Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 7 7 Bulanan


__ADS_3

Kursi-kursi tamu berbaris dengan rapi di area pekarangan rumah Rina dan Toni. Salah satu petugas dekorasi menghitung jumlah kursi yang sudah disiapkannya. Setelah selesai menghitung, ia kembali mengecek jumlahnya dengan catatan yang sebelumnya sudah dibuat. Petugas dekorasi mengangguk, menandakan jumlah sudah sesuai. Tempat Rina dan Toni untuk acara keseluruhan menghadap langsung ke depan pengunjung nanti, sedangkan lokasi siraman berada di sisi kanan menggunakan kanopi yang sudah mulai tertutupi oleh tanaman air mata pengantin. Hiasan kembang mulai dipasang untuk mempercantik tiang kiri kanopi yang belum ditutupi air mata pengantin. Nuansa hijau dan putih menjadi dua warna dominan yang menghiasi tempat siraman. Dengan pemanis berwarna merah muda dari bunga air mata pengantin semakin mempercantik paduan warna yang didapat. Fotografer yang memeriksa kameranya tertarik dengan warna yang dihasilkan dari paduan tanaman dan hiasan memutuskan untuk mengambil foto dari tempat siraman. Dari lebatnya tanaman air mata penganti mengintip satu bunglon memperhatikan apa yang terjadi di sekitar rumahnya. Fotografer memperhatikan kemunculan bunglon lalu tersenyum. Ia mengalihkan kameranya ke arah bunglon dan mencoba mengambil foto.


“Oi! Ayo kerja,” seru Pria Tua yang juga memegang kamera.


Fotografer terkaget lalu menoleh ke sumber suara yang ia kenal dengan baik. Fotografer berjalan menuju Bosnya, meninggalkan objek fotonya di lokasi siraman.


...****...


Toni duduk bersantai di sofa dengan sudah mengenakan pakaiannya untuk acara tujuh bulanannya nanti. Hanya blangkon yang belum dipasangnya, masih ia letakkan di meja di depannya. Jemari tangan kanan Toni saling bergesekan. Terlihat warnanya sudah tidak terlalu menguning, efek dari rokok yang sudah berkurang konsumsinya. Semenjak mengurangi konsumsi rokoknya, Toni mulai sering memainkan jari-jarinya. Mungkin ia merindukan adanya batang rokok terselip di antara jarinya. Toni melihat ke arah pintu kamar yang dijadikan tempat untuk Rina mempersiapkan dirinya. Tampak salah satu Perias sudah membereskan peralatannya. Tak lama, dua Perias keluar dari kamar rias meninggalkan Rina. Belum sempat berdiri untuk mendatangi istrinya, Toni melihat Bambang dan Marni masuk ke ruang tamu.


“Pak, Bu,” sapa Toni pada mertuanya.


“Ton, bentar ya. Kita mau nemuin Rina dulu. Ada yang mau diomongin,” ujar Marni.


“Oh iya Bu,” jawab Toni.


Marni dan Bambang tersenyum lalu berjalan menuju kamar rias. Perlahan pintu kamar ditutup dan tidak terdengar suara apapun dari sana. Toni mengernyitkan dahinya sambil memandang ke pintu kamar. Apa yang ingin dibicarakan mereka bertiga sampai pintu kamar harus tertutup?


...****...


Marni dan Bambang tersenyum melihat anaknya sudah siap untuk acara tujuh bulanan. Rina menggunakan kain berwarna merah muda untuk menutupi badannya dengan kebaya hijau muda untuk menutupi bagian atas. Hiasan kembang yang nanti akan digunakan untuk acara siraman terpasang di model manekin.


“Panas gak?” tanya Marni menggoda anaknya.


“Ya panas Bu. Untung dah pasang AC di sini,” jawab Rina.

__ADS_1


Marni tersenyum mendengar jawaban Rina.


“Terus gimana? Kok minta ketemu dulu sebelum acara. Pake harus ditutup lagi pintunya,” tanya Bambang.


Rina menghembuskan nafas, bersiap untuk bercerita pada kedua orang tuanya.


“Pak, Bu, maaf baru sempet ngasih tau kalo sebelum acara ini kejadian aku berantem dulu sama Mas Toni,” ujar Rina.


Marni mengernyitkan dahinya. Ia heran karena tidak biasanya Rina memendam hal seperti ini padanya. Mungkin ia merasa Rina ingin mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri sebelum akhirnya bercerita.


“Kok bisa?” tanya Bambang.


Marni melirik ketus pada Bambang. Marni merasa Bambang sudah lupa pada kejadian sebelum mereka sendiri melakukan acara tujuh bulanan.


“Halah Pak, dulu ya kamu sama keluargamu begitu,” jawab Marni ketus.


“Oalah, hehe. Ngatur-ngatur ya?” tanya Bambang.


Rina dan Marni memandang sebal pada Bambang lalu tersenyum kecil. Setidaknya laki-laki di keluarga mereka menyadari kesalahan yang dulu dibuatnya.


“Ya kurang lebih gitu sih. Tapi yang bikin makin kesel itu ya masalah rencana lahiran nanti. Udah kujelasin kalo emang paling memungkinkan ya lewat caesar tapi mereka masih ngarep normal” jelas Rina.


Marni dan Bambang terdiam mendengar penjelasan Rina. Mungkin dalam hati mereka ada rasa kecewa pada diri mereka sendiri kenapa tidak menjelaskan pada Rina bahwa situasi keluarga seperti ini mungkin saja terjadi.


“Terus Toni gimana?’ tanya Marni.

__ADS_1


“Kesel ‘kan aku Bu, makanya aku pergi dari rumah keluarga mas Toni nemuin Lisa buat curhat. Aku mau ke rumah tapi kan Bapak sama Ibu ada latian Paduan Suara kalo Sabtu. Nah pas curhat, Lisa malah ngide buat ngerekam konsultasiku sama Dokter. Langsung deh kita ke Dokter. Ternyata Lisa ngabarin ke Mas Toni juga buat dateng biat dia tau langsung. Untungnya Mas Toni juga bareng Ibu jadi clear masalahnya di situ,” jawab Rina.


Marni dan Bambang tersenyum. Meskipun mereka kaget dan merasa bersalah tidak tahu lebih dahulu, setidaknya putri mereka berhasil menyelesaikan salah satu perkara rumah tangganya sendiri.


“Jadi udah jelas semua ya? Gak ada yang minta aneh-aneh lagi?” tanya Bambang.


“Engga. Abis itu semua kita balik lagi ke rumah terus Ibunya Mas Toni yang ngomong ke sodaranya yang lain. Kayanya emang suka gitu deh keluarganya Mas Toni,” ujar Rina.


Bambang terdiam, teringat kejadian ketika pertunangan dulu. Kecurigaannya kalau keluarga menantunya ini suka ikut campur dan dapat memicu keributan terbukti. Yang tidak ia sangka adalah kenapa itu terjadi ketika Rina mengandung.


“Syukur kalo mereka akhirnya ngerti. Ibu seneng dengernya. Pesen Ibu, kamu jangan sungkan ya kalo mau cerita apa-apa masalah keluargamu. Ibu tau, mungkin kamu mau nyoba nyelesain sendiri. Tapi kalo kamu ngerasa udah waktunya cerita, jangan sungkan ya. Kami kan masih orang tuamu juga,” ujar Marni.


“Iya. Seenggaknya kami bisa ngasih pandangan ke masalahmu juga. Ya mungkin lebih bagus pandangan Ibu sih, tapi kan Bapak juga yang ngasah biar pandangan Ibu makin bagus,” timpal Bambang dengan nada bercanda.


Marni mencubit pinggang Bambang dan membuatnya kesakitan. Rina tersenyum melihat tingkah laku orang tuanya yang masih rukun dan saling menyokong. Dalam lubuk hatinya, ia berharap bisa seperti ini bersama Toni. Tak lama terdengar suara ketukan pintu yang mengalihkan perhatian mereka.


“Mba Rina, udah siap belum ya?” Perias bertanya dari luar kamar.


“Iya,” jawab Rina.


Bambang dengan sigap membantu Rina berdiri dan Marni membuka pintu kamar.


“Saya ambil kembangnya dulu ya,” ujar Perias.


Perias mengambil manekin lalu meninggalkan Rina beserta keluarganya. Rina memeluk Bapak dan Ibunya, merasa bersyukur karena memiliki orang tua seperti mereka. Perlahan, Rina berjalan menuju taman didampingi Marni dan Bambang untuk memulai acara siraman.

__ADS_1


...****...


__ADS_2