After One Night

After One Night
[Secretary & Secret Baby]


__ADS_3

Promosi karya baru



Visual Axel Prince Miller



Visual Alex Prince Miller



Visual Lily



Cekidot....


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Lilyana termenung mendapat kabar yang entah harus bahagia atau tidak. Satu sisi ia di terima sebagai karyawan di perusahaan besar.


Sisi lainnya lagi, ia baru tahu bahwa perusahaan yang ia masuki adalah milik keluarga dari pria yang dahulu pernah ia kenal secara tragis.


"Kenapa bengong?" Suara berat membuyar lamunannya. Pria tampan itu menatap kernyit wajah gugup Lily.


Lily baru teringat, dirinya sedang berada di dalam ruangan interview. Di depan sana HRD beserta jajarannya masih menatap serius wajahnya. Tak terkecuali CEO tampan dari perusahaan Millers-Corpora itu.


Lily mendongak, kali ini ia beranikan diri untuk menatap calon atasannya. "A-apa boleh saya pikir-pikir dulu?"


Satu pria paruh baya tercengang. "Dari ratusan pelamar. Kau di terima di perusahaan bonafid ini, dan kau bilang pikir-pikir?"


Lily meneguk saliva, kedua tangannya terus mengepal kuat. Beberapa orang bertanya- tanya. Kenapa sekarang Lily terlihat sangat gugup, padahal saat melakukan tes saja, gadis itu tak gentar sama sekali.

__ADS_1


"Maaf, tapi saya, ..."


"Kau boleh berpikir, dan waktu mu hanya satu Minggu dari sekarang." Putus pria yang paling muda dan paling tampan di antara lainnya.


Pria bersuara dingin itu satu dari putra pewaris perusahaan Millers-Corpora. Wajah itu lah yang membuat Lily meragu untuk bekerja di sini, bahkan setelah ia bersusah payah memenuhi rangkaian tes dan beberapa persyaratannya.


"Tuan Axel." Laki-laki dengan nametag Alif menegur sang Tuan muda.


Bukankah seharusnya tidak ada yang boleh berpikir selama satu Minggu hanya untuk memantapkan niatnya bekerja di perusahaan ini, mengingat banyaknya antrian pelamar yang begitu panjang.


"Benarkah?" Lily justru membulat mata. Rupanya tuan muda yang ia kira dingin, memiliki kebijakan yang menguntungkan dirinya.


Axel mengangguk. "Ya. Aku beri waktu satu Minggu, itu pun karena prestasi mu yang cukup bagus. Saya harap, Anda bisa segera memutuskannya."


"Baik terima kasih Pak." Lily menundukkan kepalanya. Ia lega, setidaknya ia masih bisa berpikir lebih banyak untuk melanjutkan langkahnya ke depan.


Tak lama kemudian, Lily di persilahkan keluar dari ruangan. Dan para staf bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan gadis itu, kenapa bisa meragu untuk bekerja di perusahaan yang cukup besar ini, dan ada apa pula dengan tuan Axel, kenapa pria sedingin salju bisa memberikan dispensasi waktu berpikir.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Segera Lily keluar dari gedung perkantoran tersebut. Kemudian berlari menuju mobil hitam milik kekasih temannya.


Ia ke sini bersama Mitha sang Bestie, dengan mobil mewah fasilitas dari Rodeo, si Om Om tajir melintir.


Brugh.... Lily masuk dan duduk di jok penumpang bagian depan.


"Kebetulan Ly Baby Livia nangis mulu dari tadi, kayaknya dia kelaparan deh." Mitha menyerahkan satu bayi mungil pada sahabat terbaiknya.


Lily menerima dan segera membuka beberapa kancing bajunya demi memberikan makanan ekslusif putrinya. "Ulu, Sayang. Maafin Mama, Mama lagi cari kerja buat biaya kita berdua." Celotehnya. Livia perlahan pun tertidur.


Gegas Mitha membawa mobilnya keluar dari parkiran. Ia tahu betul bahwa Lily sudah selesai dengan urusannya. "Gimana interviewnya, kamu di terima?"


Sambil menyusui bayinya, Lily mengangguk perlahan. "Aku di terima, tapi aku ragu." Lirihnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Mitha terheran-heran.


"Ternyata yang mimpin perusahaan tadi tuh saudara kembar Alex! Dan salah satu pemilik dari gedung ini, tidak lain tidak bukan, Daddy Alex sendiri!"


Mitha terperanjat. "What? Jadi Alex punya saudara kembar? Dan Alex berasal dari Indonesia, gitu? Bukannya dia keturunan Britania raya dan tinggal di sana?"


"Yah, itulah shock nya aku!" Sergah Lily. Sesekali memelankan suaranya supaya tidak membangunkan tidur Baby Livia.


"Kamu tahu dari mana memangnya?" Sembari fokus pada jalanan, Mitha terus mencecar.


"Ada foto-foto keluarga pemilik dan pewaris perusahaan Millers-Corpora. Dan salah satunya Alex!" Jelas Lily. "Aku baru tahu semua itu, setelah aku menyelesaikan tes tesnya. Jadi aku sendiri bingung, mau lanjut kerja apa tidak!"


"Tapi bukannya Alex juga dah lupa sama kamu? Jadi ngapain lagi kamu pikirin soal hubungan sesaat kalian? Anggap saja kamu sudah move on dan melanjutkan kehidupan baru."


"Apa semudah itu hmm?" Lily mengernyit.


"Ya enggak sih, tapi ini kesempatan kamu bisa bekerja di perusahaan bonafid. Apa lagi gaji di perusahaan ini sangat besar." Sambung Mitha.


Lily menghela pelan. "Aku juga maunya menerima. Tapi gimana kalo tiba-tiba Alex lulus kuliah, lalu bekerja di sini juga menjadi atasan ku?"


Mitha terkekeh kecil. "Alah Ly tenang saja lah. Setelah itu terjadi, kamu sudah punya banyak modal dari uang hasil nabung kamu Ly. Alex lulus masih satu tahun lagi. Itu pun kalo lulus. Selama ini dia kan cuma bisa foya-foya, main perempuan!"


"Jadi apa aku ambil saja pekerjaan ini? Terus setelah punya modal banyak, aku cari tempat kerja lainnya, gitu?" Imbuh Lily.


Mitha mengangguk. "Yuapz, ya kamu tahu sendiri kan Ly, aku nggak bisa terlalu banyak membantu urusan mu. Kamu juga tahu sendiri, apa pekerjaan ku di negara ini. Aku nggak mungkin ngajakin kamu ikut kerja sama aku!" Ungkapnya.


Lily tersenyum. Temannya ini memang bukan wanita suci baik-baik, Mitha hanya lulusan SMA, dan menjadi simpanan Sugar Daddy, juga laki-laki hidung belang, tapi tak pernah sekalipun Mitha menjerumuskan dirinya ke jurang yang sama.


Terlebih, Lily juga tak mungkin menafkahi putrinya dari hasil menjadi simpanan laki-laki tidak setia.


Lily lagi-lagi tersenyum. "Terima kasih ya, kamu sudah mau bantu aku sama Baby Livia sampai ke tahap ini." Ucapnya.


"Sama-sama Sayang." Mitha mengusap kaki mungil Baby Livia, lalu kembali fokus pada jalanan ibukota.

__ADS_1


__ADS_2