Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 12 Huruf Kapital


__ADS_3

Sore hari di perumahan tempat Rina tinggal adalah tipikal sore yang kerap ditemui pada sinetron era 90 sampai 2000an. Suasana lalu lalang yang tetap terkendali, tidak ada suara klakson kendaraan, muda-mudi berlari mengelilingi perumahan untuk menjaga kebugaran, anak-anak bermain dengan suara yang tidak memekakkan telinga dan sesekali terlihat penjual makanan lewat menawarkan dagangannya. Jalan tahun kedua Rina menempati rumah ini, tidak ada kejadian berarti yang menghebohkan sekitar terjadi. Bahkan acara puncak tujuh belasan berjalan tanpa satu kehebohan terjadi. Bagi banyak orang yang tinggal di daerah kota, mungkin mereka akan rela berebut kavling kosong di perumahan ini. Hiruk pikuk kantor dan jalanan yang mereka lalui setiap harinya harus diimbangi dengan situasi rumah yang tenang seperti ini. Persetan dengan keakraban antar tetangga, selama masih bisa diselesaikan dengan senyum sopan maka itu sudah dianggap sebagai keakraban antar tetangga.


Raut wajah Rina kusut ketika ia keluar dari dalam rumah menuju selang air. Ia tidak fokus, masih terpikir dengan pesan Helnina yang kemarin ia baca dari laptop Toni. Perlahan Rina mengulur selang agar tidak saling terkait lalu bersiap untuk menyirami tanamannya. Sembari menyiram tanaman, pikiran Rina terfokus pada pesan Helnina. Pesan yang memiliki subjek revisi tidak mungkin memiliki begitu banyak salah ketik dan penempatan huruf kapital yang tidak pada mestinya. Rina yang dulu hingga sekarang menjadi pekerja lepas untuk Pak Barkah terbiasa untuk memeriksa dokumen-dokumen proyek merasa sangat terganggu. Rina merasa ada yang tidak beres. Belum lagi pakaian Toni yang begitu rapi pada saat rapat kemarin. Ingin rasanya ia kembali ke ruang kerja Toni dan memeriksa kembali pesan dari Helnina.

__ADS_1


Rina memandang lama pada tanaman air mata pengantin yang sudah mulai rindang dan tidak beraturan. Sungguh tidak enak dipandang karena kelebatan sulur dan daun tidak merata. Pada sisi dekat tiang kanopi kondisi sulur dan daun sangat lebat sedangkan pada sisi seberang yang dekat dengan tembok tidak banyak tertutupi sulur dan daun. Rina menyelesaikan kegiatannya menyiram tanaman lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil gunting tanaman. Keluarga bunglon memperhatikan Rina yang sudah tidak terlihat. Dengan waspada mereka keluar dari tumpukan sulur dan daun di bawah atap kanopi untuk mencari bulir air yang tersisa dari siraman tadi.


Dengan hati-hati, Rina memilih sulur yang bisa dipotong agar bentuk tanaman menjadi lebih enak dipandang dari luar. Hasil potongan Rina taruh di bawah, membuat tanah perlahan berubah menjadi warna hijau dan merah muda. Rina melanjutkan pemotongan sulur dan akhirnya melihat keluarga bunglon muncul dari bagian atas sulur. Tiga bunglon berdekatan satu sama lainnya dengan satu bunglon berukuran lebih kecil dibanding dua bunglon yang lainnya. Rina tersenyum melihat pemandangan tersebut. Telur bunglon yang dulu ia temukan ternyata berhasil menetas dan tumbuh menjadi bunglon kecil. Sekilas Rina terpikir mengenai jenis kelamin dari bunglon kecil ini, laki-laki atau perempuan seperti Elia. Rina juga teringat momennya bersama Lisa di pertunangannya dulu. Tanaman yang dibilang Lisa sebagai tanaman yang menggantikannya untuk menangis kali ini menjadi seperti gambaran kecil dari keluarganya saat ini. Sudah memiliki momongan, kondisi keluarga yang agak berantakan dan perlu dibenahi sesegera mungkin agar tetap terlihat baik. Rina berdiam sambil terus memegangi gunting tanaman. Kembali terpikirkan untuk mengambil foto pesan dari Helnina dan mencari tahu apa maksudnya. Rina tidak akan bisa tenang jika ia tidak mengetahui apa kebenarannya. Tenang, Rina mengatur pernafasannya untuk memantapkan diri sebelum mengambil tindakan terbaik baginya dan keluarganya.

__ADS_1


...****...


Rina yang bergegas sambil membawa sofa menggeser keset depan pintu meninggalkan posisi awalnya. Rina terdiam. Ia melihat benda keperakan muncul dari lindungan keset. Rina mengambil kunci yang disembunyian di sana lalu memperhatikan merk kunci yang sama dengan rumah pintu. Rina membuka pintu ruang kerja Toni lalu menyalakan laptop Toni. Permintaan kata sandi muncul dari laptop. Rina terdiam, mencoba mengingat apa yang biasa menjadi kata kunci Toni. Dengan mantap Rina mengetiknya dan berhasil. Internet sudah terkoneksi dan Rina mulai membuka email Toni. Masih tersimpan email dari Helnina dan segera Rina memotret isi pesannya. Sigap, Rina keluar dari browser setelah menghapus riwayat pencariannya. Rina melihat sekitar, masih pada posisi sebelumnya lalu Rina keluar dan mengunci ruangan kerja Toni seakan tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


...****...


Rina duduk di meja kerjanya, menunggu foto yang tadi diambilnya terkirim di laptop miliknya. Foto terkirim dan Rina mulai memperhatikannya dengan sesama. Rina mulai mengetik ulang isi pesan dari Helnina untuk membuat pengecekannya lebih leluasa. Kesalahan demi kesalahan yang dibuat Helnina juga ditiru oleh Rina. Meniru ketikan yang salah seperti itu sebenarnya membuat Rina kesal. Ia dibayar untuk mencari kesalahan, bukan untuk mengulangi kesalahan. Ini terpaksa dilakukan karena Rina hanya memiliki foto. Rina menyalin hasil kerjaannya lalu mencoba memperbaiki kesalahan. Pesan yang didapat Rina kali ini justru tidak menunjukkan keanehan. Rina terdiam, berpikir apa yang seharusnya dilakukan dengan kesalahan-kesalahan ini. Rina kembali melihat ke hasil salinannya yang pertama. Rina terpikir satu cara yang mungkin dilakukannya lalu mengumpulkan huruf kapital salah penempatan yang ada di tiap kata dan tiap baris. Semakin lama, Rina semakin melongo tidak percaya. Huruf kapital yang berhasil disusun oleh Rina ternyata berisi ajakan Helnina dan Toni untuk bertemu di sebuah hotel.

__ADS_1


__ADS_2