
Di atas jok kemudinya, Badai tertegun menatap Sandy yang memasuki mobil mewah setelah Dhyrga Miller menepuk punggung laki-laki itu.
Terlihat harmonis sekali percakapan antara Dhyrga Miller, Raja, Armand, dan Sandy barusan.
Badai meraih ponselnya, antara ingin menelepon nomor Cheryl atau tidak. Kali ini ia dibuat gamang oleh wanita materialistis yang hanya meraup uangnya saja.
Bukankah setelah ia sukses menduduki kursi Presdir, seharusnya Cheryl bertekuk lutut padanya? Lalu, kenapa harus ia yang menelepon Cheryl lebih dulu?
Selama ini Badai mengabaikan Cheryl dan putranya, demi membuktikan kesuksesan atas pencapaianya. Cheryl yang takut hidup susah seharusnya mengemis padanya setelah ia berhasil menjadi laki-laki sukses bukan?
"Dulu saat menikahi mu, aku yang mengemis Cheryl Arsya. Kau bahkan hampir menikahi sahabatku setelah hamil putraku. Sekarang, kamu kembali melakukannya lagi." Badai menghela napas panjang, berusaha mencari kenyamanan. Dilema cinta ini terus saja ada.
Klik...
Sebuah dering pemberitahuan dari pesan teks terdengar. Badai menilik ke layar ponselnya. Jimmy yang mengirimkan informasi padanya.
Tak mau lelah membaca teks, Badai langsung membalas dengan panggilan telepon. Lantas Jimmy bergegas mengangkatnya.
๐ "Iya Tuan."
"Ada informasi apa?" Badai mengusap kening yang mengerut.
๐ "Maaf Tuan muda, aku tidak seharusnya mengganggu acara mu. Tapi ini darurat, nama Anda sedang trending topik di media sosial. Tuan besar membuat pengumuman atas hubungan mu dengan Nona Eveline."
"Apa?" Badai menyentakkan nada tingginya. "Kenapa bisa seperti itu?" Bagaimana jika Cheryl tahu berita ini?
๐ "Saya sendiri kurang paham. Tapi Tuan besar tahu kalau siang tadi Tuan muda menemui Nyonya Cheryl."
Badai mengusap gusar wajahnya. "Urus semuanya, hapus semua informasi tentang berita palsu ini!" Titahnya.
๐ "Tidak semudah itu Tuan. Jejak digital sukar terhapus."
Badai menghela napas. "Ya Tuhan! Masalah apa lagi ini?" Rutuk nya.
...โด๏ธ๐ธ๐ธ๐ธโด๏ธ...
Badai bergegas pulang mendatangi rumah utama keluarga ayah ibunya. Persetan dengan semua panggilan telepon dari temanya, Badai harus segera meluruskan segala permasalahan di dalam rumahnya.
__ADS_1
Hari sudah mau pagi, tapi rumah ini masih ramai penjaga. Ini menandakan bahwa tuan rumah juga belum terpejam.
"Papa!" Badai berteriak. Langkahnya memasuki sebuah ruangan yang biasanya dijadikan tempat andalan Gustav dan Savira Li beristirahat.
Sayangnya ruangan tersebut kosong. Badai mendengus kasar. Setelah membuat berita tidak benar, bisa-bisanya Gustav tak ada di tempat.
"Papa!" Langkah Badai berlanjut menuju ruangan kerja ayahnya.
Kening mengerut. Di depan pintu sana Savira Li seperti tercengang dengan sesuatu yang ia lihat di balik pintu ruangan suaminya.
"Mama." Melihat itu jantung Badai berdesir, mungkin kah Gustave bermain serong di dalam sana?
"Mama?" Badai menyentuh pelan pundak ibunya. Savira masih bergeming pilu menatap gagu ulah suaminya.
Segera Badai mengarahkan mata legamnya pada celah pintu yang membuatnya melihat sosok perempuan cantik bersama sang ayah.
"Dia siapa?" Badai bertanya pada ibunya, wanita seusianya itu terlalu asing baginya.
"Helena." Lirih Savira.
"Helena?"
Helena terlihat kesal pada Gustav. "Om janji sama Helena, Om akan satukan Helena sama Badai, dan setelah Helena invest semua uang Helena, Om seperti ini sama Helena! Mana janji Om? Kenapa harus Eveline jelek itu yang menjadi kekasih Badai?" Tuntutnya.
Gustav menggeleng. "Diam lah dulu, berita ini hanya rumor supaya Cheryl meminta cerai dari Badai. Setelah itu kau boleh bersaing dengan Eveline untuk mendapatkan Badai!"
"Tapi tidak seperti itu perjanjiannya Om! Tujuh tahun lebih, Om janji mau menyatukan Helena sama Badai, Om bilang butuh banyak uang untuk mencari keberadaan Badai, Om juga butuh kekuatan untuk bisa membuat Badai dan Cheryl berpisah. Semua yang Helena punya sudah Helena kasih untuk membantu membayar antek-antek terhebat, tapi apa, Om menipu ku!"
Gustav kehilangan kata-kata. Ia tak mampu membuat Helena menyimpan sekata pun.
"Helena juga sudah menandatangani kontrak perjanjian konyol Om! Sekarang Helena tanya, wanita mana yang mau menyetujui kesepakatan konyol Om? Siapa yang rela mengelabui suaminya supaya mau mengalihkan kepemilikan perusahaannya ke atas nama Om Gustav?" Serang Helena berapi api.
"Tidak apa. Helena sudi menunggu selama itu. Helena mau walaupun nantinya Badai tidak lagi menjadi pemilik perusahaan Tante Savira, Helena rela menyetujui syarat bodoh Om, karena Helena sayang Badai, tulus!" Histeris nya.
"Sekarang tega-teganya, Om mengumumkan hubungan Badai bersama Eveline!" Tambahnya kembali.
Gustav menggeleng. "Tenang dulu Helena. Kamu pasti menikah dengan Badai. Om janji itu akan terjadi."
__ADS_1
"Hiks!" Savira tak kuasa menahan sesaknya sehingga ia tak mampu lagi bersembunyi dari suaminya.
Gustav menoleh seraya mendelik, ia kira istrinya sudah tertidur pulas di kamar. "Savira. Ini, tidak seperti, yang, ..."
"Aku kecewa padamu." Tukas Savira lirih. Entah lah, rasanya sakit sekali dikhianati oleh orang yang sangat ia cintai. "Jadi aku memelihara ular berbisa?"
"Savira." Gustav merayu dengan wajah manipulasinya.
Savira terkekeh pilu. "Keluarga ku mengambil mu dari jalanan, sepenuh hati kau diurus keluarga ku, menikahi ku, dan menjadi presiden direktur di perusahaan ku, kau ku berikan kekuasaan, kemewahan, terlebih cinta yang tulus dan putra yang luar biasa tampan, lalu kau dengan teganya mau mengambil harta yang sudah seharusnya menjadi milik putraku? Kau sengaja mau menjodohkan Helena karena dia setuju untuk bersekongkol dengan mu? Kau mau mengubah kepemilikan perusahaan ku menjadi namamu Gustav?"
"Bukan, bu-bukan begitu Sayang." Gustav memelas. Ia bingung harus berkata apa? Rupanya pilihan ia mengumumkan hubungan Badai dan Eveline justru awal dari petaka nya.
"Aku terlalu buta, mungkin karena cinta aku diam saja dengan kelakuan mu selama ini, tapi jika sudah menyangkut tentang hak anakku. Aku tidak akan tinggal diam saja Gustav!" Savira Li histeris.
"Sayang."
"Kau ku gugat cerai. Kembalilah ke asal mu. Enyah lah dengan dendam terkutuk mu Gustav!" Teriak Savira.
"Tapi, ..."
"Ini tidak lucu Papa." Sedari tadi Badai diam saja. Sungguh ia tak habis pikir dengan apa yang ayahnya lakukan. Teganya Gustav memisahkan pernikahannya bersama Cheryl hanya karena obsesi ingin memiliki seluruh kepemilikan harta warisannya.
Gustav menggeleng. "Ini tidak seperti yang, ..."
Brakkk...
"Sudah jangan berkilah!" Badai berteriak keras sembari menendang satu guci hingga hancur berkeping-keping.
"Papa yang membuat Cheryl meninggalkan ku! Papa yang membuat aku menjadi suami dan ayah yang tidak bertanggung jawab!"
Sumpah demi apapun Badai lunglai, ia tak pantas dimaafkan oleh Cheryl Arsya setelah apa yang ia perbuat tujuh tahun lamanya.
"Cheryl memanipulasi mu, Badai."
Savira terkikik getir, ternyata suaminya masih sanggup mengatakan Cheryl memanipulasi setelah semua boroknya tersingkap begitu menjijikan.
"Pergi dari rumah ku Gustav. Jangan lagi kau berharap, bisa membawa sepeserpun uang milikku!"
__ADS_1
Savira Li berasumsi, Gustav sendiri takkan pernah bisa membuatnya menyerahkan kepemilikan perusahaan kepada suaminya. Tapi Helena bisa, maka Gustav perlu drama perjodohan ini.