Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 9 Kelahiran


__ADS_3

Terlihat pria berumur 30 tahun, berperawakan agak kurus dengan rambut agak berantakan mondar-mandir di lorong depan ruang bersalin. Keringat mengucur deras dari dahinya. Entah karena cemas, panas atau keringat karena dirinya yang terus mondar-mandir. Tingkah lakunya memancing rasa risih dari orang di sekitarnya. Mereka terus memperhatikan bagaimana pria tersebut bisa memiliki tenaga untuk terus mondar-mandir selama tiga puluh menit. Ingin rasanya mereka menghentikan pria yang sedari tadi mereka perhatikan tetapi mereka juga sadar mungkin ini salah satu cara yang mungkin dilakukannya untuk mengurangi rasa cemasnya.


Dari kejauhan, Suster berjalan mendekati pria bermaksud untuk menenangkannya.


“Pak, tolong duduk dulu ya. Kami usahakan yang terbaik buat keluarga Bapak,” ujar Suster.


“Saya baru pertama kali ini Sus. Pasti baik-baik aja kan Istri sama Anak saya?” tanya Suami.


Terdengar suara teriakan dari dalam ruang bersalin dan membuat Suami melongo. Suster kebingungan, bersiap untuk mendengar pertanyaan yang mungkin didengarnya sesaat lagi.


“Sus, Istri saya gak papa ‘kan?” tanya Suami cemas.


“Iya Pak. Istri dan Anak Bapak lagi berjuang di dalam. Bapak tenang dulu ya, duduk di kursi yang kami sediakan biar gak ganggu yang lain juga. Itu Pak, yang lain pada ngeliatin dari tadi,” ujar Suster.


Suami terdiam mendengar jawaban dari Suster. Suster menghembuskan nafas lega, sepertinya berhasil menenangkan pengunjung Rumah Sakit ini.


“Takutnya juga nanti kalo ada pasien yang butuh penanganan cepat malah kehalang pas kami bawa buat penanganan,” tambah Suster.


Suami duduk di kursi panjang yang ada di depannya. Suster terlihat tidak tega setelah berkata seperti itu. Setidaknya situasi berhasil ditenangkan. Suster pergi meninggalkan Suami yang menunduk di kursi. Ia tersadar bahwa dirinya sudah membuat semua orang tidak nyaman. Sambil menunduk menunggu proses persalinan selesai, Suami menginjak lantai perlahan, menggantikan kegiatan mondar-mandirnya tadi. Suami mencoba untuk tidak begitu kencang agar tidak mengganggu.


Terdengar suara bayi dari dalam ruang persalinan dan menyadarkan Suami dari lamunannya. Dengan penuh harap ia memandang ke arah pintu ruang persalinan, ingin segera mendengar namanya dipanggil. Tak lama, pintu ruang bersalin terbuka dan Suster yang membantu persalinan melihat ke arah Suami.


“Pak Agustinus,” Suster memanggil nama dari Bapak Toni.


Agus memandang penuh harap pada Suster. Mereka berdua saling tersenyum, menandakan semua berhasil dilalui dengan selamat. Perlahan, Agus melangkah menuju ruang persalinan untuk menemui Tuti dan Toni Kecil.

__ADS_1


...****...


Toni duduk sambil menghentakkan kakinya di lantai sambil mengingat bagaimana dulu ia diceritakan mengenai proses kelahirannya. Ia teringat bagaimana Bapaknya mengganggu sekitar dengan terus mondar-mandir hingga harus ditegur Suster Senior. Namun, ada satu hal yang dilupakan Toni dan kembali membuat semua orang di sekitarnya risih. Toni lupa untuk tidak menghentakkan kakinnya ke lantai. Beberapa orang kembali melihat ke arah Toni sama seperti dulu Agus dilihat orang sekitarnya. Situasi Rina yang harus menjalani operasi membuat Toni semakin gugup. Terlebih ia takut kalau perjalanannya tadi mengantar Rina terlambat. Seketika terdengar suara klakson kendaraan di telinga Toni. Macetnya sore hari setelah jam kerja membuat perjalanan Rina dan Toni agak terhambat. Pada saat itu, ingin rasanya ia memiliki sirine portabel seperti yang dikeluarkan Polisi di film laga ketika mengejar musuhnya.


Suara klakson yang muncul di telinga Toni hilang oleh suara mendeham dari salah satu keluarga pasien. Toni melihat ke sumber suara dan mendapati sumber suara tersebut memandang serius kepadanya. Reflek Toni menghentikan hentakan kakinya. Di saat seperti ini, ia berharap Agus dan Tuti ada di sampingnya. Terutama Tuti. Meskipun berbeda proses, ia merasa Tuti lebih mampu membuatnya tenang daripada Bapaknya. Agus mungkin hanya akan bercerita mengenai kebodohannya dulu ketika menunggu Tuti lahiran.


HP Toni berdering menerima pesan dari Helnina. Ia menanyakan bagaimana revisi yang tadi dikerjakan Toni. Toni mendecak kesal karena ia lupa mengirimkan hasil revisinya pada Helnina. Toni lantas menjelaskan situasinya pada Helnina, kelupaannya untuk mengirim revisi dan dirinya yang harus mendahulukan Istrinya karena harus segera melahirkan. Helnina yang baru mengetahui kondisi Rina langsung meminta maaf dan mendoakan yang terbaik bagi Keluarga Toni. Toni berjanji akan segera mengirimkannya setelah mempunyai kesempatan kembali ke rumah.


Terdengar beberapa langkah kaki yang berjalan mendekati Toni. Toni melihat ke arah sumber suara dan mendapati Agus, Tuti, Bambang dan Marni mendekati Toni. Raut wajah Toni terlihat lebih tenang sekarang. Setidaknya ia bisa menghabiskan waktu menunggu proses persalinan yang terasa lama ini dengan orang terdekatnya. Bambang dan Agus membawa dus berisi air mineral dan buah untuk dikonsumsi yang datang berkunjung nanti. Mereka menaruhnya di kursi dan mempersilakan istri mereka untuk mengisi tempat duduk yang masih kosong.


“Ton, tadi aman ‘kan di jalan?” tanya Tuti.


“Aman kok Bu. Cuman emang macetnya lumayan tadi,” jawab Toni.


“Udah juga Bu. Untung udah disiapin dari lusa. Gak nyangka bakal lebih cepet kepake,” jawab Toni.


Agus mengernyitkan dahinya, kebingungan dengan jawaban Toni.


“Loh, emang ini lebih cepet dari perkiraan ya?” tanya Agus.


“Iya Pak. Emang ada resiko bakal lebih cepet juga karena kondisinya,” jawab Toni.


Agus menganggukkan kepalanya.


“Mungkin juga abis lahiran ini bayinya masuk inkubator dulu.”

__ADS_1


“Jam berapa tadi masuk ruangan?” tanya Bambang.


“Jam 7an Pak,” jawab Toni.


Bambang melihat ke arah jam tangannya.


“Bentar lagi mungkin ya selesainya,” ujar Bambang.


“Iya Pak. Katanya sih cepet kalo caesar,” balas Toni.


Kelima orang tersebut memandangi pintu persalinan dengan penuh harap. Meskipun mereka semua pernah terlibat dalam proses persalinan, proses caesar ini sesuatu yang asing bagi mereka. Tak berapa lama, pintu yang sedari tadi mereka pandangi terbuka. Mereka berlima kebingungan dan cemas karena tidak mendengar suara tangis. Seketika, mereka langsung mempersiapkan dirinya untuk hal terburuk. Toni yang tidak sabar lalu bangkit mendekati Dokter yang juga berjalan mendekati Toni.


“Dok, gimana Anak dan Istri saya? Kok gak kedengeran suara nangis?” tanya Toni cemas.


Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Toni dan membuat Toni kebingungan. Ingin rasanya Toni marah pada Dokter karena merasa diremehkan dengan ekspresi Dokter tapi ia tahan.


“Tenang Pak. Persalinannya berjalan lancar. Kenapa gak terdengar suara tangis karena memang prematur Pak,” jawab Dokter.


Air mata mengalir membasahi pipi Toni.


“Anak Bapak sudah di inkubator sekarang. Mungkin sebentar lagi bisa ditengok sekalian sama Istri Bapak. Selamat ya Pak, saya permisi dulu,” ujar Dokter lalu meninggalkan Toni.


Toni mematung, tidak sempat membalas ucapan dari Dokter. Suara yang ada di sekitarnya menjadi tidak jelas setelah ucapan selamat dari Dokter. Ia bahagia. Istrinya berhasil mengalahkan proses hidup mati dan menang bersama dengan Anaknya. Toni akan menjadi seorang Bapak.


...****...

__ADS_1


__ADS_2