After One Night

After One Night
Part Sayang Dibuang 9


__ADS_3

Berbalut kimono putih Sandy keluar dari kamar mandi. Seperti yang Chika mau, ia membiarkan gadis itu menyelesaikan mandinya.


Persis anak kecil yang baru akan memilih bangku di sekolah, Sandy mondar mandir tak sabar. Jantung kian berdebar-debar.


Sembari menunggu Chika keluar, ia menghancurkan kejenuhan dengan melakukan lompatan kecil, mengudarakan tinju beberapa kali, bahkan push up.


Entah, tiba-tiba hawa panas menjalari tubuhnya. Bayangan tentang bagaimana dia menggagahi istrinya tentu sudah terlintas mengotori pikirannya.


"Sayang!"


Sandy mengetuk pintu, tak lama Chika keluar dengan handuk kimononya. Sempat keduanya saling menatap, dan seperti biasa Sandy tersenyum nyengir.


"Om ng-ngapain?" gagap Chika.


Seketika Sandy meredup ekspresi, bukankah sebelumnya Chika meminta waktu untuk mandi terlebih dahulu? Sekarang, dengan enaknya Chika bertanya demikian.


"Kita perlu bicara, kan?" Sandy menarik lengan Chika yang baru akan melewati tubuh bidangnya.


"Apa lagi?"


"Baby yakin nggak ada yang perlu kita perbaiki hmm? Banyak sekali masalah yang perlu dibicarakan."


"Apa mau Om sebenernya?"


Sandy menghela sabar. "Ok, kalau Baby tanya apa mau ku, dengarkan," ucapnya serius.


Chika mengangguk. Keduanya lantas beringsut pada sofa, mereka duduk berhadapan dalam kondisi mengenakan handuk.


Chika tampak meneguk saliva, sambil sesekali membetulkan kimononya, kalau kemarin ia mampu berteriak, hari ini ia sukar jengkel pada suaminya.


Jujur, pernyataan cinta Sandy di bar semalam, lumayan meluluhkan hatinya. Terlebih, Sandy telah berani menyentuhnya secara sadar, itu candu baru baginya.


"Pertama, panggil Kak, Sayang, atau Hubby, wajah suami mu tidak setua Om Om kan?"


Chika menghela, meski tidak setua umurnya, Chika sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Om. Lagi pula, senarsis itu suaminya.


"Kedua, aku sangat mencintaimu Chika, aku mau hubungan kita membaik, berubah lebih hangat, lebih saling terbuka, dan tidak perlu ada perpisahan."


"Jadi Om nembak Chika?"


Gadis itu tertawa ringan. Yang mana membuat Sandy berdecak. "Sumpah, kedengarannya sangat buruk Yank!"

__ADS_1


"Tapi nyatanya, sampai kita menikah, Om belum pernah bilang!"


"Baby pikir, sebutan Sayang dan cinta ku selama ini main-main?" tukas Sandy. Dia lalu menggeleng pelan. "No, it's real Honey," lirihnya.


Chika percaya untuk kali ini. Karena pada dasarnya, kesalahpahaman yang melingkupi keduanya juga karena dirinya yang kurang peka dan kurang percaya pada perilaku pasangannya.


Lembut Sandy menggenggam tangan istrinya, berharap gadis itu yakin padanya. "Jangan pergi, aku membutuhkanmu," ucapnya.


Chika tersentuh.


"Bukan gemercik air yang membuat ku tenang. Bukan embun yang meneduhkan, bukan pula matahari yang menghangatkan, di dunia ini, aku hanya butuh kamu untuk semua rasa damai ku."


Chika sedikit menahan tawanya, Sandy yang ia kira hanya pandai tersenyum, rupanya pandai berkata-kata.


"Percaya atau tidak, satu hari tanpa mu, seperti hidup dalam kekosongan."


Chika terdiam beberapa saat, kemudian ia menunduk. "Chika percaya."


"So?" Sandy menyengir.


"Apa lagi?"


Chika menatap tajam wajah menyebalkan suaminya. Dan sontak saja, cengiran Sandy memudar bersamaan dengan dengusan kesalnya.


"Lalu?" Chika mengernyit. "Apa lagi sekarang? Bukannya kita sudah baikan? Ok, Chika nggak minta dipulangin lagi."


Sandy mengecup bibir istrinya. "But, kita masih perlu segel untuk menandai hubungan ini dengan..."


"Ogah!" Chika menepis seraya mengedik bahunya. "Gimana kalo Chika hamil?" Dia bukan gadis kecil, tentu Chika tahu maksud dari perkataan Sandy.


Sandy tertawa sumbang. "Apa yang perlu ditakutkan hmm? Kamu punya suami! Baby tidak akan dianggap Dewi Kunti."


"Ini lucu sekali!" Chika tertawa samar. "Chika masih kuliah, Om!" bentaknya. "Chika nggak mau buncit sebelum lulus!"


Sandy menghela sekali lagi. Sesaat ia memejamkan mata sebelum melanjutkan bicaranya. "Kita bisa keluarkan di luar."


"Apa ada hukum yang mengeluarkan di dalam? Bukannya semua yang keluar harus di luar?"


"Kecuali yang ini..., sial!" Detik berikutnya, Sandy mengumpat saat tubuhnya tak lagi sabar mencicipi lenguh istrinya.


Tanpa aba-aba dari lawannya, dia makan bibir merona itu dengan mata terpejam. Terbelalak, Chika terperosok ke belakang, dan Sandy menguasai seluruh akses pergerakannya.

__ADS_1


Di atas sofa Chika pasrah mengudarakan lenguhnya. Bukan tak bisa menepis, tapi, ini terlalu nikmat untuk disudahi.


Remasan, usapan, cecapan Sandy meng-candu dirinya, mulut dan tubuh saling berlawanan keinginan.


Tidak di bibirnya, lain lagi dengan bahasa tubuh yang begitu tergelenyar. Meremang, hingga menghasilkan desah desah parau tak beraturan.


Bekas gigitan semalam, Sandy ulang lagi dengan sadar. Jadi seperti ini rasanya menikmati keindahan istrinya.


Di usianya yang sudah hampir 33 tahun, Sandy baru mencicipi padatnya dada seorang wanita. Ia kunyah pucuknya seperti memainkan permen karet di mulutnya.


Chika melenguh panjang. Sandy kacau dibuatnya. Semakin lama desah itu tergema, semakin ingin Sandy menggagahinya.


"Sakit!" Putik cantik yang sedang berbunga, ranum, dan suci, kini telah direguk manisnya. Tuhan, ini terlalu indah, nikmat sekali rasanya, Sandy memekik dalam lenguhnya.


Gesekan-gesekan runtut yang terjadi, rupanya dari situlah asal rasa candu Sandy. Ia menggila, tak ingin menyudahinya, terus dan terus menerus mengguncang tubuh ramping nan bersih wanita itu dengan hujaman.


Teriknya matahari dikalahkan panasnya perlakuan Sandy siang ini. "Aku mendapatkan mu, Baby," lenguhnya bangga.


Mata Chika terpejam, lalu terbuka pelan. Sesekali mengamati raut Sandy yang begitu seksi. Dadanya, ia suka saat aliran peluh meliuk-liuk di dada bidang pria itu.


Entah kemana rasa sakit yang merajamnya di awal. Ia sudah bisa menikmati permainan suaminya. Om om dengan senyum psikopat itu, kini berhasil merajai hati dan tubuhnya.


"Omhh..."


"Hmm?"


"Tidak ada..." Chika tak jadi mengutarakan perasaannya. Ia tahu, Sandy akan peka setelah pergumulan ini terlaksana.


"Masih sakit?" Chika menggeleng tanpa menimpali pertanyaan suaminya. Sandy tersenyum, dan tak ada suara yang lebih dominan daripada paraunya desah mereka.


"O my Goddess!" Sandy dan Chika serempak menoleh ke arah pintu yang terbuka tanpa mereka sadari sebelumnya.


Endre berteriak kesal. "Setidaknya tutup pintu kalian, sial!" umpatnya seraya membanting pintu yang tidak bersalah apa-apa.


Sandy terkikik, sementara Chika memukuli dadanya. "Kenapa tidak tutup dulu, Om!"


Sandy terkekeh di tengah-tengah aktivitasnya. Sepertinya benar kalau cinta memang buta. Bahkan, pintu selebar itu pun tak terlihat bagi mereka.


Bencilah mereka sekedarnya, sebab ada Dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia, jika hari ini benci menguasai, mungkin satu detik berikutnya, cinta yang menyinggahinya.


...#Tamat, untuk Part Sayang Dibuang, By Pasha Ayu#...

__ADS_1



📌 Gaiss, lihat profil ku kan? itu judul baru yang akan rilis setelah selesai semua nopel on Going kooh... Giliran Ezra anak Badai si arogan, yang akan tayang yaa... lopeeee


__ADS_2