial!"


"Jemput Cheryl baik-baik, buang dendam mu. Buang amarah mu, gantikan lah dengan kasih sayang. Aku yakin kalian masih bisa bersatu kembali." Ernest menimpali saran.


"Lagi pula, bukanya ponsel yang ada video bercinta mu sudah rusak, sekarang jemput yang asli, lakukan secara langsung, mezum!"


"Brengsek!" Badai mengumpat Lukas yang tergelak renyah bersamaan dengan semua sahabatnya.


Makasih vote dan dukungan gift nya, makasih banyak...💋💋😍😍❤️

__ADS_1


__ADS_2