
Cheryl menjalani perawatan lanjutan, satu bulan sudah Cheryl mengikuti langkah demi langkah yang dokter usulkan. Hari-hari mulai ia jalani seperti biasanya, yaitu menjadi ibu yang baik bagi Ezra putranya.
Di atas ayunan gantung Cheryl termenung. Mata biru itu sibuk menyisir, rangkaian demi rangkaian kata dari tulisan tangan Badai yang terukir di atas kartu-kartu ucapan.
Selama ini Cheryl hanya membacanya, lalu meletakkannya di sembarang tempat, tak pernah ia mencoba menyelami bait demi bait dari puisi-puisi indah itu.
...Kita menyaksikan salju turun, di tengah kondisi tubuh yang berbaur peluh. Salju itu membekukan seluruh kota, tapi tidak dengan pergumulan kita yang membara....
Ada inisial M yang tertera di sudut kertas. Air mata Cheryl tergelinding jatuh mengingat kembali nama Mike saat ia memakai nama Misya.
Satu kertas kembali ia tukar dengan kertas yang baru. Masih sama tema puisinya, tentang cinta dan kenangan mereka.
...Aku menatap siluet indah di sudut gang sana, ia bergerak memacu beriringan dengan desah merdu yang kau tahan sekian kuatnya. Kita berlari, tertawa, bahagia setelah berhasil membangunkan wajah-wajah yang dipenuhi cercaan amarah. Sebutir coklat menjadi pelarian terhebat kita. Bibir-bibir kita menyatu menikmati si manis dari Belgia itu....
Satu bulir lagi terjatuh dari sudut netra indah Cheryl Arsya dan membasahi inisial M itu lagi. Yah, Badai mencoba memberikan kode di setiap kartu-kartu ini.
...Kita tak pernah bisa melepas dahaga cinta yang terus menghaus. Terdapat juga binar gairahmu di atas sofa hitam malam itu. Lenguh mu, candu ku....
Meski sedemikian menyakitkan pun, menolak seperti apa pun, pada dasarnya Cheryl betah mengingat ingat kenangan bersama Badai Laksamana, yah Cheryl nyaman dengan segala memori yang tercipta di masa lalunya.
Terlalu indah jika dilupakan, terlalu manis untuk dihilangkan. Semuanya terngiang kembali, bahkan seolah rentetan peristiwa itu tak mau lepas dari otaknya.
"Mami!" Semua bayangan terpudar oleh pekikan suara Ezra Laksamana.
Cheryl menoleh pada Ezra sembari menyeka, tumpukan air mata di pipinya. "Iya Sayang." Senyum pun ia sungging demi melengkapi sambutan hangatnya.
Ezra melompat-lompat kegirangan. "Papi beliin Eza sepatu baru. Mami lihat deh!" Ujarnya antusias.
"Oya?" Mata Cheryl membulat.
"Bagus kan?"
"Bagus banget." Cheryl memindai sepatu sport berwarna gold yang Ezra kenakan. Model dan warna ini sama persis seperti milik Badai.
"Eza mau main basket sama Papi, Eza boleh kan main lagi ke rumah Papi sore ini?"
Cheryl mengangguk. "Boleh dong." Lalu, sebulir lagi air matanya, tiba-tiba membasahi pipi mulusnya.
__ADS_1
Ezra meredup ekspresi. "Mami kok nangis?"
"Enggak." Geleng Cheryl sambil tersenyum.
Kendati berkata tidak, tetap saja raut sendu Cheryl tak mudah diabaikan. "Apa karena Eza terlalu sering sama Papi? Terus Mami kesepian di rumah?" Tanyanya.
Cheryl menggeleng. "Bukan itu. Mami cuma kelilipan." Kilah nya.
"Mami tidak suka Eza dekat dengan Papi?" Ezra terus mencecar ibunya, ia tak apa jika harus menyudahi kedekatannya bersama sang ayah demi menjaga perasaan wanita pertama dalam hidupnya.
Kembali Cheryl menggeleng. "Suka dong, kan itu doa Mami setiap hari. Sekarang Eza bisa main sama Papi. Syukur saja, Mami terharu." Ucapnya tulus.
Anak itu memeluk ibunya. "Eza tetap sayang Mami kok meskipun sudah ada Papi di hidup Eza. Percaya deh, Eza enggak suka bohong."
"Tentu saja. Eza kan anak pintar, pasti Eza bisa membagi kasih sayang dan waktu Eza dengan baik."
"Kenapa harus Eza bagi waktunya? Kenapa kalian tidak sama-sama saja seperti Papa sama Mamanya Rigie?"
Cheryl tersenyum pilu. "Mungkin Papi Mami sulit bersama, tapi yakinlah cinta dan kasih sayang Mami Papi tidak berkurang sepersen pun untuk Eza."
"Eza percaya." Anak itu tersenyum menyengir, sejatinya tanpa Cheryl berkata pun, Ezra bisa merasakan kasih sayang yang tercurah dari kedua orang tuanya.
Di atas kursi kebesarannya. Badai duduk menatap layar laptop miliknya. Jemarinya sibuk menapaki satu persatu tombol-tombol qwerty.
Jangan lupa, selain menjaga Ezra dan Cheryl, masih banyak tanggung jawab lain yang perlu penanganan Badai secara langsung.
Aliya sang sekretaris datang membawa setumpuk berkas-berkas penting. Wanita berpakaian formal itu segera meletakkan map mapnya tepat di hadapan sang Tuan setelah Badai menutup laptop.
"Ini masih proposal mentah Pak. Tapi sudah saya rapikan supaya mudah dimengerti." Kata wanita berusia 32 tahun itu.
"Terima kasih." Badai memberikan tanda mengusir dengan mengepakkan jemari-jemari tangannya. Aliya pun pergi keluar setelah itu.
Jimmy bergantian datang. "Selamat siang Tuan muda." Ucapnya sopan.
"Hmm." Respon secuil Badai sambil memeriksa proposal dari Aliya. "Ada informasi apa?" Tanyanya.
Dahaman Jimmy mengawali. "Tuan besar sudah resmi di tangkap. Statusnya sudah menjadi tersangka setelah banyaknya bukti yang mengarah padanya." Ujarnya.
__ADS_1
Badai beralih pada Jimmy. "Apa tidak ada kabar baik?" Tukasnya.
"Tidak ada. Bahkan, Nona Helena dan Nona Eveline pun ikut melaporkan Tuan besar atas tuduhan penipuan materi yang Tuan besar lakukan." Tambah Jimmy kembali.
"Jadi, dengan kata lain, Papa tidak bisa diselamatkan lagi?"
Jimmy mengangguk. "Tentu saja, meski Tuan muda mencabut laporan pun, Tuan besar tetap akan mendekam di penjara, mengingat banyaknya pelapor lain yang masih mengusut tuntas kejahatannya. Seperti, Tuan Dhyrga dan Tuan Raka, juga Nona Helena dan Nona Eveline."
Badai menghela pelan. "Aku tenang Cheryl dan Ezra aman dari incaran dendam Papa. Tapi ingat, meski sudah ditangkap, tetap awasi Cheryl dan Ezra secara diam-diam. Aku takut masih ada sekongkolan Papa yang belum tertangani."
"Baik." Angguk Jimmy. Laki-laki itu undur diri setelah sosok cantik Savira memasuki ruangan tersebut. "Nyonya, permisi." Pamitnya.
"Yah." Savira tersenyum pada Jimmy, lalu pria itu berlalu.
Savira kembali fokus pada Badai. "Setiap hari kamu menjaga anak istri mu, tapi tidak pernah punya niat menjemput istri mu kembali hmm?" Tanyanya.
Badai mencebik. "Sandy bilang Cheryl sudah kembali mengingat ku."
"Bukanya bagus?" Savira duduk di sofa ruangan hitam putih itu.
Badai tergelak sumbang. "Bagus, karena setelah ini dia pasti meminta cerai lagi."
"Kalau itu yang terbaik, lakukan saja. Jangan siksa Eza. Biar saja Eza punya ayah baru lagi Badai!" Sambung Savira.
Seketika mata legam Badai menatap rumit ibunya. "Jadi Mama setuju Cheryl menikah lagi?"
Savira mengangkat bahunya. "Kenapa tidak? Toh kamu sendiri sudah tidak punya niat untuk menjemputnya pulang ke rumah utama kita bukan?" Tukasnya.
"Bebaskan dia Bai. Biarkan dia bahagia! Mama yakin, di luar sana masih banyak laki-laki yang mau menjadi suaminya." Imbuh Savira lagi.
"Badai tidak rela!" Pria tampan itu memekik. Entahlah, jika sudah berurusan dengan perceraian, Badai kalap.
"Kalau begitu jemput dia. Usaha, dan perbaiki semuanya. Kalian masih saling cinta, Mami yakin Cheryl juga masih menunggu mu."
Yah, seandainya saja Cheryl benar-benar masih menunggu dirinya, Badai takkan pernah ragu untuk menjemputnya. Nyatanya, berita pertunangan Sandy semakin santer dibicarakan media sosial. Bukankah itu berarti, ia harus bersiap untuk menghadapi perpisahan?
Visual Badai.
__ADS_1