
"Eza, yuk naik mobil ku?" Gadis cantik bernama Rigie menawarkan tumpangan pada Ezra. Saat ini anak tampan itu tengah duduk termenung di bangku taman sekolah.
Ezra menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Jam begini seharusnya Camila sudah sampai namun tidak juga menyatroni dirinya.
Ezra seperti tak memiliki siapa-siapa, dua Om kembarnya sibuk di masing-masing urusannya, Om Sandy yang biasanya bergantian menjemput pun sibuk mengurus Cheryl di rumah. Camila satu-satunya orang yang selalu ada, namun tidak dengan hari ini.
"Ayok Eza, kita pulang sama-sama." Ajak Rigie kembali. Sudah berapa kali Rigie menawarkan itu, tapi Ezra tak mau menggubrisnya. "Kamu tuli?"
"Aku tidak suka satu mobil dengan gadis rewel seperti mu. Gih pulang!" Ezra bangkit dari duduk, ia melewati tubuh mungil Rigie dengan acuh saja.
"Dasar anak songong!" Gerutu Rigie.
"Tuan muda." Satu laki-laki berseragam hitam menundukkan kepalanya. "Saya diutus oleh Tuan besar supaya menjemput Tuan muda."
Ezra berkerut kening. "Kau siapa? Mbak Mila mana?" Cecarnya.
"Mbak Mila tidak bisa datang, dan saya yang menggantikan Mbak mila." Sanggah laki-laki itu berkilah.
Ezra menggeleng. "Jangan bohong, Eza nggak dikasih tahu sebelumnya kok." Ketus nya.
Pria itu lupa bahwa anak ini keturunan Badai Laksamana, mungkin akan sulit menipu anak keras kepala. "Benar Tuan muda. Saya tidak bohong!" Sengaja, pria itu menarik tangan Ezra dengan memaksa.
Ezra meronta. "Nggak mau, kau penculik pasti!"
Rigie berlari memeluk Ezra dari belakang. Gadis itu berusaha mempertahankan Ezra semampunya. "Hey! Jangan coba-coba sama temen ku!" Teriaknya.
"Heh jangan berteriak anak kecil!" Kendati sekolah ini sudah sepi, tetap saja tidak cukup aman jika anak-anak itu berteriak. Untuk memastikan keamanan sekitar, sang pria asing menoleh ke kanan dan kiri.
"Jangan sentuh Tuan muda kami!" Benar saja, dua orang pria bertubuh besar berbalik mengapit tubuhnya.
Rupanya Badai datang dengan membawa dua orang handal-nya. "Urus dia!" Titahnya sembari melepas kacamata hitam.
"Papi."
Ezra hanya menyebut ayahnya dalam batin. Setidaknya sekarang ia aman setelah dua orang bodyguard menangkap sosok asing yang memaksanya ikut.
"Apa-apaan ini?" Meronta pun percuma, pria asing itu segera ditepikan oleh orang-orang Badai.
"Dia papi mu yang selingkuh itu kan?" Rigie berbisik di telinga Ezra.
Jutt..
"Aw!" Ezra menginjak kuat-kuat kaki Rigie hingga meringis. "Sakit Eza!" Teriaknya.
Badai terkikik. "Kalian tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Tidak." Ezra tak mungkin mengaku lemah, sejatinya dia sendiri bisa menjaga diri.
"Ezra pulang sama Papi. Sepertinya tidak ada yang menjemput Ezra." Badai berjongkok menatap putra tampannya. Sudah beberapa hari ini Badai mengawasi penuh bocah kecil itu.
"Mbak Mila pasti datang." Tolak Ezra.
"Mungkin telat." Badai lalu berdiri tegak dengan tangan yang mengusap-usap pucuk kepala Ezra. "Ezra lapar kan?"
"Tidak terlalu." Sanggah Ezra dingin.
"Kau belum makan siang, gimana bisa tidak terlalu lapar? Kenapa gengsi mu tinggi sekali sih?" Rigie berkata ketus.
Ezra melirik tajam anak itu. "Bisa tidak, jangan selalu ikut campur urusan ku?"
Sekali lagi Badai terkikik, mungkinkah Ezra fotocopy'an dirinya? "Kalian mau makan eskrim? Makan sushi? Atau langsung pulang?"
"Dia punya sopir sendiri, biar saja dia pulang sendiri. Dia terlalu rewel. Kalo sampai dia diajak, Eza nggak akan mau pulang sama, ..." Ezra menghentikan ucapannya, ia bingung harus menyebut Badai siapa.
"Sama siapa?" Badai menimpali.
"Papi." Meski lirih, akhirnya Ezra memanggil sebutan itu. Mengingat, Cheryl pun selalu mengajarkannya untuk tidak memanggil Om pada ayahnya.
"Ok, kita pulang berdua saja kalau begitu." Badai lalu beralih pada Rigie. "Maaf peri cantik, kau harus segera masuk ke dalam mobil mu sendiri. Tapi lain kali, Om ajak kamu ikut jalan bersama kami."
"Bye." Rigie berlari kecewa.
"Enggak!"
"Lagi pula kalian masih kecil." Badai lalu mengangkat tubuh putranya untuk dimasukkan ke dalam mobilnya.
"Sayang mau makan dulu?" Sambil memakaikan sabuk pengaman putranya, Badai bertanya.
"Langsung pulang!"
"Baiklah." Badai menutup pintu Ezra, lalu berjalan memutari mobilnya. Syukurlah Ezra masih mau berdamai dengannya, mungkin karena terpaksa.
Kriiiiiing....
Badai baru akan membuka pintu bagian kemudi, lantas sebuah dering membuatnya urung dari niat.
"Yah, ..." Badai menjawab panggilan dari Jimmy sembari mengawasi putranya dari luar.
📞 "Informasi penting Tuan muda. Benar dugaan kita, ternyata orang yang barusan pun, masih anak buah Tuan Gustav. Sekarang pengasuh dan sopir Tuan muda kecil kita sudah kami bebaskan dari sekapannya, mereka sudah saya suruh pulang dengan taksi. Dan yah, ternyata ini masih satu rangkaian dengan kejadian naas yang menimpa Nyonya Cheryl kita, kemarin."
Badai mengepal erat tangannya. "Jadi Papa masih punya anak buah? Berarti dia punya kekayaan lain? Atau mungkin korupsi uang perusahaan?"
__ADS_1
📞 "Entah juga. Mungkin Tuan Gustav masih memiliki sejumlah uang."
"Urus sampai ke akarnya. Kumpulkan bukti-bukti tentang perencanaan kecelakaan kemarin. Dan jangan lengah, awasi selalu keluarga ku yang berpotensi dicelakai oleh Papa." Titahnya.
📞 "Baik."
Badai memutuskan sambungan telepon, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Senyum manis ia sungging supaya Ezra tak terlalu banyak tahu tentang konspirasi kakeknya yang kian hari semakin bertambah seram.
Gustav masih tega-teganya, mengincar anak istrinya untuk dicelakakan. Padahal, sebagai putra yang penurut, apa salahnya selama ini?
"Apa Papi sibuk? Apa kau terpaksa menjemput ku? Apa Eza merepotkan?" Pertanyaan mencecar menyambut.
Badai menggeleng. "Tidak, Papi masih punya banyak waktu untuk mu. Ini hanya urusan kecil dari orang dewasa. Jadi tenang saja Sayang."
Ezra terdiam menatap wajah senyum ayahnya. Tak seperti saat pertama kali bertemu, hari ini Badai terasa hangat baginya.
"Kita pulang?" Ezra mengangguk setuju.
...✴️🔸🔸🔸✴️...
Tiba di rumah utama Dhyrga Miller, Badai menepikan mobilnya. Ia turun bersamaan dengan putranya lalu berjalan bergandengan tangan memasuki sebuah taman.
Di sanalah tempat Cheryl menjalani sejumlah perawatan dari beberapa suster. Badai sering diam-diam ke sini hanya untuk menilik kondisi istrinya dari kejauhan.
Selama masih ada ikatan pernikahan, Dhyrga atau Queen pun tak berani mengusir bahkan melarang Badai menyatroni rumahnya.
"Mami. Om Sandy!" Ezra berlari.
Langkah Badai justru terhenti, dadanya kian memanas ketika netra legamnya memindai Sandy Cavalera menyuapi Cheryl Arsya.
Bagaimana bisa ia mengayunkan lagi langkahnya. Sumpah demi apapun, Badai tak pernah melakukan hal mesra dengan wanita lain, dan sekarang Cheryl bersama pria lain.
"Om?" Kepala dan wajah Cheryl masih penuh perban, namun masih bisa melihat putranya dengan jelas.
Bertahun-tahun Cheryl mencintai, menunggu, dibuat bodoh. Doa dan harapan yang selalu Cheryl panjatkan adalah, ingin melumpuhkan ingatan tentang Badai Laksamana, dan itu terjadi dalam waktu singkat saja.
Setidaknya masih ada hikmah yang bisa di ambil dari balik kisah ini, Badai tak harus menceraikan istrinya setelah ingatan manis itu hilang entah ke mana.
"Kenapa Eza memanggil mu Om Kak?" Mata biru itu menatap kosong wajah Sandy.
"Biar saja." Sandy tersenyum paksa. Ia tak mampu mengatakan kebenarannya. Nyatanya ia menikmati kedekatan ini. "Bukankah Papi Eza hanya Badai?"
"Lalu, apa kita tidak perlu punya anak lagi? Apa Kakak tidak menuntut putra atau putri dariku?"
Badai tercekik, Sandy apa lagi. Sampai kapan cinta segitiga ini akan terbentuk? Kapan problematika ini berakhir dan usai hingga kata SAD berubah menjadi HAPPY?
__ADS_1
Maaf baru up, kemarin ada ketemu dokter dan Alhamdulillaah baby sehat, terimakasih doanya kalian semua ❤️