Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 19 Percakapan Terakhir


__ADS_3

Rina terus melangkah menjauhi area Gereja. Jauh, jauh, hingga Gereja sudah tidak terlihat lagi. Beberapa kali ia menabrak sesama pejalan kaki yang berada di sampingnya. Rina tak bergeming dan meneruskan perjalanannya. Saat ini Rina begitu kosong, tak punya tujuan harus ke mana. Meskipun sudah mengetahui bagaimana akhirnya, Rina tetap merasa kekecewaan yang begitu besar ketika melihat Toni masih bersama Helnina. Banyak pertanyaan muncul di kepala Rina. Kenapa mereka masih bersama? Untuk apa Toni memohon rujuk kalau seperti itu? Apakah dirinya hanya menjadi cadangan bagi Toni? Kenapa Tuti dan Agus sampai ikut memohon jika akhirnya seperti itu? Mungkinkah Toni mengincar rumah Rina? Apakah dirinya yang kembali mendapat proyek besar dari Pak Barkah membuat Toni menunda untuk berpisah dari Rina? Dan apakah mungkin sebuah tanaman merambat biasa dengan nama yang aneh menjadi penyebab ini semua? Banyaknya hal yang tidak diketahui Rina membuatnya sedih. Sedih karena ia merasa tidak selesai dengan semua ini. Rina melihat ke sekelilingnya, terlihat banyak senyum dan bahagia tersebar di mana-mana. Ibu bercanda dengan anaknya, Bapak menggendong anak mengambil gulali yang terpasang di atas toko, pasangan muda berbagi es krim lembut di tempat umum dan remaja putra membeli setangkai bunga untuk pacarnya. Rina mematung melihat pemandangan terakhir. Seketika ia merasa perlu mengunjungi suatu tempat. Toko tanaman dekat Kafe Botani.


...****...


Siang semakin terik, tanaman yang terpajang di luar tentu harus dicek kesegarannya. Susi memperhatikan tanaman jualannya dengan teliti. Beberapa kali ia mendekat untuk mengecek kesegaran kelopak-kelopak bunga. Susi tersenyum, bahagia karena tanamannya masih layak jual. Susi melihat ke atas, mengecek keadaan matahari lalu dengan hati-hati menggeser tanamannya yang ada di dalam pot agar tidak banyak terkena sinar matahari. Susi mengambil nafas berat setelah memindahkan pot. Susi sadar sudah seharusnya ia mempekerjakan pegawai untuk membantunya. Susi bermaksud untuk kembali masuk ke dalam toko namun ia teralihkan pada suara langkah berat dari arah kirinya. Susi mengernyitkan dahi, mencoba mengingat siapa yang mendekatinya. Ia tidak mengenali Rina yang datang dengan berantakan dan penuh keringat. Susi kasihan pada Rina. Ia merasa Rina baru saja mengalami suatu hal yang begitu menyakitkan. Susi mencoba mengingat untuk apa dulu Rina datang ke tokonya. Kutukan tanaman?


Susi mempersilakan Rina duduk di dalam toko. Kipas ia arahkan ke arah Rina dan teh telang disiapkan untuk tamunya ini. Susi sadar betul Rina juga perlu relaksasi dari dalam.


“Mau pake gula sama es?” Susi bertanya.


Agak lama Rina tidak merespon, sepertinya ia masih belum seratus persen sadar setelah perjalanan yang ia tempuh.


“Nak, mau pake gula sama es gak?” ulang Susi.

__ADS_1


Rina menganggukkan kepalanya meskipun tidak melihat ke arah Susi. Sedikit gula cair ia tambahkan ke dalam gelas agar tidak merusak rasa teh lalu es batu sebagai pelengkap. Susi memberikan teh telang pada Rina yang langsung mengambilnya. Perlahan Rina meminum teh pemberian Susi dan mulai merasakan ketenangan dari dalam dirinya.


“Nak, eh siapa? Rina ya?” Susi memastikan nama Rina.


Rina menganggukkan kepalanya.


“Rina ada apa ke sini? Kok gak sama Lisa? Masalah taneman lagi?” Susi langsung menanyakan apa yang ingin ditanyakan sekaligus.


Susi tersenyum kecil mendengar pertanyaan Rina.


“Waktu dulu saya pulang dari sini, saya disamperin perempuan misterius. Dia bilang keluarganya jadi makin kacau waktu nanem itu dan muncul bunglon tinggal di sana. Kebetulan, itu juga kejadian di keluargaku. Pasti ada yang nasibnya sama kayak aku kan?” Rina menambahkan.


Susi memegang tangan Rina yang gemetaran. Perlahan, Susi mengelusnya agar Rina lebih tenang.

__ADS_1


“Rin, iya, mungkin bukan cuman kamu aja yang ngalamin itu. Pasti ada yang punya masalah rumah tangga juga sehabis nanem apapun di rumahnya. Tapi, mereka lebih milih buat gak fokus ke taneman itu. Mereka fokus ke orang yang ngelakuin. Ke orang yang udah nyakitin & ngecewain mereka. Dari situ, mereka akhirnya milih lagi. Mau fokus nyalahin diri sendiri kenapa hal itu bisa kejadian atau ngelanjutin hidupnya. Mulai hal baru,” ujar Susi.


Rina terdiam mendengar penjelasan Susi. Matanya mulai berkaca. Susi yang melihat mata Rina kembali mengelus tangan Rina agar lawan bicaranya lebih kuat.


“Kalo eyang boleh kasih saran, pilih yang terakhir. Mulai hal baru. Kamu juga berhak bahagia. Biarin orang yang udah nyakitin kamu pergi atau malah kamu yang pergi. Jangan buat dia ngerasa menang.”


Air mata mengalir membasahi pipi Rina.


“Ya kalo kamu masih tetep ngerasa taneman itu ada andil, coba kamu matiin aja dulu tanemannya baru mulai hidup yang baru. Kan kayanya ini hidupmu jadi terikat sama taneman itu. Kalo matiin taneman bisa ngebuat kamu tenang, lakuin aja,” Susi menambahkan.


Susi tersenyum pada Rina, berharap senyumnya dapat menular. Benar saja, tak berapa lama Rina tersenyum kecil dan merasa lega. Rina tahu apa yang harus ia lakukan sesampainya di rumah.


...****...

__ADS_1


__ADS_2