
"Terima kasih, semoga semua urusan bisa cepat terselesaikan." Cheryl menyalami ke lima pengacaranya secara bergantian.
Yah, ade-gan itu disaksikan oleh Badai yang sedari tadi hanya berani mengamati istrinya dari kejauhan.
Kening ia usap dengan penuh tekanan, rasanya pusing sekali mendapati Cheryl bertemu dengan banyak penasehat hukum.
"Kenapa tidak Tuan datangi saja?" Jimmy menyeletuk kan usulan yang ingin sekali Badai lakukan namun tak berani Badai kerjakan.
"Pagi-pagi sekali dia menemui banyak pengacara, apa tujuannya selain bercerai coba?" Badai merutuk.
"Kalau aku datangi sekarang, aku yakin kami bertengkar lagi, lalu seperti biasanya, dia lari dariku, tidak fokus mengemudi seperti kemarin, kemudian kecelakaan lagi. Begitu saja seterusnya!" Tambahnya kemudian.
Jimmy terkikik elegan. "Anda terlalu banyak berpikir."
"Dulu aku mencoba melakukan, membuktikan, menunjukkan, tapi dia mengambil keputusan secara sepihak." Tiba-tiba saja Badai berkata lirih. Trauma berat yang Cheryl tinggalkan adalah, pergi darinya tanpa banyak bicara.
Badai masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh Jimmy yang mengambil alih kemudi. "Kita ikuti dia. Aku mau tahu, setelah mengurus pengacaranya, mau ke mana lagi dia?"
"Baik." Segera Jimmy menancapkan gasnya. Mobil itu berlalu dari tempat tersebut. Tak ada tiga puluh menit, mobil Cheryl menepi di bangunan yang dikelilingi kaca transparan.
"Wah, butik." Badai tergelak dengan wajah getir. "Bukankah ini terlalu sinkron dengan kegiatan Cheryl yang tadi, Jimmy? Barusan Cheryl menemui pengacara, dan sekarang ke butik! Apa lagi selain memesan gaun pengantin?"
"Kenapa Anda sudah seperti paranormal saja?" Jimmy terkekeh. "Mungkin saja Nona Cheryl sedang bosan, lalu mengambil pelarian dengan berbelanja, bukankah kegiatan wanita yang seperti itu sudah biasa?"
"Terus saja kau mematahkan argumen ku!" Sela Badai. Ia kemudian membuka pintu mobil, berjalan setengah berlari menyatroni bangunan kaca itu.
"Anda mau menemuinya Tuan muda?" Jimmy mengekor di belakang sang tuan.
"Tidak!" Badai ketus.
"Lalu?"
"Aku mau memastikan bahwa ucapan mu itu benar." Seketika Jimmy tersenyum. "Semoga saja benar."
Badai tiba di sisi pintu. Tubuh tingginya ia sembunyikan di balik manekin bergaun pengantin. Di dalam sana, rupanya Cheryl sedang asyik membentang gaun berwarna silver yang sangat mini.
"Oh ya ampun, gaun ini cantik sekali Sisil ku Sayang. desain nya sangat sempurna." Puji Cheryl. Badai justru berkerut kening, pasalnya gaun yang Cheryl puji terlalu mini baginya.
"Ini pasti cocok untuk warna kulit Anda Nyonya muda." Sisil, pria gemulai pemilik dari tempat mewah itu.
"Boleh aku coba?" Tanya Cheryl.
"Ok, silahkan ke ruangan sebelah, nanti Sisil menyusul, membawa gaun lain, dan sepatu yang cocok."
"Ok siap." Cheryl berjalan ke ruangan sebelah kanan. Melihat itu, segera Badai mengayun langkah menuju ruangan tersebut.
"Tuan mau kemana? Ini butik khusus. Tidak bisa sembarangan masuk." Jimmy menegur sembari mengikuti langkah kaki Badai.
"Persetan!" Ketus Badai.
__ADS_1
Jimmy sedikit menilik rona wajah sang tuan yang mungkin akan memulai kekacauan di dalam sana. "Tuan marah lagi?"
Badai menatap Jimmy kecut. "Bagaimana tidak? Kau lihat gaun yang Cheryl pegang? Gaun apaan begitu?!" Ketusnya.
Jimmy terkikik, ini sudah pasti kecemburuan yang tiada mudah diakui. "Itu namanya gaun backless dress Tuan. Wanita memang lebih menyukai gaun yang terbuka punggungnya untuk menghadiri acara pesta pertunangan atau pernikahan orang-orang elit. Justru kalau Nyonya membeli long dress berwarna putih, ..."
"Diam lah! Berisik sekali!" Badai menyela ucapan Jimmy dengan gerutuan. Sampai di depan pintu ruangan khusus ganti, Badai berhenti langkah.
"Kenapa berhenti di sini Tuan?" Jimmy kembali menegur.
Badai mendengus. "Bagaimana caraku mendekatinya? Dia pasti marah-marah." Lirihnya. Keduanya cukup lama terdiam di sana.
"Nyonya Cheryl, Sisil datang!" Suara itu membuat Badai mengangkat kakinya demi menghalangi jalan Sisil. "Eits!"
"Tu-tuan Ba-badai!" Sisil melotot. Wajah tampan Badai membuatnya terpukau hingga ternganga lebar. Sebelumnya ia hanya melihat wajah itu di media sosial saja.
"Mau apa kau masuk ruang ganti istriku?"
"Ih Tuan, pertanyaannya lucu deh." Sisil menoel lengan Badai sambil cekikikan. "Sisil kan fashion stylist nya Nyonya Cheryl loh, Sisil biasa menemani Nyonya fiting baju."
"Apa?" Badai membulat matanya. Bibirnya terkatup begitu geram.
Jimmy mendekati telinga. "Itu tidak seperti yang Tuan muda bayangkan. Ingat, fiting, bukan menggantikan gaun istri Anda." Bisiknya yang masuk akal.
"Ini apa?" Badai lalu menanyakan beberapa kotak transparan yang Sisil bawa.
"Gaun."
"Nyonya Cheryl."
"Biar aku saja yang membawanya masuk!" Badai merebut kotak-kotak itu untuk kemudian dibawa masuk ke dalam ruang ganti.
Jimmy melebar senyum supaya Sisil tak lagi banyak protes dan bertanya. Biar saja Badai menemui Cheryl Arsya hari ini.
Badai menghentikan langkahnya tepat di belakang tubuh seksi istrinya. Saliva dia teguk dengan susah payah.
Pemandangan ini benar-benar menakjubkan, kini Cheryl mengenakan gaun mini bertali kecil dengan punggung yang terekspos sempurna hingga ke pinggang.
"Sumpah, ini bagus banget Sisil, sepatu dong tolong, kasih aku warna yang cocok dengan warna gaun ku." Pinta Cheryl.
Badai mengangkat satu alisnya, lalu membuka satu kotak berisi sepatu silver blink-blink untuk disodorkannya tepat di kaki Cheryl.
Cheryl terkekeh. "Kamu emang paling baik Sil." Wanita itu memakai sepatunya kemudian memandang ke arah cermin besar sembari menyibak rambutnya.
"Menurut mu, rambut ku cocoknya diapain? Di gerai, dicepol? Atau, ...?" Ucapan Cheryl terhenti ketika wajah tampan suaminya tertangkap di retinanya.
"Badai."
Cheryl berbalik menatap pria itu. Cukup tahu saja, rupanya Badai selalu kebetulan lewat di mana pun. Kemarin di mall, di perpustakaan, di rumah sakit, dan sekarang di butik.
__ADS_1
"Ngapain kamu di sini? Kamu mengikuti ku? Apa tidak cukup puluhan antek-antek yang kau kirim untuk mengawasi ku hmm?" Geram Cheryl.
Inginnya, Badai mengatakan apa niat yang sebenarnya, bukan hanya melindungi dari kejauhan saja. Lihat lah, bahkan sampai detik ini tak ada lagi kejelasan tentang pernikahan mereka.
Badai menyela. "Senang? Tubuhmu dilihat laki-laki lain selain aku, senang?"
Cheryl mengernyit. "Di sini cuma ada kamu."
"Kau barusan menganggap ku pria gemulai itu kan?" Kening Cheryl sedikit tersentil mendengar kata gemulai. "Ingat Cheryl, meskipun dia tidak normal, tetap saja dia laki-laki!"
"Aku tahu." Sanggah Cheryl.
"Lalu kau dengan, ..."
"Kamu terlalu berlebihan." Potong Cheryl kemudian.
Badai tak habis pikir, apakah wanita selalu saja seperti ini saat diajak berunding? "Dia biasa menemani mu ganti baju kan?"
Cheryl menggeleng. "Tidak, biasanya ada pegawai lain yang wanita."
"Wah kebetulan sekali dong, hari ini hanya ada si pria gemulai itu saja yang melayani mu di butik ini." Badai terkekeh sumbang.
"Sebenarnya apa tujuan mu ke sini? Apa hanya untuk mencari perdebatan saja?" Tukas Cheryl.
Badai tercengang, jujur ia takut Cheryl marah jika wanita itu tahu ia memang sengaja mengintai. "A-aku ..."
"Kamu mengikuti ku?" Cecar Cheryl lagi. Mata biru itu menatap dalam-dalam netra legam suaminya.
"Aku hanya, tidak sengaja lewat. Ada relasi yang mengajak ku bertemu di sekitar sini." Kilah Badai.
"Kalau begitu pergilah!" Cheryl mendorong kuat-kuat dada bidang suaminya hingga keluar dari ruangan.
"Tunggu, Cheryl, ..."
"Pergilah kalau tidak sengaja lewat, dan ingat, jangan lagi lewat di sekitar ku!" Cheryl berteriak.
"Tapi, ..."
Brakkk... Pintu kaca itu tertutup. Terlihat Cheryl melengos dengan wajah yang sukar sekali dijelaskan bagaimana kondisinya.
Badai mendengus menatap melas berlalunya punggung cantik itu. "Kenapa sulit sekali untuk tidak marah?" Gumamnya.
Jimmy tersenyum. "Apa Tuan sudah menanyakan tentang pengacara itu? Lalu, apa Tuan sudah menanyakan kenapa Nyonya membeli gaun?"
Badai menoleh sinis. "Bagaimana caraku bertanya, dia saja mengusir ku!"
"Kalau begitu boleh Tuan coba lagi setelah ini. Tunggu saja sebentar lagi, mungkin Nyonya mau menanggapi Anda."
"Sebenarnya apa saja makanan mu selama ini Jimmy? Kenapa bisa sesabar itu?" Badai ketus.
__ADS_1
Jimmy hanya menebar senyum manis, mungkin ia sedang mencoba mengancam seluruh dunia dengan penyakit diabetes.