
Sore begini Chika sudah duduk di atas jok mobil suami tampannya. Sandy menyetir sendiri, dan mobilnya menuju salah satu hotel Millers-corpora.
Untuk sesekali Sandy menoleh pada gadis di sisinya. Tak seperti biasanya, sedari tadi Chika duduk dengan bibir yang manyun dan wajah tertekuk.
"Tim Gala kalah lagi kan?" terka Sandy, ia sedikit terkekeh meremehkan tim basket kampus Chika yang tak sehandal tim basketnya dahulu.
Dulu di masa kuliahnya, tim basket Sandy yang dikapteni Badai Laksamana cukup tangguh. Bahkan, saat bertanding dengan kampus lain, tim mereka selalu menang membawa medali dan piala.
Bagaimana mungkin seorang Sandy yang nyaris sempurna, harus bersaing dengan anak yang bau kencur seperti Gala. Dari segi prestasi saja Gala sudah kalah telak darinya, Sandy yakin, Chika pun mengakuinya.
"Bilang ke Gala, kalau mau belajar jadi pebasket yang baik, hubungi suami mu, Kakak dengan senang hati menerima murid baru," seloroh Sandy.
Chika menaikan ujung bibirnya. Sandy memang selalu mencibir Gala dan teman temannya.
"Tim kami kalah bukan karena Gala tidak hebat, tapi karena Gala lagi sakit!"
"Ooh, baaiiiik." Sandy manggut-manggut senyum. Senyum yang meremehkan istri kecilnya.
Chika hening, ia sebal dengan perilaku suami sombongnya. Cukup lama gadis itu terdiam, hingga pada saat mereka tiba di persimpangan jalan, kening Chika mengerut.
Chika menoleh ke belakang, di mana seharusnya mobil mereka belok ke kanan tapi Sandy terus meluruskan laju kendaraannya.
"Kita mau ke mana Om?"
Sandy mengacak kecil puncak kepala istri cerewetnya. "Panggil Kak, kita mau ketemu kolega bisnis ku," ujarnya.
"Terus?"
"Malam ini kita menginap di hotel saja."
Chika terkekeh samar. "Oooh... Jadi ini alasan Om jemput Chika?" tukasnya, yang di angguki oleh Sandy.
Sekilas Chika menyeringai kecut. "Kalau ada perlunya ajah, mau jemput, giliran nggak perlu, dibiarin pulang sendiri," rutuknya.
Mendengar itu, Sandy hanya tertawa kecil sembari mengelus pucuk kepala istrinya yang kemudian menepis tangannya.
...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...
Hal yang paling tidak Chika sukai adalah; bertemu dengan kolega dan relasi bisnis suaminya. Dan detik ini juga, Chika sedang berada di tengah-tengah mereka.
Restoran berlogo Kimmy food menjadi area pertemuan Sandy dan teman bisnisnya. Ada yang dari luar kota bahkan luar negeri.
Chika sering mendengus. Pakaian, dandanan, bahkan semua yang ia kenakan, Sandy lah yang mengaturnya lewat jasa stylish pribadinya.
Chika cukup menurut saja, karena hanya itulah kewajiban yang Sandy tuntut darinya.
Bukan layanan di atas ranjang, atau layanan di atas meja makan, Sandy hanya memintanya untuk selalu bersedia dipamerkan kepada para kolega dan relasinya.
Selama ini, Sandy selalu dipuji, karena bisa memiliki istri yang cantik, menggemaskan, imut, lebih muda, dan berasal dari keluarga yang kaya raya.
Sementara Chika, hanya mendapat kejenuhan saat berkumpul dengan orang-orang satu circle suaminya. Chika tak paham dunia yang suaminya bicarakan.
__ADS_1
Kaki yang bergoyang-goyang di bawah meja, tanda bahwa Chika sudah mulai bosan. Sandy mengusap lembut paha istrinya, berharap kaki itu diam, tapi tidak juga terlaksana.
"Baby," tegurnya berbisik. "Hentikan kakimu Sayang, minuman di meja bisa jatuh semua!"
"Chika bosan!" decak Chika.
"Ada apa Sand?' Nampaknya pria bule itu penasaran dengan pembicaraan bisik bisik mereka.
"Tidak." Sandy menggeleng senyum. "Istriku perlu ke toilet," kilahnya, lalu beralih pada Chika. "Mau Kakak antar?" tawarnya basa basi.
Chika tersenyum. "Nggak perlu, dompet ajah sini!" Nada ketusnya tak sesuai dengan senyuman yang dia kembangkan.
"Dompet?"
"Chika mau jalan-jalan ke outlet sebelah!"
"Kartu mu?" Sandy sedikit mengernyit. Bukankah fasilitas kartu kredit tanpa limit sudah ia berikan?
"Chika lupa bawa!"
Sandy menghela. Lihatlah, jika tidak diingatkan, Chika selalu meninggalkan barang-barang yang tidak seharusnya ditinggalkan.
Sandy tak mau berdebat, ia pun segera meraih dompet dari saku celananya, dan memberikannya pada gadis itu.
Tak lama Chika berdiri, kemudian memberikan anggukkan senyum lebar pada semua relasi suaminya. "Permisi, Chika ke toilet dulu," pamitnya.
Semua orang mempersilahkan dengan hormat, lagi dan lagi Sandy yang dipuji atas kecantikan dan kesopanan istri kecilnya.
Daripada jenuh di dalam, Chika memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitaran sini. Mungkin saja, ada yang bisa dia beli.
Karena meskipun gedung perhotelan, Chika bisa menemukan berbagai macam jenis outlet, dari yang restoran, cafe, kedai eskrim, sampai toserba pun ada.
Belum lagi sampai kakinya di luar, ia dikejutkan oleh foto kakak sepupunya yang masih terselip di dalam dompet suaminya.
Seketika langkah Chika terhenti. Ia kemudian mengambil lembaran kecil foto tersebut untuk ditatapnya seksama.
Cukup lama Chika tergeming. Lihatlah, di dalam sana Sandy menikmati pujian karena menikah dengan dirinya, di sisi lain, Sandy tak pernah menganggap dirinya istri.
Bahkan, foto yang diselipkan di dalam dompetnya saja, masih wajah cantik Cheryl Arsya. "Dasar Om-om gagal move on!"
Chika meradang. Rasanya ingin ia remas dan buang saja foto Cheryl Arsya kakaknya, tapi ia sadar, bahwa dirinya tak pantas melakukan hal itu.
Siapa dirinya? Dari awal ia tahu, dia hanya dijadikan istri pengganti. Sayangnya, keluarga besarnya, menganut paham, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
"Mbak..." Chika tak jadi keluar restoran. Dia mendatangi kasir Kimmy food yang tengah beroperasi di mejanya.
"Iya Nona."
"Hari ini suamiku ulang tahun. Dia mau traktir semua pengunjung yang ada di restoran ini. Berapa totalnya?" Mungkin, dengan membuat Sandy kesal, kekesalannya pun akan terbalas kan.
Kasir wanita itu mengernyit. "Semuanya?" tanyanya, lebih memastikan. Satu meja saja harga makanannya bisa sampai sepuluh juta, ia tak begitu yakin dengan ucapan gadis itu.
__ADS_1
"Yah, hitung saja semuanya!" ketus Chika.
"B-baik, mohon tunggu sebentar." Sang kasir segera melaksanakan tugasnya. "Totalnya dua ratus lima puluh juta," terangnya kemudian.
Chika manggut-manggut. "Ok, pakai ini saja." Ia memberikan kartu hitam pada sang kasir.
...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...
Beberapa waktu kemudian, Sandy dan teman bisnisnya mulai membubarkan diri. Tentu mereka bertanya berapa tagihan makanan mereka sebelum pergi meninggalkan tempat.
Sontak, Sandy menyemburkan minuman miliknya setelah kasir menginformasikan bahwa makanan mereka sudah dibayar oleh Tuan Sandy Cavalera.
Lebih tercengangnya lagi adalah: Bukan hanya meja mereka, melainkan seluruh tagihan yang ada di restoran ini sudah dibayar atas nama Sandy Cavalera.
Sandy tersenyum getir di atas pujian yang ia tuai dari semua para koleganya. Pantas saja, Chika tak kembali lagi ke sini, jadi rupanya inilah ulah nakal gadis itu malam ini?
...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...
"Baby!" Sandy menyingkirkan selimut tebal yang membungkus tubuh mulus istri kecilnya. "Bangun, aku tahu kamu pura-pura tidur," ketusnya.
Chika menguap sembari duduk dengan gesture lesunya. Mengusap mata lemah, dan Sandy baru tahu kalau Chika benar-benar tertidur barusan.
"Kenapa sih?" Di hadapannya, Sandy terlihat kesal padanya. Tentu saja, siapa yang tidak marah jika uangnya dihambur hamburkan.
"Dua ratus lima puluh juta? Kamu habiskan dalam waktu yang singkat! Kamu pikir uang segitu, sedikit?"
Chika mendengus, lihatlah, hanya karena uang dua ratus lima puluh juta saja, Sandy marah-marah padanya. "Katanya kaya, masa segitu ajah merutuk," sindirnya.
Sandy mengangguk. "Kalau untuk belanjaan mu, ok, but, ini...."
"Anggap aja sedekah," potong Chika yang terlampau enteng bagi Sandy.
Sandy menyeringai sinis. "Sedekah? For orang kaya, begitu? ... Di luar sana masih banyak yang membutuhkannya Chika Sayang, kalau kamu berniat sedekah, anak jalanan lebih butuh bantuan mu!"
"Sekali kali traktir orang kaya. Lagian bukannya Om seneng kalo dipuji banyak orang?" Kembali, Chika menyindir.
Sandy terkekeh samar. "Ok, no problem, tapi uang jajan bulan ini, aku kurangi," putusnya.
"Kok gitu sih?" Chika menginterupsi keras.
"Anggap itu konsekuensi!" tegas Sandy. Setidaknya, harus ada hukuman supaya Chika tak selalu berbuat sesuka hatinya.
Dalih sedekah? Mana ada yang percaya? Sandy tahu Chika sengaja membuat dirinya kesal.
"Kenapa tidak ceraikan saja Chika? Kenapa cuma dikurangi uang jajannya?"
"Baby..." Sandy bosan terus mendengar permintaan cerai dari istrinya.
"Aku muak dengan sebutan palsu Om!"
Chika menjatuhkan kepala pada bantal empuknya sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Lamat-lamat, terdengar isak tangisnya.
__ADS_1
Sandy menghela napas, sejauh mereka berhubungan, Sandy selalu mengalami pemberontakan. Tapi, ada kalanya ia kesal dengan tingkah laku istri barbarnya.