Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 16 Terjebak dan Berakhir


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 2 pagi, hanya terdengar suara ketikan dari laptop di dalam rumah Rina. Bukan berasal dari laptop Toni, melainkan dari laptop Rina. Rina duduk di depan laptop membaca dokumen yang diserahkan Pak Barkah tadi sore. Proyek pembangunan pusat perbelanjaan di pinggir kota menjadi proyek selanjutnya yang harus diteliti oleh Rina setelah beberapa bulan belum bekerja. Pekerjaan dari Pak Barkah ini betul-betul disyukuri oleh Rina, setidaknya ia bisa mendapat penghasilan untuk menghidupi dirinya dengan Elia. Setelah kemarin akhirnya Toni mengakui perbuatannya, Rina membulatkan tekadnya untuk berpisah dari Toni. Bahkan Marni dan Bambang tidak bisa mencegah hal niat Rina. Toni yang berkata bahwa ia berselingkuh karena tekanan yang didapatnya selama bersama dengan Rina jelas membuat Rina emosi. Rina tidak habis pikir bahwa selama ini semua desakan yang diberikan pada Toni untuk lebih giat bekerja justru dijadikan alasan untuk bersama dengan orang lain. Tidak teringat dalam diri Toni bagaimana nasib dari Elia yang menginjak setahun pun belum.


Lisa yang kemarin berniat untuk menenangkan Rina juga tidak bisa membantu banyak. Emosi Rina yang sudah tidak bisa dibendung lagi membuatnya mengusir Toni dari rumah. Toh untuk rumah ini Rina sudah mengeluarkan uang lebih banyak dibanding Toni. Suasana kemarin malam cukup ramai, tidak seperti suasana perumahan Rina pada malam biasanya. Pada awalnya, Toni terus menggedor pintu memohon dibukakan pintu. Lisa yang terjebak dalam situasi ini memilih untuk menenangkan Elia yang terganggu karena suara gedoran pintu. Rina mengabaikan Toni, berharap ia cepat pergi dari rumah. Benar saja, harapan Rina terkabul. Tak berapa lama satpam perumahan yang baru masuk beberapa hari melihat orang asing menggedor pintu minta dibukakan pintu. Satpam baru tidak menggubris alasan Toni dan memaksa Toni keluar dari rumah. Rina merasa terselamatkan, setidaknya Toni sudah pergi. Merasa sudah ditolong, Rina juga berjanji akan membantu satpam baru ini jika suatu hari ia mendapat masalah karena mengusir tuan rumah dari rumahnya.


...****...


Rina duduk di ruang keluarga sambil memegang botol susu Elia, menjaga agar putrinya dapat minum dengan baik. Dipandanginya Elia yang terlihat nyaman meminum susu dari pangkuannya. Tersenyumlah Elia ketika ia selesai minum, seakan ingin memberi hiburan pada Ibunya ini. Ibu yang mengalami kehancuran karena tindakan suaminya. Tak tega Rina melihat senyum Elia. Dalam hatinya ia berpikir kenapa sampai setega itu Toni menukar senyum Elia dengan kepuasan dari perempuan lain. HP Rina berdering dan menyadarkan Rina dari lamunannya. Rina menaruh boto susu Elia lalu membuka pesan dari Pak Barkah yang berisi ucapan terima kasihnya karena sudah menerima pekerjaan dadakan ini. Ia juga berjanji akan memberinya proyek lain pada Rina secepatnya dan meminta temannya untuk menjadi pengacara Rina. Pak Barkah berjanji akan membantu Rina mendapatkan hak asuh Elia. Rina mengucapkan terima kasih pada Pak Barkah lalu membuka pesa kedua. Marni dan Bambang berencana akan menemui Rina sebelum jam 11. Rina menghargai kekhawatiran kedua orang tuanya dan tidak bisa menolak kedatangan mereka. Rina menaruh HP di meja lalu bersenandung untuk menidurkan Elia.


...****...

__ADS_1


Rina membuka pintu ketika terdengar suara ketukan dari Marni dan Bambang yang berdiri di depan pintu sambil membawa bungkus makanan. Rina terdiam sejenak, mencoba mengontrol emosinya. Marni memandang iba pada anaknya. Entah apa penyebab anaknya bernasib seperti ini. Segera Marni memeluk Rina dan mengelusnya. Rina menangis di pelukan Marni, merasa akhirnya tidak perlu menahan emosinya. Bambang memandang dari belakang Marni, entah kenapa semenjak kejadian di pertunangan mereka dulu Bambang meyakini masalah seperti ini cepat atau lambat akan terjadi. Satu hal yang Bambang takutkan, keluarga Toni akan menyalahkan Rina entah selogis apapun alasan Rina nanti. Marni melepas pelukannya, reflek Bambang gantian memeluk putri tunggalnya. Rina butuh penguatan seperti ini.


Rina, Marni dan Bambang duduk di ruang tamu. Bambang memangku Elia yang sudah bangun. Marni memandangi Rina yang tampak serius, seperti sudah memutuskan sesuatu.


“Kamu yakin, Rin?” tanya Marni.


“Aku gak bisa terima alesannya Bu. Masa katanya dia selingkuh gara-gara aku kebanyakan nuntut dia kerja?” jawab Rina kesal mengingat kembali alasan Toni.


Marni menghembuskan nafas perlahan, masih tidak menyangka alasan bodoh seperti itu terucap dari mulut Toni.

__ADS_1


“Belum lagi selingkuhnya sama orang yang ngasih dia pekerjaan. Orang itu dateng lagi dari mulai dari tunangan sampe syukuran Elia. Apa jangan-jangan udah direncanain dari lama?” ujar Rina.


Marni tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia baru sadar kalau Helnina memang selalu datang di saat penting di keluarga anaknya ini. Suasana ruang tamu mendadak hening. Elia melirik ke arah orang-orang dewasa di sekitarnya, mencoba memahami apa yang mereka ributkan. Tak berapa lama, terdengar suara mobil mendekati rumah Rina. Suara mobil dengan mesin diesel ini tidak asing di telinga Rina. Ia mencoba mengingat ketika melihat mobil tersebut terparkir di depan rumahnya. Rina, Marni dan Bambang bangkit dari duduknya. Rina terlambat menyadari kalau mobil tersebut adalah mobil Agus, mertuanya. Dari dalam mobil keluar juga Toni dan Tuti hendak memasuki rumah Rina. Bukan hanya itu, Pendeta Simon juga berada di dalam rombongan. Rasa sesak yang begitu kuat menyerang Rina. Kali ini ia merasa tidak memiliki jalan keluar lagi. Toni akan memohon ampun didampingi oleh kedua orang tua dan Pendeta. Rina mematung, bersiap menerima kekalahan karena kalimat ajaib yang akan segera ia dengar. Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.


...****...


Tiga pasang bola mata memperhatikan kedatangan Toni dan rombongan memasuki rumah. Salah satu dari pengintai ini terlihat berbeda. Ia fokus memandangi Toni dibanding yang lainnya, seakan jijik dengan apa yang sudah dilakukan oleh Toni. Tanpa disadari, ada sesosok yang siap memangsa tiga pengintai ini. Dengan penuh perhitungan, sosok ini mendekati keluarga bunglon. Dua pasang bola mata bergerak cepat meninggalkan lokasi awal. Sang pengintai, seekor ular menyergap cepat pemilik bola mata yang serius memperhatikan Toni. Ular berhasil menyergap bunglon betina. Bunglon jantan yang lebih kecil tidak bisa berbuat apa-apa sedangkan anak bunglon sudah bersembunyi di tempat yang aman. Bunglon betina melawan dengan besar tubuhnya. Daun air mata pengantin berguguran karena begitu hebatnya pertempuran antara bunglon dan ular. Akhirnya sang ular jatuh dan meninggalkan halaman rumah Rina. Bunglon betina terikat lesu di antara sulur air mata pengantin. Tidak beraturan perutnya bergerak, entah berapa lama lagi bunglon betina itu akan bertahan.


...****...

__ADS_1


__ADS_2