After One Night

After One Night
[Melipir]


__ADS_3

Badai melipir dari pada harus menyaksikan ade-gan mesra istrinya bersama pria lain. Setidaknya sampai ingatan Cheryl pulih ia harus rela menjauh. Badai percaya Sandy takkan pernah mengkhianati dirinya.


Di sofa taman sana, Raka, Raja, dan Dhyrga menunggu kedatangannya. Badai berhenti langkah tepat di hadapan mertuanya.


"Siang Daddy." Ucap Badai lalu memberikan tundukkan khidmat.


"Mari duduk bersama." Dhyrga mengajak menantunya baik-baik, mereka duduk melingkar di sofa putih beratapkan daun rambat, angin sepoi-sepoi pun terasa.


"Papa mu mau menculik Eza?" Raka mengawali obrolan langsung pada inti pembicaraan.


"Kalian tahu?" Badai berkerut kening. Matanya menyisir ketiga wajah dari wali istrinya.


Raja mengangguk. "Tentu saja. Kau pikir kami tidak memperketat pengawasan Eza?" Ujarnya.


"Tapi sopir dan pengasuh Eza sampai disekap orang-orang Papa, kenapa bisa kalian biarkan itu terjadi?" Tukas Badai.


"Orang-orang kami banyak. Tidak hanya mereka." Sanggah Dhyrga. Jika satu disekap puluhan orang bergantian melindungi dan berbagi tugas lain.


Badai terkekeh. "Jadi dengan kata lain, aku tidak dibutuhkan?" Cetusnya.


Raka menggeleng. "Bukan begitu, tolong jangan selalu beranggapan negatif pada kami?" Laki-laki itu tak lagi berkata ketus, usianya sudah senja.


"Kenyataannya memang seperti itu. Kalian sudah cukup baik menjaga anak dan istriku, sementara aku hanya bisa membuat luka di hati mereka." Lirih Badai.


"Lalu apa rencana mu?" Raja kemudian menimpali.


"Kau yakin mau memenjarakan Papa mu sendiri?" Sambung Raka. Dhyrga hanya diam mengamati raut sendu menantunya.


Dari orang-orangnya, tentu Dhyrga juga bisa tahu bahwa kecelakaan yang menimpa Cheryl Arsya, berasal dari Gustav. Dan ini lah alasan mengapa mereka mengajak Badai berunding.


"Gustav mau kau penjarakan? Dia ayahmu sendiri." Raja mengulang pertanyaan Raka.


"Demi melindungi anak istri ku, kenapa tidak? Apa aku tidak pantas melakukan hal yang selama tujuh tahun terakhir aku abaikan?" Tegas Badai.


Dhyrga terkekeh kecil. "Sampai sekarang Cheryl belum juga mau mengingat mu."


Suara itu terdengar meremehkan bagi Badai Laksamana. "Kita lihat sampai satu bulan ke depan. Jika sulit dia mengingat ku, aku ikuti mau kalian." Ungkapnya.


"Bukan mau kami Badai." Dhyrga menukas ucapan menantunya. Kenapa seolah-olah Badai berasumsi bahwa perpisahan akan menjadi langkah yang membahagiakan bagi keluarganya.


Badai tergeletak samar. "Tapi arah pembicaraan ini, sudah ke sana, Daddy."


"Kau bahkan tidak pernah mau menemuinya, apa bisa semudah itu Cheryl mengingat mu?" Sambung Raka kembali.


Badai menundukkan wajahnya. Kini suasana pun beralih sendu. "Aku tidak takut pada situasi apa pun. Lelah, gagal, sakit, tersiksa, miskin, bahkan jika aku dibuang dari keluarga ku sekalipun, aku tidak takut."


Ia lalu menerbitkan senyum cibiran teruntuk dirinya sendiri. "Hanya satu yang ku takutkan dan belum bisa aku hadapi sampai saat ini. Masa di mana Cheryl mengingat meminta cerai padaku dan mengulang kata itu kembali." Lirihnya.

__ADS_1


"Badai." Dhyrga terenyuh.


Badai bangkit. "Aku harus pergi. Terima kasih sudah mengizinkan ku berbolak-balik ke rumah ini sekedar menilik anak istri ku." Pamitnya.


"Hati-hati." Setelah cukup lama terdiam, Dhyrga mengizinkan.


Badai tersenyum datar lalu melangkah pergi dari tempat itu dengan menyeka buliran kecil dari sudut netranya. Kenyataan itu terlalu membuatnya melankolis. Air mata yang jarang keluar, akhir-akhir ini sering merembes.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Pagi ini Cheryl terbangun setelah aroma bunga-bunga menusuk indera penciumannya. Setiap hari, bunga-bunga itu lah alasan Cheryl membuka mata.


Cheryl tersenyum manis. "Kak Sandy selalu pergi setelah memberikan bunga-bunga ini. Dia romantis sekali." Gumamnya.


"Mami." Eza naik ke atas ranjangnya, dengan suara mengejutkan. Anak itu sudah rapi dengan pakaian kasual.


Cheryl terkikik. "Eza, Mami kaget, Sayang."


Ezra menyengir. "Maaf."


Kecupan singkat Cheryl mendarat di kening mulus putranya. "Hari ini Eza mau jalan sama Papi Badai, boleh kan?"


"Tentu saja. Pergilah." Satu kali lagi Cheryl mengecup kening Ezra.


"Terima kasih Mam." Ezra lalu turun dari ranjang, ia berlari antusias karena hari ini Badai mengajaknya berkemah.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Malam ini Badai membawa putranya makan malam di luar. Dan mereka baru tiba setelah mampir membeli beberapa mainan.


Dari waktu ke waktu Ezra mulai terbiasa meski ia masih belum bisa memberikan Badai cinta sepenuhnya seperti pada ibunya.


Tak apa, sebisa mungkin Badai memperbaiki hubungan mereka. Bila tak berhasil mendapatkan istrinya, setidaknya putranya tak sampai membenci dirinya.


Badai turun dari mobil dengan membawa serta bocah tidur itu masuk ke dalam rumah sang mertua.


"Eza tidur Bai?" Krystal menegur dengan senyum sambutan.


Badai mengangguk di sela senyuman. "Hmm, Grandma."


"Langsung bawa ke atas saja." Kata Krystal.


Badai menurut, ia menaiki anak tangga lalu menuju kamar istri dan anaknya. Biasanya di jam begini, Cheryl sudah tertidur pulas setelah meminum obat.


Acap kali Badai mencuri pipi dan bibir istrinya sebelum ia keluar dari kamar. Mengingat hal itu, Badai tersenyum bersemangat.


"Bukakan pintu." Tiba di lantai atas, Badai menitahkan kata pada satu pelayan. Dan segera dilaksanakan.

__ADS_1


Sampai kamar terbuka Badai tak melihat satupun penghuni. Badai lalu meletakkan putranya di atas ranjang super king bermotif abstrak monochrome.


Suara cekikikan Cheryl tiba-tiba terdengar dari ruangan lainnya. Dengan langkah gamang Badai menuju sebuah ruang yang dihiasi nakas dan lemari-lemari kaca.


"Apa warna lingerie ini cocok?" Cheryl memutarkan tubuhnya, melihat pantulan sosok seksi dari cermin besar miliknya.


"Sayang." Badai membulat mata, saliva seketika menuruni tenggorokan. Di dalam sana Cheryl berbusana tipis, warna hitam itu melekat sempurna pada tubuh seksinya.


Lama sudah Badai tak melihat pemandangan indah ini. Tanpa disadari bibirnya terangkat manis. "Seksi." Lirihnya.


"Memangnya untuk apa Nyonya pakai baju seperti ini?" Sang pelayan saling melempar tatapan bingung.


Bagaimana tidak terkejut? Cheryl masih hilang ingatan, setiap hari Sandy lah yang menemani wanita cantik itu bahkan sebelum perceraian terjadi.


Lalu, tiba-tiba saja Cheryl berpakaian seperti sengaja mengajak suaminya untuk bermalam panas bersama.


"Kak Sandy tidak mau tidur dengan ku. Aku jadi curiga. Apakah mungkin, aku tidak lagi terlihat menggoda?"


"Tapi Nyonya kan sedang dalam proses perawatan. Tunggu saja sampai Nyonya sembuh total. Yakinlah, Nyonya pasti tahu alasan kenapa Den Sandy tidak mau tidur dengan Nyonya."


Cheryl berkerut kening. "Kalian kenapa sih? Aku sudah sembuh. Aku sudah bisa menyentuh suamiku."


Persetan dengan busana tipis Cheryl. Badai lagi-lagi melipir halus. Terlalu sesak jika ia terus berada di sana dan mendengar kata-kata Cheryl lebih lama lagi.


Sudah banyak usaha yang ia lakukan, salah satunya dengan memberikan buket bunga, kotak coklat, gaun indah, dan hadiah-hadiah kecil setiap harinya, berharap Cheryl mengingatnya dengan kode-kode di setiap kartu ucapannya.


Badai menghela napas berat sembari membetulkan selimut tebal putranya, lalu melanjutkan langkah keluar dengan sebilah hati yang terluka.


Kaca-kaca mulai terlihat di kedua mata legamnya. "Please jangan menangis."


Di lantai bawah, sudah ada Dhyrga, Sandy dan lainnya berdiri menyambut. "Eza tidur?" Tanya Dhyrga.


Badai tersenyum tipis di sela langkah yang tak mau berhenti. "Hmm."


"Lalu kau mau ke mana?" Sandy menegur sahabat tampannya. Kenapa Badai terlihat terburu-buru sekali untuk pergi. "Kau tidak menginap?"


Seketika langkah Badai terhenti, masihkah pantas Badai tersenyum pada sahabatnya itu? Ia lantas berbalik mendekat dengan tepukan di pundak Sandy pelan.


"Untuk apa aku menginap? Istriku hanya menunggu mu." Bisiknya.


Sandy menusukkan tatapan protes. "Maksud mu? Apa kau curiga padaku?" Tukasnya.


Badai terkekeh kecut. "Aku ikhlas jika kau mau melanjutkan posisi ku. Nyatanya bukan aku, tapi kau lah yang Cheryl mau. Sampai detik ini. Dia bahkan tak mau secuil pun mengingat ku. Mungkin benar katamu, cintaku terlalu menyakitkan untuk diingat."


"Bai." Sandy memanggil namun Badai sudah berlalu di balik pintu ruangan lainnya.


"Ada apa lagi kali ini?" Dhyrga bertanya pada Sand. Jujur ia tak mendengar apa pun yang Badai ucapkan barusan.

__ADS_1


__ADS_2