After One Night

After One Night
[Menolak mengingat]


__ADS_3

Brakkk....


"Cheryl!"


Mobil hitam yang baru saja keluar dari parkiran sebuah restoran. Kini dalam keadaan terguling, terseret, bahkan terbalik setelah satu buah truk menghantam dari samping.


"Aaaa!" Sebagian banyak dari insan yang menyaksikan berteriak, histeris, terkejut bahkan ada yang tergagu.


Badai berlari tanpa motivasi, serampangan ia mendatangi mobil itu. Lantas meraih wanita yang kini berada di dalamnya dengan tidak sadarkan diri.


"Cheryl." Badai berjongkok. Pintu mobil sulit dijangkau, Badai menilik ke bagian depan, ada api yang berkobar lamat-lamat.


Sepertinya terjadi kebocoran bahan bakar, dan gesekan dari besi-besi saat terseret menciptakan percikan api hingga mampu membuat kobaran kecil tersebut.


"Ya Tuhan!" Meski tangan harus berlumuran darah. Sekuat tenaga Badai membuka pintu mobil istrinya, "Sayang."


Brakkk... Pintu berhasil terbuka setelah Badai menghujam besi-besi itu dengan kedua tangan besarnya.


Orang-orang berbondong membantu. Meski sulit, Badai berhasil mengeluarkan istrinya dari dalam sana.


Suara percikan api kian merayap dan membesar. Berlari Badai menepi, sebelum percikan kecil sampai pada tangki bensin dan meledakkan mobil Cheryl Arsya.


"Cepat tinggalkan mobil ini!"


"Menepi semuanya!" Teriak satu pria asing lainnya.


Duarr!!


Api melahap habis mobil mewah Cheryl Arsya. Ber alaskan rumput, Badai peluk tubuh lunglai istrinya. Entah di mana bagian yang terluka, Cheryl bahkan tak mengeluhkan kesakitannya.


"Tolong istriku Pak."


"Mari naik mobil ku Anak muda." Satu pria paruh baya bersiap mengantar Badai ke rumah sakit untuk membawa serta Cheryl Arsya yang masih terdiam tak bergerak.


Dalam mobil putih itu, mata Badai tak henti hentinya mengalirkan buliran jernih. Sesekali memeriksa denyut nadi Cheryl dan syukurlah masih berdetak. Ia menyesal, kenapa harus membiarkan Cheryl Arsya pergi tanpa dirinya.


"Bodoh, ini salah mu. Cheryl tidak fokus menyetir karena perlakuan menjijikan mu! Badai."

__ADS_1


Badai mengumpat dirinya sendiri. Jika sampai Cheryl kenapa-kenapa, ia lah dalang bajingan yang tak patut dimaafkan.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Hari berlalu, kejadian naas yang menimpa Cheryl Arsya membuat semua keluarga Miller menginap di rumah sakit yang sama.


Tak hanya itu, keluarga Savira Li, dan keluarga Armand pun juga setia menunggu hasil dari pemeriksaan dokter. Beruntung Badai masih memiliki kesempatan untuk diterima oleh keluarga Dhyrga Miller.


CEO Millers-Corpora itu tahu bahwa insiden memilukan yang menimpa putrinya murni kecelakaan. Masalah hubungan mereka, biar waktu yang akan menjawabnya.


"Ada benturan keras di kepala Nyonya Cheryl. Dan dimungkinkan, akan mengalami hilang memori ringan." Jelas dokter perempuan itu.


"Ya Tuhan." Queen menutup mulutnya. Ia lalu memeluk suaminya sambil menangis. Apa lagi ini Tuhan? Kenapa Cheryl tak pernah bahagia, terlebih semenjak perpisahannya bersama Badai?


"Tapi kita tunggu saja, sampai Nyonya siuman." Tambah dokter itu lagi.


Sandy dan Badai hanya bisa bergeming pilu. Wanita cantik yang menyandang kabel-kabel kecil ditubuhnya itu, adalah kesayangan dan kecintaan mereka berdua.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Detik demi detik berlalu, sudah berhari-hari Cheryl Arsya koma. Sandy, Badai, Dhyrga, dan lainnya bergantian menemani Cheryl Arsya.


Di Minggu ke dua, syukurlah semua orang mampu tersenyum, terharu bahagia saat Cheryl bangun dari tidur panjangnya.


Saat Cheryl siuman, Sandy lah wajah tampan yang pertama kalinya Cheryl jumpai.


Saat ini Badai, Sandy, Dhyrga, Queen, Armand, Savira, Krystal, Raka dan Raja berkumpul di satu ruangan yang sama.


Mereka semua bermuram durja. Antara bahagia dan tidak mendapati kabar Cheryl siuman. Pasalnya, ada sebagian memori yang hilang dan tak teringat sama sekali oleh otak Cheryl Arsya.


Cheryl mengakui Sandy sebagai suaminya, dan Badai hanya ayah dari anaknya. Ia mengingat sepenggal kisah masa lalu saat ia sudah hampir menikah dengan Sandy lalu ingatan itu berakhir sampai di situ.


Kemudian, ingatan di masa kemarin yang bisa Cheryl ingat adalah, saat media sosial Badai mengumumkan hubungan bersama Eveline setelah lulus S3.


Dalam ingatan Cheryl Arsya, hanya ada Sandy yang selalu ada untuknya dan Ezra. Bahkan, ia masih mengingat bagaimana Sandy pulang membawa banyak coklat dan mainan untuk Ezra setelah kelulusan S2.


Badai shock. Semua memori tentang Badai kini terlupakan. Tak ada satupun momen bersama Badai yang mampu Cheryl ingat.

__ADS_1


Dokter Ratna Nindya mengatakan, bahwa memori itu akan kembali seiring dengan berjalannya waktu tanpa perlu memaksakan.


Ok, itu bisa diterima. Yang jadi masalah adalah, sekarang Sandy harus terus berada di sisi Cheryl selama proses penyembuhan itu sendiri.


Kejadian yang Cheryl alami bukan lah satu-satunya kasus, sejatinya hilang memori sudah banyak dialami manusia di muka bumi fana.


"Aku percaya kau temanku. Tolong bantu Cheryl mengembalikan ingatan tentangku tanpa mengkhianati ku." Badai merengek pada sahabatnya dengan bahasa yang cukup sopan. Mereka sudah dewasa, seharusnya tak ada lagi Lo Gue dalam hari-hari keduanya.


"Dia sendiri menolak mengingat mu. Itu karena kau terlalu menyakitkan Badai." Ketus Sandy.


"Please." Badai memelas. Ini memang hasil dari keegoisannya tapi ia sangat mencintai wanita yang terbaring di atas ranjang pasien sana.


"Sumpah demi apapun, tidak ada yang lebih setia dari pada aku. Bahkan kau sendiri pun takkan pernah mampu seperti ku! Aku yakin aku lebih mencintanya dari pada kau, Sandy."


"Kenyataannya cinta mu menyakitinya." Sandy menukas dengan pekikan. Dhyrga, Queen, Armand, Savira sempat tersentak dengan percekcokan mereka.


"Aku mau menebus semuanya. Bukankah semua orang berhak mendapatkan kesempatan ke dua?" Lirih Badai.


Sandy bangkit. "Kita lihat saja, bagaimana Cheryl Arsya kembali mengingat mu. Karena saat itu terjadi, mungkin saja kau juga harus bersiap menceraikannya."


Badai menggeleng. "Aku tidak akan pernah sanggup mengikrarkan talak padanya."


"Ssstt." Savira memeluk putranya. Ini ujian yang begitu berat, dan semua berawal dari suami tamaknya. "Cheryl pasti mengingat mu. Kita hanya butuh waktu."


"Jangan suruh Badai menceraikan Cheryl Ma. Aku tidak sanggup melakukannya."


Dari celah pintu, Ezra menyimak setiap perdebatan yang berderai dari mulut-mulut keluarga besarnya. Sedikit banyak anak itu tahu, apa yang ayah dan Om kesayangannya ributkan.


Jadi siapa sebenarnya yang akan menjadi ayahnya? Kini keduanya sama-sama tulus di mata Ezra. Bedanya, Om Sandy yang ia kenal selama ini lebih bisa menunjukkan rasa cintanya dengan tindakan.


"Tuan muda." Sebuah tepukan membuat Ezra mengangkat kedua bahunya, kaget. "Jangan mengintip. Ingat kata Mami Tuan. Tuan muda tidak boleh menguping pembicaraan orang tua." Ujar Camila.


"Maaf. Tidak sengaja." Ezra berkata lirih.


"Sekarang kita ke taman. Mbak suapi Tuan muda yah. Ini sudah waktunya makan siang."


"Ok." Angguk Ezra. Camila berlalu dari tempat itu dengan membawa serta anak majikannya.

__ADS_1


Visual Ezra.



__ADS_2