Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 10 Syukur


__ADS_3

Minggu siang setelah kebaktian, tamu-tamu dari pihak Rina dan Toni mulai berdatangan ke rumah. Mereka langsung dari Gereja menuju rumah setelah mengikuti acara Baptis Anak yang tadi padi dilakukan oleh Rina dan Toni untuk anak mereka, Elia. Ruang tamu rumah Rina sudah dihiasi sederhana, hasil pekerjaan Lisa yang menunggu di rumah dengan beberapa saudara Rina. Mereka menyiapkan tempat duduk, makanan yang sudah dipesan sebelumnya dan pigura foto. Terdapat dua foto di ruang tamu tersebut. Satu figura potrait dipajang di stand di dekat sofa dengan kain pelapis di bagian pinggirnya. Melihat pemasangannya, Lisa bermaksud menjadikan sofa tersebut sekalian menjadi tempat duduk bagi keluarga kecil Rina. Sedangkan satu figura lainnya terpasang lanskap di dinding ruang tamu, di atas sofa yang paling besar di sana. Lisa menyarankan pemasangannya di sana supaya sekalian bisa dijadikan sofa khusus untuk Eyang-Eyang Elia nanti duduk. Rina memandangi hasil kerjaan Lisa dan saudaranya sambil membopong Elia yang tertidur di pundaknya. Di satu sisi, ia senang sudah dibantu seperti ini tetapi ia juga heran karena tidak biasanya acara seperti ini ada di keluarganya. Syukuran setelah Baptis yang pernah dilakukan oleh keluarganya hanya sekedar memberi berkat pada sesama jemaat setelah Kebaktian atau mentok-mentok makan di luar tanpa perlu merepotkan si pemilik rumah.


Sudah setahun lebih Rina dan Toni berkeluarga, ia masih belum terbiasa dengan kebiasaan Keluarga Toni yang selalu berkumpul di salah salah satu rumah saudara setelah selesai dari Gereja. Inilah yang membuat acara syukuran harus dilaksanakan di rumah dan menjadi lebih merepotkan dari yang biasa dilakukannya. Rumah harus dibersihkan, ditata supaya mampu diisi kursi tambahan dan memesan makanan untuk memberi makan keluarga yang datang. Lisa mendekat dengan ekspresi wajah gemas. Tentu bukan untuk berinteraksi dengan Rina, tetapi dengan Elia. Rina berkata tanpa suara pada Lisa bahwa Elia tidur sebelum Lisa berhasil merebut Elia darin Rina. Lisa mendesak kecewa melihat jawaban dari Rina. Rina tersenyum melihat ekspresi sahabatnya ini. Ia tidak menyangka Lisa bisa menjadi orang yang ramah pada anak kecil. Teringat sebelumnya dulu Lisa bahkan pernah memarahi keponakan Toni di Pernikahan mereka karena menendang tas kecil yang dibawa Lisa.


“Cukup lah ya dekorasinya,” ujar Lisa perlahan pada Rina.


“Cukup-cukup. Gak usah ribet-ribet Lis, malah nyenengin keluarganya Mas Toni.”


Lisa mengernyitkan dahinya kebingungan mendengar jawaban Rina.


“Malah dijodohin nanti kamu kalo mereka tau kerjamu bagus,” ujar Rina nyengir.


Lisa memandang sinis pada Rina yang tertawa pelan setelah berkata seperti itu.


“Masih ada yang single loh Lis,” goda Rina.


“Makasih, pada ribet gitu mending aku nyari dari aplikasi jodoh,” ujar Lisa ketus.


Rina tertawa mendengar jawaban Lisa. Entah apa yang lebih ditertawakan Rina, jawaban dari Lisa tadi atau kebenaran dari jawaban Lisa. Di luar rumah, mobil box berhenti di depan rumah. Dua orang keluar dari mobil box yang terlihat dari catering yang tidak dipesan Rina. HP Rina berdering dan Rina menyerahkan Elia pada Lisa yang menerimanya dengan senang. Rina membaca pesan dari Pak Barkah yang mengiriminya kue sebagai ucapan selamat untuk acara Baptis yang tadi berlangsung.


“Siapa Rin?” tanya Lisa.


“Kiriman kue dari Pak Barkah,” jawab Lisa lalu berjalan menuju ke luar rumah.


Lisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka Pak Barkah sampai seperti itu mengingat keberhasilan Rina di proyek mereka dulu. Mungkin jika nanti Lisa memutuskan untuk menikah, ia perlu mengurangi beberapa pengeluaran mengingat Pak Barkah yang sampai seperti itu ke Rina.

__ADS_1


...****...


Keluarga Rina dan Toni memenuhi taman untuk memakan hidangan yang sudah disiapkan oleh Lisa dan tim dadakannya. Seperti biasa, keponakan-keponakan Toni yang banyak berhamburan mengelilingi sekitar rumah. Rina dan Toni duduk di kanopi tanaman air mata pengantin sambil menemani Elia di troli bayi. Hiasan bintang-bintang menggantung di tiang horizontal troli, bergoyang karena tangan Elia yang berusaha menjangkau bintang tersebut. Pendeta Simon, Pendeta yang tadi pagi membaptis Elia hadir bersama dengan istrinya Maria. Pasangan suai istri ini mungkin hanya beberapa tahun lebih muda dibanding dengan kedua orang tua dari Rina dan Toni tetapi cara mereka berjalan dan beraktivitas seperti membuat mereka jauh lebih muda dibanding kedua orang tua Rina dan Toni. Pendeta Simon dan Maria mendekati Rina dan Toni sambil membawa minum mereka.


“Mas Toni, Mbak Rina, makasih ya udah diundang,” ujar Pendeta Simon.


“Iya Pak, sama-sama. Makasih juga pelayanannya tadi pagi,” balas Toni.


Maria memperhatikan tanaman yang sudah cukup menutupi kanopi di atas mereka berdiri. Maria merasa asing, ia belum pernah melihat tanaman seperti ini.


“Mbak Rina, ini tanaman apa ya?” tanya Maria.


“Air mata pengantin, Bu. Hadiah tunangan dari temen saya,” jawab Rina sambil melihat Lisa yang duduk di kursi taman sambil meminum es jeruk dan menghiraukan ajakan untuk lebih akrab dari saudara Toni. Maria kebingungan mendengar nama dari tanaman itu dan Rina sepertinya memahami ekspresi Maria.


“Namanya aneh ya Bu?” tanya Rina.


Rina dan Toni tertawa. Teringat dulu bagaimana mereka kebingungan dengan pemberian dari Lisa. Rina menunjuk ke arah Lisa dan membuat mereka semua melihat ke Lisa.


“Tuh Bu yang ngasih. Emang gitu orangnya Bu. Unik. Itu ada yang mau kenalan aja didiemin,” ujar Rina sambil tersenyum. Pendeta Simon lalu teringat sesuatu.


“Apa mau minta tolong sekalian saya carikan kenalan buat temennya Mbak Rina?” tanya Pendeta Simon.


Rina dan Toni tertawa mendengar pertanyaan Pendeta Simon. Mereka yakin usaha Pendeta akan sia-sia.


“Ga usah Pak. Masih mau fokus kerja. Nanti kalo mau juga dia minta tolong sendiri,” ujar Rina. Pendeta Simon menganggukkan kepalanya lalu melihat ke arah Marta yang mulai bercanda dengan Elia. Pendeta Simon tersenyum melihat istrinya menikmati waktu bersama Elia.

__ADS_1


“Bu, udah yuk. Siap-siap buat Kebaktian Sore,” ujar Pendeta Simon. Rina, Toni dan Maria bangkit lalu saling berhadapan.


“Mas Toni, Mbak Rina, kami pamit dulu ya. Sekali lagi makasih. Semoga Elia sehat selalu, jadi anak yang berbakti buat keluarga dan Tuhan,” ujar Pendeta Simon.


“Amin, makasih ya Pak,” ujar Rina.


“Iya, sama-sama. Kami pulang dulu ya. Dadah Elia,” ujar Pendeta Simon sambil melambaikan tangannya ke Elia diikuti Maria.


Rina dan Toni tertawa melihat Pendeta Simon dan Marta menikmati waktu mereka di rumah. Belum sempat duduk, Helnina datang sambil membawa bingkisan yang cukup besar. Rina bingung karena ia tidak merasa mengundangnya.


“Loh Mas, kamu yang ngundang?” tanya Rina.


“Gak ngundang, tapi tadi pagi dia nanya masalah skenario udah jadi apa belum. Keceplosan ngomong aku masalah ini. Ya udah kubolehin aja dateng,” jawab Toni.


Rina tidak antusias dengan jawaban Toni tetapi ia tidak boleh terlihat seperti itu karena Helnina sudah semakin mendekat ke arah mereka.


“Kak Rina, Kak Toni selamat ya udah ngebaptisin Elia,” ujar Helnina sambil menyalami mereka berdua.


“Iya sama-sama,” ujar Toni.


“Makasih juga ya Nin, maaf malah ngerepotin bawa hadiah segala,” tambah Rina.


“Ah gapapa, santai. Itung-itung bonus dari produser kemarin film pendeknya sukses. Tinggal ditunggu versi film panjangnya aja,” balas Helnina sambil melihat ke arah Toni.


Dalam hati, Rina cukup kesal karena masalah pekerjaan muncul di acara anaknya. Sudah lah bukan keluarga, pekerjaaan pula yang dijadikan topik pembicaraan. Tetapi Rina tetap tersenyum di hadapan Helnina. Ia tahu, saat ini Keluarganya masih membutuhkan Helnina sebagai sumber pendapatan mereka.

__ADS_1


...****...


__ADS_2