Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 6 Mencari Pilihan Terbaik


__ADS_3

Lisa duduk di samping Rina sambil memegang tangannya. Dahi Lisa berkerut, bersikeras ingin membantu sahabatnya ini menyelesaikan masalahnya. Lisa teringat pada masalahnya dulu di proyek Pak Barkah yang dulu mereka kerjakan bersama. Tidak akan pernah Lisa lupakan bagaimana Rina berhasil mengumpulkan tanda tangan dari pihak sekitar dalam waktu dua hari hingga akhirnya pembangunan hotel tersebut berhasil lanjut dan warga sekitar bisa mendukung penuh.


“Kita ke dokter kandunganmu sekarang ya,” ujar Lisa.


Rina mengernyitkan dahinya, entah kenapa sahabatnya ini justru mengajaknya ke dokter kandungan.


“Buat apa? Mereka juga udah tau kok hasilnya,” tanya Rina.


“Engga. Ini kayanya mereka perlu tau lengkapnya gimana biar gak asal ngomong lagi. Nanti kurekam biar mereka pada tau,” jawab Lisa.


Rina semakin bingung dengan keinginan Lisa. Kenapa Lisa sampai segitunya membantu Rina di hari liburnya. Rina tahu bahwa sahabatnya ini memiliki akun podcast yang biasa akan dikerjakannya setiap libur hingga lupa waktu tetapi kali ini Lisa justru membantunya. Rina mulai mengingat apa yang pernah dilakukannya pada Lisa, ia takut membuat sahabatnya ini merasa memiliki punya hutang pada dirinya.


“Kamu udah pastiin belum dokternya ada?” tanya Lisa.


Rina tidak menjawab lalu mencoba menghubungi Dokter Susi, Dokter Kandungannya. Lisa memperhatikan Rina dan berasumsi bahwa sahabatnya ini menghubungi Dokter Kandungannya.


“Ada ini dokternya,” ujar Rina.


“Oke, nanti anggep aku gak ada di sana. Santai aja, biar kurekam. Jangan malah jadi grogi kamu. Santai aja ya. Inget,” perintah Lisa.


Rina melongo mendengar perintah Lisa.


“Kamu serius gak mau nyoba jadi sutradara?” ujar Rina.


“Jangan ngawur. Kerja yang pasti-pasti aja udah,” balas Lisa.


Rina tersenyum kecil. Dari lubuk hatinya ia berharap Toni mendengar perkataan Lisa. Meskipun dua tahun mengenal Toni, Rina masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kesibukan Toni yang jauh berbeda dengannya. Kesibukan Rina teratur, berbeda dengan Toni yang bisa sewaktu-waktu tidak bisa ditemui bahkan di rumah.


Mobil perlahan berhenti di depan pintu masuk Rumah Sakit. Rina dan Lisa keluar dari perlahan dari mobil lalu berjalan menuju dalam Rumah Sakit. Lisa memegangi Rina, mencoba menjaga keseimbangan sahabatnya ketika melangkah. Rina mengernyitkan dahinya, lalu melihat ke arah Lisa.


“Lis, aku masih bisa jalan sendiri. Tenang aja,” ujar Rina.

__ADS_1


Lisa tersenyum canggung mendengar perkataan Rina.


“Gapapa deh, udah nanggung mau selesai jalan nanjaknya,” balas Lisa.


Rina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Mereka lalu berjalan mendekati meja resepsionis. Sesampainya di meja resepsionis, HP Lisa berbunyi. Lisa meninggalkan Rina untuk mengecek HP dan mengetahui bahwa penyebab HPnya berbunyi karena panggilan dari Toni. Lisa terdiam sejenak. Ia terpikir satu ide yang mungkin bisa lebih efektif daripada cuma merekam untuk nantinya dikirimkan ke Toni. Lisa membalas panggilan dari Toni dengan pesan yang berisi untuk segera menuju Rumah Sakit.


“Lis, ayo. Kita naik ke lantai 3,” ujar Rina.


Lisa menoleh ke arah Rina lalu berjalan mendekati elevator untuk menuju lantai 3.


“Kita nunggu berapa lagi nanti?” tanya Lia.


“Gak tau juga sih, dikit kayanya,” jawab Rina.


Lisa menganggukkan kepalanya. Di dalam hatinya, ia cukup panik. Entah berapa lama waktu yang dimiliki Toni untuk mengetahui langsung penjelasan dari dokternya nanti.


Rina dan Lisa duduk di kursi tunggu ruang pemeriksaan. Tak ada pasien lagi yang duduk di sana kecuali Rina yang menunggu namanya dipanggil oleh suster. Lisa gelisah. Sesekali ia melhat ke arah elevator, berharap Toni segera datang. Sudah dua puluh menit ia menunggu kedatangan Toni. Baru kali ini ia menginginkan suami sahabatnya tersebut segera menemuinya agar semua selesai. Lisa mengertakkan kakinya dan membuat perhatian Rina teralihkan.


Lisa menghentikan gertakan kakinya dan tersenyum kecil.


“Engga kok, gapapa. Aku grogi belum pernah masuk ke ruangan begini,” jawab Lisa.


“Tadi aja bilang jangan deg-degan, santai aja natural-natural kalo nanti direkam,” cibir Rina.


Lisa meringis mendengar cibiran Rina. Asal Toni cepat datang, ia rela dicibir Rina seperti ini. Terdengar suara pintu ruang pemeriksaan terbuka dan perlahan ibu muda dalam keadaan hamil keluar dari ruangan. Lisa mendecak. Toni masih belum mengabari dirinya. Lisa melihat ke dalam ruang pemeriksaan dan elevator yang kini dihalangi oleh ibu muda tadi. Lisa berharap Toni keluar dari elevator. Perlahan indikator lantai di elevator mulai mendekati lantai tempatnya berada dan akhirnya pintu elevator terbuka. Tidak ada siapa-siapa. Ibu muda memasuki elevator dan pintu elevator tertutup. Lisa memejamkan matanya lalu menghembuskan nafas.


“Ibu Valerina Marta silakan masuk,” ujar seorang suster dari dalam ruangan pemeriksaan.


Rina memasuki ruangan lalu berbincang sejenak dengan suster. Tak berapa lama Rina melihat ke arah Lisa yang masih menunggu di kursi tunggu.


“Lis, ayo,” ujar Rina pada Lisa.

__ADS_1


Lisa berjalan mendekati Rina sambil terus memperhatikan pintu elevator. Semakin dekat ia dengan pintu, semakin kecil terasa peluang pintu elevator akan terbuka dengan Toni berada di dalamnya. Rina memperhatikan tingkah aneh sahabatnya ini sedari menerima panggilan. Rina ikut melihat ke arah pintu elevator dan menyadarkan Lisa dari tingkah anehnya.


“Liat apa sih?” tanya Rina.


“Engga, kayak pernah liat pasien yang tadi,” jawab Lisa.


“Klien?” tanya Rina sambil menutup pintu.


Tak jelas apa balasan Lisa pada Rina. Sama seperti keadaan Toni. Entah ia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, terjebak macet, datang bersama keluarganya atau bahkan tidak datang sama sekali.


...****...


Dokter Susi mengernyitkan dahinya memperhatikan Rina dan Lisa berjalan mendekatinya. Rina duduk di depan Dokter Susi dan Lisa duduk di belakang Rina. Ada dua hal yang membuat Dokter Susi bingung. Pertama, kedatangan Rina padahal sudah melakukan pengecekan minggu lalu dan yang kedua adalah kenapa Rina datang tanpa didampingi suaminya.


“Maaf Bu Rina ada apa ya ke sini lagi? Bukannya minggu lalu udah periksa ya?” tanya Dokter Susi.


Sejujurnya Rina pun bingung bagaimana ia harus menjelaskan pada Dokter Susi. Rina merasa hanya dirinya yang memiliki masalah ini. Rina menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecil dan membuat Dokter Susi ikut menjadi bingung.


“Gini Dok, suaminya temen saya sama keluarganya ini gak percaya kalo temen saya emang disaranin buat caesar. Nah, saya di sini buat ngerekam konsulnya Dok. Saya udah ngabarin suaminya tapi ga ada kabar lagi,” jelas Lisa.


Rina menunduk malu, entah malu terhadap Dokter Susi atau pada suaminya yang ternyata belum mengabari Lisa lagi untuk menemuinya. Dokter Susi tersenyum kecil. Ia merasa kasihan pada pasiennya ini. Tak sedikit pasiennya yang mengalami masalah seperti ini. Dokter Susi memegang tangan Rina yang masih menunduk.


“Maaf ya Rin kalo kamu ngalamin kejadian kayak gini,” ujar Dokter Susi.


Rina mulai berkaca-kaca. Dokter Susi mengelus tangan Rina perlahan, mencoba menenangkan hati pasiennya tersebut.


“Tapi cara terbaik buat masalah ini ya suamimu harus ikut juga ke sini. Takutnya percuma kalo direkam, ada aja alesan buat gak percayanya. Nanti aku yang jelasin ya, kita tunggu dulu sampe suamimu dateng,” jelas Dokter Susi.


Tak berapa lama terdengar suara pintu terbuka dan membuat semua orang yang ada di dalam ruangan teralihkan. Toni datang ke Rumah Sakit bersama dengan Tuti. Mata air menetes membasahi pipi Rina. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. Lisa tersenyum. Ia berhasil mendatangkan Toni untuk menemani Rina menyelesaikan masalah mereka bersama. Perlahan mata Lisa mulai berkaca-kaca ketika ia melihat Rina dan Toni yang berpelukan. Seketika Lisa teringat pada map berisi tanda tangan yang dulu pernah diserahkan Rina padanya di proyek Pak Barkah. Mungkin kali ini Lisa berhasil membayar perasaan berhutangnya pada Rina.


...****...

__ADS_1


__ADS_2