Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 15 Konfrontasi


__ADS_3

Rina berjalan menelusuri jalanan sekitar hotel yang sepi padahal sore baru berganti menjadi malam. Beruntung Rina berhasil keluar dari pos satpam dengan aman. Rina berhasil mengelabui satpam dengan alasan melihat mendiang suaminya muncul. Tak berapa lama, Rina berhenti dan membuka HP untuk memesan taksi online. Pantulan cahaya dari HP membuat mata Rina yang sembab setelah sedari tadi menangisi nasib keluarganya tampak jelas. Hanya ada satu tempat yang bisa ditujunya sekarang. Bukan rumah keluarganya, apalagi rumah keluarga Toni. Rina memesan taksi untuk pergi menuju kos Lisa. Segera Rina mengabari Marni bahwa ia akan sangat terlambat menjemput Elia lalu menunggu supir menjemput dirinya. Dalam hati, Rina meminta maaf pada Elia, tidak seharusnya ia ikut merasakan hal ini.


...****...


Rina berdiri di depan pintu kamar kos Lisa. Perlahan ia mengetuk pintu kamar, berharap segera dibuka agar Rina bisa segera memeluk Lisa dan menceritakan segalanya. Rina sudah merasa tidak kuat. Kejadian hari ini harus segera ditumpahkan ke orang lain sebelum Rina akhirnya mengambil tindakan bodoh.


“Lis?” ujar Rina pelan sambil kembali mengetuk pintu.


Masih belum terdengar jawaban dari Lisa. Rina kembali mengetuk pintu kamar, kali ini agak kencang.


“Ya, sebentar,” ujar Lisa dari dalam kamar.


Rina tampak lega mendengar setidaknya ada jawaban dari Lisa. Tak berapa lama, Lisa membukakan pintu dengan mengenakan jubah mandi. Lisa kebingungan mendapati Rina dengan keadaan seperti ini. Mata sembab, mengenakan jaket ekstra besar dan raut wajah berantakan seperti habis melihat sesuatu yang menakutkan. Tebakan Lisa tidak salah, apa yang tadi dilihat Rina mungkin akan menjadi hal yang paling menakutkan bagi keluarganya mendatang. Segera Rina memeluk Lisa dan menangis. Lisa memandang ke sekitarnya, beruntung tidak ada siapa-siapa di luar. Lisa seketika teringat dengan kejadian beberapa hari lalu. Melihat reaksi Rina sekarang, sepertinya kode yang berhasil dipecahkan Rina benar adanya.


Rina duduk di depan meja bundar kecil yang saling berhadapan dengan kursi lainnya yang saat ini belum terisi oleh Lisa. Terdapat peralatan untu merekam podcast di meja bundar tersebut. Beberapa halaman cetakan materi tertumpuk agak berantakan meskipun masih sesuai terpisah antar epidosenya. Sekilas, Rina melihat cetakan pembahasan mengenai air mata pengantin. Rina merasa belum pernah mendengar episode ini di podcast Lisa. Entah ini materi baru atau Lisa murni mencari tahu solusi untuk dirinya, Rina perlu menanyakannya sendiri setelah Lisa selesai membuat teh untuk dirinya.


Rina mengambil teh pemberian Lisa lalu meniup perlahan sebelum meminunya. Rina familiar dengan rasa teh ini, mengingatkannya pada saat ia bercerita mengenai masalah tujuh bulanan dan persalinan dulu. Lisa duduk di depan Rina lalu membereskan materi podcastnya agar lebih enak dipandang. Lisa tapak tidak menutupi materi air mata pengantin dari Rina, mungkin juga ia ingin membicarakan masalah ini pada Rina. Lisa duduk menunggu Rina kuat untuk menceritakan semuanya. Rina memberikan HPnya pada Lisa, kumpulan file video yang tadi direkam tersedia dan siap dimainkan oleh Lisa. Lisa membuka satu persatu video yang direkam Rina dan terdiam. Berkali-kali Lisa menghentikan dan memperbesar ukuran video untuk memastikan apakah itu benar Toni. Pandangan Lisa tidak salah,benar yang ada di dalam video adalah Toni. Lisa memejamkan matanya, tidak menyangka bahwa sahabatnya baru saja mengalami ini semua dan masih memiliki kesadaran untuk menemuinya. Lisa merasa Rina jelas orang yang lebih baik dari dirinya. Jika Lisa berada dalam posisi Rina, ia tak akan ragu menggedor pintu kamar Toni. Entah apa jadinya, yang penting emosi Lisa tersalurkan. Persetan dengan keluarga.


“Aku harus gimana Lis? Aku tadinya mau langsung mergokin, tapi tiba-tiba Ibu sama Elia video call. Aku diem di depan pintu, nangis sampe akhirnya diajak satpam ke kantor soalnya pengunjung lain udah ngelaporin aku,” jelas Rina.

__ADS_1


Lisa kebingungan mendengar dan melihat ini semua. Ia tidak pernah menghadapi atau mendengar masalah seperti ini. Lisa takut apa yang nanti dianjurkannya justru membuat semua menjadi lebih kacau. Di seberangnya, tampak Rina kusut karena situasinya. Di saat seharusnya Rina dan Toni aktif berkontribusi di perkembangan Elia, Rina dan Toni justru memiliki masalahnya sendiri. Rina teralihkan pada materi air mata pengantin yang ada di dekatnya lalu melihat ke arah Lisa.


“Lis, kalo aku bilang masalah ini mungkin aja muncul gara-gara taneman itu gimana?” tanya Rina.


Lisa tampak tidak antusias dan kesal. Sudah sejauh ini, Rina justru kembali teringat dengan hal aneh beberapa hari lalu, bukan pada tingkah aneh suaminya yang justru selingkuh ketika keluarganya membutuhkan.


“Dengerin dulu Lis, aku gak nyalahin kamu. Kamu mau masukin kejadian ini di podcast juga gapapa, yang penting semua orang tau bahayana taneman ini. Jadi gini, waktu kita selesai ngobrol sama yang punya toko, aku kan keluar duluan. Di jalan keluar, aku disamperin sama perempuan misterius yang katanya juga jadi korban air mata pengantin. Iya, korban, soalnya dia juga ngalamin hal yang sama kayak aku. Keluarganya berantakan setelah nanem taneman itu di rumah,” jelas Rina.


Lisa melongo kebingungan mendengar penjelasan Rina yang seakan ingin meyakinkan Lisa mengenai efek air mata pengantin.


“Tau yang lebih parahnya lagi apa? Dia bilang kalo di taneman itu udah mulai muncul bunglon, itu tandanya masalah di keluargamu udah serius. Dan kamu tau, air mata pengantin di rumahku udah ada bunglonnya,” ujar Rina.


“Rin, yang pertama, aku gak maksud buat bawa ceritamu ini ke podcastku meskipun sesuai tema. Aku gak akan segitunya ke sahabatku sendiri. Kedua, tolong pake logika Rin. Toni itu selingkuh sama Helnina bukan gara-gara taneman, tapi karena mereka sama-sama brengsek aja,” balar Lisa.


Rina terdiam mendengar balasan Lisa. Sama persis dengan apa yang diucapkan Eyang Susi padanya beberapa hari lalu.


“Udah sekarang kita ke rumah, nunjukin video ini langsung ke Toni. Kita liat gimana reaksinya. Ngaku atau engga. Kalo engga, kita kasih tunjuk juga pesan rahasia dari Helnina. Aku bakal temenin kamu, tenang” ujar Lisa.


Rina diam memikirkan penawaran Lisa. Mungkin dirinya memang salah, terlalu gampang kembali ke jawaban paling mudah dan menyalahkan tanaman. Tak berapa lama, HP Rina berdering karena panggilan dari Toni. Rina ragu untuk mengangkat panggilan Toni lalu melihat ke arah Lisa. Dengan mantap, Lisa menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan Rina untuk menerima panggilan Toni.

__ADS_1


“Rin, kamu di mana? Kok kamu gak tanggung jawab gini? Elia dititipin ke Ibu sampe malem,” ujar Toni.


Rina mengatur pernafasannya, mencoba tidak emosi mendengar pertanyaan Toni. Sigap, Lisa segera memesan taksi online menuju rumah Rina.


“Iya maaf Mas. Ini aku otw pulang. Tunggu ya,” balas Rina.


Toni tidak membalas dan langsung mematikan panggilannya. Rina dan Lisa mempersiapkan dirinya masing-masing untuk masalah yang akan segera dihadapi. Rina berhadapan dengan Toni, Lisa dengan emosi Lisa.


...****...


Rina memasuki rumah dengan langkah yang agak cepat dan membuat Lisa kewalahan mengejarnya. Di ruang tamu, mereka melihat Toni duduk di sofa memasang wajah kesal karena mendapati keadaan rumah berantakan dan belum tersedia apa-apa. Belum lagi ia harus menjemput Elia di rumah mertua. Toni segera bangkit dari duduk, bersiap untuk menasehati istrinya.


“Mas, kamu selingkuh sama Helnina ya?” tanya Rina spontan.


Toni mematung mendengar pertanyaan Rina. Segala kata-kata bijak yang sudah disiapkannya mendadak kembali ke dalam perut Toni, menunggu entah kapan waktu yang tepat untuk kembali keluar.


“Maksud kamu apa? Aku dari siang ke lokasi syuting,” kilah Toni.


Rina mengeluarkan HP dan menunjukkan hasil rekamannya pada Toni. Toni melongo melihat semua yang direkam Rina. Tidak disadarinnya bahwa orang yang menyaksikannya berciuman dengan Helnina di elevator ternyata istrinya sendiri. Belum sempat Toni berkilah, Rina mengeluarkan kode rahasia yang berhasil dipecahkannya ke hadapan Toni. Suara Toni hilang, tidak mampu mebalas semua tuduhan Rina. Lisa memandangi dari belakang Rina. Tidak menyangka Rina akan langsung menyerang suaminya tanpa basa-basi. Keheningan di ruang tamu akhirnya pecah oleh suara tangisan Elia, seakan ia memahami apa yang baru saja diucapkan oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2